logo text

Bab 12 Sifat Asli Adhyaksa

“Berikan aku surat kuasa! Agar aku bisa melakukan sesuatu pada wanita itu semaksimal mungkin, tanpa ada yang berani menghalangiku, persis seperti yang kamu inginkan.”
Sejenak Zora terdiam, mencerna maksud yang diutarakan kekasihnya.
“Kenapa harus pakai surat kuasa segala? Bukankah semua orang sudah tahu bahwa kamu adalah orang terdekatku selama ini? Bahkan pengacaraku pun, sudah tahu siapa kamu buatku.” Zora menatap kekasihnya penuh ragu.
“Bukan seperti itu sayang, dengarkan aku dulu. Lihat itu! Saat wanita itu tersadar, dia sudah pasti akan melaporkanmu ke polisi. Dan kamu tidak bisa mengelak karena memang kamu yang melakukannya, apapun alibi yang kamu ungkapkan nanti.”
“Tapi, jika ada surat kuasa darimu, aku bisa membuatnya bungkam dan takkan pernah berani membuka mulutnya untuk melaporkanmu. Aku akan menghubungi pengacara terhebat untuk menyelesaikan semuanya.” Adi kembali berbicara, melanjutkan ucapannya.
“Sudah ada Pak Sanjaya, yang akan mengurus semuanya. Beliau lebih paham dan berpengalaman dibidangnya.” Zora tetap berkilah dan berusaha mempertahankan pendapatnya.
“Dengarkan aku! Aku hanya meminta surat kuasa darimu untukku, setelah itu kamu terima beres semuanya. Ibu tirimu itu, aku jamin takkan mengganggumu lagi, bahkan mendekatimu saja dia harus berpikir jutaan kali. Ayolah sayang, apa kamu tak percaya padaku?” Sontak perkataan Adi menyulut amarah yang semula sudah mulai redam, kembali berkobar.
“Diam! Kamu bertanya apa aku tak mempercayaimu sekarang? Lalu yang kita lakukan sebulan yang lalu itu apa menurutmu? “ Zora berkata dengan lantangnya, karena perasaannya masih disangsikan oleh orang yang dia cintai.
“Dan sekarang, dengan mudahnya kamu masih bertanya tentang kepercayaanku padamu? Setelah apa yang kulihat tadi, hah?” Kembali Zora berteriak menghardik laki-laki yang berada dihadapannya, wajahnya kini mengeras dengan sorot mata yang sangat tajam,seakan siap menerkam mangsa yang ada dihadapannya. Sementara Adi seketika bungkam dan menundukan kepalanya dalam-dalam. Tapi kedua tangannya mengepal dengan erat, sehingga nampak buku-buku jarinya memutih.
“Baiklah! Karena kamu meminta surat kuasa itu, akan kuberikan.”
Sontak kedua netra Adi membulat, seketika itu pula ia mendongakan wajahnya menatap Zora seakan memastikan yang diucapkannya bukan main-main.
“Tapi dengan syarat, nikahi aku minggu besok!”
Adi tercengang mendengar ucapan Zora barusan, mulutnya menganga dan wajahnya pun berubah pucat.
“A-apa? Menikah?” tanyanya seakan ingin memastikan pendengarannya.
“Ya! Kita harus menikah secepatnya, bila perlu saat ini juga! Dan baru bisa kuberikan apa yang kamu mau.” Tandas Zora menegaskan keinginannya.
“Tapi itu gak mungkin sayang! Kamu tahu aku belum siap dalam hal apapun,” jawab Adi, suaranya kini terdengar lemah seperti sedang putus asa.
“Tapi kamu selalu siap untuk memaksaku melayanimu, kapanpun! Hah?” Kini suara Zora terdengar sarkas seperti sedang meledek pria dihadapannya, membuat Adi semakin merasa dipojokkan.
Pria itu terlihat salah tingkah dan berusaha mencari alasan untuk mengulur waktu, agar Zora tidak selalu mengungkit tentang pernikahan.
“Sayang, dengar aku dulu dong. Tentu aku akan menikahimu, tapi gak sekarang. Aku masih belum menyiapkan apa-apa untukmu sebagai mahar nanti. Apa kata keluargamu dan juga relasimu, jika kamu tidak mendapatkan mahar yang sepantasnya? Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu, sayang,” bujuk Adi, berusaha untuk meyakinkan kekasihnya itu.
“Berapa kali harus kubilang padamu, aku tak butuh apapun sebagai mahar darimu. Hanya dirimu yang aku inginkan, kita menikah. Itu saja, apa kamu tak bisa menuruti keinginanku yang sederhana ini? Atau kamu memang sudah tak mencintaiku lagi, lebih memilih bersama wanita itu?” ucap Zora dengan intonasi yang berubah-ubah, kadang lemah, dan kadang seperti kembali sedang emosi. Namun tatapan mata Zora, tak pernah berubah, tetap seperti tatapan elang.
Plaakk!
“Jangan becanda kamu, Zora! Mana mungkin aku mencintai wanita yang akan menjadi ibu mertuaku nanti? Sudah aku bilang tadi, aku terpaksa melakukannya. Dia mengancamku akan melukaimu, jika aku menolaknya!” Tanpa sadar Adi menampar kekasihnya, membuat Zora terpelanting ke samping, saking kerasnya tamparan yang dilakukan Adi.
Sebenarnya Adi merasa terkejut dengan sikapnya sendiri, tapi entah mengapa dirinya dengan begitu saja dapat bersikap kasar pada seseorang yang dicintainya. Meski dirinya pun menyadari jika sikapnya selama ini memang cenderung kasar pada siapapun, tapi tak pernah ia tampakan dihadapan kekasihnya.
“Jadi sekarang kamu sudah berani bermain kasar padaku, Adi? Baiklah jika itu maumu, lupakan aku mulai detik ini!” Zora pun berlalu meninggalkan pria yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya.
Baru saja kakinya mencapai pintu, sebuah cekalan tangan kasar ia rasakan dari arah belakangnya. Membuat dirinya sedikit tersentak ke belakang, namun karena dirinya sempat memperlajari ilmu bela diri, dengan cepat dirinya menyeimbangkan tubuhnya dan kembali berdiri dengan tegak.
“Tolong maafkan aku sayang, aku tak sengaja,” ucap Adi seraya menghiba meminta Zora memaafkan dirinya. Tubuh Adi sengaja ia bungkukan, berharap kekasihnya itu luluh.
“Maaf Di, bagiku kamu sudah tak ada. Terutama saat melihat pergumulan panasmu, apalagi dengan sikap kasarmu barusan. Jadi jangan halangi aku untuk pergi, takkan ada artinya lagi kata maaf darimu.” Tegas Zora.
Mendengar penolakan Zora, seketika membuat amarah dalam diri Adi kembali menggelegak. Detik itu juga ia bangkit dan kemudian mencekal lengan Zora, menyeretnya tanpa memberikan celah sedikitpun untuk Zora melepaskan cekalannya.
Hingga akhirnya Zora diseret masuk ke sebuah ruangan gelap, dan saat ia masuk tiba-tiba saja ia merasakan dirinya dibekap oleh seseorang, dan tak lama kemudian yang ia rasakan tubuhnya limbung dan terjatuh.
Ketika sadar, mendapati dirinya sedang duduk dalam keadaan badannya terikat. Terlihat dihadapannya, sebuah pemandangan yang menjijikan. Kekasihnya tengah mencumbu ibu tirinya dalam keadaan polos, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.
“Br*ngs*k kalian berdua!”
Teriakan Zora sontak membuat kedua insan itu menghentikan kegiatannya, kemudian tanpa perasaan, Adi yang telanjang memukuli Zora seakan wanita itu sedang dijadikan samsak olehnya.
“Wanita j*l*ng! Berani sekali kau mengganggu kesenanganku. Cari mat* rupanya kau!” Adi menghujani Zora pukulan bertubi-tubi, hingga membuat Zora tak sadarkan diri. Darah segar mengucur deras dari bibir dan hidung wanita cantik yang tak berdaya itu.
Byuurrr!
Siraman air dingin membuat Zora kembali tersadar, kali ini hanya terlihat pria yang menjijikan itu dalam keadaan setengah telanjang, sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku akan melepaskan ikatan itu, tapi setelahnya … tanda tangani surat kuasa itu!” Adi melemparkan secarik kertas pada Zora, kemudian ia memberi kode pada dua orang pria lainnya untuk melepaskan ikatan yang membelit tubuhnya.
Zora membaca isi kertas itu, kemudian di remasnya dan dilemparkan ke wajah Adi.
“Sampai mati pun, takkan sudi aku menandatanganinya!”
“Baik kalau itu pilihanmu! Laksanakan sekarang!”

Komentar Buku (63)

  • avatar
    nafi'atul hasanah

    cerita yg menarik

    02/06

      0
  • avatar
    HidayahNur

    bagus ceritanya👍👍

    31/05

      0
  • avatar
    ElianaMelda

    cerita nya bagus sekali

    31/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru