Rumah kontrakan Aira yang baru….. Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 pagi, sementara Aira yang masih asing dalam rumah itu, Aira pun langsung bangkit dari tempat tidur, dia pun langsung berjalan mencari Faris di dalam sudut ruangan rumah kontrakan itu dengan meraba-raba. “Ya Allah, sepertinya sudah pagi,” Aira berkata seorang diri sambil membuka pintu kamarnya itu dengan meraba-raba. “Faris, dimana kamu?” tanya Aira seorang diri ketika berjalan menuju dapur. “Mengapa rumah ini sangat sepi? mengapa Faris tidak menjawab panggilanku? apakah terjadi sesuatu dengan dirinya?” Aira bertanya-tanya seorang diri sambil berjalan ke arah pintu utama rumah itu dan membukanya. “Sebaiknya, aku harus mencari Faris di luar sana, supaya saya bisa membuktikan kepercayaannya itu,” Aira bergumam dalam hatinya ketika menutup kembali pintu rumah kontrakan itu untuk mencari Faris. Tidak lama kemudian empat pemuda itu berbisik-bisik sambil melirik ke arah Aira, mereka pun langsung menghampiri gadis buta itu, akan tetapi Aira yang lagi berjalan di pinggiran jalan rumah kontrakannya itu, dan ia pun langsung merasa risih ketika para pemuda itu mendekati dirinya. “Apa kabar cantik? ngomong-ngomong kamu sendirian saja di rumah, apakah aku boleh menemanimu cantik?” tanya salah satu diantara mereka. “Siapa mereka?” Aira bertanya dalam hatinya. “Apakah aku mengenali kalian?” “Baiklah cantik, kita memang harus berkenalan,” tambah pemuda itu lagi. “Temanku, tampaknya wanita ini tidak bisa menatap dunia,” sambung rekannya yang lain. “Kamu benar, jika wanita ini bisa menatap dunia, maka dia tidak akan meraba-raba seperti ini,” jawab pemuda itu lagi. “Apakah kita harus membodohi wanita ini? bagaimana menurutmu?” “Kamu benar sekali, demi memuaskan hawa nafsu kita,” tambah rekannya yang lain. “Kalau kalian tidak pergi, maka aku akan meneriaki kalian maling,” ucap Aira lagi. “Ya ampun, sayang, aku sangat takut dengan ancamanmu itu,” jawab pemuda tadi. "Bisakah anda meninggalkan saya seorang diri!" perintah Aira sambil berjalan. "Ya tuhan, mengapa kamu harus takut cantik? tenang saja cantik, aku tidak akan menyakitimu," jawab rekannya yang lain. "Sekali lagi, aku menegaskan kepada anda semua untuk meninggalkan diriku," ucap Aira lagi. "Galak benar," jawab rekannya yang lain. Tak lama kemudian bos mereka pun hadir, dan ia adalah Baron yang berpura-pura mengusir rekannya itu. Baron Perdana adalah anak dari mafia yang pernah jadi bosnya Martin di korea selatan, Baron juga pemuda yang sangat licik sekaligus bermuka dua. "Hey teman, coba kamu lihat, sepertinya ada yang datang," ucap rekannya yang lain. "Mengapa dia bisa melacak keberadaan kita?" tanya rekannya yang lain. "Apa kalian tidak memiliki malu sampai mengganggu wanita cantik ini?" tanya Baron ketika mengusir rekannya itu. "Aku minta maaf atas perlakuan temanku itu," Salah satu rekannya Baron menarik dirinya untuk mengobrol. "Tunggu sebentar!" perintah Baron kepada Aira ketika menghampiri rekannya yang lain. "Ada apa?" "Bos, apa yang kamu lakukan disini? dan mengapa kamu merusak rencanaku bos?" tanya rekannya yang lain. "Perempuan ini akan melayani aku saja," jawab Baron. "Sebab saya telah menyiapkan rencana lain untuk menjebak gadis buta ini," "Aku tidak menyetujui rencana mu itu, kami juga mau menikmati kecantikan gadis itu," kata rekannya yang lain. "Iya benar sekali," jawab rekannya yang lain. "Baiklah, aku akan membagikan gadis ini bersama kalian, mereka tak boleh tahu tentang aku yang telah menyiapkan rencana lain," Baron bergumam dalam hatinya. "Baiklah, kali ini aku menyetujui ide mu itu bos, akan tetapi tempat apa yang cocok untuk wanita ini?" tanya rekannya yang lain. "Kamu tenang saja, kalau masalah itu, biar saya yang menanganinya," tambah Baron lagi ketika pergi meninggalkan rekannya itu. "Mohon maaf, tadi aku sedikit lama, sehingga kamu harus menunggu seperti ini, apakah saya boleh mengetahui namamu?" tanya Baron ketika meraih tangan Aira dengan mesra untuk berkenalan. "Saya Aira, saya sudah memaafkan rekanmu itu," jawab Aira. "Aku Baron Perdana, aku sangat bahagia berkenalan denganmu, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Baron. “Saya sedang mencari seseorang yang bernama Faris Ardiansyah,” jawab Aira. “Apakah kamu mengenal dirinya itu?” “Bahkan aku tidak mengetahui nama itu, bagaimana jika saya membantu kamu untuk mencari orang yang bernama Faris?” tanya Baron ketika menawarkan dirinya untuk berpura-pura menolong wanita cantik itu. “Terima kasih atas pertolonganmu Baron,” jawab Aira. Sementara empat orang rekannya itu terus mengikuti Baron. “Tidak masalah Aira, justru saya senang menolongmu,” tambah Baron lagi ketika membawa gadis buta itu ke arah jalan yang salah. “Aira, sepertinya kamu sangat lelah, apakah saya harus mengambil kendaraan pribadi?” tanya Baron ketika mengusap-usap bahu wanita itu. “Sebaiknya, kita terus berjalan, jika aku sudah merasa lelah, maka saya akan memberitahu anda!” perintah Aira. “Baiklah, nona cantik, saya sebagai laki-laki tidak mau memaksa wanita,” ucap Baron lagi ketika membawa Aira ke arah hutan yang terdapat gubuknya itu. "Bos, air ini telah diisi dua pil obat tidur, jadi anda harus memberi air ini kepada wanita buta itu!" perintah rekannya yang lain. Baron pun langsung meraih botol minuman aqua itu dari rekannya untuk diserahkan kepada Aira. "Aira, sebaiknya, kamu minum dulu, agar kita bisa meneruskan perjalanan untuk menemukan pemuda yang bernama Faris," jawab Baron. "Bagaimana denganmu? apakah kamu tidak haus?" tanya Aira. "Aku akan meminumnya nanti, sebab wajah kamu yang cantik ini pasti butuh energi, jadi kamu harus minum!" perintah Baron. "Dasar wanita bodoh, saya telah mencampuri minuman ini dengan obat tidur, bagaimana mungkin dia langsung meminumnya? apakah dia tidak mengecek dulu saat ingin meneguk minuman yang ada di botol aqua ini?" Baron bergumam dalam hatinya. "Kebetulan aku juga sudah sangat haus," ucap Aira ketika meraih botol aqua itu dari tangan Baron. Aira pun langsung meneguk minuman yang ada di dalam botol aqua itu dengan perlahan saat berhenti di jalan dekat hutan jakarta bersama Baron yang akan menjebak dirinya, pada situasi lain Kania yang tanpa sengaja melewati jalan hutan jakarta itu bersama supir pribadinya itu, dia pun langsung turun dengan berpura-pura menolong gadis yang dicintai oleh tunangannya Faris. "Pak, tolong hentikan mobilnya!" perintah Kania. "Baik nona," jawab supir pribadinya itu. "Tunggu, tunggu, bukankah itu wanita yang merusak hubunganku? sebaiknya kuberi perhitungan untuk dia, tidak, tidak, jika aku menghampiri dirinya, Faris akan semakin membenci diriku, jadi sebaiknya aku harus berpura-pura untuk membantu gadis itu, akan tetapi siapa pemuda yang ada di sebelahnya itu? apa yang mereka perbuat disini? mengapa mereka mengajak gadis ini ke hutan? aku yakin pasti ada masalah di antara mereka," jawab Kania ketika berjalan menghampiri mereka. "Sebaiknya kalian lepaskan gadis itu, kalau tidak....," ucap Kania saat tidak meneruskan ucapannya. "Kalau tidak apa? siapa kamu?" tanya Baron ketika menoleh ke arah belakang. "Maka aku akan menghubungi polisi," ancam Kania. "Bos, bagaimana ini?" ucap rekannya yang lain ketika takut mendengar polisi. "Apakah kamu pikir dengan menghubungi polisi semua masalah akan selesai?" tanya Baron. "Kamu tidak mengetahui tentang saya, sebaiknya kamu pergi!" perintah Baron. "Nona, kamu harus pergi, kalau tidak, maka nyawamu akan dalam bahaya!" perintah Kania. "Dan para bajingan ini ingin menjebakmu, saat ini kamu berada di hutan jakarta nona," "Apakah itu benar Baron?" tanya Aira. "Wanita itu bohong, bagaimana mungkin saya menjebak wanita secantik kamu?" Baron bertanya balik. "Saya berkata jujur nona, kalau bajingan ini mau menjebakmu," tambah Kania lagi. Akan tetapi Aira tiba-tiba mengalami kepusingan pada bagian kepalanya. "Mengapa kepalaku saya tiba-tiba pusing? apa yang terjadi?" tanya Aira bingung. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Baron memastikannya lagi. "Lepaskan saya," ucap Aira ketika menolak badan Baron saat merangkul dirinya. "Pak, tolong bawa gadis itu ke dalam mobil!" perintah Kania. "Baik nona," jawab supir itu ketika keluar dari mobil untuk menolong Aira. "Mari nona ikut dengan saya!" perintah supir itu. "Aku tidak akan ikut bersama kalian," ucap Kania ketika meludahi Baron saat ingin memasuki mobilnya itu, namun mereka menarik lengan Kania. "Tidak bisa, kalian tidak bisa pergi begitu saja, setelah kamu merusak rencanaku, dan kamu mau kabur begitu saja," ucap Baron. "Cepat kalian tahan wanita ini!" perintah Baron. "Baik bos," jawab rekannya yang lain. "Cepat bawa wanita itu masuk ke dalam mobil!" perintah Kania. "Dan tinggalkan tempat ini," "Baik nona," jawab supir itu dan berlalu pergi. "Lepaskan lenganku," ucap Kania. "Tolong, tolong," teriak Kania. "Silahkan, kamu berteriak, sebab tidak ada yang akan datang membantu wanita licik ini," jawab Baron. "Ayo jalan!" perintah rekannya yang lain. Tidak lama kemudian Kania mengigit lengan salah satu diantara mereka, sehingga membuat dirinya bisa kabur. "Dasar wanita gila, berani sekali kamu mengigit lenganku," ucap anak buah Baron. "Bos, wanita itu kabur," "Apa yang kalian tunggu? cepat tangkap dia!" perintah Baron. "Baik bos," jawab rekannya yang lain saat ingin mengejar Kania. Kania terus berlari, sehingga dirinya terus menjauh dari Baron sambil berteriak. "Tolong, tolong, tolong, siapa pun bantu saya?" teriak Kania lagi. "Larilah sayangku, percuma saja kamu berteriak, mana ada orang yang melewati hutan ini," jawab Baron ketika mengejar Kania. "Tolong tidak ganggu saya," ucap Kania sambil berlari. Akan tetapi Kania dengan tidak sengaja berjumpa Zain bersama ibunya Aira. "Aaaaaa," teriak Kania saat hampir tertabrak mobilnya Zain. "Anakku, awas di depan ada wanita," ucap ibunya Aira. Zain pun langsung menghentikan mobilnya itu dengan mendadak. "Tante, tunggu disini!" perintah Zain ketika keluar dari mobil. "Hey, apa kamu sudah bosan hidup?" tanya Zain ketika keluar dari mobilnya itu. "Tuan, aku minta maaf karena telah merusak perjalanan anda, tapi anda harus menolong saya," ucap Kania. "Hey, tolong anda lepaskan wanita itu!" perintah Baron. "Sebaiknya, aku membantu wanita ini," Zain bergumam dalam hatinya. "Saya paling tidak senang melihat wanita disakiti, jika anda seorang laki-laki, maka hadapi aku!" perintah Zain. "Temanku, cepat serang pemuda itu!" perintah Baron. "Baik bos," ucap rekannya yang lain ketika maju melawan Zain. Zain pun langsung menendang dada bidang salah satu anak buahnya Baron. "Berani sekali kamu menendang rekanku," teriak anak buah Baron yang lain. "Tuan, awas di sebelahmu," teriak Kania ketika memanggil Zain. "Rasakan tendangan kakiku," ucap Zain ketka menendang wajah anak buah Baron. "Sebaiknya kita pergi dari sini, kita akan membuat perhitungan dengan mereka, awas kamu wanita gila," ucap anak buahnya Baron ketika pergi meninggalkan mereka berdua. Bersambung....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bguss
1d
0Bagus
13d
0bagus
18/10
0Lihat Semua