Bab 55

"Semalam aku kurang tidur. Jam sebelas bangun, jam satu bangun. Tidur lagi, lalu bangun lagi jam tiga hingga terjaga sampai sekarang."
"Keluar, yuk."
"Kemana? jangan aneh-aneh."
"Maksudku ke balkon, itu jika kamu tidak keberatan."
"Mmm, bagaimana ya."
"Bagaimana apanya, Re. Lha wong cuma di depan kamarmu sendiri. Ga ke mana-mana juga."
"Baiklah. Aku keluar sekarang. Tunggu ya."
Reika memenuhi ajakan Rendy menuju balkon, kira-kira hal spesial apa yang diberikan hingga memintanya keluar. Namun sebelum melangkahkan kaki, terlebih dahulu Reika menuju meja rias dan mematung di depan cermin oval dengan banyak peralatan tempur di atas stand. Menyisir rambut berulang kali walau sudah rapi. Namun baginya penampilannya masih berantakan. Padahal jika sisir itu diletakkan begitu saja di atas kepala pun akan jatuh dengan sendirinya.
Tak lupa ia menyelipkan bando di atas daun telinga. Lalu memandang pantulan dirinya di dalam cermin, mengecek apakah masih ada yang terlewat. Setelah merasa yakin, gadis yang masih mengenakan baju tidur berbahan sutera warna biru langit itu berjalan menuju balkon.
Ia lebih suka keluar melalui jendela walaupun ada pintu di sudut ruangan, dan itu sudah menjadi kebiasaannya dari dulu. Sampai-sampai di sela pintu dengan kusen banyak sarang laba-laba karena terlalu lama tidak digunakan.
Hawa dingin membelai kulit Reika saat melangkah keluar jendela, bau tanah setelah diguyur hujan membuat gadis itu menghirup nafas dalam-dalam. Tenggorokan serasa sejuk dengan sensasi semriwing walau tidak sekuat aroma permen mint.
Ia mengambil posisi duduk di atas kursi besi bercat putih yang sebagian basah oleh tetesan hujan. Terletak di tengah-tengah balkon di bawah lampu, berupa satu buah meja dan sepasang kursi.
Dingin. Saat pertama kali tapaknya membersihkan sisa-sisa air yang menggenang di permukaan. Permukaan keramik yang licin mengkilap membuatnya serasa berjalan di atas es saat kakinya menginjak titik air dan meninggalkan jejak. Ia bergidik saat kedua siku bersandar pada meja kaca bulat, dagu ditopang dengan tangan kiri sementara tangan kanan menggenggam ponsel yang menempel di telinga.
"Halo, Rendy. Aku sudah di luar. Kenapa kau memintaku ke sini?" tanya Reika. Dari jauh nampak Rendy juga berada di balkon berdiri bersandar pada banister.
"Gak ada perlu apa-apa sih. Lebih enak saja, dari pada di dalam kamar. Di sini lebih leluasa memperhatikan kamu walau jauh."
"Apa kemarin masih belum cukup setelah dari taman bungkul? Masa sudah kangen."
"Ha ha ha. Sepertinya pertanyaan itu lebih cocok ditujukan untukmu."
"Kok aku?" tanya Reika keheranan.
Benar juga apa yang Rendy katakan. Lalu apa sebenarnya penyebab tidur Reika terganggu jika bukan karena kangen. Memang jika sedang kasmaran, wajahnya selalu terbayang. Kehadirannya bak tongkat sihir yang sanggup menyulap segala sesuatu menjadi lebih indah.
"Bener kan, siapa saat ini yang tidak nyenyak tidurnya?"
"Tapi bukan berarti aku kangen."
"Kau tahu, Re," kata Rendy, "apa penyebab kamu kurang tidur?" lanjutnya.
"Apa?"
"Karena aku memikirkanmu sepanjang malam ini. Aku tidak bisa mengalihkan fokus selain untukmu, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang lain, selain hanya tentang kamu. Aku tidak bisa mengusimu dari pikiranku, karena mungkin tempat tinggalmu memang di sana. Saat aku mengingat senyummu, mengapa begitu indah sampai-sampai hujan pun akan berfikir akan mengganti rintiknya dengan syair dan puisi."
Dengan lancar kata demi kata terdengar merdu seperti puji-pujian di tengah malam. Berasal dari secarik kertas contekan yang ia dapat dari internet setelah berselancar di mesin pencari. Rencananya akan ia baca saat di atas panggung taman bungkul, tapi saking kidmatnya saat itu sampai ia lupa bahwa di dalam saku ada bahan gombalan tertinggal.
Kalimat itu membuat muka Reika memerah, spontan ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Walaupun sekarang tidak berhadapan langsung, tapi ia merasa Rendy sangat dekat.
Gombal. Mungkin itulah kata yang keluar dari hewan malam seandainya mereka dapat bicara. Namun nyatanya hanya ada suara serangga dan burung malam yang bersahutan. Keluar dari tempat persembunyian lalu mencari makan atau menyaksikan dua anak manusia memupuk perasaan.
Tidak ada salahnya jika tujuannya untuk menyenangkan hati orang yang dikasih. Karena hati juga butuh asupan nutrisi untuk menjaga dari penyakit cinta.
Kalimat seperti itu mungkin sering digunakan buaya memikat mangsa, bagi yang mudah terbuai kata-kata manis cara tersebut sangat efektif. Namun yang dilakukan Rendy saat ini adalah murni karena ia memang mengagumi Reika, hanya saja ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya, jadi ia mencari untaian kata romantis dari berbagai sumber.
Wajar saja karena ini kali pertama anak itu melibatkan perasaan saat berteman dengan lawan jenis. Walaupun ia termasuk tipe yang suka jadi pusat perhatian, tapi tidak ada jiwa playboy yang mengalir dalam darah. Lebih memilih setia pada satu wanita daripada ribuan hati yang dijadikan koleksi.
"Masih pagi sudah gombal," ujar Reika yang saat ini membayangkan di atas bukit penuh bunga daisy. Sejauh yang mata memandang hanya ada hamparan bunga warna putih dengan bagian kuning di tengahnya.
Dengan disirami hangat sinar kuning keemasan mentari di pagi hari, dan juga semilir angin yang berhembus pelan, ia merebahkan tubuhnya di atas permadani hidup dengan kombinasi hijau dan putih.
Kemudian ia memetik setangkai lalu ditiup, serbuk sari berhamburan lalu terbang disapu angin. Tak berapa lama terjadi hujan serbuk sari laksana salju yang turun serentak, jatuh perlahan di atas landskap hijau putih hingga memenuhi areal sekitar. Walaupun singkat tapi cukup mewakilkan perasaan Reika. Ah, seandainya Rendy bisa memasuki dunia khayalan Reika saat ini. Namun sayang, dunia itu tidak bisa diakses siapapun kecuali pemiliknya sendiri yang bisa menciptakan sosok Rendy hadir di sana.
"Kenapa diam saja, Re? Kamu ngantuk?" tanya Rendy membuyarkan lamunan.
"Eh, gak kok." Reika tersentak. Gumpalan kapas di atas kepala dengan tampilan permadani hijau hilang begitu saja.
"Lalu kenapa diam saja?"
"Aku bilang ga kenapa-napa."
"Kalau begitu aku turun ya."
"Turun? Turun kemana?" tanya Reika panik. Belum juga ia mendapat jawaban, telepon ditutup sepihak. Dan benar saja, anak itu nekat loncat dari balkon tanpa kesulitan. Jika dilihat cara ia turun sepertinya ia sering melakukannya, tapi mengapa tidak menggunakan tangga? Entahlah, anak itu memang tidak bisa diam.
Dengan bertelanjang kaki, anak laki-laki yang mengenakan celana pendek itu mendekati pagar pembatas halaman belakang. Membuka pintu lalu menyebrangi selokan yang lebarnya dua meter menggunakan titian balok kayu. Reika tidak ingat sejak kapan ada balok kayu melintang di atas selokan. Namun ia tidak terlalu pusing akan hal itu. Yang dikhawatirkan saat ini adalah Rendy, bocah itu nekat melompati pagar tembok. Bagaimana jika aksinya kepergok dan diteriaki maling.
Akan tetapi itu sudah terlambat, anak itu sudah ada di bawah balkon kamar Reika. Ia berdiri di depan dapur yang memiliki jendela kaca lumayan besar, penghuni di dalam bisa melihatnya dengan jelas seandainya saat ini pemilik rumah memasuki ruangan dengan peralatan memasak itu.
Rendy mendongakkan kepala dengan senyum lebar, lalu duduk di atas rumput basah tanpa mengalihkan pandangan ke arah manapun. Reika tak habis pikir, kenapa harus repot-repot manjat pagar jika hanya duduk diam di bawah sana.
Terdengar suara penanda waktu dari masjid berdenting empat kali, waktu yang sama saat alarm ponsel berbunyi. Reika memberi peringatan agar secepatnya meninggalkan tempat itu, karena jam segini mamanya sudah menyiapkan segala sesuatu di dalam dapur.
Dasar Rendy, bukannya pergi malah merebahkan tubuh diatas rumput dengan sebelah kaki dinaikkan ke atas lutut. Tidak peduli punggungnya basah, ia mencari sudut pandang yang pas untuk mengambil gambar Reika dari bawah. Gadis itu menurut saja saat diberi instruksi agar diam tak bergerak.
Kilatan cahaya flash beberapa kali keluar dari ponsel, meskipun pada awalnya Reika malu-malu karena memang ia jarang sekali difoto. Di galeri pribadinya tidak ada satu pun foto selfie, kalaupun ada itu juga bareng Gita beserta gengnya.
Setelah dirasa cukup mendapat hasil jepretan lumayan banyak, Rendy berniat untuk kembali ke rumahnya. Dan kebetulan sekali terdengar ada seseorang membuka kunci pintu dapur. Lalu dengan secepat kilat anak itu berlari dan tanpa sengaja leher tersangkut tali jemuran hingga terpelanting. Tubuhnya terbelit cover penutup mobil warna putih yang sengaja dihujan-hujankan papa Reika karena sudah kotor.
Karena terlalu panik ia terus berlari tanpa mempedulikan cover itu masih membelit tubuh dan kaki hingga tidak leluasa bergerak. Kemudian ia melompati pagar pembatas rumah Reika dan luar biasa kebetulan mendarat tepat di atas titian balok kayu hingga mengagetkan tiga orang yang bersembunyi di balik tembok.
"Pocooooong!!!"

Komentar Buku (445)

  • avatar
    Abyy Akbar

    anak jujur dan baik pasti di sayang dan di percayai oleh papah dan ibunya 😇🤗🙏

    19/05/2022

      0
  • avatar
    EkaputriKarisma

    seru ceritanya ditunggu kelanjutannya ya👍🏻

    11/05/2022

      0
  • avatar
    Ratna K Sari

    erinspirasi

    28/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru