Beranda/Dalam Genggaman Efron Bersaudara/
124| Memberi Nama Pada Setiap Emosi
CASSANDRA
Hari ini ada yang salah denganku. Kenapa aku harus peduli dengan urusan orang lain? Padahal aku tahu betul, jika terlibat maka aku harus menghadapi konsekuensinya. Masalahku sendiri bahkan sudah banyak.
Aku jinjing helmku keluar. Aku tinggalkan Ace sendirian yang masih syok. Sedang di salah satu meja biliar, aku terus saja mendengar sekelompok remaja laki-laki yang katanya teman Ace, tertawa terbahak membicarakan kebodohan Ace selama ini. Sepertinya mereka juga tidak sadar jika Ace ada di sana dan mendengarkan semua obrolan mereka.
Aku genggam kuat helmku. Aku mengembuskan napas berat. Ketika pertama kali bertemu Zach, aku bahkan sangat takut dibonceng dengan motor. Tapi, kini aku cukup mahir mengendarai motor. Ini sangat membantuku dalam bekerja paruh waktu sebagai kurir.
Sebelum Zach mengikuti tur ke Eropa bersama band-nya, dia serius melatihku mengendarai motor. Katanya, selama dia tidak ada, aku harus mandiri dan mampu melindungi diriku sendiri. Bahkan katanya juga, aku harus bisa melindungi orang-orang yang ada di sekitarku. Aku tidak pernah berpikir pesan yang Zach tinggalkan saat itu akan berkesan dan kini aku bisa melihat maksudnya.
Aku urung meninggalkan gedung tersebut dan memutuskan untuk kembali. Aku berjalan mendekat ke meja biliar tempat teman-teman Ace sedang berkumpul. Saat melihatku, tawa mereka seketika terhenti.
“Kau mau apa?” tanya salah satu pemuda. Sepertinya dia tidak mengenaliku.
“Oh, bukankah itu dia?” ujar yang lain. “Dia pacarnya Ace. Kita melihatnya bersama Ace di taman kemarin, kan?”
Aku masih berdiri dan mematung sambil memegang kuat helm. Apa yang aku lakukan sebenarnya di sini? Kenapa aku tidak pergi saja dan menutup mata?
Saat aku tegakkan punggung, tepat saat itu Cesar menatapku dengan dingin. Tatapan matanya masih sama menusuk seperti kemarin saat dia menatapku di taman. Sedangkan pemuda yang terus mengolok-olok Ace dan sering meminta uang darinya, mencibir ke arahku.
Tiba-tiba seluruh tubuhku gemetar saat aku mengingat bagaimana sedih dan terlukanya tatapan Ace mendapati kenyataan bahwa teman-temannya hanya memanfaatkan dia. Ck, dasar Ace, dia kini bahkan hanya duduk diam di balik meja biliar sambil terus mendengarkan omong kosong para remaja brengsek ini!
“Ada apa?” tegur pemuda yang sering meminta uang pada Ace.
“Blade... Maksudku Ace... Dia sudah menganggap kalian sebagai temannya,” kataku dengan suara bergetar menahan kemarahan. “Kalau kalian juga menganggapnya sebagai teman, seharusnya kalian berteman dengannya tanpa pamrih!” teriakku pada akhirnya sambil memukulkan helm ke meja biliar.
Brak!
Semua orang terkesiap.
Segalanya terjadi begitu cepat. Pemuda yang sering meminta uang pada Ace sudah berdiri dari tempat duduknya dan berpindah ke depanku. Tatapan matanya sangat menakutkan dan penuh ancaman. Tangannya dengan cepat terangkat, siap mengoyakku dengan cakar-cakar tajamnya.
Aku memejamkan mata ketakutan. Tapi, tidak ada yang terjadi.
Suasana menjadi sunyi dan mencekam. Begitu aku membuka mata, tangan bercakar itu berhenti tepat di depan wajahku. Tangan itu ditahan dan dicengkeram dengan kuat oleh Ace Blade. Pemuda itu merintih kesakitan.
“A-ace... Apa yang kau--”
Tidak hanya mencengkeram tangan pemuda itu, Ace juga menarik kerah bajunya dengan kasar.
“Singkirkan tangan kotormu darinya, Damian!” desis Ace penuh kemarahan.
Aku mundur selangkah. Aku sangat merinding. Kemarahanku sebelumnya, kini berubah menjadi ketakutan. Aku belum pernah melihat Ace dengan wajah semarah itu. Apakah ini sisi asli dia yang belum pernah dia tunjukkan? Selama ini Ace Blade terus saja menampilkan wajah bodohnya di depan semua orang.
Ace menarik baju Damian dan mengangkat tubuhnya tinggi hanya dengan satu tangan. Damian meronta dan berusaha meloloskan diri. Sedangkan teman-temannya yang lain hanya menonton dan tidak berusaha menghentikan.
“Lebih baik kalian pulang sekarang!” ancam Ace dengan suara tertahan.
Saat itu, Cesar berdiri. Dengan isyarat tangan, dia mengajak teman-temannya pergi dari sana. Ace pun menurunkan Damian dan membiarkan dia pergi bersama Cesar dan yang lainnya.
Setengah jam berikutnya, aku sudah berada di depan pagar rumah tua keluarga ibuku. Ace memaksa mengantarkan aku pulang. Dia bahkan yang mengemudikan motor tuaku dan memboncengku sampai tiba di depan rumah.
“Jadi kau tinggal di sini? Aku beberapa kali melihat rumah tua ini, tapi aku pikir ini rumah kosong.”
“Ini rumah keluarga Swan, keluarga ibuku. Memang sudah lama kosong. Aku dan ibuku baru pindah ke sini sejak tiga bulan yang lalu.”
Ace hanya mengangguk. Dia menyerahkan kunci motor padaku.
“Lalu, bagaimana kau akan pulang? Jaraknya cukup jauh dari Bar Eden.”
Ace menoleh ke balik punggungnya. “Aku bisa menggunakan keempat kakiku dan menyusuri hutan. Aku mengenal tempat ini seperti aku mengenali tiap bagian tubuhku. Aku tumbuh dan besar di sini.”
Giliran aku yang mengangguk.
“Masuklah!” ujar Ace.
“Tidak, kau pergilah dulu!” balasku.
“Kau keras kepala, ya?” Ace mengembuskan napas berat. “Maaf untuk kejadian hari ini. Kau pasti terkejut.”
“Aku baik-baik saja,” ujarku dengan tenang. “Kenapa wajahmu sedih begitu?”
“Aku tidak sedih, aku hanya bingung,” jawabnya dengan polos. “Belum pernah ada yang membelaku seperti kau membelaku hari ini.”
Melihat tatapan mata Ace, entah kenapa aku jadi ingin menangis. Ada apa dengan diriku? Bahkan tanpa sadar, aku sudah memeluknya.
“Tenang saja, mulai hari ini kau akan dikelilingi oleh orang-orang yang tulus!” kataku untuk menenangkan kegelisahan Ace.
Ace tampak kaget. Aku segera melepas pelukanku dan berpaling darinya. Aku pura-pura akan membuka pagar. Aku takut jika dia marah.
Ace maju selangkah dan jarak kami jadi sangat dekat.
“Maaf, aku tadi hanya impulsif,” ujarku gugup. Aku tidak bisa mundur lagi karena di belakangku ada pagar besi.
Ace memegang dadanya. “Entah kenapa dadaku jadi berdenyut. Aku belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya.”
Ace menatapku dengan serius. Dia seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah dari mesin capit. Dan aku mulai khawatir.
“Jangan-jangan... Aku jatuh cinta padamu, Cass!” ujar Ace dengan percaya diri.
A-apa? Kenapa jadi seperti ini?
“Kurasa tidak. Kau hanya salah paham, Ace,” ujarku untuk meyakinkan dia.
Tapi, sepasang mata Ace yang kecokelatan benar-benar berbinar. “Aku suka padamu, Cass! Aku yakin jatuh cinta padamu!”
“Tu-tunggu!” teriakku sambil mendorong dadanya menjauh. “Mungkin kau hanya salah memahami perasaanmu. Bukankah kau sendiri yang mengatakan belum pernah diperlakukan seperti ini oleh orang lain? Aku pikir itu hanya perasaan simpati karena kau tidak punya teman sebelumnya.”
Ace mundur dan menyimpan tangannya ke saku celana. “Jadi maksudmu, kau tidak percaya dengan kata-kataku? Kau tidak percaya bahwa yang aku rasakan saat ini adalah perasaan cinta pada lawan jenis? Ini bukan perasaan suka pada teman. Kau pikir aku tidak bisa membedakan rasa suka yang aku rasakan sekarang karena tidak benar-benar punya teman sebelumnya?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. “Ya, mungkin seperti itu. Karena kau tidak punya pembanding. Jadi kau tidak bisa membedakan apakah itu rasa suka pada teman atau rasa suka pada lawan jenis.”
“Aku mengerti. Kalau begitu, jika aku kembali ke sekolah dan berteman dengan orang lain, lalu perasaan ini tidak berubah, apa kau akan percaya jika yang aku rasakan saat ini padamu adalah rasa suka pada lawan jenis?”
“Uum, kurasa begitu.”
Ace menatapku dengan senyum tipis. “Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Aku akan terus menyukaimu, Cassandra Swan!”
Ace mulai berlari ke hutan dan menghilang di balik bayang-bayang pepohonan.
Aku mengembuskan napas berat. Aku tahu pasti sulit bagi dia. Aku tidak ingin menjadi induk ayam baginya.
Dia hanya perlu bergaul dengan banyak orang dan membuka diri. Dengan begitu, dia akan bisa membedakan dan memberi nama pada emosi-emosi yang dia rasakan. Bagiku saat ini, Ace adalah anak-anak yang sedang belajar memberi nama pada setiap emosi yang sedang dia rasakan.
***
ACE BLADE
Jantungku berdegup. Semakin aku menjauh dari Cassandra, rasanya aku semakin menderita dengan degupan yang tiada berhenti ini.
Hari ini, untuk pertama kali aku kembali ke sekolah setelah tiba bulan kabur. Ini adalah kesempatan terakhirku. Jika aku membolos lebih lama, aku akan dikeluarkan dan akan melewatkan masa sekolah seumur hidupku.
Pagi-pagi sekali aku sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Aku terlalu takut untuk melangkah lebih jauh. Seperti saat terakhir aku meninggalkan sekolah, tatapan mata semua orang masih sama terhadapku. Rasanya aku ingin sekali mundur dan pulang.
Setiap siswa yang datang ke sekolah dan melewatiku, mereka selalu melemparkan lirikan dan tatapan penuh rasa takut padaku. Apakah aku begitu menakutkan di mata mereka? Apa yang aku lakukan tiga bulan lalu adalah murni kesalahan orang lain. Aku datang untuk menolong, tapi malah aku yang dijadikan tersangka. Ini sangat tidak adil untukku!
Aku pikir tidak gunanya kembali ke sekolah.
Hah! Aku tertawa jengah pada diriku sendiri. Mereka tidak berubah sama sekali. Mereka hanya butuh satu tumbal untuk disalahkan dan itu adalah aku.
Aku mundur dan siap meninggalkan gerbang sekolah. Saat itu, sebuah tangan menahan punggungku dengan lembut namun tegas. Saat aku menoleh, aku melihat dia berdiri di belakangku.
“Hadapi dan selesaikan masalahmu, jangan kabur!”Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (25)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
saya Sagat suka
26/08/2024
0kurang bagus
17/08/2024
0Ceritanya bagus bangettt sumpahhh😎😎
13/08/2024
0Lihat Semua