Beranda/Cahaya Untuk Hamza/
Bab 24 Hadiah
"Huek!"
Aku merasakan mual yang begitu hebat ketika membuka mata. Hari masih gelap dan azan subuh sedang berkumandang.
Aku menoleh dan mendapati Daru masih terlelap. Suamiku tampak kelelahan dan larut dalam mimpinya.
Semalam Daru mengurungku di kamar. Dia baru pulang dari luar kota selama satu minggu. Katanya dia sangat rindu kepada istri.
Ketika sampai, Daru tak membiarkan aku keluar kamar. Untunglah suamiku masih ada sisa izin kerja selama satu hari. Sehingga kami seharian di rumah sembari istirahat.
"Huek!"
Ya Allah perutku mual sekali. Aku berjalan menuju kamar mandi dan mengeluarkan semua isinya. Namun, rasa mualnya tak kunjung hilang.
Aku mengambil wudu dan menunaikan dua rakaat subuh dengan gemetaran. Perutku terasa seperti diaduk-aduk. Bahkan di saat cuaca dingin begini, peluhku malah menetes di dahi.
"Huek!"
Aku membuka mukena dan kembali ke kamar mandi.
"Sayang ...."
Kudengar Daru memanggil. Aku enggan menjawab karena tak kunjung membaik. Perutku bergolak terus menerus, walau hanya cairan yang dikeluarkan.
"Aya!
Daru terdengar panik dan memegang bahuku. Ketika aku muntah lagi, dia memijat bahuku berulang kali.
"Kamu kenapa?"
Aku berbalik dan memeluknya. Rasa mual sudah berkurang tetapi tak hilang sama sekali. Aku bahkan terisak-isak di dalam dekapannya.
"Perutnya sakit?"
Aku mengangguk dan kembali memeluknya. Lalu, kurasakan Daru menggendong tubuh ini dan meletakkanku di kursi.
"Tunggu di sini."
Saat Daru keluar, aku memijat pelipis. Setelah mual yang mulai berkurang, kini kepala terasa berat. Aku memejamkan mata hingga menunggu suamiku datang.
"Minum dulu."
Segelas air hangat Daru berikan. Aku meneguknya pelan. Perutku langsung terasa nyaman.
"Mau rebahan?"
Aku mengangguk. Daru membantuku berbaring di ranjang. Dia mengambilkan selimut dan memijat pelipisku.
"Makasih."
"Kamu kenapa?"
"Ndak apa-apa. Cuma tiba-tiba kebangun terus mual sekali."
Aku menggenggam tangannya erat. Hal yang sering aku lakukan jika merasa tak nyaman.
"Masuk angin ini. Kemarin kamu telat makan."
Aku mengiyakan ucapan Daru. Sejak pulang dari rumah mama, perutku sering kembung jika telat makan.
"Terus tadi malam aku bikin keramas terus," bisiknya mesra.
Aku hanya tersenyum. Dalam situasi seperti ini, suamiku tetap bisa menghibur. Apalagi saat Daru mengedipkan mata, aku tak bisa berkata-kata.
"Kamu mau sarapan apa?"
Daru mengusap perutku dengan lembut. Walau tak menghilangkan rasa mual, sentuhannya membuatku merasa nyaman.
"Aku ndak selera."
"Jangan gitu, nanti kamu sakit."
Ada nada khawatir dalam suaranya. Daru memang tipikal orang yang selalu care dengan siapa saja. Apalagi kepadaku, istrinya.
"Aku mau tidur sebentar."
"Aku cari bubur dulu di depan."
"Ndak usah. Kamu siap-siap saja berangkat kerja."
Aku menatap Daru dengan pandangan memohon maaf. Hari ini aku tak bisa mengurusnya sama sekali. Tubuhku terasa lemas.
"Kalau gitu aku sarapan di kantor aja."
"Maaf."
"Gak apa-apa, Sayang. Kamu istirahat. Aku mau subuh dulu."
Aku mengiyakan ucapannya lalu memejamkan mata. Sepertinya hanya tidur yang dapat menghilangkan rasa mual yang kembali datang.
***
Aku menggeliat dan menarik selimut. Udara terasa sangat dingin sehingga aku menggigil. Kubuka mata dan melihat AC masih menyala.
Biasanya Daru akan mematikan AC sebelum berangkat bekerja. Dia tahu kalau aku tak bisa tidur dengan cuaca dingin.
Kupaksa bangun dan mematikan AC. Aku duduk di kursi sembari memeluk bahu. Kubuka lemari untuk mencari sweater. Setelahnya rasa hangat mulai terasa.
Aku membuka pintu dan mendapati suara berisik di dapur. Lalu ketika mengintip, tetangga yang biasanya membantu sedang memasak sesuatu.
"Masak apa, Tih?" sapaku saat memasuki dapur.
Semua akan berantakan jika Ratih sedang memasak. Namun, dapur kembali bersih dan rapi sebelum dia pulang.
Ratih hanya bekerja sampai jam dua siang. Sebagai tulang punggung keluarga, dia akan mengambil pekerjaan di rumah lain.
"Soto, Mbak. Tadi Mas Daru pesannya begitu."
Begitu Ratih membuka tutup panci. Aku langsung menutup hidung. Aroma soto yang biasanya menggugah selera, kini malah membuatku eneg.
"Tutup pancinya!" pintaku.
"Kenapa, Mbak?"
"Mual."
"Loh, ini harum sekali. Kunir sama jahenya aku ambil di kebun belakang. Dagingnya ayam kampung lagi," jelas Ratih.
Aku duduk di kursi makan sembari menutup hidung. Hingga akhirnya Ratih mematikan kompor dan menghampiriku.
"Mbak kenapa?"
"Mual," jawabku sembari mengangkat wajah.
"Ya Allah muka Mbak pucat sekali."
Aku mengangguk, lalu mengambil air putih dan meneguknya pelan. Bukannya merasa baikan, justru mual semakin terasa.
"Jangan-jangan Mbak Aya ngisi."
Aku tertegun lalu mengucap Hamdalah. Tak menyangka jika diberikan keceprcayaan secepat ini.
"Apa iya?"
"Lah, memangnya waktu dulu ndak ingat rasanya?"
Aku tertegun, lalu teringat lagi kenangan masa lalu.
"Dulu ya mual juga. Tapi kan sudah lama, jadi aku lupa."
Aku dan Ratih saling bertatapan. Tetanggaku itu bahkan menarik kursi dan duduk di depanku.
"Dulu aku ndak minum pil karena memang mau punya anak sama Hamza."
Setelah mengucapkan itu aku malah merona. Apalagi saat Ratih mengerling menggoda.
"Nah, yang sekarang?"
"Aku sudah minum pil."
"Apa jangan-jangan Mbak Aya lupa," terka Ratih.
Aku menepuk dahi, teringat saat berlibur di rumah mama. Selama tiga hari di sana aku memang tak minum pil karena begitu sibuknya.
Kami bukannya tak mau memiliki bayi. Hanya saja kakiku masih harus dioperasi sekali lagi. Sehingga aku dan Daru sepakat menundanya hingga benar-benar pulih.
"Coba aku tes dulu."
Aku kembali ke kamar dan mengambil alat tes di laci. Dengan hati berdebar, aku mengikut langkah-langkahnya. 11 detik menunggu membuatku tak sabaran.
Begitu hasilnya kelihatan, aku berjalan ke dapur untuk melihatkan hasilnya kepada Ratih.
"Alhamdulillah. Jenengan dikasih rezeki sama Gusti Allah."
"Alhamdulillah."
"Selamat, Mbak Aya."
Ratih memelukku erat. Kami bahkan bercerita banyak hal tentang kehamilan. Aku bahkan tak lagi mengingat semua kenangan buruk yang dulu.
Daru memberikan banyak kebahagiaan. Sehingga hati ini hanya dipenuhi kebahagiaan.
"Kalau gitu Mbak Aya balik kemar. Aku masakin bubur sama tempe kering. Biasanya yang mual begini, ndak bisa makan berbumbu."
"Makasih, Tih."
"Sama-sama, Mbak. Saya juga kan digaji. Jadinya ada tambahan penghasilan."
"Aku bersyukur ada kamu yang bantu. Ibu sudah ndak ada."
"Jangan sedih, Mbak. Gusti Allah sudah mengatur semua."
"Tapi anakku nanti ndak kenal sama neneknya."
"Mbak Aya jangan pikirkan yang begituan. Yang penting jaga kandungan. Mas Daru pasti senang sekali."
Aku mendengarkan nasihat Ratih. Dalam keadaan begini aku perlu dukungan dari orang-orang terdekat.
"Sekarang Mbak Aya pikirkan gimana mau ngasih tau Mas Daru."
"Apa bikin kejutan begitu?"
"Ya harus. Biar jadi surprise," ucap Ratih bersemangat.
"Kira-kira apa, ya?"
Entah mengapa rasa mual tiba-tiba saja menghilang. Sepertinya, itu bisa diredam dengan berbincang-bincang.
"Gimana kalau alat tesnya disimpan di lemari. Nanti waktu Mas Daru mau ambil baju, langsung kelihatan."
Aku setuju dengan usul Ratih. Lalu aku kembali ke kamar untuk berbaring. Sementara dia memasak bubur untuk sarapanku.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (55)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
seru banget nih..
26/11/2024
0Cerminan buat kita goodjoob
21/11/2024
0goodjob
16/11/2024
0Lihat Semua