Beranda/Istriku Polos-polos Biadab/
Bab 15 LIMA BELAS
PART 15
______________________________________
Kenapa tiba-tiba aku dipanggil ke kantor? Apa karena kemarin tiga hari tidak masuk kerja? Tapi, aku, 'kan, sudah izin.
Pak Sumitro manager pabrik dan Hendra selaku kepala unit line satu tempatku bekerja sudah menunggu saat aku masuk ke kantor. Raut mereka tampak tegang. Membuatku deg-degan saja.
"Silakan duduk!" sahut Pak Sumitro. Seraya menunjuk kursi di hadapan sebelah tangan.
Dengan takut-takut, aku duduk perlahan. "Ada apa, ya, Pak?" tanyaku kikuk.
Laki-laki asli Jawa Tengah itu mendengkus seraya menoleh pada Hendra sejenak. Kemudian kembali menatapku.
"Mengingat semuanya masih baru dan jadi perbincangan hangat, seharusnya Anda sudah tau apa alasan kami memanggil Anda," ucap Pak Sumitro bertele-tele, dan itu membuatku kesal. Kenapa semua orang begitu menyebalkan?
Hendra juga mendadak kaku begini. Padahal, biasanya, kami biasa bersenda gurau akrab.
Apa jangan-jangan ... ah, tidak mungkin! Meskipun berita itu sudah sampai ke pabrik, apa urusannya semua yang terjadi dengan pekerjaan?
"Langsung saja, Pak. Maaf." Aku mengerutkan kening.
"Mewakili Owner dan semua petinggi pabrik, yang mana, sebelumnya, keputusan ini sudah sebelumnya didiskusikan, kami ingin menyampaikan, mulai sekarang, Anda dipecat!"
"Apa?!" Aku bagai tersambar petir di siang bolong. "T-tapi ... kenapa?"
"Karena skandal Anda dengan saudara Herdiana Candra. Yang bersangkutan juga sudah dipecat kemarin," ucap Pak Sumitro kalem.
"Tapi, itu urusan pribadi. Apa urusannya dengan pekerjaan, Pak? Saya mohon keadilannya." Sial! Pasti Edi yang mengadukan semuanya pada pihak pabrik. Iya, tidak salah lagi, pasti dia.
"Kata siapa tidak ada hubungannya? Semua media berita yang memviralkan kasus ini menyebutkan nama pabrik ini karena kalian bekerja di sini. Dan itu mencoreng nama baik perusahaan!" jelas Pak Sumitro tegas. Wajah ramahnya menegang.
Apa? Memviralkan? Maksudnya? Apa kasusku kemarin ada yang memviralkan? Jika benar ... ya ampun. Matilah aku! Mati semati-matinya. Pantas semua orang menatapku aneh tadi.
Mungkin ini salah satu hukuman tak berkesudahan atas dosa besarku. Konsekuensi yang sangat setimpal. Namun, aku harus bagaimana sekarang?
"Res?" Heni mencekal tanganku saat aku hendak keluar dari pabrik.
"Heni?" sahutku seraya menghapus air mata dengan punggung tangan.
"Aku gak nyangka sama kamu," lirihnya seraya menggeleng pelan.
"Kamu udah tau juga, Hen?" tanyaku pelan.
"Bukan cuma aku, Res. Mungkin sepabrik, bahkan se-Indonesia udah tau," bisik Heni, setelah menyeretku ke sudut yang agak sepi.
Kerongkonganku terasa tercekat. "G-gimana, bisa?"
Heni merogoh hapenya, mengotak-atik sejenak dan mengulurkannya padaku. Seketika aku terkesiap. Video saat aku digrebek terpampang nyata di sana. Tubuh langsung lemas bagai tak bertulang. Air mata kembali berdesakan membasahi kedua pipi.
"Kamu gegabah, Res. Udah kubilang jangan---"
Aku segera melangkah cepat meninggalkan Heni tanpa menunggunya selesai bicara. Saat ini, aku tidak butuh dinasihati. Semua sudah telanjur terjadi dan mustahil bisa terulang.
"Res! Resty!"
Aku terus berjalan menuju parkiran tanpa sedikit pun menoleh lagi pada Heni. Bahkan tak peduli lagi pada semua orang yang menelanjangiku dengan tatapan anehnya.
______
Dalam kekalutan, terbersit pikiran untuk menemui Herdi. Iya, ini karena ulahnya. Jadi, dia pula yang harus memberiku jalan keluar atas apa yang terjadi sekarang. Terlebih, yang paling penting adalah nasib jabang bayi dalam kandunganku yang baru berusia lima Minggu. Herdi harus bertanggung jawab.
Kulajukan motor dengan kecepatan penuh menuju kediamannya.
Tepat di mulut gapura, dari jarak beberapa meter, nampak Herdi berdiri memakai ransel seraya memainkan hape. Iya, itu dia.
Herdi langsung pucat pasi saat aku berhenti di hadapannya dengan wajah bersimbah air mata.
"Plak!" Kutampar ia dengan sekuat tenaga.
"Apa mau kamu, sekarang?" tanyanya terkesan santai.
"Dengan gampangnya, kamu nanya begitu setelah apa yang terjadi? Rumah tanggaku hancur! Nama baikku juga rusak. Ini semua gara-gara kamu. Kamu harus tanggung jawab!" cercaku penuh emosi.
Ia membuang muka ke sembarang arah. "Gak salah? Seharusnya aku yang marah sama kamu! Aku dipecat, diusir juga dari rumah pamanku. Itu semua gara-gara kebodohanmu tak pandai menyembunyikan semua dari suamimu! Masalah nama baik, nama baikku juga rusak! Camkan, itu!" berondongnya seraya menatap tajam, dan nyaris tanpa jarak ke wajahku.
Aku mencelos. Menggeleng perlahan. Apa aku tidak salah dengar? Dia malah berbalik menyalahkanku. Seolah cuci tangan dan berplaying victym menyalahkanku.
"Apa?!" lirihku nyaris tanpa suara. Tercekat di tenggorokan. "T-tapi ... aku hamil. Ini anakmu!" bisikku seraya terisak.
Ia terkekeh sumbang. "Anakku? Heh! Aku hanya menidurimu beberapa kali. Lagipula, kamu, 'kan, punya suami."
Plak!
Kembali kutampar wajahnya. Hingga menyisakan bekas kemerahan di pipi putihnya. "Kurang aj*r!"
Ditangkupnya wajahku dengan sebelah tangan dengan kasar, "Mulai sekarang, anggap saja kita tidak pernah ada hubungan apa-apa. Jangan pernah ganggu aku lagi!" bentaknya, tepat saat sebuah angkotan kota berhenti di hadapan.
Baj*ngan itu pun pergi meninggalkan aku termenung sendiri tanpa belas kasihan sama sekali. Hah! Begini perlakuannya setelah menghancurkan hidupku. Setelah mengejarku hingga aku bertekuk lutut menuruti semua kemauannya. Persis binatang!
Bodoh sekali, aku. Menyia-nyiajan berlian demi memungut kerikil bertai seperti Herdi!
____
Kejadian memalukan itu bukan hanya berimbas padaku tapi, juga keluargaku. Mama dan Bapak jadi enggan keluar rumah karena pedasnya omongan tetangga yang seringkali menggunjing dan menyindir rerang-terangan di hadapan mereka.
A' Samsul juga. Sebagai tenaga pengajar, tentu ia begitu malu punya adik sepertiku. Saat libur sekolah tiba dua hari lalu, ia memboyong istri dan kedua anaknya ke Bandung. Katanya mau liburan sekaligus menenangkan diri.
Jangan ditanya lagi bagaimana sikap mereka semua terhadapku. Saat ada hal yang tak mengenakan tentang kesalahanku itu, tentu saja aku jadi sasaran kemarahan mereka. Terlebih Bapak dan A' Samsul. Nampaknya begitu jijik.
"Kamu tahu, si Heni yang kamu jadikan panutan itu justru yang menyebarkan kabar memalukan itu. Mama denger dengan telinga sendiri!" ucap Mama saat pulang membeli sayur.
Aku hanya bisa diam tanpa mengucap sepatah kata pun. Benarkah, Heni begitu? Begitu munafiknya ia jika benar begitu. Seperti dirinya paling suci saja. Padahal tak beda busuknya denganku.
Tapi, intinya, gara-gara aku, tetangga seakan mengucilkan kami. Iya, aku sadar memang semua salahku. Semua tidak akan begini kalau aku tidak goblok kemari.
Lalu, aku tidak bisa membayangkan lagi kalau mereka, orang tuaku tau bahwa aku sedang mengandung. Aaarrgh! Aku hampir gila.
Andai bisa memilih, biarlah aku saja yang menanggung semuanya sendiri. Jangan keluarga. Terlebih sekarang, aku dipecat dari pekerjaan. Bagaimana nanti mencukupi kebutuhan hidup? Malu sekali kalau harus bergantung pada Mama dan Bapak yang merupakan pensiunan guru. Lalu untuk biaya lahiran nanti .... astaga!
Hapeku berdenting. Ternyata pesan dari Heni. Disusul banyak sekali notip dari Facebook dan Instagram. DM, inbox, dan entah berapa orang menandai akunku di sebuah postingan.
Kubuka dahulu pesan dari Heni. Malas sekali berurusan lagi dengannya. Dia yang menjerumuskan, sekarang, setelah aku sial begini, bukanya memberi suntikan support, malah menyebarkan aibku seperti kata Mama.
"Res, kamu baik-baik aja?"
Ah, pertanyaan bodoh apa, itu. Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah apa yang terjadi. Aku hancur. Sangat hancur.
"Res, kamu udah liat video-video yang tersebar itu? Itu mirip banget sama kamu dan Herdi." Heni mengirim pesan lagi. Mungkin karena aku membaca pesannya tanpa membalas.
"Iya, aku udah tau. Bukannya kamu liatin ke aku kemarin?" tanyaku, malas.
"Bukann. Bukan itu. Sekarang banyak videonya!"
Lalu?
Karena notipikasi semakin membludak. Kuabaikan pesan Heni. Pertama, kubuka Instagram. Banyak yang mengirimkan DM dengan kalimat-kalimat nakal. Aku menelan saliva dengan keringat dingin bercucuran, dan tangan bergetar hebat. Ada apa, ini? Apa efek penggrebekan kemarin.
Lalu kubuka salah satu notip teman yang menyebut namaku di salah satu postingan. Dan hape tanpa sadar terjatuh saat melihat video yang meski disensor, tetap sangat memalukan. Disertai link yang tersambung ke sebuah blog, dengan caption bahwa banyak video lain di blog tersebut.
Bagaimana, video-video itu bisa menyebar? Tuhan ... sampai kapan hukuman ini akan berakhir? Aku sudah sangat lelah.
Kujambak rambut dengan frustrasi seraya terisak tertahan. Di tengah kekalutan, tatapanku tertuju pada sebuah silet yang terletak di meja belajar Nazwa.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (35)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus banget
13/05
0bagus banget karyanya
03/05/2025
0bagus banget
02/05/2025
0Lihat Semua