logo text

13| Pekerjaan Sebenarnya Rogue Bersaudara

Saat Dokter Emma akan berbicara lebih lanjut, tiba-tiba Kay muncul di sana dengan wajah ceria.
“Ayo, Lindy, kita pulang!”
Lindy jadi gugup tapi dia merasa tertolong dengan kemunculan Kay. Dia tidak harus berhadapan dengan Dokter Emma dan membicarakan masalah pribadinya.
“Baik!” seru Lindy yang tiba-tiba menjadi sangat penurut di hadapan Kay.
“Dokter Emma, kami pulang dulu. Masukkan tagihan yang harus kami bayar atas kerusakan yang ditimbulkan oleh Malvinn ke rekeningku.”
Dokter Emma mencebik. Dia menyulut rokoknya dan bersandar pada tiang tempat tidur. Dia memperhatikan kepergian Kay dan Lindy. Sesekali Lindy melirik pada Dokter Emma, tapi kemudian dia berpaling dan berlari cepat menyusul Kay.
Dokter Emma muncul di jendela lantai dua. Dia berteriak lantang memanggil Lindy yang berjalan di belakang Kay.
“Hei, Lindy!” Dokter Emma melambaikan tangan sambil memegang rokok di antara dua jarinya.
Lindy dan Kay pun menoleh bersama ke lantai dua klinik Dokter Emma.
“Baik-baiklah pada Malvinn. Dia tidak menyeramkan, kok!”
Di sebuah bioskop tua yang sudah lama tutup, para anggota kelompok mafia sedang dipukuli oleh sekelompok lain. Seorang pria yang mempekerjakan para anggota mafia itu berteriak lantang dari atas tribun.
“Menghadapi dua berandalan saja kalian tidak mampu!” teriak pria itu. “Mereka hanya sepasang remaja yang sedang kelebihan hormon. Sedangkan kalian… para pria dewasa dengan kemampuan dan kapabilitas yang menurut pengakuan kalian ‘tidak terkalahkan’?”
“Ma-maaf, Bos. Mereka berdua adalah mantan tentara Scard level khusus. Kami tak bisa mengalahkannya begitu saja karena level mereka lebih tinggi dari kami.”
“Omong kosong dengan tentara Scard! Kalian tak berguna sama sekali!” pria itu memberi kode pada anak buahnya. “Singkirkan mereka!”
Para anggota kelompok mafia yang sebelumnya menyerang Malvinn dan Kay di klinik Dokter Emma mulai dipukuli beramai-ramai hingga babak belur dan tak bisa bangkit lagi.
Keesokan hari ketika pagi-pagi sekali, Lindy sudah terjaga dan berdiri di depan pintu kamar Kay yang masih tertutup rapat.
Tanpa Lindy sadari, Malvinn muncul dan berjalan di belakangnya. Lindy berputar dan seketika waspada.
Malvinn tak menyapa pun tak berbicara pada Lindy. Pemuda itu hanya melakukan aktivitas rutinnya. Dia usai mandi dan kini sedang mengambil kemeja yang tergantung di lemari tepat di depan kamar Kay.
Lindy memperhatikan punggung Malvinn sesaat sebelum dia mengenakan kemejanya. Lindy menemukan sebuah tato yang sedikit aneh di bahu kiri Malvinn.
‘Itu tato yang serupa seperti yang dimiliki para anggota kelompok mafia yang menyerang kami sebelumnya. Apa sebenarnya makna tato itu?’ pikir Lindy.
“Kau ada masalah denganku?” tegur Malvinn.
Lindy tersentak dan menjawab dengan cepat. “Tidak, tidak ada! Aku hanya ingin berbicara dengan Kay. Tapi sepertinya dia masih tertidur. Kau mau pergi? Jam segini sudah rapi.”
“Ya, hari ini aku ada pekerjaan di luar. Kurasa Kay juga. Sebaiknya, kau tolong bangunkan dia. Si pemalas itu sudah ada janji dengan seseorang!” seru Malvinn.
“Apa kalian akan pergi bersama?”
“Kenapa?” Malvinn menatap tajam pada Lindy.
“Tidak,” seru Lindy dengan gugup. “Hanya saja pagi ini di depan pintu ada paket kiriman cukup banyak. Tapi, semua nama dan alamat tidak ditujukan untuk kita.”
“Itu paket dari Dokter Emma. Pekerjaanku hari ini mengantarkan paket-paket tersebut kepada para pelanggan.”
“Tapi, kenapa harus kalian? Bukankah Dokter Emma bisa mengirim langsung menggunakan kurir ke alamat tujuan masiing-masing alih-alih membawanya dulu ke sini?”
Lindy mengerutkan kening. Dia tidak terlalu suka memikirkan tentang Dokter Emma yang mungkin saja tahu rahasia yang Lindy simpan.
Sambil mengancingkan kemeja satu persatu, Malvinn menatap pada Lindy. “Jadi kau memperhatikan nama-nama yang tertulis di paket itu? Dan juga alamat yang dituju?”
Lindy jadi salah tingkah. “Aku meletakkannya di meja.”
“Paket itu ditujukan untuk para anggota mafia dan gangster di beberapa klub malam. Tidak mungkin Dokter Emma meminta kurir biasa untuk mengirimkan paket-paket tersebut ke alamat tujuan. Atau kurir itu tak akan kembali dengan selamat. Karena itu, dia mempekerjakan kami untuk tugas ini setiap akhir pekan.”
Pintu terbuka dan Lindy segera menyingkir.
Kay baru bangun dari tidur dan keluar kamar dengan keadaan hampir telanjang. Pemuda itu menggeliat di ambang pintu meregangkan otot-otot punggungnya yang kaku.
Lindy segera menutup mata saat menyadari Kay hanya mengenakan celana sangat pendek. Celana ini bahkan hampir tak bisa menutupi apa pun.
“Kau mau pamer?” sindir Malvinn dengan jengah.
“Oh, maaf!” seru Kay saat menyadari Lindy mungkin merasa tak nyaman.
Kay segera menutup pintu kamarnya lagi. Beberapa detik kemudian, dia muncul sudah mengenakan celana panjang meski bagian atas tubuhnya masih telanjang.
“Aku belum terbiasa ada perempuan di rumah ini. Bertahun-tahun kami hanya hidup berdua. Ya, itu memang meresahkan. Tapi, kami–”
“Kau tak perlu menjelaskan hubungan kalian berdua padaku!” potong Lindy.
“Maksudku, selama ini Malvinn tak ada masalah dengan gaya berpakaianku!”
Lindy sangat malu.
“Lagian apa yang mau dipermasalahkan? Kita memiliki urusan dan privasi masing-masing,” sambung Malvinn sambil berpaling pada kesibukannya sendiri.
“Kau mencariku?” Kay menarik tangan Lindy saat gadis itu akan menjauh.
“Anu, tentang masalah kemarin. Apa kalian baik-baik saja jika masih bertahan di sini? Aku menyarankan… Maksudku… Bagaimana kalau kita meninggalkan tempat ini dan mencari tempat baru?”
Malvinn yang mendengar itu tiba-tiba mencebik. “Kau benar-benar mau mengatur kami sekarang? Bukankah tugas kami hanya untuk melindungimu? Kami sudah melakukannya dan jangan banyak permintaan.”
Malvinn menutup pintu lemari dengan sangat keras hingga membuat Lindy terlonjak.
“Oh, Lindy, tolong jangan diambil hati,” bujuk Kay. “Dia memang sedikit temperamental. Kau ingin mengajak kami pindah ke mana? Ke sebuah mansion? Penthouse? Itu pasti sangat menyenangkan,” bisik Kay dengan nada menggoda.
“Bukan begitu. Aku hanya–”
“Tapi, tempat kami di sini, Nona. Dan pekerjaan kami ada di sini, di Distrik Hitam. Selama kami tetap menjalankan tugas untuk menjaga dan melindungimu, aku rasa itu tak ada masalah, kan, di mana pun tempatnya?” ujar Kay dengan santai.
Lindy mengembuskan napas berat. “Yah, itu hanya sebuah saran. Aku mengkhawatirkan keselamatan kalian.”
“Atau tidak?” sindir Malvinn yang masih ada di ruangan itu. “Kau hanya mengkhawatirkan keselamatan dirimu sendiri dan kenyamananmu. Kau merasa tidak nyaman, bukan, tinggal di tempat kumuh seperti ini? Nona Muda kaya raya?”
“Oke… oke… Jangan bertengkar ini masih pagi sekali. Aku juga harus bergegas karena hari ini ada pekerjaan untukku. Lindy, bisakah hari ini kau membantu Malvin mengantarkan paket-paket itu kepada pelanggan?”
“Kenapa harus aku?” seru Lindy.
“Kenapa harus dia?” seru Malvinn.
Mereka mengucapkan pertanyaan itu secara bersama-sama.
“Wah,” seringai Kay. “Kalian kompak sekali. Aku ada pelanggan khusus hari ini dan aku tak bisa membiarkan ada gangguan di rumah. Jadi, tolong, Lindy. Ikutlah bersama Malvinn mengantarkan paket-paket itu.”
Kay kini berpaling pada Malvinn. “Tolong jaga gadis ini sampai tugasku selesai. Kau mengerti?”
Malvinn hanya diam. Dia mengambil pedang dan menyarungkan ke sabuk di pinggang.
Malvinn memberi perintah pada Lindy untuk mengangkat paket-paket itu. Sedangkan dia sendiri sudah berjalan lebih dulu meninggalkan apartemen.
Lindy yang berbadan mungil kesulitan membawa semua paket-paket itu seorang diri. Salah satu paket terjatuh. Lindy berusaha memungutnya dan tanpa sengaja dia melihat sebuah korek api di dekat tempat sampah.
Lindy memungut korek api itu. “Black D?”
Itu adalah sebuah nama klub malam yang sangat terkenal. Tak ada yang menyadari, diam-diam Lindy mengambil korek api itu dan menyelipkannya ke kantung celana.
Malvinn sudah berjalan lebih dulu. Tak ingin ketinggalan, Lindy berlari menyusulnya. Dia begitu takut berjalan sendiri di daerah kumuh seperti Distrik Hitam.
Lindy merasa tak nyaman jika dia hanya berjalan mengikuti Malvin di belakang. Gadis itu pun mempercepat langkahnya dan berusaha menyejajari Malvinn.
“Apa maumu?” tanya Malvinn.
“Oh, tidak ada. Aku hanya ingin bertanya beberapa hal padamu. Bisa, kah?”
Malvinn tak menjawab. Dia terus berjalan dengan santai sambil memegangi pedangnya.
“Kay… dia… apa pekerjaan yang dia lakukan selain menjadi tentara bayaran?” tanya Lindy malu-malu.
“Kenapa kau bertanya? Kau cemburu padanya? Kau menyukai Kay?” Malvinn bertanya dengan kasar.
Lindy merasa tertampar. Dia tak mengira Malvinn akan berpikir sejauh itu. Kedua pipi Lindy bersemu merah. Dia pun melambatkan langkah dan sekarang kembali berjalan di belakang Malvinn.
“Kay itu bukan pria untuk dicintai,” ujar Malvinn. “Ingatlah itu sebelum kau akan menyesal nantinya.”
“Apa maksudmu Malvinn?” Lindy marah. Tapi, dia juga semakin penasaran. Dia kembali berlari menyejajari Malvinn untuk menuntut jawaban.
“Pria sewaan!” Jawab Malvinn dengan santai.
Lindy benar-benar kaget. Dia berhenti dan hampir menjatuhkan paket-paket tersebut.
Malvinn tak peduli dan terus berjalan meninggalkan gadis itu menuju tempat tujuan pertama.
“Gigolo? Maksudmu Kay bekerja sebagai gigolo? Pria yang disewa oleh para perempuan kaya untuk memuaskan nafsu mereka?” Tiba-tiba Lindy mengangkat wajah dan terbelalak tanpa suara. “Jadi karena itu dia memintaku pergi dari apartemen? Karena dia ingin menerima tamu wanitanya di rumah?”
Mereka berhenti di sebuah rumah gadai. Sang penjaga pegadaian adalah seorang pria tua dari daratan Cina. Pria itu berjenggot putih panjang. Terlihat ramah tapi sangat bawel.
“Kau terlambat Lundon. Ada apa hari ini? Kau berjalan-jalan dengan seekor anak anjing baru? Aku perhatikan dari kejauhan dia terus mengekorimu.”
Malvinn yang terlihat sangat dingin dan kasar, tapi ketika berhadapan dengan pria tua itu tiba-tiba melunak dan bersikap layaknya seorang anak pada orang tuanya.
“Jangan bersikap kasar, Kakek. Dia ini pacarku!” seru Malvinn menahan malu.
Lindy yang mendengar itu sedikit kaget dan tak kalah malu. Tapi, dia lebih malu jika disebut sebagai anak anjing yang terus mengekor pada Malvinn.
Malvinn mengambil satu paket yang dibawa Lindy dan meletakkannya di meja counter kantor pegadaian. Usai menyerahkan paket itu, Malvinn kembali berjalan begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa pada sang pria tua.
Lindy bingung. Dia pikir usai mengantarkan paket, mereka harus menerima bayaran. Tapi Malvinn pergi begitu saja. Lindy yang masih membawa banyak paket sedikit kesulitan saat akan mengejar Malvinn.
“Hei, tunggu aku!” teriak Lindy.
“Nona muda,” sapa sang penjaga pegadaian.
Lindy terhenti.
“Aku dengar keributan yang terjadi di tempat Dokter Emma karena ulahmu.”
“Maafkan aku!” Lindy hanya bisa mengatakan itu sambil menunduk pada sang penjaga pegadaian.
“Pasti sulit bagimu karena harus mengikuti berandalan seperti Rogue bersaudara. Tapi, jangan sampai kau membuat mereka terluka.”
“Bagaimana bisa aku membuat mereka terluka? Bukankah sebaliknya? Mereka yang mungkin bisa membunuhku?” ujar Lindy dengan kening berkerut.
“Woi, Lindy, kau tak ingin pergi? Jangan berlama-lama di sana!” teriak Malvinn dari kejauhan.
Lindy yang kerepotan segera berlari lagi menyusul Malvinn. Saat dia meninggalkan pegadaian, Lindy merasa ada sesuatu atau seseorang yang tengah mengawasinya. Gadis itu terus memperhatikan setiap atap bangunan dan gang-gang gelap di sekitar tempat tersebut.
Lindy tak sadar. Dari belakang seseorang mendekap mulutnya dan membuat Lindy tak bisa bernapas.

Komentar Buku (123)

  • avatar
    Bangtogi

    bagus juga

    11/06/2025

      2
  • avatar
    AnnisaNur

    bagus banget

    30/05/2025

      0
  • avatar
    Nurashinichi

    ceritanya benar-benar bagus, runtutan ceritanya runut, tapi tidak terlalu bertele-tele juga, jadi tidak bosan untuk dibaca. terimakasih atas karya bagusnya, aku sangat menikmati alur cerita saat membacanya. recommended untuk dibaca.

    25/02/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru