Beranda/Frozen Heart, Burning Love/
Bab 40 Rahasia Cowok
"Iya, deh. Gue bakal cerita, tapi jangan di ledek atau kasih komentar dulu sebelum ceritanya selesai ya," pinta Cathy.
"Iya, beres. Mulut Jun udah di lakban dulu nih sementara," sahut Jun terkekeh.
"Haha.. Bisa aja ngomongnya," ucap Cathy sedikit tertawa.
Cathy pun akhirnya menceritakan semuanya. Dimulai dari serangan Grace saat di kamar mandi setahun yang lalu sampai dengan sikap Kris yang mulai berubah karena salah paham mengenai dirinya.
Jun menyimak setiap ucapan yang di lontarkan Cathy. Sesuai janjinya, ia tidak menyela ataupun berkomentar sedikit pun saat Cathy berbicara. Walaupun sesekali memberi gumaman kecil sebagai bentuk respon bahwa ia masih mendengarkan ucapan Cathy.
"Jadi begitu ceritanya, Jun..." ucap Cathy di akhir pembicaraan.
Jun tidak bersuara sedikitpun bahkan setelah Cathy selesai bercerita.
"Jun.." panggil Cathy pelan.
Tanpa Cathy ketahui, Jun rupanya tengah termenung seakan tengah memikirkan sesuatu.
"Jun.. Masih di situ kan?" tanya Cathy memastikan.
Hening sejenak.
Tak lama kemudian, terdengar suara Jun yang berucap, "Ah.. iya"
"Dengerin tadi Cathy cerita kan?" tanya Cathy sekali lagi.
"Heh? Cerita lu panjang banget, Cathy. Ngantuk gue dengernya," gumam Jun pelan.
"Oh..~" Cathy menghela napas.
"Udah malem juga. Lu tidur gih kalo ngantuk," sambung Cathy dengan maksud meminta Jun mengakhiri teleponnya.
"Cathy tidur juga ya," sahut Jun lembut.
"Iya. Gue tutup ya telponnya," ucap Cathy seraya menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Iya, See you," ucap Jun sambil mematikan panggilan telepon.
Setelah panggilan dari Cathy berakhir, Jun nampak berpikir serius.
Walaupun saat di telpon tadi ia sempat bilang mengantuk, namun nyata Jun mendengar dengan seksama setiap perkataan yang diucapkan Cathy. Entah mengapa Jun dapat merasakan kesedihan yang Cathy rasakan, di sisi lain ia juga marah pada Kris yang telah membuat Cathy menangis.
Jun pun merasa menyesal karena telah membiarkan Kris mendekati Cathy terlalu jauh. Rasa sesal dan amarah yang berkumpul itu, membuatnya mengepalkan tangan serta meninju bantal yang ada disekitarnya.
Ingatan akan perjanjian tak tertulisnya dengan Kris tempo hari, memenuhi isi kepala Jun seketika.
Saat itu Jun yang sedang berganti pakaian di ruang ganti khusus anak basket, di kejutkan dengan kedatangan Kris kedalam ruang ganti.
CLEK... CLEK.. CLEK...
"Kenapa harus di kunci pintunya?" celetuk Jun saat melihat Kris mengunci pintu ruang ganti dari dalam.
"Kita harus bicara sekarang," tegas Kris seketika.
Jun menghela napas, lalu menghampiri Kris setelah memakai bajunya.
"Ada apa?" tanya Jun sembari menatap wajah Kris.
"Gua suka sama Cathy," ungkap Kris tanpa basa-basi.
Jun nampak terkejut mendengarnya. Walaupun dugaannya tidak salah, namun ia merasa tidak yakin. Ditatapnya wajah Kris lekat lekat untuk beberapa saat.
Jun merasakan keseriusan tergambar jelas di wajah Kris, belum lagi tatapan matanya yang sedikit mengintimidasi.
"Iya. Gua udah tau kalo soal itu," timpal Jun membuat Kris terkejut.
"Kalo tau, kenapa lo masih deketin Cathy?" tanya Kris sedikit meninggi.
Sejujurnya Jun cukup kaget dan hampir terpancing saat suara Kris jadi sedikit meninggi. Namun saat melihat kilatan kemarahan di mata Kris itu, membuat Jun berpikir untuk meredam emosinya. Ia harus tenang menghadapi cowok Jangkung di depannya ini, jika masih ingin bermain basket di sekolah ini.
Jun membatin jika api emosi Kris di balas api kemarahannya, tidak akan mampu menyelesaikan masalah dan malah akan memperparah keadaan.
Jun menghela napas singkat sebelum mulai berbicara sembari menatap kedua bola mata Kris.
"Kalo bukan deketin Cathy, ya.. terus deketin siapa? Masa iya. Gue deketin lo," tanya Jun setengah meledek.
Jun mencoba meredakan ketegangan, namun gagal. Kris yang sedang dalam mood yang kurang baik itu, malah menatap tajam Jun
"Jauhi Cathy," pinta Kris tegas.
"Enggak bisa. Gua nggak mau," tolak Jun seketika.
"Kenapa nggak bisa? Jangan bilang lo suka juga sama Cathy," tanya Kris penasaran.
Jun menganggukkan kepala sekilas, lalu tersenyum kecil sembari mengangkat salah satu alis matanya.
"Asal lo tau aja, kedatangan gua kesini memang buat Cathy. Lagipula lo bukan orang terpenting buat Cathy," sindir Jun seketika.
"Jangan asal bicara lo," geram Kris menarik kerah baju Jun.
"Lo mungkin beranggapan, gua cuma anak baru di sekolah ini. Tapi lo harus tau, gue jauh lebih lama kenal Cathy daripada lo. Gua kenal Cathy udah dari delapan tahun yang lalu, kalo lo belom tau. Jadi enggak mungkin, gua tiba-tiba jauhin dia begitu. Disaat bisa deket satu sekolahan kaya sekarang," akui Jun.
Cengkraman di kerah baju Jun melemah seketika. Kris terlihat syok saat mendengar pengakuan Jun. Kris tidak menyangka, Jun dan Cathy sudah saling mengenal sebelumnya. Harapannya untuk mendapatkan hati Cathy seolah sirna seketika, saat Jun kembali.
Melihat wajah kecewa Kris, membuat Jun iba. Terlintas percakapannya dengan Cathy saat di telepon tempo hari, membuatnya tidak tega.
"Kita bersaing secara sportif, bukan dengan cara kaya gini," usul Jun seketika.
"Apa maksud lu?" tanya Kris binggung.
"Lu suka Cathy dan gue pun juga begitu, tapi Cathy belom jadi milik salah satu dari kita bukan? Bagaimana kalau kita biarkan Cathy milih salah satu dari kita?" kata Jun.
Kris berpikir sejenak. Hal yang di takutkannya selama ini ternyata menjadi kenyataan. Ketakutan akan pihak ketiga yang akan meregangkan hubungannya dengan Cathy.
Kris tidak mungkin membiarkan Cathy goyah dan membuatnya memilih Jun.
Sebuah ide tiba tiba terlintas dalam pikiran Kris. Ia harus segera menyatakan cintanya pada Cathy sebelum semuanya terlambat.
"Kalo gue jadian sama Cathy, apa lu bakal mundur buat ngedeketin Cathy?" tanya Kris memastikan.
"Semua terserah Cathy. Kita ga pernah tau siapa yang bakal di pilih olehnya," ucap Jun seraya berjalan mendekati pintu.
"Berjanjilah untuk menjauh dari Cathy, karena gue bakal nembak dia dalam waktu dekat ini. Mengerti?" pekik Kris saat Jun hendak membuka kunci pintu.
CLEK... CLEK... CLEK...
Kunci pintu ruang ganti telah dibuka oleh Jun, namun Jun tidak juga beranjak dari sana. Pikiran dan batinnya berkecambuk untuk sejenak. Jun menghela napas berat, lalu kemudian berbalik badan sembari memandangi Kris yang masih berdiri mematung di tempatnya tadi.
"Kita lihat saja siapa yang di pilih Cathy lebih dulu. Kalo dia nerima lu, gue bakal mundur teratur. Tapi kalo sebaliknya. Jangan salahin gue buat lebih gencar deketin dia," ujar Jun seraya membuka pintu, kemudian menghilang seketika.
Beberapa hari berikutnya, Jun mendengar rumor Kris yang telah berpacaran dengan Cathy.
"Jangan lupa sama janji lu pas di ruang ganti waktu itu," bisik Kris ke Jun sebelum mereka latihan basket.
"Tenang aja. Gue bukan orang yang ingkar janji, tapi awas kalo lu bikin Cathy nangis. Perjanjian kita bakal," sahut Jun seraya menepuk pundak Kris sebelum pergi meninggalkannya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
cerita bagus banget ,aku suka ceritanya❤️
03/07
0mantap sekalih ni
21/08/2025
0keren banget
05/05/2025
0Lihat Semua