logo text

Membuat Andra Cemburu

"Dia pacarmu?" Axel berbisik di telinga Alisya dengan mata menatap ke arah Andra yang mengepalkan kedua tangannya.
"Ya." Alisya menjawab dengan singkat. Dia mundur selangkah, melepaskan tangan Axel yang mendarat di pinggangnya. Kemudian menatap pria itu dengan datar.
"Seleramu bagus juga rupanya. Sayang sekali, sepertinya dia tak sepadan denganku," ucap Axel sombong. Alisya berdecih pelan mendengar itu.
"Maaf saja, aku juga tak akan mencari pria sepertimu. Dasar gila," dengus Alisya. Dia kemudian berbalik dan kembali pada Andra yang terlihat marah padanya. Oke, itu semua hanya sebuah drama yang langsung dimengerti oleh Axel. Karena pada kenyataannya, Axel dan Alisya tak pernah akur. 
"Aku hanya menyapa dia sebentar saja kok. Jangan marah." Alisya berkata pada Andra yang mengeratkan rahangnya. Alisya kemudian memasang senyum polos, berusaha merayu kekasihnya tersebut. Dalam hati, dia tertawa puas. Gak enak kan dibuat cemburu?
"Ayo kita makan." Alisya menarik Andra mendekati sebuah meja yang panjang dan menyediakan berbagai jenis makanan. Alisya pun langsung mengambil makanan yang dia inginkan, sementara Andra masih diam dengan wajah tak bersahabat. Alisya sebenarnya menyadari sikap Andra yang sedikit tak baik sekarang. Tapi, biarlah. Dia akan pura-pura tak mengerti saja.
"Dra, ayo makan. Atau kamu mau minuman? Biar aku ambilkan." Alisya bersikap seolah tak terjadi apa-apa, membuat kepala Andra sakit karena kemarahan sudah sampai di ubun-ubun. Bagaimana dia tak marah saat melihat kekasihnya dipeluk sembarangan oleh lelaki lain?!
"Jangan marah dong. Aku cuma menyapanya saja," ucap Alisya. Dia mendekati Andra lalu mengecup pipi pria tersebut. Andra menghembuskan nafas kasar mendengarnya.
"Menyapa tak harus sampai memeluk kan?" tanya Andra geram. Alisya terdiam sesaat mendengar itu. Dia menyimpan piringnya, lalu menatap Andra dengan tangan terlipat di bawah dada.
"Bekerja tak harus sampai pijit-pijit juga kan?" Alisya balik bertanya, mengingatkan Andra pada kejadian yang sangat Alisya benci tersebut. Andra menghembuskan nafas pelan mendengar itu. Oke, rupanya Alisya ingin balas dendam.
"Kamu selalu bilang aku terlalu berlebihan. Sekarang kamu merasakannya kan? Cemburu itu tak enak." Alisya langsung berbalik memunggungi Andra. Padahal, Alisya sudah menahan diri untuk tak marah. Tapi tetap saja emosinya kembali muncul. Andra menatap punggung Alisya sesaat lalu tangannya bergerak memeluk Alisya dari arah belakang.
"Maaf." Bisikan lembut di telinga, yang mau tak mau membuat Alisya luluh. Pada dasarnya mereka sama-sama cemburuan, tak tahan sang kekasih bersama orang lain apalagi sampai melakukan kontak fisik.
"Sekarang kamu ngerti kan kenapa aku selalu memintamu untuk jaga jarak dengan Desi?" Alisya kembali melontarkan sebuah pertanyaan. Andra mengeratkan pelukannya di pinggang Alisya, dan mengangguk pelan.
"Iya, aku mengerti." Mata Andra terpejam, kembali mengingatkan diri untuk lebih sabar menghadapi Alisya. Lagi pula, mungkin ini semua juga berawal dari kesalahannya hingga Alisya ingin membalas dendam.
Alisya menghabiskan makanannya lalu menyimpan piringnya di atas meja. Saat akan mengambil minuman, tak sengaja Alisya melihat ke depan. Ada seorang perempuan yang Alisya kenali wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Desi, perempuan yang Alisya benci.
Alisya langsung berbalik menghadap ke arah Andra yang tak melihat kehadiran Desi. Alisya memasang sebuah senyuman malaikat dengan tangan mengalung pada leher Andra. Alis Andra bertaut melihat sikap Alisya yang langsung berubah.
"Apa yang harus aku lakukan lagi agar dia kapok mendekatimu?" tanya Alisya. 
"Maksudmu?" tanya Andra tak mengerti.
"Dia melihat ke arah sini," jawab Alisya. Andra masih tak paham, hingga dia mengedarkan pandangannya. Dan tak sengaja, Andra melihat Desi yang berdiri beberapa meter darinya dan Alisya.
"Mungkin besok aku akan memberikan sebuah ancaman saja. Sialan. Dia benar-benar mengganggu." Andra menghela nafas mendengar Alisya mengumpat seperti itu. Tangan Andra bergerak memeluk pinggang Alisya, menarik tubuh sang kekasih agar semakin dekat ke arahnya. Biarlah Desi melihatnya. Berharap dia mengerti, kalau Andra hanya ingin Alisya saja. Kalau Andra tak tertarik pada Desi walau hanya sedikit.
Kepala Andra sedikit menunduk, lalu dia mendaratkan sebuah ciuman lembut di pipi Alisya. Sebenarnya, bukan hanya Desi yang Andra harapkan melihat kemesraannya dengan Alisya sekarang. Tapi, Andra berharap Axel juga melihatnya. Agar dia bisa memberi tahu pria itu secara tak langsung kalau Alisya adalah miliknya.
Andra dan Alisya berada di tengah-tengah pesta, tapi mereka tak ragu untuk memperlihatkan kemesraan, seolah hanya mereka berdua di sana. Masa bodoh orang-orang akan menilai apa, yang jelas keduanya senang dengan apa yang sedang dilakukan.
***
Selama di pesta, Farhan menyadari sesuatu yang cukup penting. Setelah memperhatikan keponakannya cukup lama, Farhan mengerti kalau Desi tertarik pada Andra, dan Farhan tahu kalau ternyata Desi berusaha mendekati Andra.
Sekarang Farhan mengerti kenapa Alisya kemarin sampai menampar Desi. Pasti Alisya marah pada Desi yang ingin mendekati Andra. Dan Farhan jadi khawatir dengan yang akan terjadi ke depan.
Malam ini, Farhan berpikir keras bagaimana caranya agar perusahaannya, bisnisnya yang dia rintis sejak dulu dengan susah payah tidak bersinggungan dengan Alisya sedikit pun. Farhan tidak mau jika masalah Andra, Desi dan Alisya berakibat buruk pada bisnisnya. Sedangkan Farhan sendiri, sekarang tahu kondisi yang sedang terjadi.
Farhan sudah memperingati Desi untuk tidak mengganggu Andra dan Alisya. Farhan bahkan menjelaskan secara detail semua tentang Alisya yang dia ketahui, berharap Desi mau mengalah. Namun rupanya, Desi keras kepala dan tak mau mendengar nasehatnya. Ya, keras kepala sebagaimana ibunya sendiri, yang merupakan kakak perempuan Farhan.
Farhan harus mengambil tindakan sebelum masalah semakin runyam. Menghentikan salah satu antara Desi dan Andra, adalah salah satu solusi.
Andra adalah orang yang Farhan percaya untuk memimpin perusahaannya. Dan selama ini, Andra tak pernah mengecewakan. Namun, tak mungkin Farhan mempertahankan Andra dan menghentikan Desi yang merupakan keponakannya. Bisa-bisa yang ada malah menimbulkan masalah dalam keluarga nantinya.
Jadi, sepertinya Farhan akan meminta Andra saja untuk berhenti memimpin perusahaannya, dan membiarkan Desi tetap bekerja sebagai sekretaris. Dengan itu, Desi dan Andra tak akan bertemu lagi. Desi tak akan bisa mengganggu hubungan Andra dan Alisya lagi. Dan perusahaan Farhan terhindar dari masalah yang bisa ditimbulkan keponakannya.
Berat sebenarnya mengambil keputusan ini, karena Farhan sudah sangat percaya pada Andra. Tapi demi kebaikan semua, rasanya ini adalah keputusan yang sangat tepat.

Komentar Buku (148)

  • avatar
    Sahrulisad Sahrul

    ok sangat bagus

    16/07

      0
  • avatar
    PabedilanNuri

    sangat bagus

    27/05

      0
  • avatar
    isnenandha

    mantap

    21/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru