logo text

Bab 20 KITA SENASIB

Bab 20
KITA SENASIB
Hotel Monalisa Bekasi ??? Seketika tubuh Ayuna lemas. Suaminya juga berda di hotel yang sama dengn dirinya dan Damar ? Jangan-jangan Maliq sudah melihatnya dan Damar di hotel itu makanya ia menelepon Ayuna barusan ? Sebab tak biasanya Maliq menelpon dirinya dalam jam kerja.
Ayuna di dalam kamar hotel langsung memucat dan gemetaran. Ia duduk menjauh dari Damar. Tak biasanya suaminya mau menyusulnya ke kantor saat ia lembur dan membawakan makanan. Lalu tadi itu apa ? Maliq juga berada di Hotel Monalisa ? Apa Maliq melihatnya bersama Damar tadi sehingga meneleponnya dan mengucapkan kata-kata yang bernada ancaman seperti tadi itu ? Ayuna langsung kehilangan mood bercintanya.
Damar mendekatinya serta merangkulnya mengajak pindah ke tempat tidur. Tapi Ayuna yang ketakutan sudah tidak berminat sama sekali.
“Aku mau pulang, Bang. Perasaanku nggak enak. Barusan Bang Malik bilang ia ada di hotel ini sedang ada pekerjaan. Jangan-jangan ia sudah melihat kita tadi sehingga ia meneleponku barusan.”
“Justru kita harus bersembunyi dalam kamar ini. Kalau kita keluar sekarang bisa-bisa kita bertemu dengan suamimu itu.” Damar tidak mau kehilangan kesempatan sore itu. Masa sudah di kamar hotel, mereka harus keluar lagi tanpa ngapa-ngapin. Sayang amat !
Ayuna tidak merespon ciuman dan rabaan yang dilancarkan Damar padanya. Sungguh, ia betul-betul ketakutan sehingga gairahnya raib seketika. Hal itu membuat Damar kesal. Ia sudah berada di kondisi siap terbang. Eee ... Ayuna malah menghindar. Dengan kesal ia berdiri di jendela kamarnya di lantai tiga hotel tersebut melihat-lihat ke luar sekedar menurunkan kadar tegangannya.
Tapi ... ia justru melihat pemandangan yang menyulut emosinya. Di bawah sana di parkiran mobil ia melihat Raesha dengan seorang lelaki berdiri di depan mobil sedan mewah.
Damar ingat mobil itu, mobil yang pernah mengantar Raesha pulang sore-sore ketika Damar kembali ke rumah itu setelah tiga hari di rumah orang tuanya. Meski tidak mengenali wajah lelakinya, tapi Damar yakin lelaki itu adalah orang yang sama sore itu. Postur tubuhnya sama.
Selama Damar berhubungan dengan Ayuna, belum sekalipun ia melihat wajah suami Ayuna. Bila Maliq menjemput atau mengantar Ayuna ke kantor, Ayuna selalu memberitahukan Damar via pesan WA nya. Damar selalu menghindar. Ia tidak ingin bertemu dengan suami selingkuhannya itu. Sehingga ia tidak pernah tahu bahwa Maliq adalah suami Ayuna.
Ia segera meraih ponselnya dan merekam gambar istrinya dan lelaki itu. Di satu sisi ia tak rela istri yang dicintainya bergaul dengan lelaki lain, meski dirinya sendiri sudah sangat jauh mengkhianati rumah tangga mereka. Damar merasa bahwa suatu waktu bom akan meledak dalam perkawinannya. Dan ia tidak mau disalahkan begitu saja. Maka ia juga harus punya bukti sesuatu tentang istrinya itu. Dia mengambil gambar Resha yang sedang berdiri dengan Maliq serta menyoroti nama hotel yang terpampang jelas dekat lokasi parkir itu. Artinya Raesha pernah ke hotel itu berduaan dengan lelaki lain.
Tak lama seorang lelaki muda muncul mendekati Raesha dan lelaki itu. Mereka bertiga terlihat bicara serius. Tidak lama, lalu Maliq dan Raesha masuk ke mobil dan segera meninggalkan tempat itu.
Damar melangkah ke sofa tempat Ayuna duduk dengan pakaian berantakan. Ranum dadanya menyembul di balik blusnya yang tak terkncing, mengundang Damar. Tak menyian-yiakan, Damar segera merengkuh Ayuna dan menghujani dengan ciuman panasnya di berbagai tempat. Sesaat Ayuna terlena dan membalasnya. Tapi saat teringat telepon suaminya tadi, gairahnya surut lagi. Didorongnya tubuh Damar dan ditepisnya jemari Damar yang bermain lincah di dadanya.
“Aku mau pulang sekarang.” Ayuna segera merapikan pakaiannya dan menyisir rambutnya.
“Kalau kamu keluar sekarang, apa ngga takut kepergok suamimu ? Kamu kan ngga tahu di mana lokasi suamimu saat ini. Bisa saja dia sedang ada di lobby.”
Ucapan Damar ada benarnya juga. Tapi harus berapa lama Ayuna bersembunyi ? Sedang Damar kembali memeluknya dan menghujani tubuhnya dengan aktifitas panasnya. Tiba-tiba Ayuna berdiri. Berlama-lama di kamar hotel ini membuat ia makin gelisah karena ketakutan. Lebih baik ia segera pulang sebelum Maliq tiba di rumah. Semoga saja ia tak ketemu Maliq di hotel ini.
“Yuna, tega kamu ninggalin aku. Lihat, aku sudah dalam kondisi begini. Wajah Damar memerah seraya tangannya menunjuk bagian bawahnya yang siap tempur.
“Maaf, Bang. Aku betul-betul tidak bisa saat ini. Hatiku kacau dan takut sekali.” Ayuna mengusap sekilas milik Damar lalu cepat melangkah keluar sebelum Damar menarik dirinya. Sebetulnya ia kasihan juga melihat kondisi Damar yang sudah memuncak. Tapi ia harus menyelamatkan dirinya saat itu.
Bergegas Ayuna menuju lobby. Dengan berjalan kaki ia melintasi pekarangan hotel yang luas untuk mencari taksi atau angkutan umum di jalan raya. Sebelum sampai di pinggir jalan, mobil Damar sudah menyusulnya. Terlihat sedikit perdebatan, tapi kemudian Ayuna masuk ke mobil itu.
***
Maliq memperhatikan wajah Raesha yang duduk bersandar di sampingnya. Matanya terpejam dan ada titik air di sudut matanya. Ia dapat merasakan betapa lukanya hati Raesha melihat suaminya bersama wanita lain. Maliq tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Raesha. Tapi apapun kondisi rumah tangga mereka, mereka sudah punya satu orang putra yang tampan. Pengkhianatan pasangan tetaplah menimbulkan amarah dan sakit hati.

Maliq saja yang belum bisa mencintai Ayuna istrinya, tetap merasa sakit hati atas pengkhianatan istrinya itu. Apalagi Raesha yang sudah hidup bertahun-tahun dengan suaminya bersama seorang putra mereka. Pasti sakit sekali mengetahui suaminya berhubungan dengan wanita lain. Maliq yakin sebelum ini mereka pasti saling mencintai.
Tangan Maliq terulur mengusap air yang menggenang di sudut mata Raesha. Ada rasa iba melihat Raesha yang tengah terluka itu.
Mata Raesha terbuka ketika dirasanya ada jemari yang mengusap matanya. Diperbaikinya duduknya dan dibersihkannya wajahnya dari sisa air mata.
“Sudah lama kamu mengetahui penyelewengan mereka ?” Maliq bertanya lembut. Raesha menatap Maliq, merasa ada yang berobah dari sikap Pak Bos itu. Maliq bersikap santai, tidak formal seperti biasanya. Dan Maliq menyadari pandangan Raesha.
“Maaf, aku rasa kita tidak usah bersikap formal. Kamu bisa memanggil namaku saja. Kita senasib, sebaiknya kita mulai bersahabat. Kita berbisnis bersama. Mungkin kita juga bisa bersama-sama menghadapi dan membalas mereka. Jangan dikiranya sekarang aku diam berarti mengikhlaskan perbuatan busuk mereka. Tidak ! Akan datang waktunya keduanya menyembah mohon ampun pada kita. Kamu setuju ?” Pelan suara Maliq, tapi terdengar penuh dendam.
Sebelum ini Raesha tidak pernah berpikir untuk membalas dendam pada suaminya yang pengkhianat itu. Baginya berpisah dengan Damar secepatnya sudah cukup. Toh Rhasyaf sudah membuat kedua orang itu babak belur dengan pukulannya. Tapi pikir-pikir, memberi sedikit pelajaran pada para pengkhianat rumah tangga itu sepertinya seru juga. Apalagi ada teman senasib yaitu Maliq.
Raesha mengembang senyum.
“Baik,mari kita bermain-main dengan mereka. Kita beri mereka pelajaran.”
***

Komentar Buku (137)

  • avatar
    Grandika Andrayodi

    Raesha yg dizalimi suaminya, bertemu sama Maliq. semoga terjalin kisah indah

    06/07/2022

      2
  • avatar
    RukminiDwi

    menarik dan seru

    11d

      0
  • avatar
    YantiIrma

    novelnya sangat bagus

    15d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru