Beranda/Frozen Heart, Burning Love/
Bab 87 Gadis Manja
Cathy terkejut ketika seorang gadis muda memanggil nama Kris dengan suara nyaring, lalu berlari kecil ke arahnya dengan wajah sebal yang sama sekali tidak berusaha disembunyikan.
“Kris!” serunya. “Gimana sih, malah pergi ninggalin duluan?”
Langkah gadis itu terhenti tepat di depan Kris, lalu tanpa ragu ia bergelayut manja di lengan pria itu. Kris refleks menoleh, jelas tidak menyangka akan melihat sosok tersebut berdiri di hadapannya.
“Kenapa nyusul ke sini?” keluh Kris sambil menggeleng heran. “Abang sudah bilang, tunggu di parkiran aja.”
“Bete sendirian,” jawabnya ringan, nada suaranya terdengar kekanak-kanakan, nyaris seperti sedang merengek.
Pandangan Cathy membeku. Matanya seketika membulat saat melihat betapa naturalnya gadis itu bergantung di lengan Kris—terlalu dekat, terlalu nyaman. Sementara Kris sendiri tampak… biasa saja. Seolah pemandangan itu adalah hal yang sudah sangat biasa baginya.
Dadanya mengencang, meski wajahnya tetap tenang.
“Dia siapa, Kris?” tanya Cathy akhirnya. Suaranya datar, tapi ada sesuatu yang tertahan di sana.
Kris menoleh. Baru saat itu ia menyadari ke mana arah pandangan Cathy sejak tadi. Ia segera menarik tangan gadis itu dari lengannya, sedikit terlalu cepat.
“Kay, lepas dulu,” ucapnya pelan namun tegas. “Ini bukan di rumah.”
Gadis itu mendengus kecil, tapi menurut.
“Cathy,” lanjut Kris, mencoba tersenyum. “Kenalin. Ini Kayla.”
Kayla mengalihkan perhatiannya. Tatapannya menyapu Cathy dari ujung rambut hingga ke ujung kaki tanpa rasa sungkan, seolah sedang menilai sesuatu dalam diam. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Kayla mengulurkan tangannya.
“Halo, Kak. Namaku Kayla.”
Cathy menyambut uluran itu. Jabatan tangan mereka singkat, dingin, dan canggung. Ada jarak yang terasa jelas di antara mereka, meski Kayla tampak sama sekali tidak terganggu.
Selesai berjabat tangan, Kayla kembali mendekat ke Kris dan menarik ujung bajunya dengan gerakan manja.
“Ini cewek yang sering abang ceritain itu?” tanyanya tiba-tiba.
Kris sedikit menunduk, lalu membisikkan sesuatu di telinga Kayla.
“Iya. Cantik, kan?”
Kayla mengangguk pelan. Tatapannya kembali jatuh pada Cathy, kali ini lebih lama.
“Persis seperti yang ada di bayanganku.”
Cathy terdiam. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tapi semuanya tertahan begitu saja. Keberadaan Kayla yang terus menempel di samping Kris membuat situasi terasa tidak tepat untuk berbicara lebih jauh.
Saat itulah pintu kamar terbuka, dan Mary melangkah masuk.
“Eh, Ka Mary ke sini juga,” seru Kayla ceria begitu melihatnya.
Mary berhenti melangkah. “Lah? Kok ada Kayla?” Ia menoleh ke arah Kris dengan ekspresi heran. “Tumben bawa-bawa adek keluar rumah.”
“Aku yang maksa,” sela Kayla cepat, nyaris bangga.
Cathy menarik napas kecil.
*Adek…*
Mary segera menangkap perubahan ekspresi di wajah Cathy. Ia menghampirinya dan tersenyum tipis.
“Bingung, ya?” ucapnya pelan. “Ini adeknya Kris. Manjanya kebangetan.”
Kris menghela napas kecil. “Lo sih, Kay. Dibilang tunggu di mobil aja.”
“Terus salah Kayla lagi,” gerutu gadis itu sambil memanyunkan bibir.
Kris tertawa pelan, lalu mengacak rambut adiknya. “Udah. Jangan manyun.”
Pemandangan itu—sederhana, hangat—perlahan meluruhkan ketegangan di dada Cathy. Ia tersenyum kecil, menyadari bahwa salah paham barusan hampir saja membuat pikirannya melayang terlalu jauh.
“Umur mereka nggak beda jauh,” jelas Mary sambil terkekeh. “Makanya kayak teman main.”
“Iya,” sahut Cathy pelan. “Tadi aku hampir salah paham.”
Mary tertawa kecil. “Wajar.”
Sejenak kemudian, Mary teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong, Jun ke mana?”
“Katanya mau pamit ke ibu dulu,” jawab Cathy tenang. “Habis itu pulang.”
Mary mengangguk. “Oh, pantesan.”
☆☆☆☆☆
Kesembuhan Cathy berlangsung lebih cepat dari yang ia kira. Beberapa hari saja sudah cukup bagi dokter untuk memperbolehkannya pulang. Meski tubuhnya masih terasa lemah, ada perasaan lega yang tak bisa ia sembunyikan.
“Barang-barangnya nggak ada yang ketinggalan, kan?” tanya Tante Erni memastikan.
“Udah lengkap,” jawab Cathy sambil menjinjing tasnya.
“Ka Cathy!”
Cathy menoleh. Kayla berjalan menghampirinya dengan wajah cerah, seolah tidak pernah kehabisan energi.
“Aku ikut ke rumah Kak, ya?” pintanya sambil mengaitkan lengan Cathy. “Pengen lihat-lihat.”
Cathy tertegun sesaat, lalu tersenyum kecil. “Boleh.”
Kayla bersorak kecil, tampak sangat senang.
“Kris ke sini bareng kamu, kan?” tanya Cathy.
“Iya. Tadi masih di bawah. Entah ngapain.”
Tante Erni mengajak mereka keluar kamar. Saat Cathy hendak mengangkat tasnya, pintu kembali terbuka.
Kris berdiri di ambang pintu.
“Yang ditungguin akhirnya muncul juga,” celetuk Kayla sambil menunjuknya.
Kris terkekeh kecil, lalu menoleh ke Tante Erni. “Saya bantu tasnya, Tante.”
☆☆☆☆☆
Sesampainya di depan rumah Cathy, langkah mereka terhenti.
Jun.
Pria itu duduk di teras, lalu berdiri begitu melihat Cathy.
“Jun…” panggil Cathy lirih.
“Sekalian mampir,” ujar Jun singkat sambil tersenyum kecil. “Pengen lihat keadaan kamu.”
“Masuk dulu,” ajak Tante Erni ramah.
Jun mengangguk dan membantu mengangkat tas ke dalam rumah.
Kris berdiri agak jauh, memperhatikan interaksi itu dalam diam. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, tapi tidak lagi sekuat sebelumnya. Ia memilih menahan diri.
Kayla menarik ujung bajunya. “Bang.”
Kris menoleh. “Apa?”
“Cowok itu siapa?” tanya Kayla dengan mata berbinar.
Kris langsung menatapnya tajam. “Nggak boleh.”
“Hah? Kenapa?”
“Pokoknya nggak boleh.”
Kayla mendengus kecil. “Yaudah. Nanti aku tanya Kak Cathy aja.”
Kris hanya bisa menghela napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi, ia merasa… lebih tenang.
Bersambung...Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
cerita bagus banget ,aku suka ceritanya❤️
03/07
0mantap sekalih ni
21/08/2025
0keren banget
05/05/2025
0Lihat Semua