Beranda/Dalam Genggaman Efron Bersaudara/
130| Tatapan Serigala yang Lapar
CASSANDRA
Aku baru tiba di tempat konser digelar. Ramai sekali pengunjungnya. Di sudut lain lapangan terbuka itu, ada sebuah panggung yang sangat besar. Sebuah grup band pembuka sedang tampil membawakan sebuah lagu.
Aku masih terhubung panggilan dengan Regina. Sejak turun dari pesaawat sampai meninggalkan barang-barangku di hotel, Regina dan Davies tidak berhenti meneleponku.
“Apa kau sudah sampai, Cass?”
“Ya, Mom. Aku baru tiba di lokasi konser. Aku sedang berusaha mencari tempat naratama.”
“Oh, apakah kau belum bertemu dengan Zach? Harusnya dia melakukan sesuatu seperti menjemputmu atau...”
“Tidak, Mom. Dia sedang sibuk untuk tampil. Bagaimana mungkin aku merepotkan dia dan memintanya untuk menjemputku di bandara? Aku baik-baik saja dan tiba di sini dengan selamat. Aku hanya perlu mencari ruangan pribadi Zach. Kami janji akan bertemu di sana usai dia tampil.”
“Baiklah, beri kami kabar apapun yang terjadi, mengerti?”
Aku memutar bola mataku. “Ya, Nyonya, dengan senang hati!”
Aku terus berjalan sambil mencoba memahami buku panduan yang aku dapatkan untuk tur konser ini. Aku harus pergi ke ruang tunggu untuk pengunjung naratama sesuai tiket yang aku miliki. Jujur saja aku sangat gugup. Bukan konser itu yang menjadi fokusku, tapi pertemuan dengan Zach yang aku khawatirkan.
Lebih tepatnya, aku takut, bukan gugup. Apakah Zach mendengar ucapan Ace ketika di telepon? Bagaimana kalau iya? Apa yang harus aku katakan pada Zach tentang situasiku saat itu? Bagaimana caraku menjelaskannya?
Sekali lagi aku memeriksa buku panduan dan akhirnya aku tiba di sebuah tenda besar yang disediakan sebagai ruang tunggu naratama. Kakiku lumayan lelah setelah berkeliling. Aku melihat sebuah sofa dan ada seorang gadis yang duduk di sana.
“Boleh aku duduk di sini?”
“Oh, silahkan,” jawabnya dengan ceria.
Aku menunggu pesananku datang sambil mengirim pesan pada Zach. ‘Aku sudah di tiba sini. Di mana kita akan bertemu?’
“Apa kamu juga?” tanya gadis yang duduk di depanku.
“Maaf?” tanyaku bingung.
“Terpesona oleh Thunder Wolves?”
Dia menyebutkan nama kelompok musik Zachary yang baru. Aku pikir dia salah satu penggemarnya. Aku sebenarnya tidak ingin bertemu dengan siapapun apalagi gadis yang mengaku menjadi penggemar Zach. Aku khawatir tidak bisa menahan rasa cemburuku.
“Oh, ya,” jawabku gugup.
“Siapa yang menjadi idolamu?”
“Oh, aku...”
Aku sama sekali tidak ingin membicarakan hal seperti ini. Aku harus mencari alasan untuk keluar dari obrolan ini.
“Kalau aku sangat mengidolakan Adam. Kau tahu, dia sangat seksi saat memukul drum...”
“Ah, maaf, di mana toiletnya?” sergahku sebelum gadis itu berbicara lebih banyak lagi.
“Oh, aku pikir di sana!” dia menunjuk ke arah kanan.
Aku segera bangkit dan membawa tasku. Aku tidak mau berlama-lama di sana. Berada di tengah-tengah kerumunan benar-benar membuatku lelah dan mudah stres.
Untuk menuju ke toilet yang disediakan untuk pengunjung naratama, aku harus keluar dari tenda. Rupanya di bagian belakang tenda ada banyak sekali karavan yang berjajar. Aku tidak tahu di mana toiletnya, karena semua karavan itu memiliki bentuk dan warna yang sama. Di sana juga tidak ada keterangan apapun di bagian luar pintunya.
Aku memilih secara acak salah satu karavan itu. Ruangan itu kosong dan ada beberapa pintu lagi di dalamnya. Aku memeriksa salah satu pintu berharap itu memang toilet. Saat aku akan membukanya, seseorang menarik pinggangku dari belakang.
“Hei, apa-apaan...!” pekikku kaget.
“Cass, ini aku!” bisik Zachary sambil membekap mulutku dengan tangannya yang harum.
Aku membelalak kaget. “Zach?”
Tatapan mata kami bertemu. Tampak sekali sorot mata tajamnya. Zachary seperti seekor serigala buas yang kelaparan. Dia menciumiku dengan kasar. Kedua tangannya terselip di balik baju yang aku kenakan.
Dengan cepat, tangan Zach merambah setiap jengkal bagian tubuhku di balik baju. Dia meremas pinggang dan perutku dengan sedikit agak kasar. Bibirnya tidak berhenti menghujaniku dengan ciuman.
“Zach...” bisikku parau. Aku rasanya seperti tidak mengenalinya. Zachary memperlakukan aku dengan agak kasar bahkan terkesan marah.
Aku mendorongnya menjauh dan berusaha menghindar ketika dia mencoba menciumiku lagi. Napas kami terengah-engah.
“Hentikan!” ujarku dengan sedikit putus asa. Meski aku sangat menginginkan sentuhan itu, sangat haus akan pelukan dan ciumannya, tapi bukan seperti ini yang aku harapkan.
Zachary menatapku dengan kecewa dan ada kemarahan di sana. “Kenapa? Kau tidak menginginkanku lagi, Cass?”
Aku sedikit banyak tahu sikapnya yang aneh ini pasti berhubungan dengan telepon kami terakhir kali. Sepertinya Zach salah paham tentang Ace.
“Kau... tidak pernah membalas pesan-pesanku!” ujarku pada akhirnya.
Padahal bukan kata-kata itu yang sebenarnya ingin aku sampaikan. Aku datang ke sini ingin meluruskan kesalahpahaman di antara kami selama ini. Atau bahkan liburan dan menghabiskan waktu bersama.
Zachary mundur sambil menyugar rambutnya dengan frustrasi.
“Maaf,” ujar Zach dengan lirih. “Karena itu aku berusaha menebus kesalahanku dengan mengundangmu ke sini. Tapi, kau--” Zachary tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Aku--” Aku pun tidak mampu berkata-kata di hadapannya.
“Siapa pria itu? Kau berpacaran dengan pria lain selama tidak bersamaku?” tanya Zach dengan agak keras.
“Zach!” Aku tidak mengira dia akan meragukan kesetiaanku. Aku menghela napas berat dan berjalan menuju pintu. “Sebaiknya aku pergi. Kita akan bicarakan itu nanti...”
“Cassandra berhenti di sana!” teriak Zach.
Aku sudah membuka separuh pintu karavan itu dan membeku mendengar teriakannya. Saat aku menoleh, Zachary sudah berdiri tepat di belakangku. Dia membanting pintu hingga menutup lagi dan menarikku kembali ke dalam karavan.
Aku menggeleng lemah dan tidak berdaya. Tapi, Zachary mengabaikan keberatanku. Dia kembali menghujaniku dengan ciuman kasar dan sentuhan-sentuhan tangannya di setiap bagian tubuhku.
“Aku merindukanmu,” bisiknya dengan suara serak dan dalam. “Kau adalah milikku! Aku sudah menandaimu sebagai mate-ku. Kau hanya milikku seorang!”
“Hentikan,” ujarku dengan suara lirih dan tidak berdaya. “Bagaimana jika ada yang datang? Kita di tempat umum sekarang!”
Zachary tidak mendengarkanku sama sekali. Saat itu kami hampir bercinta. Dia bahkan sudah melepas bajunya dan hanya meninggalkan celana panjang. Kemejaku sendiri sudah tidak pada tempatnya. Zachary mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di atas meja.
Klik! Pintu caravan tiba-tiba terbuka dan membuat kami berdua kaget.
Aku sangat malu. Seorang perempuan yang memegang kertas di tangannya berdiri di depan pintu dengan tatapan kaget. Zachary segera menutupi tubuhku dengan tubuhnya yang separuh telanjang.
“Damn!” umpat Zach.
“Oh, Zach, sorry jika waktunya tidak tepat!” ujar perempuan itu sambil mengalihkan tatapan matanya ke arah lain. “Aku hanya ingin memberitahumu sebentar lagi waktumu untuk tampil!”
“Ok, beri aku waktu untuk bersiap, Hayes!”
Perempuan itu mengangguk dan menutup kembali pintunya. Zach akan menciumku lagi, tapi pintu kembali terbuka. Hayes masih di sana dan berbicara dengan cepat.
“Sebaiknya kau segera berpakaian. Karena penata rias sudah berdiri di belakangku. Dia datang untuk membantumu berdandan sebelum acara jumpa penggemar!”
“Baiklah, aku mengerti. Tutup saja pintu sialan itu sekarang!” teriak Zach frustrasi.
Kami berdua saling terdiam beberapa saat.
“Itu tadi Hayes,” ujar Zach.
“Hayes?” Aku hanya mengulangi ucapan Zach dengan gugup.
Zach mengangguk gugup. “Ya, Hayes, dia... manajerku! Agak sedikit cerewet dan...”
Entah kenapa rasa marah dan kesalku hilang saat melihat ekspresi wajah Zach yang panik. Aku malah tertawa geli melihatnya.
“Cass?” gumam Zach tidak percaya. “Kau mentertawakanku?”
Suasana tegang di antara kami seketika mencair. Dia pun ikut tertawa melihat penampilan kami yang berantakan.
“Aku akan kembali ke ruang tunggu naratama. Sebaiknya kau...”
“Ya, sebaiknya aku...” balas Zach dengan wajah tidak puas.
Aku merapikan penampilanku dan Zach mengenakan kembali pakaiannya. Dia memintaku keluar melalui pintu lain agar tidak terlihat orang. Saat aku akan pergi, dia masih sempat menarik tanganku dan memberiku satu kecupan manis di kening.
“Tunggu aku sampai selesai, ok? Aku akan menemuimu di hotel!”
Aku kembali ke tenda naratama dan menenggak habis minuman yang sempat aku pesan. Rasanya agak hambar karena esnya sudah mencair.
Astaga, kenapa aku jadi berkeringat sekali? Apakah karena musim panas?
Aku mencari tempat yang nyaman, tapi memang tidak ada. Semua tempat penuh dengan pengunjung.
Tiba-tiba para pengunjung yang sebagian besar memang perempuan, mulai teriak-teriak heboh. Aku sampai harus menutup kedua telingaku mendengar teriakan mereka. Barulah aku menyadari apa yang terjadi.
Rupanya grup band Thunder Wolves sedang menuju ke tenda naratama. Mereka berdiri di sebuah panggung kecil yang disediakan khusus untuk jumpa penggemar.
Aku hanya berdiri di sudut tenda sambil memperhatikan penampilan Zachary bersama anggota bandnya. Dia sangat memukau. Sebagian besar gadis berteriak menyebut namanya. Astaga, itu membuatku sangat ingin berteriak balik pada mereka dan mengatakan dengan bangga, hey Zachary pacarku! Tapi, aku tidak akan segila itu.
Di antara lima orang anggota band Thunder Wolves, tatapan mataku hanya tertuju pada Zachary. Aku merasa seolah mengulang kembali pertemuan pertama kami. Aku mengaguminya sejak saat itu.
“Hai,” sapa Zach di depan para penggemarnya.
Teriakan para gadis kembali membahana....Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (25)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
saya Sagat suka
26/08/2024
0kurang bagus
17/08/2024
0Ceritanya bagus bangettt sumpahhh😎😎
13/08/2024
0Lihat Semua