Bab 20 Niat Licik Swri

“Hal itu, hanya adikmu yang tahu keberadaannya dimana. Karena kakek pun sampai detik ini belum tahu dimana kuburannya,”
“Adik? Aku punya adik?” tanya Abram seakan tak mempercayai apa yang didengarnya. Pemuda itu menatap Rangga seakan mencari kebenaran di mata orang tua itu.
“Ya, kamu punya seorang adik. Tanpa kuduga, rupanya ayahmu bukan pulang menemuiku. Entah bagaimana ceritanya, dia terpikat gadis lain dan menikahinya. Sehingga kamu punya seorang adik yang sangat cantik, tapi itu dulu sebelum ia dikhianati oleh orang yang dicintainya ….” Rangga menjeda ucapannya.
“Kamu ingat dengan wanita yang kubawa malam itu? Dengan kondisi mengenaskan? Dialah adikmu! Zora namanya, Zora Intan Prameswari,” tutur Rangga mengingatkan kejadian malam itu, saat mereka pertama kali bertemu.
“Ya Tuhaan, lelucon macam apa ini?” keluh Abram tak percaya mendengar kisah yang diuraikan oleh Rangga, yang ternyata adalah kakek yang ia cari selama ini. Abram meremas rambutnya sendiri, seakan sangat berat kenyataan yang harus ia terima saat itu.
“Lalu, apa yang kakek lakukan disini? Dan ini siapa?” tanya Abram menatap Zaldi.
“Biarkan aku yang menjawab pertanyaannya, Ga. Aku pun ingin memeluk cucuku,” sela Zaldi, saat Rangga hendak berbicara kembali menjawab pertanyaan cucunya.
“Kemarilah, Nak. Biarkan kakekmu yang satu ini, ikut memelukmu,” pinta Zaldi sembari membentangkan kedua tangannya, bibirnya pun menyunggingkan senyuman hangat menyambut kehadiran seorang cucu dari sahabat yang sudah dianggap saudaranya sendiri.
“Aku Dokter Zaldi, sahabat kakekmu. Dia adalah pemilik rumah sakit ini, dan aku hanyalah orang yang mengelolanya, dan sekarang kamu sudah berada di tempat yang seharusnya. Tak perlu lagi melamar, karena memang disinilah tempatmu,” kata Zaldi seraya memeluk erat Abram.
“Sungguh aku bingung, kek. Banyak sekali kenyataan yang diluar dugaanku, Aku kira ayah masih ada dan beliau lupa atau dilarang menemui kami. Tak tahunya … Malah kini aku mendapati kenyataan bahwa ternyata aku memiliki seorang adik, jadi karena kehadiran wanita itu ayah mampu melupakan kami. Bahkan hingga ibu meninggal pun, ayah tak pernah mengetahuinya,” racau Abram, antara bahagia, sedih dan marah, semua bercampur menjadi satu.
“Kita hadapi semuanya bersama-sama, Bram. Belum tentu juga istri baru ayahmu yang bersalah, kita tidak tahu cerita yang sebenarnya. Seiring berjalannya waktu, kakek yakin kita bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Sekarang, mari ikut kakek. Kita jumpai adikmu!” ajak Rangga.
“Tidak! Aku belum siap untuk bertemu dengannya, kek. Maafkan aku,” elak Abram.
“Baiklah, aku takkan memaksa. Kapanpun kau siap, kakek akan membawamu bertemu dengannya. Hanya saja, kakek berharap, kamu dan juga Zora, bisa hidup rukun saling menjaga satu sama lain, ”
“Omong-omong, dimana kamu tinggal selama disini?” tanya Rangga kemudian.
“Aku tinggal di penginapan MAWAR, kek.” jawab Abram.
“Kalau begitu, ikutlah dengan kakek. Jangan menolak! Mulai sekarang, biarkan kakek yang mengurusmu!” Rangga berkata tegas, kala Abram akan mengutarakan keberatannya dengan tawaran yang diberikan sang kakek.
“Berikan kesempatan untuk kakek tua ini, memiliki kenangan indah bersama darah dagingnya. Meski terlambat,” lirih Ranga membuat Abram merasa tak enak hati jika harus menolak ajakan tersebut.
“Iya, Nak. Lebih baik, nurut saja sama kakek Rangga. Percayakan semua padanya, tapi pesanku jangan kau kecewakan dia,” ujar Zaldi menimpali, namun ucapan yang terakhirnya sengaja ia bisikan tepat ditelinga Abram.
“Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya, Kek. Suatu saat, aku pasti akan menemui kakek dan juga adikku,” pinta Abram.
“Baiklah, kakek mengerti. Namun kali ini, kakek ingin menghabiskan waktu bersamamu, boleh?” tanya sang kakek penuh harap.
“Kenapa, tidak? Tapi … bagaimana dengan urusan lamaranku disini?” jawab Abram, sekaligus menanyakan tentang pekerjaannya.
“Soal itu, biar nanti Zaldi yang mengurusnya. Tugas kamu hari ini, cukup temani kakek menghabiskan waktu bersama-sama,” jawab Rangga sembari langsung menarik lengan cucunya, berlalu meninggalkan Zaldi sendirian di ruangannya.
“Hmm …, dasar. Boss mah bebas dah mo ngapain juga.”
*****
Di dalam sebuah rumah sederhana, seorang wanita yang meski usianya sudah masuk kepala lima, tapi karena rajin melakukan perawatan tubuh dan wajah, sehingga terlihat masih cantik dan bugar.
Dalam usianya sekarang, ia masih tinggal sendiri. Suaminya seorang pengusaha sukses telah meninggal dalam sebuah kecelakaan yang direncanakannya bersama Adiyaksa kekasihnya. Sementara putri sambungnya pun kini, sudah ia lenyapkan. Setidaknya begitu yang ia pikirkan saat ini,mengingat sang kekasih kala itu benar-benar meyakinkannya jika putri sambungnya sudah tiada.
Ya, dialah Sari Puspita. Ibu sambung Zora, yang kini hidup sebatang kara di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Semula ia berpikir, dengan melenyapkan suaminya, maka otomatis semua harta kekayaan yang dimiliki sang suami akan jatuh ke tengannya. Namun ia tak menyangka, jika suaminya telah mempersiapkan semuanya dengan sangat perhitungan. Semua asset dan juga harta benda, semua jatuh ke tangan putri semata wayangnya. Dirinya hanya menerima tunjangan bulanan, yang jumlahnya tak seberapa. Juga sebuah villa kecil di pegunungan, dan itupun akan diambil alih, jika dirinya terbukti tak melakukan tugasnya sebagai ibu sambung bagi Zora dengan baik. Asset itu pun sudah ia gadaikan, untuk membiayai semuanya rencana jahatnya bersama kekasihnya. Kini yang tersisa hanyalah uang ditabungan yang tak seberapa jumlahnya, dirinya harus berpikir keras untuk memenuhi gaya hidupnya yang hedon.
Karena jika hanya mengandalkan modal tubuhnya untuk menarik perhatian lawan jenisnya dengan kondisi seperti ini, sudah dipastikan takan ada yang meliriknya. Yang ada malah dirinya yang harus kembali mengeluarkan sejumlah uang untuk memuaskan kebutuhanya. Meskipun dari segi usia, dirinya belum dikatakan berumur, tapi dengan keadaanya yang seakrang sudah mukai jarang melakukan perawatan, beberapa kerutan sudah mulai terlihat diwajahnya.
Tiba-tiba sebuah nama terbersit dalam benaknya, Arjun Prawira. Ya, dia adalah salah seorang pengacara kepercayaan yang dimiliki almarhum suaminya. Dari tindak-tanduknya selama ini, terlihat jika pria itu menaruh hati padanya. Namun karena mungkin saat itu suaminya masih hidup, maka keinginannya itu belum sempat terucap. Tapi insting seorang Sari Puspita mengatakan, jika laki-laki itu bisa dijadikan sebagai pegangan untuk sementara. Mengingat keadan materi Arjun, saat ini tak terlalu buruk untuk bisa dijadikan sandaran.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Sari bergegas mencari nomor kontaknya dan menghubunginya.
“Hallo, dengan Pak Arjun Prawira?”
[ … ]
“Saya Sari Puspita, istri Almarhum Hendrick Dramawan Pramudya. Masih ingat?”
[ … ]
“Bisa kita bertemu, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.”
[ … ]
“Ok, lima belas menit lagi saya sampai disana, terima kasih.”
Klik!
Sambungan telepon pun terputus, sebuah seringai licik tercipta dibibir merahnya yang tipis.

Komentar Buku (63)

  • avatar
    nafi'atul hasanah

    cerita yg menarik

    02/06

      0
  • avatar
    HidayahNur

    bagus ceritanya👍👍

    31/05

      0
  • avatar
    ElianaMelda

    cerita nya bagus sekali

    31/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru