logo text

Bab 80 Akad mendadak

Bagi Amel, peristiwa yang ia alami mendadak ini terasa seperti mimpi di sore hari. Setelah hatinya memantapkan untuk kembali melabuhkan hati pada seseorang, akhirnya kini tubuhnya merela untuk duduk sembari mendengar seorang pria mengucap janji suci.
Ketika Amel mengatakan pada sang Ayah bahwa ia telah siap kembali menikah dengan Alvin, sepertinya Haris tidak ingin membuang banyak waktu, selain segera menghubungi pihak KUA untuk menikahkan putrinya yang sudah dua kali gagal menikah. Kini, ia percaya dan penuh harap semoga rumah tangga yang akan dibina oleh dua orang yang ia sayangi itu, akan menemukan bahagia.
Sedangkan Alvin, ia juga tidak kalah syok karena setelah Haris kembali ke ruangannya tanpa Amel, pria paruh baya itu mengatakan dengan tegas bahwa akad mendadak akan dilaksanakan sore hari, menjelang Maghrib. Tanpa bisa membantah, Alvin hanya mengiyakan walau dadanya berdebar tidak karuan.
"Secepat itu," batin Alvin. Ia menatap tubuhnya sendiri yang masih dalam keadaan belum pulih total. Bagaimana mungkin, ia terburu untuk menikah dengan Amel? Ia masih lemah dan tidak akan bisa menjalankan kewajibannya sebagai suami.
"Kal, aku harus bagaimana?" tanya Alvin kepada sahabatnya yang masih menemani.
"Nggak usah pusing, tinggal iyain aja. Kamu udah pernah akad sebelumnya, pasti nggak akan kesulitan," jelas Haikal sambil memainkan ponselnya.
"Bukan itu, masalahnya, kondisiku masih seperti ini. Aku belum bisa menjalankan tugas dan kewajibanku sebagai suami. Amel harus merawatku nanti, kasihan, dia sudah banyak menderita karenaku," jelas Alvin dengan raut wajah yang menggambarkan kekhawatiran. Haikal berdecak.
"Kalau kau tidak cepat, aku hanya takut, Pak Haris berubah pikiran," ucap Haikal dengan ada nada sedikit menakut-nakuti. Alvin bergidik mendengarnya, ia memang bahagia ketika Haris menawarkan padanya untuk menikahi Amel, namun jika tiba-tiba saja pria itu berubah pikiran, bagaimana?
"Kal, kira-kira, kenapa ya Amel tiba-tiba menyetujui... nikah sama aku?" tanya Alvin, Haikal mendongak, menyimpan ponsel ke dalam saku jasnya.
"Bodoh. Karena dia cinta lah," ketus Haikal. Ia mengisyaratkan dengan tangan, agar asistennya mendekat.
"Aku mau pergi dari sini. Nggak tahan terus-terusan dengan orang bodoh. Ck, bisa-bisa aku ketularan," ujar Haikal pedas. Namun Alvin sudah terbiasa mendengar itu. Sahabatnya yang setia itu memang sulit menjaga lidahnya untuk berkata-kata tidak menyinggung.
"Hei hei, mau kemana kamu?" tanya Alvin, begitu Haikal benar-benar akan pergi dari ruangannya. Jujur, ia merasa kesepian jika sendirian di ruangan ini.
"Aku harus ketemu client. Ku tinggal dulu ya. Sore ini, aku akan balik, sambil membawakan pakaian untuk pernikahanmu," jelas Haikal sembari mengedipkan mata. Alvin mendesah, dalam kondisi seperti ini memang tidak mungkin baginya untuk menyiapkan pernikahan.
“Aku akan tanya sekali lagi, kamu yakin Mel, menikahi seorang pria lemah sepertiku?” tanya Alvin dengan mimik serius. Tubuhnya kini sudah dibalut jas hitam dengan peci berwana senada. Wajahnya yang tirus begitu bersih karena ia sudah berwudhu sebelum acara ini di mulai.
Walau ia mengatakan bersedia kembali menikah dengan Amel, dia tidak yakin wanita itu bersedia kembali padanya. Mengingat, banyak luka yang ia torehkan dulu. Banyak hal yang membuat Alvin sebenarnya tidak layak untuk mendapatkan Amel lagi.
Alvin hanya tidak ingin, Amel bersedia menikah dengannya hanya gara-gara rasa bersalah. Hanya gara-gara ia menyelamatkan nyawa wanita itu. Atau alasan paling masuk akal jika ternyata Amel menikah karena dipaksa lagi, oleh sang Ayah. Ia hanya ingin, Amel menikah dengannya lagi karena wanita itu ingin menjadikannya imam dalam rumah tangga, pemimpin, pengayom dan penuntun wanita itu untuk menggapai Ridho dari TuhanNya.
Melihat wanita itu hanya menunduk sambil menganggukkan kepala, membuat Alvin bertakbir lirih. Di saat hatinya mulai bisa melupa, ketika hatinya telah ikhlas melepaskan dan ketika jiwanya berusaha
sembuh dari luka bernama cinta, mengapa, justru kesempatan itu datang lagi?
Ia amat bersyukur, pria yang selama ini ia anggap Ayah, sudah memaafkannya. Namun, rasa-rasanya ia terlalu takabur jika ia mendapatkan kebahagiaannya. Seharusnya, tidak seperti ini. Ia pantas untuk tidak mendapatkan wanita sesabar Amelia binti Haris. Dua pria telah melukainya dan wanita itu masih tetap
berdiri tegar, seperti karang yang diterjang ombak tanpa tumbang?
“Terbuat dari apa hatimu Mel?” batin Alvin. Kekagumannya semakin menjadi, tatkala senyuman tulus terukir di bibir wanita itu. Semakin besar pula, rasa bersalah yang Alvin rasakan.
Alvin menatap Haris, pria paruh baya yang berbesar hati untuk memaafkan perbuatannya di masa lalu. Pandangannya beralih menatap sahabat yang telah menguatkannya selama ini juga embantunya menyiapkan segala hal untuk pernikahannya. Mereka semua, adalah orang-orang yang hadir untuk menerima kekurangannya. Walau kini, ia tidak memiliki keluarga yang utuh, tapi ia merasa dicintai dan di sayangi. Nikmat Tuhan mana lagi yang akan di dustakan?
“Bisa dimulai ijab qabulnya Nak?” tanya seorang pria paruh baya dengan peci yang bertengger di kepalanya. Alvin
terlihat melirik ke arah Haris yang menganggukkan kepala. Tanda mengizinkan. Setelah menyimak apa yang telah diucapkan oleh Ayah Amelia, Alvin dengan keyakinan menjawab ijab.
“Saya terima nikahnya Amelia binti Haris dengan mahar tersebut, di bayar tunai!”
Air mata yang menetes membuat Alvin tertegun. Entah perasaan apa yang dirasakan oleh wanita yang
kini telah kembali sah menjadi istrinya. Benar-benar seperti mimpi. Tidak pernah terbayangkan olehnya akan kembali membina rumah tangga bersama mantannya? Biasanya orang diluar sana pasti akan sangat enggan bahkan amit-amit kembali pada mantan, tapi tidak dengan wanita itu, tidak perlu dipertanyakan
perasaan Alvin, karena memang ia telah jatuh hati pada seorang Amel. Tapi, bagaimana perasaan seorang Amel, yang tetap bersedia menikahi seorang Alvin Mahendra? Apakah wanita itu tidak takut, sejarah masa lalu terulang kembali?
“Alhamdulillah.” Gema tahmid membuat Alvin tersadar bahwa dirinya bukan sedang di alam mimpi. Rasanya, ingin ia menepuk pipi sendiri, berjingkrak jika bisa, untuk membuktikan bahwa ini nyata, kini ia berstatus sebagai seorang suami.
“Alhamdulillah, anak Bapak sudah bersuami lagi,” lirih Haris tulus, ia mengelus kepala Amel yang dibalut kerudung putih yang sederhana. Tanpa renda apalagi mahkota diatasnya. Polesan bedak tipis saja yang menghiasi wajah Amel, mampu membuat paras itu begitu anggun seperti bidadari. Alvin tidak henti menatap wajah yang selama ini ia rindukan dalam diam, ingin sekali menyentuhnya. Tapi, saat ini ia justru merasa malu dan tidak layak.
“Alhamdulillah Pak,” ucap Amel dengan senyuman. Hal itu membuat Alvin juga merasa lega. Ia merasa diterima sebagai seorang suami baru.
Mata Alvin bertatapan sejenak dengan istrinya. Amel bangkit dari kursi, mengambil telapak tangan Alvin untuk ia cium. Dan jika Amel tahu, dada suaminya itu berdetak lebih cepat ketika kulit mereka bersentuhan.
Alvin merasakan bahunya di usap-usap oleh Haris. Pria paruh baya itu masihlah seperti seorang Ayah baginya. “Jaga anakku, itu janji kamu Nak!” tegas Haris. Alvin mengulas senyum, menganggukkan
kepala.
“Saya akan berusaha menjaga anak Bapak,” ucap Alvin. Haikal dan Ibunya yang juga ikut menyaksikan, tersenyum haru.
Beberapa jam selepas acara sederhana yang berlangsung di kamar rawat pasien itu, kini hanya tinggal dua sejoli itu yang saling terdiam dalam canggung. Dulu, mereka hampir tidak pernah hening, pasti ada saja percekcokan yang terjadi. Namun kini, setelah apa yang telah terjadi pada mereka, entah mengapa, memulai pembicaraan rasanya sulit sekali.
“Mel,” panggil Alvin. Sejak usai salat Maghrib tadi, Amel memilih untuk mengaji dengan lirih. Sambil diam-diam mendo’akan kesembuhan untuk suaminya.
“Iya? Kamu butuh sesuatu?” tanya Amel sopan dan dengan nada yang lembut. Tidak ada lagi raut benci yang ia tampakkan seperti terakhir kali bertemu Alvin. Dan lagi-lagi fakta itu, membuat Alvin merasa lega.
“Nggak. Aku cuma, nggak percaya, kamu sekarang istriku,” ucap Alvin dengan senyum kikuk. “Kamu, berubah begitu
banyak. Amel yang aku liat sekarang, sosok yang begitu tenang," lanjut Alvin yang secara langsung memuji istrinya.
Jujur, semenjak ia melihat Amel berkunjung ke rumah sakit lalu sampai wanita itu menyetujui untuk
menikahinya, ia hanya melihat Amel begitu tenang. Walau sempat terlihat marah begitu Ayahnya menawari untuk menikah dengan Alvin. Sampai ijab terucap, Alvin selalu mengamati, bahwa Amel tetap tenang dalam diamnya. Tidak ada tatapan protes atau enggan di mata wanita itu. Dan Alvin, tidak dapat menerka-nerka perasaan seperti apa yang Amel rasakan, apakah gugup seperti dirinya? apakah wanita itu tengah berbunga-bunga karena bisa menikah lagi, atau bagaimana?
Tatapan Alvin tidak lepas dari gerak istrinya yang menaruh mushaf ke atas meja, melepaskan mukena, hingga tersisa kerudungnya yang berwana biru muda.

“Aku belajar banyak. Dari setiap kejadian dalam hidupku. Seseorang itu bisa melakukan kesalahan, tapi
tidak menutup kemungkinan dia juga akan memperbaiki diri. Kalau kamu tanya, kenapa aku bersedia menikah denganmu, akan aku jawab, karena aku melihat perubahan pada dirimu. Setiap orang berhak berubah ‘kan? Dan setiap kesalahan berhak untuk dimaafkan.”
Alvin menghirup nafas dalam-dalam, ia semakin kagum. Pada sosok istrinya yang berubah banyak.
“Maafkan aku,” lirih Alvin. Ia beranikan diri untuk menggenggam telapak tangan yang dingin itu. Jika saja Alvin, tahu istrinya hanya sedang gugup.
“Kita hidup di masa depan, aku tidak suka mengungkit masa lalu kita. Lupakan dan kamu akan tenang
karenanya.” Amel melepas genggaman tangan Alvin. Beranjak untuk memperbaiki letak kepala suaminya yang miring. “Kepalamu jangan kayak gini, nanti pegal.”
“Ekhem!” suara deheman membuat mereka menoleh bersamaan. Ternyata Haikal dan asistennya datang membawa beberapa kantung buah-buahan. “Kali ini, yang memandikan adalah istrimu sendiri Vin. Jangan khawatir,” goda Haikal membuat wajah Alvin tidak karuan. Ia memang sangat tidak nyaman, dimandikan oleh perawat rumah sakit, walau seorang pria sekali pun. Tapi kini, ia tidak perlu khawatir, karena ada istri di sisinya. Jika Amel bersedia tentunya.
“Jangan dengarkan dia Mel,” ucap Alvin pada Amel yang hanya tersenyum.
“Terimakasih,” ucap Amel begitu menerima bingkisan buah-buahan itu dari Haikal.
“Itu, dia paling suka buah Alpukat. Aku pikir, setelah koma sekian lama, dia pasti rindu sama buah itu,”
jelas Haikal dengan nada mengejek. Alvin mendengus, sahabatnya itu memang menyebalkan, tapi sungguh sayang untuk dibuang.
“Iya, nanti aku akan kupaskan buat dia," ucap Amel yang membuat Haikal tersenyum. Merasa tebakannya selama ini tidak keliru, ia sudah menduga Amel memiliki rasa kepada sahabatnya itu.
“Vin, gimana rasanya dapat istri setelah koma?” tanya Haikal dengan senyumnya yang menggoda. Jika saja keadaan mendukungnya, Alvin mungkin akan segera menendang sahabatnya itu.
“Bos konveksi nggak sibuk apa? bela-belain berkunjung di jam istirahat begini?” tanya Alvin mengalihkan pertanyaan Haikal.
“Ei… jangan mengalihkan topik. Aku ‘kan tanya, gimana rasanya punya istri setelah bangkit dari kematian hahaha.” Haikal tertawa-tawa sampai memegang perutnya. Sedangkan Amel menggelengkan kepala, Bos Konveksinya ini memang suka bercanda, tapi tidak lucu karena kata-katanya pedas dan selalu menyinggung.
“Kalau kamu iri, segeralah beristri,” tandas Alvin tepat sasaran. Haikal langsung diam, sedikit merengut.
“Tugasmu mencarikan,” ucap Haikal dengan menaik turunkan alisnya.
“Cari sendiri," ketus Alvin sambil membuang wajah. Ia sudah kesal sejak pertama kedatangan Haikal ke sini. Biasanya ia senang Haikal mengunjunginya di tengah waktu sibuk pria itu. Tapi, sekarang ia malas bertemu dan karena kedatangan pria itu, kemesraannya dengan Amel harus terganggu.
“Apa kalian akan terus berantem begini?” tanya Amel yang lelah melihat dua orang itu yang kekanak-kanakkan.
“Begitulah kelakuan suamimu jika bersamaku. Tidak sopan. Anehnya, kamu masih mau ya," ucap Haikal dengan tertawa menggoda kedua pasangan suami istri.
“Cinta itu emang aneh Pak. Nanti Bapak yang merasakan sendiri,” celetuk Amel membuat Haikal reflek memijat kening. Memang seperti ini, jika berbicara dengan orang-orang yang tengah mengagungkan cinta, pasti ujung-ujungnya tidak masuk akal. Apa masuk akal, seorang wanita yang sudah disakiti oleh mantan suaminya, malah mau diajak menikah lagi? Haikal tidak habis pikir. Tapi ya itu, cinta katanya.
Tanpa Amel sadari, wajah Alvin bersemu saat mendengar sang istri mengucapkan cinta.
“Astaga, aku lupa. Dua orang ini sudah bucin, bener-bener nggak rasional. Kalau gitu, aku nggak mau berlama-lama di ruangan ini. Aku akan pergi." Haikal memberi isyarat pada asistennya
“Eh, mau kemana Pak?” tanya Amel. Haikal sedikit melotot, tidak suka panggilan itu untuknya.
“Saya bukan Bapak kamu.”
“Iya Mas Haikal, kenapa buru-buru sekali?” tanya Amel menahan tawa. Lucu saja melihat ekspresi Haikal.
“Biarkan dia Mel,” timpal Alvin. Ia malah senang jika Haikal segera pergi.
“Dia mengusir aku Mel. Lebih baik aku tidak mengganggu," tunjuk Haikal ke wajah Alvin yang tengah menyeringai.
“Mas nggak ganggu kok. Aku senang, Mas Alvin jadi ada teman bercanda." Amel mulai mengambil pisau yang tersedia, lalu mengupas perlahan buah Alpukat.
“Sudahlah, aku merasa terusir. Yang penting dia sehat, aku sudah senang. Hei… cepat sembuh, jangan manja dan jangan susahin istrimu.” Haikal mendekat, memukul-mukul bahu Alvin dengan tinjunya.
Perbuatan Haikal itu lantas membuat Alvin tertawa. Ia paham, sahabatnya tengah menuangkan perhatian padanya, hanya saja dengan caranya yang aneh bin gengsi itu.
“Iya-iya. Aku tau kamu bakal khawatir, kalau aku seperti ini terus.” Alvin berkata dengan percaya diri.
“Lihat suamimu Mel? Sepede itu? astaga, tidak habis pikir. Kayanya ada yang rusak syarafnya saat kecelakaan kemarin,” gurau Haikal yang dihadiahi tawa oleh Amel. Ia merasa lucu dengan kedua pria itu.
Haikal mendorong kursi rodanya sendiri, mendekat ke arah Amel, membuat Alvin memicing tajam di tempatnya.
“Makasih ya Mel. Udah mau jadi temen hidupnya dia. Aku titip dia ya,” bisik Haikal yang diaanggupi oleh Amel dengan senyum kecil.
“Kalian membicarakan apa?” tanya Alvin penasaran. Haikal menggeleng. “Ada deh. Aku pamit ya.”
Suasana kembali hening dan canggung. Baik Amel atau pun Alvin bingung harus melakukan apa lagi. Ingin mulai berbicara, rasa-rasanya masih malu untuk memulai. “Mel, kamu boleh kok pulang ke rumah. Biar aku disini, tenang aja, para perawat itu selalu mengawasiku hampir 24 jam,” jelas Alvin. Ia merasa tidak nyaman merepotkan Amel yang baru beberapa jam menjadi istrinya.
“Nggak papa. Aku sudah jadi istrimu, sudah tugasku menemanimu," ujar Amel seraya menyerahkan buah Alpukat yang sudah ia potong kepada Alvin.
Alvin tersenyum, lalu ia menerima suapan dari istrinya.
“Maaf merepotkanmu," ujar Alvin lirih namun dengan senyuman karena suapan istri ternyata membuat hatinya sebahagia ini.
Dua suster wanita datang memecahkan keheningan di antara mereka. “Selamat malam Pak Alvin,
bagaimana keadaannya?” tanya si suster wanita. Alvin tersenyum.
“Alhamdulillah lebih baik sus.”
“Sudah saatnya mengganti keteternya Pak,” ucap suster yang memiliki lesung pipi membuat
Alvin seketika menoleh ke arah Amel yang juga menatapnya. Rasanya malu mengetahui jika tubuhnya harus dilengkapi alat itu untuk buang air kecil, mengingat punggungnya masih sakit untuk bergerak walau sedikit, apalagi ke kamar mandi.
“Ee… perawat prianya mana?” tanya Alvin gugup.
“Saat Bapak koma. Biasanya kami yang memang menggantinya Pak. Kemarin saya digantikan sementara oleh perawat pria,” jelas suster wanita itu tanpa rasa bersalah. Alvin yang mendengarnya terkejut, jadi selama ini, organ tubuhnya sudah di eksploitasi oleh suster-suster wanita itu?
Alvin memejamkan mata. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Wajahnya sudah memerah tidak karuan. Tangannya mengepal, rasanya ingin sekali memarahi Haikal yang ternyata masih belum mengerti dirinya. Mengapa pria itu tidak menyuruh kepada rumah sakit agar memberinya khusus perawat pria. Argh, mungkin sahabatnya kira, Alvin masihlah pria yang dulu, yang tidak akan masalah apabila tubuhnya di grepe-grepe oleh wanita. Tapi kini beda, Alvin hadir dengan prinsip baru, tidak boleh sembarangan menyentuh atau disentuh oleh yang bukan mahram. Ia sudah mendapatkan banyak pelajaran agama dari dauroh yang diikutinya.
“Sus, bisakah yang menggantikannya pria saja? Saya malu. Ini aurat. Hanya istri saya yang boleh melihat," ucap Alvin jujur. Tanpa Alvin ketahui, Amel yang mendengarnya terkejut. Ternyata pria itu bisa berfikir sampai kesana.
Dua suster itu menahan tawa. Merasa lucu melihat ekspresi pasiennya yang malu sekaligus terkejut
beberapa menit lalu. “Bapak tenang aja, ini hanya sekedar mengganti, dalam rangka medis Pak," jelas suster yang satunya lagi.
“Tapi saya tidak mau,” tolak Alvin dengan nada kesal. Dua suster itu semakin dibuat terkikik. Pintu di ketuk, seorang pria yang juga mengenakan baju perawat datang dengan senyum mengembang.
“Ada apa ini?” tanyanya karena dua rekannya terkekeh-kekeh.
“Nggak papa. Cuma lagi lucu-lucuan sama Pak Alvin. Beliau kaget kalau kami yang pasang keteter itu," jawab salah satu suster.
“Owalah. Dasar kalian! Tenang Pak, yang biasanya pasang keteter itu saya, bukan mereka. Duh, mereka itu paling bisa menggoda pasien,” ucap pria itu. Alvin mendesah lega, matanya menatap sang istri yang
tersenyum-senyum sendiri di belakang sana.
"Huh!" Alvin membuang nafas kasarnya. Membayangkan tubuhnya sudah dilihat lebih dulu oleh yang bukan siapa-siapanya itu, membuat bulu kuduknya berdiri.
Alvin kembali dibuat terpana, begitu Amel tidak berhenti senyum sembari menatapnya. Ah, ia jadi semakin bersemangat untuk sembuh lebih cepat. Rasanya sudah tidak tahan untuk memeluk Amel. Wanita yang diam-diam selalu menghiasi mimpinya.
tamat!
eh eh😂 gimana tamat tuh? #tapi boong😂
haha, tamat nggak yah? komen2 dong

Komentar Buku (173)

  • avatar
    HasanIstiqomah

    ceritanya sangat bagus.. semangat terus menulisnya

    05/03

      0
  • avatar
    Mama Afiqah

    seru

    27/07/2025

      0
  • avatar
    mustapaHuda

    best novel

    29/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru