logo text

Bab 23 DAMAR CEMBURU

Bab 23
DAMAR CEMBURU
Terlihat Ayuna keluar dari lobby hotel sendirian. Ia berjalan cepat menuju jalan raya. Tapi tak lama terlihat mobil Damar menyusulnya. Ayuna yang tadinya mau pulang sendiri tapi dipaksa oleh Damar ikut mobilnya. Setelah berdebat sebentar, akhirnya Ayuna naik ke mobil Damar.
“Itu mereka sudah selesai, “ Ujar Raesha. Maliq menatap keduanya tanpa berkedip.
“Cepat sekali permainan mereka,” ujar Raesha lagi.
“Sepertinya setelah menerima teleponku tadi, Ayuna pasti gelisah. Mana bisa tenang dia mengetahui kalau suaminya berada di hotel yang sama dengan tempatnya berkencan gelap. Aku juga mengiriminya lokasiku saat ini untuk meyakinkan dia bahwa aku ada di hotel ini. Kalau mereka tadi sempat bercinta pasti saat keluar keduanya akan berpelukan lagi seperti ketika mereka masuk tadi. Tapi kamu lihat ? Ayuna berjalan sendiri buru-buru. Dan terjadi sedikit perdebatan sebelum Ayuna masuk mobil Damar. “ Raesha mengangguk-angguk mendengar ucapan Maliq.
Setelah beberapa saat Damar dan Ayuna berlalu, Maliq mengajak Raesha meninggalkan tempat itu.
***
Damar uring-uringan. Sudah berada di kamar hotel, sudah sempat warming-up, sudah kondisi siap tempur eee ... Ayuna menolak meneruskan acara mereka. Ia begitu ketakutan setelah menerima telepon dari suaminya yang kebetulan saat itu juga berada di hotel tersebut. Padahal kalau mereka lanjutkan acara bercintanya, toh suami Ayuna juga tak bakal melihat karena mereka berada dalam kamar yang terkunci.
Tambah kesal lagi melihat istrinya bersama laki-laki lain ada di hotel itu. Apakah Raesha juga melakukan hal yang sama dengan dirinya ? Raesha yang sangat dicintai dan mencintainya tegakah mengkhianati Damar ? Raesha yang tak pernah meninggalkan kewajiban sholat lima waktu maupun shalat sunah lainnya mau melakukan perbuatan dosa maksiat ? Lalu sejak kapan Raesha menjalin hubungan dengan lelaki itu ? Siapa lelaki itu ?
Sampai di rumah Damar semakin kesal karena mobil Rhasyaf diparkir melintang di depan garase. ‘Apa sih maunya anak itu ? Sudah menumpang hidup di rumah ini, malah songong pula. Bisa ngga sih parkir langsung masuk garase agar Damar bisa parkir di carport ? Alhasil Damar harus parkir di luar pagar.
Dengan kesal ditendangnya pintu pagar yang terbuat dari besi itu sampai ia mengaduh sendiri kesakitan ketika ujung kakinya berbenturan dengan besi yang keras. Masuk rumah, terlihat rumah lengang. Bi Imas dan Hanum berada di sanggar jahit. Sepertinya sedang banyak jahitan. Terlihat dari tumpukan bahan pakaian di sana.Suara mesin jahit bergetar halus mengisi keheningan di ujung sore itu.
Tidak terlihat Rhasyaf maupun Shaka. Sejak ada Rhsyaf di rumah itu, Shaka jadi tidak peduli sama papanya. Jangan-jangan Rhasyaf menghasut Shaaka agar membenci papanya. Atau jangan-jangan Rhasyaf mengajarkan hal yang tidak pantas untuk anak kecil. Mungkin mengenalkan game-game yang bukan konsumsi anak kecil. Atau malah memperlihatkan konten-konten porno ? Awas saja kalau itu terjadi ! Rhas akan berurusan dengan Damar. Tapi... tunggu dulu ! Berurusan dengan Rhas ? ‘Kan sudah dua kali Damar merasakan bogem mentah dari Rhasyaf. Apa mungkin Damar sanggup berhadapan lagi dengan Rhaas ? Raesha harus diberitahu hal ini. Sebagai orang tua mereka tidak boleh membiarkan putra mereka yang masih kecil diracuni otaknya oleh Rhasyaf. Ya, Raesha harus diberitahu agar Rhas segera diusir dari rumah itu.
Sudah lewat waktu magrib. Tapi Raesha belum juga pulang. Begitu juga dengan Rhas dan Shaka. Entah pada kemana orang-orang itu.
Damar melangkah ke pintu depan. Di saat yang sama ia melihat mobil hitam yang pernah mengantar Esha dulu berhenti di depan rumah. Lelaki yang mengemudikan mobil itu turun dan membukakan pintu untuk Raesha. Raesha turun dan berdiri memunggungi rumah, sehingga Damar tidak dapat melihat apa yang dilakukan kedua orang itu. Dan ia juga tidak bisa dengn jelas melihat wajah lelaki tersebut. Foto-foto yang pernah diambilnya pun tidak memperlihatkan dengan jelas wajah lelaki itu.
“Assalamualaikum...” Raesa melangkah masuk. Ia tahu Damar ada dekat pintu, sekilas ia melihatnya tadi. Makanya ia sengaja agak berlama-lama dengan Maliq ketika turun dari mobil tadi.
“Waalaikumussalam. Dari mana kamu, Sha ? Jam segini baru pulang ?
“ Ma... maaf. Aku tadi ada perlu.” Raesha memasang wajah seolah bersalah. Membuat Damar merasa di atas angin.
“ Ada perlu kemana ? Dan siapa lelaki yang mengantar kamu pulang ? “ Damar meninggikan suaranya. Raesha tidak menjawab. Ia hanya menunduk, seolah benar-benar telah melakukan kesalah besar.
“Aku tidak mengerti sikapmu ini, Sha. Kamu mendiamkan aku berhari-hari. Tidak melakukan kewajibanmu sebagai istri. Tidur terpisah. Apa sebetulnya yang kamu inginkan ?” Raesha masih diam sambil menunduk. Dalam hati ia betul-betul mengutuk suaminya itu. Masih juga bertanya mengapa Raesha bersikap seperti itu. Apa dia lupa dengan apa yang dilakukannya dengan Ayuna akhir-akhir ini ? Apa dia pikir Raesha biasa-biasa saja melihat adegan ranjangnya dengan Ayuna ? Apa ia tidak merasa bahwa ia sudah mengkhianati perkawinan mereka ? Dasar lelaki otak bebal. Baru beberapa hari yang lalu ia babak belur dihajar Rhasyaf karena tertangkap basah berzina dengan Ayuna, dan bekas lebamnya pun masih berbekas di wajahnya. Eee... malah membawa Ayuna ke hotel. Dan masih pula minta dilayani oleh Raesha. Otaknya betul-betul sudah turun ke bawah pusarnya rupanya.
Melihat Raesha menunduk ketakutan, Damar makin merasa besar kepala.
“Sha, pokoknya mulai malam ini kamu harus kembali tidur di kamar kita. Mana ada suami istri yang tidur terpisah kamar seperti ini. Aku tak ingin kamu itu menjadi istri yang berdosa karena mengabaikan suami. Coba kamu ingat sudah berapa lama kamu tidak memenuhi kewajibanmu sebagai istri ? Kamu tahu ‘kan ajaran agama kita ? Sekali saja kamu menolak memenuhi kebutuhan batin suamimu tanpa alasan penting, maka semalaman itu kamu akan dilaknat oleh malaikat. Jadi kembalilah tidur di kamar kita. Jadilah istri yang baik agar rumah tangga kita tetap harmonis seperti dulu.”
Duuuh ... rasanyaa ingin Raesha menyobek mulut yang bicara tanpa akhlak itu. Siapa yang sudah merusak keharmonisan rumah tangga mereka ? Siapa yang sudah membagi hati kepada orang lain ? Sekarang bicara sok suci, sok berwibawa di hadapan Raesha.
“Dan satu lagi, Sha. Aku ingin Rhasyaf segera pergi dari rumah ini. Aku tidak mau ia menjadi beban kita. Kan masih ada Ayah dan Bunda di Depok tempat biasa ia tinggal. Kamu lihat saja, sejak ada Rhas di sini, Shaka putra kita jadi tidak bagus kelakuannya. Ia tidak pernah mau sama aku. Kalau mereka ada di rumah, selalu asyik berdua di kamar. Aku kuatir Rhas meracuni otak anak kita dengan tontonan-tontonan yang tidak layak untuk anak kecil. Lihat saja sekarang, sudah lewat jam tujuh malam, mereka masih berada di luar rumah. Apa mereka berkeliaran di mall ? Atau kongkow-kongkow dengan teman Rhasyaf yang nggak jelas itu ? Apa ia mau mengajari Shaka menjadi anak yang tak berakhlak ? Kemana ia membawa Shaka malam-malam begini ...”
“Assalamualaikum ... “ Rhas muncul di pintu berdua dengan Shaka. Keduanya mengenakan baju koko dan peci. Serta menyampirkan sajadah di pundak. Shaka langsung meraih tangan mamanya dan menciumnya.
“Aku sudah shalat magrib dan isya di mesjid, Ma bareng Om Rhas. Tadi habis magrib belajar iqra’ sama Ustadz Aziz.”
“Alhamdulillah. Anak mama pintar.” Raesha mencium kedua pipi anaknya. Lalu tanp menoleh pada papanya, bocah itu mengikuti Rhas masuk ke kamar.
Damar terdiam melihatnya. Terasa ada yang mencubit hatinya. Ia sebagai ayah kandung Shaka belum pernah sekalipun mengajak putranya sholat ke mesjid. Justru Rhasyaf yang sangat dibenci nyalah yang mengajarinya ke mesjid. Dan barusan itu Shaka tidak peduli sama sekali padanya. Padahal ia berdiri dekat Raesha saat bocah kecil itu menyalami mamanya.
Tanpa bicara, Raesha melangkah masuk ke kamarnya. Damar segera mengikutinya.
“Ayo, aku bantu mengemasi barang-barangmu. Aku sangat kangen padamu, Sha. Malam ini kita tidur bersama lagi, ya.” Damar membuka pintu lemari pakaian Raesha. Tapi Raesha segera mencegahnya.
“Keluar ! Ini kamarku. Aku tak akan pernah pindah ke kamar yang penuh maksiat itu.” Dingin suara Resha mencekam hati Damar. Ia terkejut melihat reaksi istrinya. Bukankah tadi Raesha sudah baik-baik saja ? Malah terlihat wajahnya seperti bersalah karena kepergok pulang senja bersama laki-laki lain.
“Apa maksudmu, Sha ? Kenapa kamu membantah suamimu ? Kamu mulai berobah, Sha. Selama ini kita baik-baik saja. Kemana Raeshaku yang penuh cinta dan perhatian padaku ? “ Damar mencoba menjamah bahu istrinya itu. Namun segera ditepis oleh Raesha.
“Jangan berlagak bodoh. Kamu tahu jawabnya. Tak perlu kujelaskan lagi. Keluarlah, ini bukan kamarmu, Mas ! Dan satu lagi, Rhas tak akan pindah dari rumah ini. Aku yang minta ia tinggal di sini.”
Damar menatap lekat-lekat wajah istrinya. Jujur, cintanya masih sangat dalam pada Raesha. Meski ada Ayuna, namun Raesha tetaplah yang utama dalam hatinya.
“Sha ...”
“Keluar !”
“Kamu berobah karena laki-laki itu, ya ? Sudah dua kali aku melihat ia mengantarmu pulang. Apa hubunganmu dengan dia ?Sejak kapan kalian bersama ? Jangan main api, Sha ! “
Raesha mendengus mendengarnya. ‘Kamu yang main api, Mas. Dan kamu yang membakar hangus sampai ludes rasa cintaku padamu.’ Dia membisu, malas berjawab kata dengan Damar. Hanya bikin cape hati. Laki-laki bebal itu tak akan pernah menyadari kesaalahannya. Malah selalu mencari-cari kesalahan orang lain.
“Jawab aku, Sha. Sejauh apa hubunganmu dengan laki-laki itu ?” Damar mengguncang-guncang bahunya dengan geram.
“Bukan urusanmu,Mas.”
“Jadi urusanku, Sha karena aku suamimu. Bila kamu salah langkah, aku sebagai suamimu ikut bertanggung jawab di akhirat nanti. Jangan nodai perkawinan kita dengan penyelewenganmu, Sha.”
Rasanya pingin ngakak Raesha mendengar ucapan konyol suaminya itu. Siapa sih di antara kita yang menyeleweng, Fergusoo ?
“Pintarnya kamu memutar-balik fakta, Mas. Jangan campuri urusanku karena aku juga tak mengusik urusanmu dengan perempuan lain. Sekarang keluarlah !”
“Raesha ! Aku melihatmu di parkiran hotel tadi bersama lelaki itu. Apa yang kamu lakukan di hotel itu ? Sangat tidak pantas wanit baik-baik sepertimu beduaan dengan lelaki lain di hotel.” Damar meninggikan suaranya. Rasa kesalnya sudah memuncak menghadapi Raaesha yang keras kepala. Kesal akibat gagal bercinta sore tadi dengan Ayuna, kini bertambah karena Raesha juga tak mau diajak bercinta malam ini. Malah mengajak ribut dirinya. Hasrat yang tak tersalurkan membuat kepalanyaa sakit dan emosinya naik.
“ Ooo ... kamu melihatku tadi di parkiran hotel ? Dan aku melihatmu berpelukan dengan wanita lain masuk ke kamar 312 tadi. Sekarang keluarlah ! Mandi junub sana !” Raesha mendorong dengan kuat suaminya itu sampai keluar kamar dan langsung mengunci pintu kamarnya.
******

Komentar Buku (137)

  • avatar
    Grandika Andrayodi

    Raesha yg dizalimi suaminya, bertemu sama Maliq. semoga terjalin kisah indah

    06/07/2022

      2
  • avatar
    RukminiDwi

    menarik dan seru

    11d

      0
  • avatar
    YantiIrma

    novelnya sangat bagus

    15d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru