logo text

Bab 27 Malik Terus Menerus Memohon Kepada Fariz

Pukul  07.41.....
Namun dalam beberapa menit kemudian Malik pun tiba di depan rumah Fariz Fahransyah. Dia pun yang melirik Fariz akan meninggalkan kediamannya, dan ia pun langsung menghentikan nya. 
"Fariz. Saya butuh bantuanmu. Aku tahu berapa yang harus kubayar atas kesalahan ku. Namun ini ada seseorang yang harus aku selamat kan. Maka oleh sebab itu aku meminta kepada mu." ucap Malik. 
"Menyingkirlah kau dari hadapan ku bajingan. Aku tidak mempedulikan tentang apa yang terjadi pada kehidupan mu!" perintah Fariz yang menangkis tangan Malik. 
"Apakah kau juga tidak peduli tentang hal ini yang akan terjadi pada ibumu atau kekasih mu?" teriak Malik. 
Akan tetapi Fariz yang mulai emosi sampai membuat dirinya tersadar dengan ucapan Malik, dan ia pun memegang kerah baju Malik. 
"Kau mengancam ku. Apakah kau pikir aku takut akan ancaman mu?" tanya  Fariz yang mulai geram. 
"Baiklah. Saya akan menolong mu. Namun dengan satu syarat."
"Tidak. Aku tidak akan mengancam mu. Sebab kau bisa menggunakan akal sehat mu. Jika kau ingin serius untuk menolong hari ini pukul 18.00 kita akan ke Korea Selatan untuk bertemu bos yang dulu pernah mempekerjakan kita berdua!" perintah Malik. 
"Apa itu yang ingin  aku lakukan?" tanya Malik. 
"Nanti jika terjadi sesuatu atas kehendak Alloh SWT. Saya ingin kau menyerah kan kornea mataku kepada seorang wanita. Namun jika tuhan menyelematkan ku tentang hal yang akan terjadi pada ku. Aku mau kamu merahasiakan tentang siapa yang telah mendonorkan kornea mataku ini kepada seorang wanita!" perintah Fariz. 
"Baiklah. Jika hanya itu yang ingin kamu ucapkan. Akan kupenuhi semuanya. Kau bisa pegang ucapan ku. Sepertinya kamu sungguh mencintai wanita itu tanpa pikirkan nyawa mu." ucap Malik dan berlalu pergi. 
"Ya. Saya sangat mencintai nya. Sampai bertemu nanti sore!" perintah Fariz yang langsung menancap kan gas mobil nya dan berlalu pergi. 
Namun tiba-tiba Kania menelpon, dan ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut. 
"Sayang. Dimana kamu? Bukankah kamu sudah berjanji akan menemani ku untuk menemui teman-temanku di mall?" tanya Kania. 
"Dasar wanita gila. Jika bukan karena Aira. Mana mungkin saya mau memperistri mu." Fariz berkata dalam hatinya. 
"Iya sayang. Sebentar lagi saya tiba disana." tambah Fariz lagi. 
Pada akhirnya Fariz pun tiba di tempat tujuan, dan ia pun langsung keluar dari mobil untuk memasuki mall yang dimana Kania dan gengnya sudah menunggu.
"Sepertinya dengan pergi ke Korea Selatan. Aku bisa jadikan alasan kepada Kania." Fariz bergumam dalam hatinya ketika membuka pintu mall yang dimana Kania sudah melirik ke arahnya.
"Sayang. Kamu begitu lama sih. Aku hampir selesai nih. Oh ya. Sayang kenalin ini sahabat-sahabatku dari kuliah." sapa Kania.
"Farah. Cintya. Zainab. Aulia." serentak dari mereka ketika menjabat tangan Fariz.
"Maaf ya. Sayang saya telat. Fariz." tambah Fariz lagi yang menjabat tangan mereka satu per satu.
"Sayang. Mohon maaf ini karena aku harus mengatakan hal ini kepadamu. Jadi begini papa saya akan mengirim saya ke Korea Selatan untuk urusan pekerjaan nanti sore sekitar jam 18.00." ucap Fariz yang berbohong.
"Ya. Sayang. Apakah tidak ada perwakilan dari perusahaan FF Group company? Bukankah kita hari ini ada fitting busana pernikahan?" tanya Kania.
"Iya sayang. Namun ini urusan kerja." tambah Fariz lagi.
"Baiklah. Akan saya izinkan. Namun begitu selesai kau harus segera kembali!" perintah Kania.
"Baiklah para ladies. Saya harus segera pergi. Terima kasih sayang kau telah mengerti." ucap Fariz yang mengecup kening Kania dan berlalu pergi meninggalkan mall.
Disisi lain inggris hotel pukul 08.00...............
Beberapa polisi memasuki hotel inggris untuk menyelidiki seseorang menggunakan barang haram. Salah satu inspektur polisi yang bernama Varun Saxena menemui resepsionis hotel.
"Good morning. I would like to meet a young man named Ashraf Sharif Khan?" asked Varun.
("Selamat pagi. Saya ingin menemui seorang pemuda yang bernama Ashraf Sharif Khan?" tanya Varun.)
"Wait a minute sir. We'll look into it!" ordered one of the hotel receptionists.
("Tunggu sebentar ya tuan. Kami akan memeriksanya!" perintah salah satu resepsionis hotel.)
"Sir. As we have checked, the resident named Ashraf Sharif Khan is in VIP room 1 on the second floor!" the hotel receptionist ordered.
("Tuan. Seperti yang sudah kami periksa. penghuni yang bernama Ashraf Sharif Khan berada di kamar 1 VIP lantai dua!" perintah resepsionis hotel.)
"Thank you. Quickly deploy your sniffer dogs to catch Ashraf who is on the second floor!" Varun ordered.
("Terima kasih. Cepat kalian kerahkan anjing pelacak untuk menangkap Ashraf yang berada di lantai dua!" perintah Varun.)
"Ready inspector." said his bodyguard who started to enter the elevator to press button two.
("Siap inspektur." ucap pengawalnya yang mulai memasuki lift untuk menekan tombol dua.)
"This time you won't be able to run Ashraf Sharif Khan." Varun said in his heart as he entered the lift.
("Kali ini kau tidak akan bisa lari Ashraf Sharif Khan." Varun berkata dalam hatinya yang ikut memasuki lift.)
Pada akhirnya lift pun terbuka, dan para pengawal bersama inspektur Varun Saxena telah tiba di lantai dua. Mereka pun berjalan menelusuri koridor untuk mencari kamar nomor 88. Akan tetapi salah satu pengawalnya menemukan kamar tersebut, dan ia pun memberitahu Varun.
"Sir. I think this is room number 88." continued the bodyguard.
("Pak. Sepertinya ini ruangan kamar nomor 88." sambung pengawalnya.)
Namun Ashraf Sharif Khan yang sedang berkemas karena ingin keluar, dan ia pun mendapati tamu tidak diundang.
"Ashraf. I know you're in there? Quickly open this door! Before I destroy it!" Varun ordered.
("Ashraf. Saya tahu kau ada di dalam? Cepat kau buka pintu ini! Sebelum ku hancurkan!" perintah Varun.)
"Siapa sih yang mengganggu kebahagiaan saya?" Ashraf bertanya seorang diri.
"Wait a moment!" Ashraf ordered when he opened the door of his room.
("Tunggu sebentar!" perintah Ashraf ketika membuka pintu kamarnya.)
"Is it true you are Ashraf Sharif Khan?" asked Varun curiously.
("Apakah benar anda Ashraf Sharif Khan?" tanya Varun penasaran.)
"Yes. But why are you guys here, police officer?" Ashraf asked back.
("Iya. Namun mengapa kalian ada disini pak polisi?" Ashraf bertanya balik.)
"We got news about drug smuggling in this room. Hurry up and check it! Hand over the sniffer dogs as well!" Varun ordered.
("Kami mendapati kabar tentang adanya pelundupan narkoba di kamar ini. Cepat kalian periksa! Sekalian serahkan anjing pelacak!" perintah Varun.)
"Sir. How could I wear such a strange thing. I understand religion, sir." Ashraf argued.
("Pak. Mana mungkin saya memakai hal aneh seperti itu. Saya paham agama pak." bantah Ashraf.)
Akan tetapi tiba-tiba anjing cerdas menemukan sesuatu di dalam tas Ashraf Sharif Khan.
"That's it, Mr. Ashraf. At the same time he is a hypocrite, he really understands religion to deceive the world with the name of God. But he is not afraid of Allah's punishment in the afterlife. Because he thinks he will live forever on God's earth." Varun explained.
("Begini ya tuan Ashraf. Sekaligus orang munafik saja dia begitu memahami agama untuk menipu dunia dengan bawa nama tuhan. Namun dia tidak takut akan azab Allah S.W.T. di akhirat nanti. Karena dia berpikir akan hidup selamanya di bumi tuhan ini." jelas Varun.)
"Sir we found something in this young man's bag!" the bodyguard ordered again.
("Pak kita menemukan sesuatu dalam tas pemuda ini!" perintah pengawalnya lagi.)
"Mengapa itu bisa ada dalam tasku? Siapa yang melakukannya?" Ashraf bertanya dalam hatinya.
"Sir. Really I do not know about this illicit goods." Ashraf continues to argue.
("Pak. Sungguh saya tidak mengetahui tentang barang haram ini." Ashraf terus membantah.)
"Quickly take this young man!" Varun ordered.
("Cepat bawa pemuda ini!" perintah Varun.)
"You don't know who I am? Will you regret knowing my father later?" Ashraf shouted.
("Kalian tidak mengetahui tentang siapa saya? Kalian akan menyesal mengetahui ayahku nanti?" teriak Ashraf.)
Pada akhirnya Ashraf pun ditangkap tanpa ada kata kesalahan dengan mengikuti polisi tersebut.
Pada situasi lain.......
Rumah Aira.....
"Aira sebagai rasa rinduku padamu. Aku ingin membawamu untuk menaiki perahu di danau dekat sini. Apakah kamu ingin pergi bersamaku?" tanya Zain.
"Ya. Saya mau." ucap Aira yang melepaskan pelukan Zain.
"Tante. Saya pinjam Aira sebentar ya." ucap Zain.
"Nak Zain untuk kali ini tolong jaga Aira. Sebab sudah berapa hari dia menghilang. Tante akan sangat marah jika terjadi hal buruk lagi pada putri sulung tante." ucap ibunya Aira.
"Ma. Arif pergi sekolah dulu ya." pamit adik laki-lakinya Aira.
"Iya. Kau berhati-hatilah di sekolah." tambah ibunya Aira lagi.
"Tante tenang saja. Kali ini aku akan menjaga sahabatku ini." ucap Zain yang membantu Aira untuk memasuki mobilnya karena tidak bisa melihat.
"Ma. Aira pergi dulu ya." tambah Aira dan berlalu pergi.
Bersambung......

Komentar Buku (213)

  • avatar
    JayaWahab

    bguss

    1d

      0
  • avatar
    AmeliaArizky

    Bagus

    13d

      0
  • avatar
    Robiana

    bagus

    18/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru