Total : 85Bab 1 Tiba-tiba ngajak nikah
Tatapan melototku sudah mulai pudar. Hanya saja, kepalaku mau tak mau harus celingukan ke kanan dan
readmore Bab 2 Nyogok
Halaman rumahku, menurutku adalah pemandangan terindah dari sekian banyak halaman rumah orang. Almar
readmore Bab 3 Nazar Nikah
Aku ikut mendudukkan diri di ranjang, lalu mengintip untuk melihat apa yang tengah di tonton adikku
readmore Bab 4 Terima atau Nggak?
"Tapi... bukan sama Bapak. Tapi, sama orang yang saya suka, cinta dan sayangi sepenuh hati. Lah Bapa
readmore Bab 5 Sudah Klik
Ruang tamu senyap di hari Minggu ini, tumben sekali. Rafa, adikku masih bergelut dengan selimutnya s
readmore Bab 6 Deg-deg Ser
Sudah kuduga, berdalih karena tugas yang ditimpakan kepadaku, si dosen itu jelas memanfaatkannya unt
readmore Bab 7 Ngajak Duluan
Apa dia bilang? otakku mendadak sulit mencerna. Maksudnya, dia mau ngelamar aku gitu? ah aku jadi te
readmore Bab 8 Harga Mahar
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu waktunya sidang skripsi. Ramdan dibalik kelembutannya me
readmore Bab 9 Sudah Mentok
Akhirnya, aku membiarkan Pak Alvin mengikutiku hingga ke toko kain langgananku. Bodo amatlah sama ti
readmore Bab 10 Terima Lamaran
Mataku masih setia menatap langit malam. Membuka tutup ponsel tanpa ada yang ku hubungi. Hanya satu
readmore Bab 11 Kesambet
"Saya terima lamaran Bapak." Aku berkata dengan mantap membuat Pak Alvin terlihat kaget. Ia menatapk
readmore Bab 12 Tanggal Nikah
Aku bangun dengan peluh yang membanjir serta dada yang mendadak kesal. Bagaimana tidak sebal, aku bu
readmore Bab 13 Malam yang Panas
Pernikahanku dan Pak Alvin tinggal menunggu waktu. Ketika di kelas mata kuliah dia, teman-temanku un
readmore Bab 14 Bengkak
Aku menyerahkan kapas dan juga botol micellar water kepadanya. Pak Alvin menerimanya, menuangkan cai
readmore Bab 15 Nyosor
Hari pertama menjadi istri. Tidak ada perubahan apapun, seperti biasa, aku memasak menu apapun, lalu
readmore Bab 16 Mertua
Kami memang sudah membicarakan perihal hubungan asmara yang kami miliki. Eh, dia aja sih sebenarnya.
readmore Bab 17 Kebingungan Alvin
Pov Alvin Mahendra Akhirnya kata sah itu sudah terucap. Kini, aku resmi menikahi seseorang dan nazark
readmore Bab 18 Meledak
Baru sehari aku berada di rumah mertua, masalah sudah menghantuiku. Bagaimana tidak, hanya karena ak
readmore Bab 19 Merasa Sedih
"Baju saya mana Mel?" tanya Pak Alvin setelah keluar dari kamar mandi. Nada bicaranya tidak sedatar
readmore Bab 20 Pria yang di sukai
"Kak Ramdan? ini beneran Kak Ramdan?" tanyaku senang. Entah mengapa, hatiku sedikit menghangat, wala
readmore Bab 21 Berdebar
"Mau saya kompresin perut kamu?" tanya Pak Alvin yang duduk di tepi ranjang. Aku bergeser sedikit me
readmore Bab 22 Diusir
Tanganku bermain di atas keyboard, mataku fokus menatap layar. Aku tak peduli lagi dengan Pak Alvin
readmore Bab 23 Ada apa denganku?
Pov Alvin Mahendra Pov Alvin "Bego Alvin, kenapa juga bisa nyium dia," aku merutuk sendiri di kamar ma
readmore Bab 24 Pergi
Pov Amel "Baru rencana Kak, aku pengen aja gitu punya toko, jadi bisa punya karyawan," jelasku yang s
readmore Bab 25 Pikir Sendiri
"Oh Mas Alvin, lagi masa-masa sibuk Pak. Dia lagi banyak ngoreksi middle test, kaya kalau sekolah tu
readmore Bab 26 Kasihan
"Katakan, biar saya tahu Mel. Biar saya bisa intropeksi," katanya memelas. Apaan sih dia, kemarin aj
readmore Bab 27 Satu Ranjang
"Kamu mau saya antar ke kampus atau ke rumah Mama?" tanya Pak Alvin, dia melirikku sebentar. Lalu ke
readmore Bab 28 Sarapan
Setelah tidak mendengar suara-suara lagi, aku membuka mata, menghirup nafas dalam-dalam lalu mengelu
readmore Bab 29 Dosen baru
Aku hendak berdiri, tapi tangan Pak Alvin menahanku. Dia menatapku sembari menggelengkan kepala. "Ja
readmore Bab 30 Observasi
Aku dan Tiara saling berpandangan. Tentu saja kaget Pak Alvin tiba-tiba duduk di kursi yang sebelumn
readmore Bab 31 Ice Cream
"Rambutmu ada yang keluar," katanya sambil menarik satu helai rambutku. "Aww! jangan ditarik!" senta
readmore Bab 32 Suasana Asing
Benar saja, setelah pulang ke rumah Mama Mertua dalam keadaan lumayan basah, aku berkali-kali bersin
readmore Bab 33 Jadi teman
"Amel!" samar-samar, telingaku mendengar suara Pak Alvin. Ia menahan bahuku agar tidak jatuh. Kepala
readmore Bab 34 Yang kedua
"Kamu ada matkul pagi?" tanya Pak Alvin sembari menikmati koran harian. Dia sedang duduk di sofa, sa
readmore Bab 35 Gila
Hanya di pipi, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, mampu membuat tubuhku menegang. Pulpen yang aku
readmore Bab 36 Pembukaan
Aku mendadak ingin kabur saja. Apalagi semua lampu tiba-tiba mati, dan kini yang menyala dari Wandy
readmore Bab 37 Dugaan Ramdan
Author POV "Ya udah, kalau gitu aku duluan ya," pamit Tiara pada Amel, setelah wanita itu ikut memban
readmore Bab 38 Dimanfaatkan
Amel membawa bubur ke ruang tengah dengan wajah masam, ia tidak ingin berpura-pura bahagia karena bi
readmore Bab 39 Ketahuan Adik ipar
Bapak Amel mempersilakan masuk perempuan yang sepertinya tak beda jauh umurnya dengan sang anak itu.
readmore Bab 40 Tamparan kenyataan
"Rafa tunggu Abang!" teriak Alvin sambil berusaha mengejar adik Iparnya yang tampak marah itu. "Rafa!
readmore Bab 41 Hampir saja
Amel buru-buru menutup mulut adiknya. Rafa yang kesal memberontak, ia langsung menggelitiki kakaknya
readmore Bab 42 Bulan madu
Alvin hanya bisa mengelus dada sementara semenjak Rafa tiba-tiba mau bersedia di ajak kerjasama. Ent
readmore Bab 43 Bulan Madu 2
Amel hanya bisa berujar lirih dengan mata yang melebar. Sedangkan Alvin yang juga melihat adegan di
readmore Bab 44 Bulan Madu 3
"Apa maksud kamu? Menyentuhku?" ulang Amel. Ia sudah cukup umur untuk mengerti kearah mana pembicara
readmore Bab 45 Ancaman Mertua
“Setelah ini, rencana kita apa?” tanya Amel ketika dirinya dan suami sudah berada di dalam mobil, be
readmore Bab 46 Saling sindir
“Bu, tolong ini ada apa sebenarnya? Saya nggak ngerti maksud Ibu. Kenapa Amel dan Alvin harus cerai?
readmore Bab 47 Ketahuan mertua
“Maksud kamu apa Nak? Kamu akan menceraikan anakku dalam beberapa hari?” tanya Haris saat ia sudah b
readmore Bab 48 Kepergian
Amel langsung masuk ke rumah mertuanya. Mencari batang hidung Ibu mertuanya, namun tidak ia temukan.
readmore Bab 49 Pengakuan Alvin
Seorang pria terus menitikkan air mata. Sedih, kehilangan, sesal bercampur bersamaan. Ia sebelumnya
readmore Bab 50 Pengakuan Alvin
Seorang pria terus menitikkan air mata. Sedih, kehilangan, sesal bercampur bersamaan. Ia sebelumnya
readmore Bab 51 Penawaran
“Ceraikan Amel, agar aku kembali percaya,” ucap Haris tegas. Mata Alvin melebar, dalam hati menolak
readmore Bab 52 Pertemuan di sengaja
Setelah kejadian dimana ia berkunjung ke rumah keluarga Alvin, Amel selalu mengurung diri di kamarny
readmore Bab 53 Akhirnya lepas
Amel tertegun sesaat. Bukan tidak mungkin mereka berdua tidak melakukan hal yang iya-iya. Mulutnya h
readmore Bab 54 Wanita yang bercerai
Tidak seperti wanita bercerai pada umumnya. Amel tidak trauma, tidak sedih, tidak pula memaki jika s
readmore Bab 55 Lamaran lagi
Amel hanya membuang nafas, ditatap seperti itu ia tak suka, namun karena ia terlanjut menawarkan ban
readmore Bab 56 Proses taaruf
Benarlah apa yang diucapkan Ramdan. Pria itu membawa serta orang tuanya untuk melamar Amel. Perbinca
readmore Bab 57 Bertemu mantan
Mungkinkah, ini bagian dari rencananya dulu? Amel membatin sendiri. Jika memang begitu, ia bisa memi
readmore Bab 58 Menguping
Bibir Amel melengkung indah, begitu ia sudah mencatat di sticky notes berwarna kuning yang berisi ja
readmore Bab 59 Seminar cinta
Tidak bisa dipungkiri jika detak jantungnya begitu cepat. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi
readmore Bab 60 Pernikahan kedua
Alvin menatap nanar kertas buffalo warna pink dengan gambar dua kartun orang yang tersenyum berdampi
readmore Bab 61 Sah
Amel menyeka air mata yang tumpah ruah tanpa diminta. Penjelasan Alvin terdengar begitu menyakitkan
readmore Bab 62 Malam pertama lagi
Mata memang sulit berbohong. Melukiskan betapa terlukanya hati seorang pria yang akhir-akhir ini hid
readmore Bab 63 Curiga
"Kenapa?" tanya Amel heran begitu Ramdan berhenti melakukan aktivitasnya. Tubuhnya kini sudah berada
readmore Bab 64 Dua wanita
"Maafkan aku Kak, maafkan aku yang terus menuntut. Aku kira, kamu nggak punya trauma," lirih Amel se
readmore Bab 65 Mantan mertua
Amel menutup mulutnya sendiri, sementara air matanya sudah berjatuhan sedari tadi. Benarkah apa yang
readmore Bab 66 Iri
Hesti menyeringai, matanya memberi kode kepada kedua anak buahnya untuk melakukan sesuatu pada wanit
readmore Bab 67 Rasa itu masih ada
Amel di bawa ke sebuah tempat asing yang hanya diterangi lampu lima watt. Setelah sadar dari pingsan
readmore Bab 68 Ancaman Ramdan
Amel perlahan menoleh, menatap tepat ke arah layar, kepalanya menggeleng. Berharap Alvin mengerti ko
readmore Bab 69 Sekarat
Alvin tiba lebih dulu daripada Ramdan ke tempat dimana Amel di sekap. Sebuah gedung tidak terpakai d
readmore Bab 70 Perasaan runyam
Amel terduduk di kursi tunggu rumah sakit dengan keadaan yang sudah lebih baik. Beberapa menit lalu,
readmore Bab 71 Merasa bersalah
"Sedari kami SMA. Aku mengenal dia dengan sangat baik. Entah mengapa dia tidak mengenalkan aku padam
readmore Bab 72 Pengecut
Amel kembali ke kamarnya, menyisir rambutnya dengan tenang. Ketukan pintu membuatnya segera memakai
readmore Bab 73 Poligami
Amel tidak kuasa menahan tangis. Ia berteriak dengan cairan bening yang terus menetes. "Sama. Laki-l
readmore Bab 74 Move on
“Mau kemana kalian?” tanya Melani yang sedang berbincang dengan suaminya. Amel yang masih menitikkan
readmore Bab 75 Bos Konveksi
Bagi seorang Ayah, akan sangat tidak tega membiarkan putrinya menyimpan luka sendirian. Haris, terus
readmore Bab 76 Sebuah surat
Mengingat sang Ayah tersenyum penuh arti. Amel menjadi kepikiran jika pria paruh baya itu benar-bena
readmore Bab 77 Sebuah foto
Awalnya Amel hendak melipir dan bersembunyi, walau matanya sudah terlanjur bertemu dengan Wati. Pert
readmore Bab 78 Takut gagal lagi
"Kamu belum bisa melupakan Ramdan?” lirih Haris, wajahnya terlihat sedih. Amel menghela nafas, ia ta
readmore Bab 79 Akad mendadak
Bagi Amel, peristiwa yang ia alami mendadak ini terasa seperti mimpi di sore hari. Setelah hatinya m
readmore Bab 80 Akad mendadak
Bagi Amel, peristiwa yang ia alami mendadak ini terasa seperti mimpi di sore hari. Setelah hatinya m
readmore Bab 81 Murka
Momen saling menatap itu harus terhenti seiring dengan ketukan pintu yang membuat dua orang itu meno
readmore Bab 82 Cintanya Amel
"Kamu kenapa? nggak nyaman?" tanya Amel kepada sang suami yang bergerak tidak nyaman di tempat tidur
readmore Bab 83 Saling mengunci
Perlahan, Alvin berusaha memanggil-manggil kelinci itu. “Hei, hei. Chacha." Alvin tahu nama kelinci i
readmore Bab 84 Manis 1
Noted: mengandung unsur 18++ “Ya ampun, aku nggak tahu kalau hampir sekelasan datang ke sini,” ujar A
readmore Bab 85 Manis 2 TAMAT
Noted! Mengandung unsur 18++ PEMBACA DIHARAP BIJAK Selama beberapa Minggu, Amel sebagai istri, kesibuk
readmore
ceritanya sangat bagus.. semangat terus menulisnya
05/03
0seru
27/07/2025
0best novel
29/05/2025
0Semoga sukses selalu 🥰
05/05/2025
0ceritanyaaa kerennn
18/03/2025
0aku benar-benar sangat menyukai cerita ini
07/10/2024
0notnow
13/07/2024
0terimakasih banyak sudahhh menciptakan novel baguss
03/07/2024
0❤❤ cerita yang menarik.
19/06/2024
0👍👍💪
05/12/2023
0