logo text

Kembalilah Hana

"Sebaiknya kau mati saja sejak dulu."
"Hentikan! Semua bukan salahmu!"
"Aku akan membalas rasa sakit yang kurasakan selama ini."
Hadi langsung terlonjak dari tidurnya ketika mimpi buruk itu kembali datang. Napasnya memburu. Rasanya seperti habis berlari puluhan kilo.
Dua tahun sudah berlalu, tapi mimpi-mimpi buruk itu masih selalu mengganggunya setiap malam.
Mimpinya selalu sama; sosok bertudung di tengah-tengah hutan, kobaran api yang entah berasal dari mana, serta suara-suara menakutkan yang bergema di alam bawah sadarnya.
Ini bukan pertama kalinya Hadi bermimpi demikian, rasanya seperti kenyataan. Tempatnya pun sangat tidak asing, dia familiar. Namun, dia tidak ingat. Setiap kali Hadi berusaha mengingat, kepalanya selalu sakit.
Keringat dingin membasahi pelipis, Hadi menghela napas dan melihat jam dinding baru menunjukkan pukul dua dini hari. Padahal dia baru tidur pukul sebelas malam.
"Sial, aku tak bisa tidur lagi." Hadi mengacak rambut frustrasi.
Setiap kali Hadi terbangun di tengah malam, dia tidak akan bisa kembali tidur sampai pagi menjelang. Bagaimana bisa Hadi kembali tidur setelah mendapat mimpi yang menakutkan seperti itu?
Tapi, dia juga sangat lelah hari ini, daripada tidak tidur sama sekali, lebih baik Hadi memaksakan diri.
Pria itu langsung berbalik ke arah meja nakas di samping ranjang dan membuka lacinya. Dia mengeluarkan sesuatu dari sana. Obat tidur menjadi salah satu jalan keluar untuk insomnia yang kini tengah menyerang.
Setelah meminum obat, Hadi kembali merebahkan diri di kasur. Selimut hangatnya kembali dia tarik sampai menutupi dada, berusaha memejamkan mata dan berharap mimpi buruk itu tak lagi datang.
***
"Kau sedang sakit?"
Hadi mendongak ke arah Surya saat pria itu bertanya. Surya menatap Hadi dengan penasaran, pria itu langsung menggeleng karena merasa hari ini dia baik-baik saja.
''Tidak, aku baik-baik saja.''
Surya mengangguk. ''Ratna bilang, kau jarang makan setiap pagi dan hanya sibuk dengan pekerjaan saja."
Ratna sering datang ke rumahnya akhir-akhir ini dengan alasan yang sama seperti beberapa hari yang lalu. Padahal itu hanya alasan semata agar dia bisa terus dekat dengan Hadi.
Ratna pikir, Hadi bisa meluangkan waktu untuknya dan bercerita satu sama lain. Sayangnya, sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah itu sampai beberapa hari kemudian, Hadi selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan di depannya, bukan memperhatikan Ratna.
"Aku bisa makan siang. Banyak yang harus kuurus sekarang." Hadi kembali fokus pada pekerjaannya.
Mendengar itu, Surya hanya bisa mengangguk dengan perasaan sedikit jengkel. Bisa-bisanya Hadi mengabaikan dirinya yang sejak tadi bersedia menunggu.
Ratna sudah bercerita pada Surya perihal kedekatannya dengan Hadi. Namun, tak ada yang istimewa. Semuanya tampak wajar, tak ada perubahan yang signifikan.
Surya tidak terkejut dengan ucapan semacam itu. Dia sudah bisa menduga bahwa Hadi memang tidak semudah itu menerima perasaan.
Jangankan hari ini, dulu pun begitu. Saat Risma hendak menjodohkannya dengan seorang putri konglomerat, perasaannya yang dalam itu malah jatuh pada Hana. Namun sayangnya, kisah cinta mereka harus berakhir tragis.
''Hadi, apa kau pernah berpikir untuk memiliki anak?''
Pertanyaan itu sontak membuat Hadi menatap ke arahnya lagi. Mereka memang dekat. Namun tidak sedekat itu untuk membahas hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Hadi saat ini.
''Kau salah makan, ya?"
Surya tersenyum kecut, "aku hanya berpikir, mau sampai kapan kau hidup seorang diri seperti ini? Paling tidak, menikahlah agar ada yang mengurusmu. Rumah ini terlalu besar untuk kau tempati seorang diri."
Hadi menggeleng, kini jarinya beralih pada keyboard laptop. Ucapan Surya hanya dianggap sebagai angin lalu.
Ya, Surya tahu tak ada yang sanggup menggantikan sosok Hana, meski nama itu sudah pudar di ingatannya.
Surya cemburu, tapi setidaknya Surya masih mengingat Hana dan nama itu tertanam kuat di otaknya, selalu kata itu yang akhirnya dia ucapkan di saat hatinya terasa goyah.
"Aku tak sendiri," laki-laki itu menyahut, "ada pelayan, tukang kebun, para petani. Mereka bagian dari keluarga ini." Yang terdengar begitu bodo amat.
"Kau sangat yakin?"
Tangan Hadi berhenti mengetik. Dan keduanya diam saja sampai laki-laki itu berkata, "Kapan aku protes dengan kehadiran dan kemampuan mereka?"
Terkadang, Surya ingin sekali punya kekuatan membaca pikiran. Agar dia tahu apa yang Hadi pikirkan setiap kali mereka sedang berdebat seperti ini atau setiap kali laki-laki itu sendirian. Surya ingin tahu, sampai kapan Hadi akan lupa ingatan seperti ini.
"Rabu sore kau sibuk?"
Hadi berpikir sebentar, "Aku harus keluar kota untuk mengurus properti."
"Kalau aku memintamu untuk tidak usah pergi ke luar kota gimana? Ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu."
"Sudah diatur dari minggu lalu, Surya. Mana bisa dibatalin gitu aja, besok kan udah Rabu."
Kali ini Hadi tak punya alasan lagi untuk menuruti keinginan Surya. Jangan-jangan pria itu mau mengenalkannya lagi pada gadis-gadis yang masih lajang dengan dalih pendekatan dan mengenal.
Tidak, Hadi sudah kapok dengan hal-hal semacam itu, kesan pertamanya saat bertemu dengan Ratna saja tidak bagus. Bisa-bisanya baru kenal sudah mengajak menikah, meski dia berdalih bahwa itu semua hanya candaan.
''Ayolah, kapan lagi kita--''
"Surya! Jangan mulai." Hadi Kusuma dan emosinya yang akhir-akhir ini mudah terbakar. "Apa kau bisa sehari saja tidak menggangguku dengan ide-ide bodohmu itu? Kapan kau akan berhenti mempermasalahkan statusku yang tak juga menikah hingga kini. Apakah aku tampak begitu menyedihkan bagimu?"
Surya kaget, dia secara refleks menjauh dari hadapan Hadi. Pria itu memang selalu tampak mengerikan ketika marah.
Bukan tanpa sebab Surya mengajaknya untuk ke luar, dia memang ingin menunjukkan sesuatu pada Hadi. Namun, bukan untuk mengenalkannya pada wanita lain.
"Sudahlah, seharusnya kau yang menikah dan urus urusanmu sendiri. Kau juga harus move on dari mendiang adikku."
"Di!"
Hadi malah kembali mengingatkannya pada Lilis. Perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu ditemukan tewas secara mengenaskan di pekarangan rumah.
Hal itu tampak tak manusiawi, dan sampai saat ini Surya sering bertanya-tanya. Apakah perlakuan Lilis di masa lalu begitu kejam sampai-sampai dia harus menerima kematian yang begitu menyakitkan.
"Jangan bawa-bawa adikmu, aku belum menikah bukan karena belum bisa melupakannya." Surya menyahut.
Kali ini Hadi menatap pria itu dengan sorot dingin. Surya bahkan tidak tahu kenapa Hadi begitu pemarah akhir-akhir ini, padahal dia tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Sama, kalau begitu jangan mengungkit soal status juga padaku. Mau menikah atau tidak, itu urusanku." Hadi kembali menatap layar laptopnya.
Surya mengalah, dia tak lagi memiliki kemampuan untuk mendebat pria itu. Apa yang Hadi ucapkan memang benar. Dia tak seharusnya memaksa. Hana pernah bilang padanya dulu, apa pun jalan yang akan pria itu ambil, Surya harus mencoba untuk mengerti.
"Baiklah, terserah padamu. Aku pergi."
Surya bangkit dari sofa dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Sepertinya hari ini Hadi sedang butuh sendiri. Entah apa yang sudah menimpanya akhir-akhir ini.
"Dasar lelaki keras kepala. Mau sampai kapan dia seperti itu?" Surya bergumam. Hatinya dipenuhi rasa jengkel.
Surya menuruni tangga di luar rumah. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, tatapannya langsung mengarah pada hutan rimbun di samping rumah tempat kejadian nahas dua tahun yang lalu terjadi.
"Kau sudah berjanji tak akan kembali, kan, Hana?" Surya tampak putus asa. "Hana, apa yang sudah kau lakukan pada Hadi?
Tatapannya menelisik pepohonan rimbun tersebut. Dia bahkan tahu bahwa Hana berada di sana, mengamatinya dari jauh.

Komentar Buku (755)

  • avatar
    Mutiara

    wah ceritanya sangat bagus lanjut ya thor😍😍

    26/05/2022

      0
  • avatar
    AlfiIsmail

    cerita dalam novel in sangat mengisnpirasi

    22/05/2022

      0
  • avatar
    lidaRudi

    luar biasa buku ini sangat bagus untuk dibaca.

    19d

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda