Beranda/Istriku Polos-polos Biadab/
Bab 16 ENAM BELAS
PART 16
______
POV Irfan
Pintu rumah mertua tertutup saat aku datang. Namun, terdengar tangisan samar-samar dari dalam. Aku percepat langkah setelah turun dari mobil.
"Assalamualaikum ... Ma?" Aku langsung membuka pintu dan masuk.
"Aa ... tolongin Resty!" Bapak keluar kamar. Menghampiriku dengan langkah terhuyung. Kemudian duduk dengan raut tegang seraya mengelus dada.
Tanpa basa-basi, aku bergegas ke kamar depan di mana suara tangis Mama dan Nazwa terdengar. Resty tergolek tak sadarkan di pangkuan Nazwa. Sementara Mama dengan panik, sibuk memegangi tangan Resty yang dibalut kain. Keduanya menangis kalut.
____
"Maafin mama, ya, A'. Gak tau malu masih ngerepotin Aa kayak gini buat urusin Resty. Habis Mama bingung mau minta tolong ke siapa. A' Samsul sama Teh Tina lagi di Bandung. Padahal Resty udah---"
"Ssst ... Mama jangan bilang gitulah. Istri ada bekasnya tapi, mertua enggak. Mama sama Bapa sampai kapan pun tetap orang tua Irfan. Jangan sungkan kalau ada apa-apa."
Mama mengangguk, masih dengan wajah berurai air mata. Sepertinya masih sangat shyock. Resty kini tengah ditangani dokter, sementara kami menunggu di luar.
"Mama gatau lagi sama Resty. Suami sebaik ini disia-siaka," lirihnya parau. "Tapi, bagaimanapun kelakuannya, meski membuat Mama sangat malu, Resty tetep anak mama, A' Irfan. Mama gamau dia kenapa-kenapa," sahutnya lagi seraya menggeleng lemah.
Aku menggandeng, dan mengelus bahunya lembut. "Irfan paham, Ma. Ibu mana, yang rela anaknya kenapa-kenapa. Tapi, kenapa gak langsung minta tolong tetangga, Ma? Gimana kalau terlambat ditolong selama menunggu Irfan nyampe tadi?"
"Mama sama Bapak malu, A'. Udah gak punya muka rasanya di mata tetangga gara-gara kejadian yang udah nyebar itu."
"Apa, Resty mencoba bunuh diri?" ujarku hati-hati.
"Dari letak lukanya yang pas di urat nadi, kayaknya iya, A'. Mungkin karena video-video yang viral itu. Soalnya, hapenya geletak di lantai, di layarnya masih nampilin video-video itu." Nazwa menjelaskan.
"Video-video yang pas kejadian hari Minggu?" Aku menebak.
"Beda lagi, A'. Apa Aa gak liat video viral yang sliweran di hampir semua medsos?"
"Kamu tau, 'kan, Naz, aa jarang medsosan."
Nazwa dengan lesu menyodorkan hapenya yang menampilkan video asusila yang disensor bagian-bagian sensitifnya. Aku terbelalak dan menggeleng berkali-kali. Gilak! Wajah sepasang laknatullah di video itu adalah Resty dan Herdi.
Tak mau menonton lebih lama, kuserahkan kembali hape pada Nazwa. Lantas mengusap wajah. Benar-benar keterlaluan!
"Banyak videonya, A'. Bukan cuma satu. Nazwa juga sekarang minder dan malu banget," kata Nazwa lagi.
Wajah langsung memanas bagai terbakar. Aku emosi sekali. Selama ini, aku berbagi wanita dengan laki-laki lain. Membayangkannya membuatku sangat jijik sekali.
"Mama gatau lagi harus gimana, A'," lirih Mama dengan tatapan kosong.
Aku hanya bisa mendengkus kasar seraya menyugar rambut frustrasi.
Obrolan kami terhenti, saat dokter keluar dari ruang UGD dan menghampiri kami.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyaku seraya bangkit.
"Pasien belum sadarkan diri."
"Ya Allah ...." Tangis Mama kembali pecah. Nazwa segera merangkul dan menenangkan mamanya.
"Pasien kehilangan banyak darah. Apa di sini, ada yang punya golongan darah O?" tanya dokter lagi.
"Mama sama Nazwa beda. Bapak O tapi, 'kan, dia di rumah. Udah gitu punya darah tinggi sama diabetes," ucap Nazwa panik.
Bapak tadi memutuskan untuk menunggu di rumah. Beliau perlu menenangkan diri sejenak. Akhir-akhir ini, mertua laki-lakiku itu memang sering kumat penyakitnya. Mungkin pengaruh umur.
"Saya saja, Dok. Golongan darah saya, O," ucapku akhirnya.
Ya, apa boleh buat. Sebenarnya, aku benci pada diri sendiri. Entah aku ini bodoh, atau bagaimana. Kenapa setelah disakiti sedemikian rupa, rasa peduli ini masih saja ada. Tidak munafik, dari lubuk hati yang paling dalam ....
Aku merasa sangat khawatir.
___
Setelah mendapat transfusi darah, Resty segera dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya berangsur pulih.
Mama dan Nazwa langsung menemaninya setelah di ruang rawat. Sementara aku menunggu di luar. Bingung juga. Ingin rasanya pulang saja tapi, kasian Mama dan Nazwa kalau butuh apa-apa bagaimana. Mungkin saja mereka juga tidak bawa uang cukup. Sementara tidak ada yang bisa diandalkan selain aku sekarang.
A' Samsul sudah dikabari, dan katanya akan pulang besok lusa karena masih ada urusan. Kasian juga keluarga Resty yang selama ini dikenal baik-baik dan alim seketika jadi begini. Martabatnya tercoreng karena kelakuan Resty.
Tiba-tiba, terdengar tangisan terisak yang cukup keras dari dalam. Resty. Kenapa lagi, dia? Aku bangkit dan mengintip dari kaca pintu kamar.
"Kenapa gak biarin aku mati aja, sih?" teriaknya seraya mencoba melepas jarum infus yang tertancap di tangannya. Mama dan Nazwa sibuk menenangkan. Mereka juga menangis. Suasana menjadi riuh.
Aku mendengkus kasar. Sedikit iba juga melihatnya begitu. Bagaimana pun, meski apa yang dia lakukan begitu kelewat batas, tetap banyak kenangan manis yang pernah kami lewati bersama. Masih terasa mimpi dengan semua yang terjadi sekarang.
Setelah menimbang-nimbang, aku perlahan membuka pintu dan masuk. Melihatku, tangis Resty perlahan berhenti, tangannya yang berbalut perban berhenti berusaha mencabut jarum dari tangan yang sehat.
"Kamu," lirihnya sendu, seraya menatapku sayu dengan berlinang air mata.
Aku balas menatapnya dalam. Berdiri beberapa jarak dari ranjang tempatnya duduk.
"Irfan boleh ngomong sama Resty sebentar, Ma?"
Mama mengangguk lemah di pelukan Nazwa. Anak dan ibu itu pun berlalu keluar kamar.
Setelah mendengkus kasar, aku duduk di kursi sebelah ranjangnya. Resty sontak membuang muka ke arah berlainan dari tempatku berada. Sesekali mengusap pipi.
"Ngapain, sih, kamu di sini nolongin aku?" lirihnya pelan.
"Kamu pikir, bunuh diri bisa nyelesein masalah, ha?" tanyaku tanpa mengindahkan ucapannya. "Tolol sekali!"
"Tapi, bukannya kamu senang, 'kan, kalau aku mati?" ucapnya lagi seraya kembali terisak dengan posisi masih membuang muka dariku.
"Sebesar apa pun masalah dunia, gak ada sebutir debu pun dibanding pedih dan rumitnya masalah pertanggung jawabannya nanti di akhirat. Apalagi kalau mati bunuh diri setelah berbuat dosa besar tanpa pernah bertaubat, pula," jelasku tenang. Lagi-lagi tanpa menanggapi ucapannya.
"Gak usah ceramah, A'. Gak mempan. Aku udah gak peduli lagi!"
"Ok, aku hanya orang lain. Bisa kamu perlakukan semaumu tanpa perasaan. Tapi, apa kamu gak kasian sama Mama, Bapak, Nazwa, A' Samsul. Dan ... Salsa. Kamu gak mikirin perasaan mereka kalau kamu begini?"
Ia seketika menoleh. "Aku peduli sama mereka! Sangat. Terutama Salsa. Aku juga ngerasa bersalah banget sama kamu. Banget! Aku nyesel!" pekiknya penuh penekanan. "Tapi, itu gak ngerubah kenyataan, 'kan? Semuanya tetep malu, marah, kecewa. Kamu juga tetep benci aku!"
"Terus, kenapa kamu begini?" tanyaku, tegas dengan rahang menegang.
"Karena matiku, adalah yang terbaik untuk kalian semua!" teriaknya dengan bersimbah air mata.
Kembali ia hendak mencabut jarum infus. Segera kutahan dan repleks memeluknya begitu erat tanpa sadar. Resty menangis sejadinya di dadaku.
Menyedihkan sekali keadaannya sekarang.
"Aku hancur! Gak berguna lagi aku hidup," lirihnya parau di sela tangis. "Aku udah jahat banget sama kamu."
"Istighfar! Bertaubatlah kalau kamu menyadari dosamu." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku.
____
Sore
Setelah mengantar Nazwa pulang, aku kembali ke rumah dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Kepikiran dengan kabar yang Mama sampaikan tadi.
Resty hamil?
Ah, ini situasi yang sangat rumit. Anak siapa janin di dalam kandungannya? Sekarang laki-laki sialan itu tidak jelas di mana keberadaannya pula. Cih! Tidak bertanggung jawab. Sudah kuduga, dia hanya memanfaatkan Resty saja. Apa pula tujuannya menyebar video itu?
Tapi, Terserah. Semuanya bukan urusanku lagi. Setelah ini, aku tidak mau berurusan lagi dengan masalah Resty kalau bukan mengenai Salsa.
Setelah Resty tenang, tadi, kami berdiskusi ringan. Akan tetap berhubungan baik meski bercerai. Demi Salsa. Ya sudahlah. Tak baik pula menyimpan kebencian. Hanya menghambat ketenangan hidup saja.
Lagipula, ia sudah mendapat ganjaran yang setimpal atas apa yang diperbuatnya. Hidup masih terus harus dijalani. Lebih baik mulai menata hati dari awal ketimbang terus terpuruk memikirkan masalah ini.
"Kang, aku udah nanakin nasi sama masakin lauk yang ada di kulkas. Jangan lupa makan, ya!" Mira menyahut saat aku datang.
Ia bergegas menghampiri dari kontrakannya saat aku keluar dari mobil. Sudah sore, karyawan lain sudah kuintruksikan pulang kalau semua pekerjaan selesai melalui Mira tadi. Ya, Mira adalah karyawan paling kupercaya. Ia bekerja dari mulai produksi masih kecil-kecilan di rumah Emak. Sampai sekarang.
"Hmm ... makasih, ya!" sahutku singkat.
"Ada apa lagi, Kang? Tadi keliatan panik dan grasa-grusu." Mira menatap prihatin. Akhir-akhir ini, wanita berlesung pipit itu terasa sangat perhatian.
Jujur, aku senang. Serasa ada teman berbagi lara. Di saat terpuruk begini, perhatian-perhatian kecil terasa begitu berarti. Terlepas siapa pun yang memberi perhatian. Terlebih, ia bijak dalam menanggapi. Enak diajak ngobrol. Sehingga, aku lebih terbuka bercerita banyak hal padanya.
"Hmm ... Resty. Kamu pasti tau video-video baru yang menyebar itu, 'kan?"
Mira menghela napas dan mengangguk. "Iya, aku tahu, Kang," ucapnya pelan.
"Tadi, dia mencoba bunuh diri karena itu. Sekarang, Resty dirawat di rumah sakit."
"Apa?!" Tiba-tiba, Emak sudah berada di belakang kami.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (35)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus banget
13/05
0bagus banget karyanya
03/05/2025
0bagus banget
02/05/2025
0Lihat Semua