Bab 49

"Turun kamu!"
"Ya, Pak sebentar. Nyangkut."
Pak Bintoro yang kebetulan lewat mendengar pekerja kebersihan marah-marah di dalam kelas pun mencari tahu apa penyebabnya. Setelah ditanya, beliau menunjuk seorang siswa yang bersiap turun melalui satu petak plafon yang memang sengaja terbuka untuk pintu keluar masuk jika ada perbaikan.
"Stop. Kamu di sana saja sampai bel berbunyi. Sebagai hukuman atas kelakuanmu, kapan lagi bisa mandi sauna gratis."
"Sukurin. Makanya jangan petakilan." Gita menjulurkan lidah ke arah Rendy.
"Pak Darman, tolong diawasi bocah itu. Jika kedapatan turun sebelum bel, lapor sama saya."
"Siap, Pak. Dengan senang hati, saya pastikan nginep sampai malam."
Akan tetapi Rendy tidak kehilangan akal. Bangunan tiap kelas berderet memanjang, walaupun bagian bawah ada tembok sebagai pembatas tapi bagian atas plafon tidak ada penyekat dari ujung bangunan timur sampai ke barat.
Dengan hati-hati kaki Rendy melangkah menapak kerangka plafon yang terbuat dari kayu. Diperhatikan pijakannya dengan seksama karena ia tidak ingin terperosok untuk kedua kali.
Seragam sudah basah oleh keringat, tidak dapat dipungkiri hawa ruangan di bawah genteng sangat panas. Kemeja putih sudah kotor terkena debu dan keringat bercampur sarang laba-laba. Di ujung bangunan didapati ada dua siswa laki-laki yang juga berada di atas plafon seperti dirinya saat ini. Ia menerka anak itu pasti mengalami nasib yang sama.
Rupanya ia salah sangka, dua anak itu ternyata Sidiq dan Agil. Ia tidak mengerti apa yang mereka lakukan di atas sini, dari tindak-tanduknya mereka tidak sedang menjalani hukuman.
"Ssst. Kalian ngapain?" Keduanya kompak menoleh ke sumber suara, tidak menyangka ada orang lain dari arah gedung barat menuju tempat mereka.
"Kamu juga ngapain ke sini monyet. Bikin kaget saja," sahut Sidiq dengan setengah berbisik.
"Jangan keras-keras, nanti ketahuan."
"Memang ada apa?" tanya Rendy penasaran. Ia ikut mengintip dari lubang plafon ke dalam ruang kelas XII IPS. Tampak di bawah sana, di deret bangku paling belakang ada dua remaja berlainan jenis saling mengulum bibir pasangannya. Namun ada yang aneh karena ada paksaan saat si cewek meronta tapi ditangkap lagi dan dipaksa melakukan perbuatan itu lagi.
Mereka adalah Haikal dan Nindi, sama-sama kelas XII IPS dan sudah pacaran sejak kelas XI. Banyak yang tidak suka dengan Haikal karena sifatnya yang sok jago, mentang-mentang kapten tim futsal SMA GARUDA. Sedangkan Nindi hanya gadis biasa dan tidak neko-neko, tapi yang disayangkan kenapa dia mau dengan Haikal. Dia cantik juga dan banyak yang ngejar, tapi malah jatuh ke pelukan kapten kampret satu itu.
"Kita laporkan ke Pak Pram bagaimana, atau Pak Bintoro sekalian biar mampus tuh bocah belagu." Sidiq menunjukkan ketidaksukaannya pada Haikal dengan memberi usul tersebut, tapi Rendy tidak setuju.
"Jangan, kasihan Nindinya. Gak tega jika sampai ketahuan. Hmm, begini saja, kita rekam sebagai senjata untuk menekan Haikal bagaimana." Keduanya mengangguk setuju dan paham tujuan Rendy.
Kamera mulai dinyalakan, di dalam layar terlihat jelas dua anak manusia sedang melepaskan ciuman maut di dalam kelas. Di lingkungan sekolah.
Dua menit berlalu, dan bibir mereka masih saja saling menempel satu sama lain. Berulang kali Nindi berontak melepaskan diri dengan mendorong tubuh Haikal, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan. Sidiq tidak habis pikir kenapa Nindi tidak teriak saja jika memang tidak ingin melakukannya.
Tangan Rendy terasa pegal terus-terusan memegang ponsel, dan anehnya yang di bawah sana tidak ada rasa capek sama sekali malah semakin lama semakin terasa nikmat. Berulang kali jemarinya mengibaskan kancing atas kemeja yang terbuka untuk mengusir gerah. Wajah dipenuhi butiran keringat yang akhirnya meluncur jatuh melalui dagu.
"Sudah cukup. Kita tangkap saja sekarang, lama-lama Joni saya ngilu juga." Sidiq tidak menggubris Agil yang mencegah agar tidak turun dulu, tapi ia tetap saja keluar melalui jendela sirkulasi dan turun lewat tangga besi di luar tembok.
"Kalian tadi lewat situ?" tanya Rendy.
"Ya mau lewat mana lagi? masa kamu tidak tahu?" Rendy menggeleng lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling, sepertinya cocok digunakan tempat persembunyian.
Tanpa banyak babibu Sidiq menendang daun pintu dengan sekuat tenaga hingga wajah Haikal terlihat pucat. Namun anak itu mencoba mengintimidasi Sidiq, tapi diurungkan niatnya karena dari arah luar muncul Agil bersama Rendy dengan rambut penuh sarang laba-laba. Nindi yang tangannya dicekal Haikal lalu berontak dan berhasil melepaskan diri lalu berlari ke belakang tiga anak IPA itu.
"Kamu kira saya takut kalian main keroyokan, ga masalah saya kalah di sini. Tapi tunggu saja di luar saat jumlah kita setara." Haikal dengan congkak meremehkan mereka bertiga, dia tidak tahu berhadapan dengan siapa. Di antara ke empat anggota geng Erwin, Sidiq lah yang sering meledak emosinya jika sedikit saja merasa diusik.
"Santai bro, ga usah emosi." Rendy berdiri di antara mereka berdua dengan membentangkan kedua tangan.
"Saya punya sesuatu yang menarik untuk kamu."
Rendy mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu memutar rekaman video yang ia dapatkan beberapa saat lalu. Mata Haikal mendelik begitu mengetahui siapa yang ada di video itu lalu ingin merebut ponsel dari tangan Rendy tapi percuma. Ia kalah cepat, Rendy sudah memperkirakan ke arah mana tangannya bergerak.
Kepalan tangan Haikal gemetar ingin sekali menghajar muka Rendy, bibirnya mengatup rapat dan mengerucut. Angin berhembus kencang dari berbagai arah, sepertinya Pak Darman sudah selesai memperbaiki kipas angin yang rusak dan menaikkan kembali tuas saklar MCB. Kini gedung sekolah sebelah utara sudah dialiri listrik, tapi apa hubungannya dengan adegan mereka. Tidak ada, ha ha ha.
"Hapus tuh video, aku peringatkan kamu."
"Loh, kok malah kamu yang ngancam. Seharusnya kamu lebih tahu diri, kami masih berbaik hati untuk tidak menyebarkan." Rendy tersenyum karena sudah memenangkan perdebatan itu. Haikal berpikir ulang saat hendak meninjunya, perlahan kepalan tangannya mengendur.
"Bisa kupegang kata-katamu?"
"Tenang saja, mulutku gak ember." Agil yang mendengarnya hanya manyun, sejak kapan mulut Rendy gak bocor. Namun kali ini sepertinya anak itu sungguh-sungguh.
"Oke."
Setelah mengatakan itu Haikal lalu keluar dan sengaja menyenggol pundak Sidiq. Lalu menggandeng pergelangan tangan Nindi tapi siswi itu menepisnya. Haikal yang tidak terima kemudian menarik kasar lengan gadis itu tapi kemudian Sidiq mencekal kerah siswa kelas XII itu lalu mendorongnya ke pintu.
"Jangan kasar sama perempuan, dan siapa yang bilang kamu boleh membawanya." Cengkeramannya semakin kuat saat mengatakan itu.
"Kamu jangan ikut campur masalahku," teriak Haikal disertai dorongan ke dada Sidiq, tapi tetap saja tidak berhasil membuat cengkraman lepas.
"Woy," sahut Agil, " di dalam video itu sudah ada bukti kamu melakukan pelecehan, masih menyangkal juga. Mau kami laporkan ke kepala sekolah? ingat, kamu masih ada satu semester lagi di sini. Kamu tidak sayang dengan jabatan kaptenmu, kamu tidak sayang dengan pencitraanmu selama ini. Kalau kamu bagaimana Ren?" Agil berbalik bertanya pada Rendy.
"Kalau aku sih sayang, Gil. Jadi kapten pujaan, disukai banyak cewek. Gila aja jika sampai ke telinga satu sekolah, mau ditaruh dimana muka saya. Seorang kapten melakukan pelecehan?" Rendy bersiul pendek seperti ingin bilang 'wow'.
"Sial!!!" Haikal mengumpat lalu meninggalkan ruangan tapi tangan Sidiq masih enggan melepaskan cengkramannya.
"Mau apa lagi?" teriak Haikal dengan gusar.

Komentar Buku (445)

  • avatar
    Abyy Akbar

    anak jujur dan baik pasti di sayang dan di percayai oleh papah dan ibunya 😇🤗🙏

    19/05/2022

      0
  • avatar
    EkaputriKarisma

    seru ceritanya ditunggu kelanjutannya ya👍🏻

    11/05/2022

      0
  • avatar
    Ratna K Sari

    erinspirasi

    28/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru