logo text

Who's David?

Setiap menjelang jam istirahat, Alisya selalu datang ke kantor Andra. Dan tentu saja, selalu ada kejadian tak terduga jika Alisya datang ke sana dan bertemu dengan Desi. Apalagi dengan apa yang telah Alisya lakukan tempo hari pada Desi. 
Alisya tak suka pada Desi yang selalu berusaha mencari perhatian Andra. Desi pun tak suka pada Alisya yang selalu datang ke kantor dan bertindak semena-mena, seolah dia adalah pemilik gedung. Dan yang lebih menyebalkan bagi Desi adalah, Andra selalu berada di pihak Alisya walau sebenarnya yang salah bukan Desi. 
Seperti hari ini, Alisya datang lagi ke kantor Andra untuk mengajak pria itu makan siang. Namun, dia datang beberapa menit lebih awal sebelum jam istirahat di mulai. Di depan ruangan Andra ada Desi yang fokus pada komputer. Dan dia langsung melihat ke arah Alisya yang berjalan dengan dagu terangkat hendak masuk ke dalam ruangan Andra.
"Pak Andra sedang kedatangan tamu. Kau tak boleh masuk." Desi berkata dengan tegas dan sinis. Matanya menatap Alisya penuh kebencian. Alisya melepaskan kacamata hitamnya, lalu menatap Desi dengan tatapan meremehkan.
"Kau pikir aku peduli?" Alisya berkata dengan enteng. Desi terlihat geram dengan respon Alisya. Tenang, namun selalu berhasil membuat amarahnya memuncak.
Alisya melangkah mendekati pintu ruangan Andra. Namun, Desi menghalanginya. Alisya mendesis kesal dengan apa yang dilakukan perempuan itu. Tanpa di sangka, tangan Alisya bergerak memberikan sebuah tamparan keras untuk Desi. Desi terkejut dan tubuhnya sedikit terhuyung ke arah meja. Matanya menatap Alisya tak percaya. Sedangkan Alisya, membalas tatapan Desi dengan datar.
"Jangan cari masalah denganku jika kau tak mau menyesal dikemudian hari," desis Alisya. Sebelum Alisya masuk, pintu ruangan Andra lebih dulu terbuka. Memperlihatkan Andra dan Farhan yang terlihat kaget karena melihat Alisya di sana.
"Alisya? Kapan kamu datang?" Andra langsung mendekati Alisya, lalu tatapannya beralih pada Desi yang menunduk dengan tangan memegangi pipi. Pikiran buruk langsung memenuhi benak Andra melihat itu. Haduh. Jangan sampai Alisya bertindak nekat lagi terhadap Desi.
"Sekarang sudah jam istirahat. Ayo pergi," ajak Alisya. Dia langsung berbalik dan melangkah pergi dari sana tanpa bicara sedikit pun pada Farhan yang terlihat sedikit panik karena kehadirannya.
"Om, saya pergi duluan." Andra pamit dan Farhan mengangguk cepat. Baginya, lebih baik Andra segera pergi agar Alisya juga pergi dari perusahaannya.
"Apa yang terjadi, Desi?" Farhan kini menghadap keponakannya yang masih memegangi pipi.
"Dia menamparku tanpa alasan, Om." Desi mengadu. Farhan menghela nafas pelan mendengar itu. Sepertinya, Desi terlibat masalah dengan Alisya.
"Desi, jangan cari masalah dengan perempuan barusan. Biarkan saja dia melakukan apapun yang dia mau," ucap Farhan berusaha memperingati. Desi yang mendengar itu tentu terkejut.
"Tapi Om, dia itu selalu bertindak semena-mena jika datang ke sini seolah dia adalah pemiliknya. Dia selalu mengajak Pak Andra untuk pergi keluar bahkan sebelum jam istirahat dimulai. Dan dia-" 
"Desi cukup." Desi berhenti bicara saat mendapatkan tatapan tajam dari sang paman. Farhan mendekati Desi, memegangi kedua bahu keponakannya dengan erat. Matanya menatap lurus pada mata Desi.
"Jangan membuatnya marah. Om lebih tahu dia siapa. Dan jika kamu mencari gara-gara dengannya, bukan hanya kamu yang akan dalam masalah besar. Tapi Om juga. Perusahaan Om bisa terancam jika kamu mengganggu dia." Suara berat Farhan yang sarat akan peringatan membuat Desi gentar. 
Farhan menurunkan kedua tangannya dari bahu Desi. Tatapannya kini berubah jadi seperti biasa, dan Farhan merasa bersalah sudah membuat Desi ketakutan.
"Dia bukan orang yang pantas kamu lawan, Desi. Dia sangat berbahaya. Jadi, jangan sampai kamu terlibat masalah sekecil apapun dengannya." Farhan kembali memberikan sebuah peringatan. Setelah itu dia pergi dari sana meninggalkan sang keponakan yang terus bertanya-tanya dalam hati. Siapa sebenarnya Alisya? Kenapa pamannya terlihat sangat khawatir?
***
Andra dan Alisya makan siang di sebuah restoran Italia pilihan Alisya. Andra tak membahas masalah di kantor tadi, karena dia takut Alisya akan marah lagi. Jadi, lebih baik dihindari saja dari pada nanti dia kesusahan sendiri karena harus membujuk sang kekasih.
"Sya, aku mendapatkan undangan pesta dari Ivanka Holdings. Apa kamu mendapatkannya juga?" Andra bertanya setelah spageti miliknya habis.
"Tentu saja. Aku mendapatkan undangan secara eksklusif," jawab Alisya dengan enteng. Andra yang mendengar itu mengerutkan kening.
"Undangan eksklusif?" tanya Andra tak mengerti. Alisya mengangguk.
"Ya. Aku mengenal pemiliknya dan pemimpin perusahaannya. Jadinya aku diundang sebagai tamu istimewa," jawab Alisya lagi.
"Om David mengadakan pesta ulang tahun perusahaan sekaligus merayakan kepulangannya dengan Axel dari London setelah dua tahun mereka tinggal di sana." Alisya menjelaskan dengan mudah. Andra terdiam, dan menatap Alisya cukup lama. 
"Kamu sangat mengenal mereka?" tanya Andra. Lagi-lagi Alisya mengangguk.
"Iya. Tadi Om David sengaja datang ke rumahku memberikan undangan. Katanya dia juga bisa menyuruh supirnya untuk menjemputku ke pesta. Tapi aku menolak dan aku ingin berangkat ke sana denganmu. Itu pun, kalau kamu tak berangkat dengan sekretarismu yang genit itu." Alisya memberi penekanan pada kalimat terakhirnya disertai tatapan sinis pada Andra.
"Desi akan berangkat dengan Om Farhan."
"Bagus. Memang harusnya seperti itu," balas Alisya langsung. Alisya kembali sibuk dengan makanannya yang tinggal sedikit lagi. Sementara Andra, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ingin bertanya, kenapa Alisya bisa mengenal Pak David dan anaknya. Padahal mereka sudah dua tahun tak tinggal di Indonesia. Tapi, Andra ingin menunggu waktu yang pas. Setidaknya, biarkan Alisya menghabiskan makanannya lebih dulu.
Setelah beberapa saat, Alisya pun selesai makan dan membersihkan bibirnya dengan tisu. Tangannya terlipat di atas meja, menatap Andra yang sejak tadi terus memperhatikannya.
"Dra, kamu masih ingatkan saat polisi bilang sakit jantung Hendra kambuh setelah seseorang mengunjunginya?" Alisya bertanya, mengingatkan Andra pada kejadian beberapa hari yang lalu saat Hendra dan Sarah masuk rumah sakit bersamaan. 
"Tentu saja. Ngomong-ngomong, tak bisakah kamu menyebut nama ayahmu dengan lebih sopan?" tanya Andra. Alisya mencibir pelan mendengar itu.
"Tidak. Dia tak mau mengakuiku sebagai anak, jadi untuk apa juga aku mengakuinya sebagai ayah? Buang-buang tenaga saja," jawab Alisya yang menurut Andra sedikit tak nyambung.
"Jadi, kamu tahu siapa yang mengunjungi ayahmu waktu itu?" Andra bertanya seraya mengalihkan pembicaraan. 
"Om David yang mengunjungi dia. Makanya penyakitnya kambuh," jawab Alisya sekenanya. Andra semakin bingung mendengarnya.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Andra bingung dan penasaran. Alisya terdiam melihat kebingungan terlihat jelas di wajah Andra.
"Aku lupa belum menceritakan siapa Om David padamu. Pantas saja kamu terlihat bingung seperti itu," ucap Alisya.
"Memangnya Pak David siapa?" 
"Om David adalah orang yang mencintai ibuku. Jika saja ibuku lebih pintar untuk mau terlepas dari bajingan sialan itu, pasti ibuku bisa hidup bahagia dengan Om David yang sangat memujanya. Tapi ya, mungkin memang takdir ibuku harus seperti ini. Tuhan mentakdirkan aku untuk terlahir sebagai anak pecundang itu. Tapi aku tetap bangga pada ibuku yang memilih jadi istri baik dan setia sampai akhir hayatnya walau suaminya tak memiliki otak." Kepala Andra terasa pusing mendengar penjelasan Alisya yang disertai dengan beberapa umpatan juga. Tapi, dia juga kaget saat tahu siapa David bagi Alisya. Pantas saja Alisya mengenal pria itu jika ceritanya seperti itu.
"Jika begitu, berarti kamu juga mengenal anak Pak David?" tanya Andra lagi. 
"Ya. Om David bahkan pernah memintaku untuk menikah dengan Axel dulu." Andra terdiam dengan mata melebar kaget.
"Apa?!"

Komentar Buku (148)

  • avatar
    Sahrulisad Sahrul

    ok sangat bagus

    16/07

      0
  • avatar
    PabedilanNuri

    sangat bagus

    27/05

      0
  • avatar
    isnenandha

    mantap

    21/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru