logo text

Bab 59 Seperti Iwan Fals

Kris terdiam, kepalanya tertunduk namun sesekali terlihat mencuri curi pandang untuk menatap mata Cathy. Sedangkan Cathy tengah memandangi hamparan lautan sore di seberang tempatnya berada sekarang.
"Cathy..." panggil Kris lembut.
"Hmm."
"Maaf—" Cathy menoleh ke arah Kris.
"Soal yang di pesta malam itu," ucap Kris sambil menatap mata Cathy dalam.
Cathy menghela napas pelan, matanya menerawang ke arah Kris untuk beberapa saat.
"Aku gak mau bahas itu lagi. Kalo nantinya malah bikin kamu bentak aku lagi kaya waktu itu," ucap Cathy kembali memalingkan wajahnya ke arah laut.
Kris tersentak mendengar ucapan Cathy. Ia kembali mengingat sikapnya malam itu yang tengah tersulut api kecemburan, membuatnya tidak sadar berteriak bahkan setengah membentak Cathy. Dan ia tidak menyangka dampak dari perbuatannya itu telah kembali melukai hati Cathy.
"Maaf, aku gak ada niat bentak kamu waktu itu. Aku kebawa emosi," ucap Kris tertunduk.
"Aku ngerti kamu kebawa emosi, tapi gak perlu sampe teriak dan ngebentak aku bisa kan?—" suara Cathy yang sedikit meninggi kembali melemah setelah melirik sekitarnya.
"Kita lagi di tempat umum sekarang. Banyak orang yang ngeliat dan aku gak mau kita berantem lagi, trus mancing perhatian yang lainnya. Kalo kamu tetep mau ngebahas itu jangan di sini," ucap Cathy tegas.
"Oke. Aku janji gak bakal emosi, tapi kita harus selesain masalah kita. Aku cuma gak mau masalah ini berlarut larut," pinta Kris dengan tatapan memohon.
"Masalah? Aku rasa masalahnya udah di selesain malam itu. Jadi, masalah mana lagi yang mau kamu di bahas sekarang?" tanya Cathy datar.
"Kamu salah kalo bilang masalah kita udah selesai. Kalo memang udah selesai, kamu gak akan secangung ini sama aku Cathy."
Cathy terdiam seketika, namun sedetik kemudian ia memandangi wajah Kris heran.
"Sebenarnya mau ngomong apa sih? To the point aja deh," kata Cathy sedikit kesal.
Kris menghela napas berat sembari memandangi wajah Cathy sendu.
"Apa aku ada salah sama kamu? Aku bingung kenapa kamu kembali dingin kaya gini lagi?" 
Cathy tidak menjawab sepatah katapun. Walaupun lidah Cathy kelu, namun tatapan matanya seakan menyiratkan sebuah jawaban untuk Kris. Kris seolah dapat merasakan kekecewaan Cathy melalui sorot matanya yang juga sama sama menatap mata Cathy bersamaan.
Mereka berdua pun bertatap tatapan untuk beberapa saat, lalu sedetik kemudian Cathy kembali memalingkan wajahnya.
Kris tersenyum getir. Ia mengulurkan sebelah tangan ke atas meja makan. Perlahan Kris menyentuh punggung tangan Cathy yang berada di atas meja.
"Aku minta maaf jika telah membuatmu kecewa, tapi kamu harus tau satu hal. Apapun yang kamu pikirkan tentangku sekarang ini, sedingin apapun sikapmu ke aku tidak pernah sedikitpun menyurutkan rasa sayangku kepadamu—" 
Kris lalu mengenggam telapak tangan Cathy erat.
"Harus aku akui kalau aku cowok yang pencemburu. Aku jadi hilang akal hanya karena melihatmu datang bersama cowok lain ke pesta malam itu. Aku takut, sangat takut kalo kamu punya rasa yang lebih dengan cowok itu. Hingga aku tidak sadar jika aku sendirilah yang membuatmu kecewa karena perkataan dan juga perbuatanku. Aku sungguh minta maaf Cathy," ucap Kris lirih. 
Cathy terdiam, namun wajahnya memandangi wajah Kris dalam waktu yang cukup lama. Sorot mata Kris yang menatap wajah Cathy sendu, malah membuat mata Cathy berkaca kaca.
"Aku juga minta maaf, Kris. Harusnya aku bilang dulu sebelumnya kalo pergi dengan Jun. Bodohnya aku tidak menyadari kesalahanku dan malah berpikir yang tidak tidak saat melihatmu bersama Grace. Aku pun juga kesal, apalagi waktu itu, kau memilih berdansa berdua dengannya," ucap Cathy seraya menegadah kepalanya ke atas agar air matanya tidak tumpah.
Kris perlahan lahan tersenyum tipis. Kris lalu melepaskan gengaman tangan Cathy, kemudian bangkit berdiri untuk berpindah posisi tempat duduk jadi ke sebelah Cathy.
"Malam itu, aku sempat melihatmu lari pergi sebelum pesta dansa di mulai. Aku ingin menemuimu sebelum pesta dansa, tapi tidak dapat menemukan keberadaanmu di manapun. Walaupun sudah berusaha mencarimu ke seluruh tempat, bahkan sampai ke luar gedung. Aku tidak tau kalo kamu kembali lagi ke pesta itu—" 
Kris mengambil sapu tangannya, kemudian mengusap pelan pipi Cathy dengan sapu tangan itu.
"Maaf karena aku tidak menolak ajakan Grace untuk berdansa. Percayalah Cathy! Aku dan Grace tidak sedekat yang kamu pikirkan. Baik dulu maupun sekarang. Justru akulah yang cemas melihatmu jika sedang bersama cowok itu."
Cathy mengerti siapa yang dimaksud Kris dengan sebutan 'Cowok itu'. Cathy bisa merasakan kekhawatiran Kris, terlebih wajah Kris kembali tertunduk setelah menyelesaikan kalimatnya itu.
"Bukankah sudah pernah ku katakan sebelumnya, kalau Jun hanya teman kecilku?" ucap Cathy pelan.
"Iya, aku tahu. Aku juga sudah pernah dengar itu, tapi—" Kris mendongak untuk menatap mata Cathy.
"Kamu kan tidak pernah tau seperti apa perasaan dia yang sesungguhnya," kata Kris pelan.
Cathy kembali terdiam, memikirkan perkataan Kris. Ia memang tidak tau apa-apa soal perasaan Jun yang sekarang. Bagi Cathy, Jun masih sama seperti waktu mereka bersama saat masih kecil dan ia menyakini kalo hubungan mereka berdua hanya sebatas teman.
"Aku ngerti kamu bingung sekarang," ucap Kris seraya menyentuh surai Cathy yang menutupi wajahnya. 
"Bagiku cowok dan cewek tidak bisa berteman. Karena pasti salah satu di antara mereka akan ada yang saling suka. Atau mungkin juga bisa kedua duanya," ucap Kris pelan.
Cathy melihat wajah Kris kembali tertunduk. Tangan Cathy terulur untuk menyentuh pipi Kris sebentar, agar menatap wajahnya.
"Maaf ya aku gak tau kalo kamu punya pemikiran seperti itu—" 
Cathy menatap mata Kris dalam.
"Aku gak tau bagaimana caranya menghapus rasa cemburumu itu, tapi kamu harus tau kalo pertemanan aku sama Jun sama seperti kamu dengan Mary."
Kris terdiam. Jawaban Cathy terasa seperti pukulan telak baginya. Kris memang berteman dekat dengan Mary, tapi itu karena mereka tinggal berseberangan. Selain itu baik Kris dan Mary, keduanya memiliki selera yang berbeda yang tidak di ketahui Cathy.
Kris menghela napas pelan seraya menatap kembali ke dalam manik mata Cathy yang terlihat jernih.
Kris mungkin bisa percaya pada ketulusan hati Cathy yang terlihat masih mencintainya, tapi dia tidak bisa mempercayai cowok bernama Jun itu.
Sejujurnya banyak hal yang ingin di tanyakannya Kris kepada Cathy, namun Kris memilih untuk tidak membahas hal itu lagi. Ia tidak ingin merusak momen kebersamaan mereka dengan kembali bertengkar seperti sebelumnya.
Pengalaman membuat Kris belajar banyak tentang bagaimana menjaga dan mempertahankan apa yang telah di milikinya.

Komentar Buku (48)

  • avatar
    DevinaLauna

    cerita bagus banget ,aku suka ceritanya❤️

    03/07

      0
  • avatar
    Josextra

    mantap sekalih ni

    21/08/2025

      0
  • avatar
    HarlinoDude

    keren banget

    05/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru