logo text

Menjalani Takdir

Keluarga adalah hal terpenting dalam hidup, yang tak akan pernah berubah dan selalu ada ketika dibutuhkan. Keluarga seperti ranting di pohon. Meskipun tumbuh ke berbagai arah, namun akarnya tetap satu. Keluarga merupakan kompas petunjuk arah yang akan membimbing kita. Inspirasi untuk mencapai ketinggian dan sumber kenyamanan disaat goyah.
Tak terkecuali bagi keluarga Inyiak Balang.
Seminggu sudah berlalu semenjak kematian Rosna. Arbiza beserta kedua anaknya setiap sore datang berkunjung ke makam Rosna, Hasni dan Mak Etek Bahar. Mereka masih diliputi kesedihan mendalam. Tak terdengar lagi tawa ceria dan canda riang Fatika dan Arman seperti biasanya.
Melihat kondisi anak-anaknya, hati Arbiza kian patah. “Andai saja aku tidak telat menolong Rosna.” Penyesalan itu seperti tak hilang-hilang dari pikirannya.
Namun hidup harus terus berjalan. Arbiza berusaha keras mengatasi perasaannya. Ia tak mungkin terus tenggelam dan berlarut-larut dalam rasa sesal. “Kini yang mereka miliki hanya aku.” Ia menyemangati diri agar tak terhanyut dalam kesedihan.
Setelah berziarah, ia kerap membawa kedua anaknya ke tempat-tempat tenang dan mengajak keduanya berbincang. Sepuluh tahun hidup berjauhan, membuat Arbiza harus kembali merekat jarak yang terbentang. Apalagi kini tak ada Rosna dan Hasni, dua perempuan kuat yang biasa mendampingi mereka.
“Jadi bagaimana rencanamu, Tika?” Arbiza memulai pembicaraan ketika mereka pulang berziarah.
Sore beranjak petang. Ketiganya duduk-duduk di bawah pohon besar di atas bukit tak jauh dari pemakaman. Di kejauhan, menjulang puncak Gunung Singgalang. Dalam jarak kurang lebih empat puluh kilo meter, gunung itu terlihat begitu indah diselimuti langit senja yang mulai kemerahan.
“Amak kau mengatakan, kau dapat beasiswa ke luar negeri.” Arbiza menatap Fatika yang tengah menikmati keindahan alam di sekitar mereka.
“Iya, Ayah. Tapi Tika merasa tidak bersemangat lagi. Amak sudah tak ada. Tika ingin menjaga rumah dan menemani Ayah di sini.” Fatika menjawab dengan suara lirih.
Arbiza menarik napas berat. Ia sudah menduga jawaban Fatika. Sejak kematian Rosna, ia yang tampak paling terpukul. Fatika tak pernah lagi tersenyum. Wajahnya selalu berkabut.
“Kau harus melanjutkan impianmu, Nak,” ujar Arbiza sambil memutar badan ke arah Fatika. “Kau tak boleh berhenti bermimpi. Amak kau akan sangat sedih jika kau seperti ini. Kau harus bahagia agar amak dan ayah ikut bahagia. Tak ada yang lebih diinginkan amak dan ayah selain kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidup kalian.”
“Tapi, Yah… Aku tak tega meninggalkan ayah sendirian. Siapa yang akan mengurus ayah?”
“Jangan pikirkan ayah, Tika. Ayah bahkan sepuluh tahun tak tinggal di rumah. Ayah di puncak gunung sendirian. Ayah baik-baik saja. Jadi kau tak boleh menjadikan ayah sebagai alasan penghalang cita-cita kau.” Arbiza merengkuh bahu anak gadis kesayangannya. “Berjanjilah kau tetap akan melanjutkan kuliah. Tak banyak dari kampung kita yang mendapat kesempatan itu.”
Fatika terdiam. Lama ia tak mengeluarkan suara. Pikirannya sedang menimbang dan mencerna. Terlalu banyak kejadian mengejutkan seminggu ia di kampung halaman. Berbagai pikiran berkecamuk di benaknya. Namun ia tetap harus memutuskan.
“Tapi Tika akan sangat jarang pulang. Tika dapat beasiswa di Malaysia.” Gadis itu menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari puncak Singgalang.
“Tak apa, Nak. Pergilah ke mana pun kau ingin. Terbanglah setinggi mungkin. Kelilingi bumi ini jika kau punya kesempatan. Tapi nanti, suatu saat, jika kau lelah dengan petualanganmu, ingatlah, di sini di Tungkek Basi, ada kampung halamanmu yang menunggu. Ada ayahmu, Amakmu, dan Saudara kembarmu.”
Fatika terdiam. Kata-kata sang ayah justru membuatnya kian sedih. Berkali-kali ia menarik nafas berat. Lalu menatap sang ayah dengan senyum dipaksakan.
“Kau sendiri bagaimana Arman?” Kini Arbiza mengalihkan pandangan pada anak bujangnya. “Apa rencana kau setelah ini?”
“Tahun ini ambo belum diterima di perguruan tinggi yang ambo inginkan. Tapi tahun depan ambo ingin kembali ikut ujian. Setahun ini biarlah ambo ikut membantu mengurus sawah dan ladang kita sambil mempersiapkan diri.”
“Bagus,” sahut Arbiza senang. “Kau pun harus belajar ilmu yang akan ayah turunkan. Kau memiliki tanggungjawab besar untuk menjaga Marapi. Takdir yang tak bisa kau hindari.”
“Iya Ayah. Ambo paham. Ambo ingin kuliah di Padang saja. Tadinya ambo ingin ambil jurusan arsitek, tapi setelah ambo pikir-pikir, lebih baik ambil jurusan pertanian. Ambo ingin memajukan kampung kita. Toh suatu hari ambo harus tinggal di sini.”
Arbiza tersenyum. “Lakukan apa pun yang kalian inginkan, tapi harus bertanggungjawab. Namun satu pesan ayah, di mana pun kalian berada, terus perdalam ilmu silek kalian. Sebagai keturunan Inyiak Balang, kita selalu diintai berbagai bahaya. Ayah sudah memberikan “ruh” ilmu Inyiak Balang saat kalian tertidur di gua. Itulah kenapa silek kalian memiliki kekuatan berlipat ganda. Tapi itu saja tak cukup. Terus latih dan perdalam ilmu kalian. Suatu saat, kalian akan sangat membutuhkan. Terutama kau Arman.”
Arman mengangguk. “Iya, Yah. Ambo mengerti.”
“Kau juga, Nak,” lanjut Arbiza pada Fatika. “Kau pun suatu saat mungkin akan membutuhkan.”
Senja menggurat jingga. Sang bayu bertiup lembut mempermainkan dedaunan. Puncak Singgalang tampak kian indah. Marapi dan Singgalang. Dua puncak yang berhadap-hadapan dengan berbagai misteri yang menyelimuti.
***
Sementara itu, jauh di dalam hutan di sebuah ketinggian, sesosok pemuda tampak tengah duduk bersila dalam ruangan sederhana. Wajahnya tampak tenang. Mulutnya komat kamit. Ia terlihat fokus. Matanya terpejam. Sesekali terdengar ia menghembuskan nafas berat. Lalu kembali terhanyut dalam semedinya. Namun, di saat sebuah langkah kaki terdengar mendekat, ia segera membuka mata.
Seorang lelaki tua berambut putih memasuki ruangan dan duduk di hadapannya. Wajah laki-laki itu tampak teduh. Senyum tipis mengulas di sudut bibirnya. “Apa kau sudah memikirkan apa yang Ungku katakan?” tanya lelaki itu sambil menatap si pemuda.
“Iya. Ungku. Ambo sudah memikirkan semuanya.”
“Jadi bagaimana keputusan kau? Apa kau akan kembali ke desa itu?”
“Tidak Ungku. Ambo tak akan kembali ke sana. Ambo tak akan pernah diterima oleh mereka.”
Lelaki itu menghela nafas panjang. “Jadi kau setuju dengan apa yang Ungku minta?”
“Iya, Ungku.”
Laki-laki tua itu mengangguk-angguk. “Pada akhirnya kau benar-benar pulang,” ujarnya dengan senyum senang. “Akhirnya tak sia-sia Ungku menunggu sekian lama.”
Pemuda itu, si Tungkai, menundukkan kepala dengan takjim. Ia tak berani banyak bicara dan tak punya nyali untuk menentang.
Laki-laki itu adalah Ungku Amar, kakeknya. Ayah kandung dari Tuak Gamang dan Aminah, ibu si Tungkai. Ia tinggal sendirian di dalam hutan dan bukan orang sembarangan. Tak heran dengan mudah ia dapat membebaskan si Tungkai dan menerobos tirai pertahanan yang dibuat oleh Arbiza.
“Kau siap dengan semua syaratnya?” tanya sang kakek untuk melihat kesungguhan si Tungkai.
“Iya Ungku. Ambo akan mengikuti semua persyaratan. Ambo juga akan bersungguh-sungguh dengan apa yang akan Ungku ajarkan.”
“Bagus. Pilihan kau sudah tepat,” ujar sang kakek sambil menghembuskan napas lega. “Meskipun Ungku sangat sedih karena tak bisa menyelamatkan amak kau, tapi akhirnya Ungku punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan.” Suara laki-laki tua itu terdengar getir saat membicarakan ibunda si Tungkai.
“Apa benar Mak Gamang yang membunuh amakku?” si Tungkai memberanikan diri bertanya. Sudah sepekan ia menahan diri agar tidak membicarakan penyebab kematian ibunya. Namun kini ia merasa waktu yang tepat untuk bertanya.
“Ungku tak mengira si Gamang tega melakukan itu pada kakak kandungnya,” jawab Ungku Amar tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewa.
“Kenapa Ungku tak menjemput ambo setelah amak mati?” Meskipun ada rasa takut, si Tungkai kembali memberanikan diri bertanya pada sang kakek.
“Si Gamang tak mengijinkan Ungku membawa kau, Nak. Jika Ungku memaksakan kehendak, salah satu di antara kami pasti ikut mati. Ungku tak mau itu terjadi. Ungku terpaksa mengalah. Dia satu-satunya anak laki-lakiku. Ungku masih berharap dia bisa diperbaiki. Tapi pada akhirnya dia harus menerima takdir buruk atas semua perbuatannya.” Lelaki itu menghela nafas dengan wajah sedih.
Si Tungkai tak lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Ucapan Ungku Amar telah menjawab semua keraguannya. Meskipun sudah bisa menduga jawaban yang akan diterima, tapi tetap membuat dadanya terasa sesak. Terlalu banyak kejutan yang diterimanya dalam seminggu ini. Ia bahkan tak menyangka akan bertemu lagi dengan kakek yang dulu semasa kecil hanya pernah ditemuinya sekali. Si Tungkai bahkan tak mengerti mengapa ia bisa langsung mengenali laki-laki tua itu ketika mendatanginya di rumah Datuak Batuah. “Mungkin karena dia sakti,” batinnya atas keanehan yang ia rasakan.
“Kini kau satu-satunya harapan Ungku,” lanjut si kakek sambil memandang si Tungkai dengan tatapan lembut. “Ungku harap kau mau mengemban tanggungjawab besar itu.”
“Tapi apa ambo takut tak mampu menjadi seperti yang Ungku harapkan.”
“Tentu saja kau mampu,” sahut lelaki tua itu cepat. “Kau hanya perlu bersungguh-sungguh. Ungku akan membimbing kau.”
“Ambo sudah banyak berbuat salah,” gumam si Tungkai lemah. Ia tak berani memandang sang kakek. Hatinya selalu resah setiap kali mata lelaki tua itu menatapnya. Ia seperti sedang dibaca hingga jauh ke dalam jiwanya.
“Selama kau tahu bahwa yang kau lakukan dengan si Gamang itu salah, itu awal yang bagus,” sahut sang kakek. “Di darah kau mengalir darah yang sama dengan Ungku. Dan kau masih memiliki hati nurani. Meskipun si Gamang berusaha keras menjadikan kau jahat seperti dirinya.”
Kata-kata Ungku Amar membuat si Tungkai membeku. Setiap kali sang kakek menyebut Tuak Gamang, ia merasakan jantungnya bergemuruh. Seketika bayangan kejahatan yang ia lakukan bersama sang paman menari-nari di benaknya, membuat tubuhnya gemetar.
Namun Ungku Amar seperti sengaja ingin menguji mentalnya. Selama seminggu bersama, lelaki tua itu justru terus berbicara tentang Tuak Gamang serta tanggungjawab yang ada di pundak si Tungkai.
“Mamak kau si Gamang sudah mengambil jalan yang bertentangan dengan takdir kita. Ungku tak bisa membuat dia berbalik arah. Tapi kau beda, Nak. Kau memilih untuk pulang, meskipun sebenarnya kau pun bisa memilih jalan yang salah.” Ungku Amar terus bicara panjang lebar.
Si Tungkai mendengarkan kata-kata Ungku Amar dengan penuh perhatian.
“Kau satu-satunya keturunan Ungku yang tersisa. Di pundak kau terletak tanggungjawab besar. Kau harus mengalahkan semua ketakutan itu. Kau pasti bisa dan harus bisa. Karena kau adalah keturunan Inyiak Balang penjaga Gunung Singgalang.”
Mata si Tungkai tampak berbinar-binar ketika sang kakek selesai berbicara.
*** Tamat ***

Komentar Buku (175)

  • avatar
    YienYu

    Cerita ni nice menarik tapi seram 😂

    11/06/2022

      0
  • avatar
    ALVINJUVI

    masih ada lanjutannya kah?? nanggung nih ceritanya... yg hilang belum ketemu lanjutiiin dong

    17/05/2022

      3
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , seru , menegangkan seperti melihat film mistis..

    11/07

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda