Di malam hari, ada empat orang dewasa dan satu anak kecil sedang duduk di meja makan sambil menyantap makan yang sudah dipesan oleh Elyana melalui aplikasi di ponselnya. Mereka berlima duduk dengan tenang sambil fokus pada piring masing-masing. Ketika semua orang mulai menyantap makanannya, tiba-tiba Arani terdiam sambil menoleh ke samping untuk memperhatikan Elyana dan putranya. Dari pulang kerja hingga sekarang, Arani terkejut dan masih belum percaya bahwa yang ada di rumahnya benar-benar sahabatnya—Elyana—yang meninggal lima tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan mobil. Dan sekarang Elyana benar-benar masih hidup dan membawa seorang anak yang begitu lucu. "Ada apa?" tanya Elyana yang menyadari bahwa Arani terus memperhatikan dirinya. "Apa kau pikir aku ini adalah hantu yang bisa memesan makanan buat kalian semua?" tanya Elyana dengan sedikit bercanda. Di mulutnya masih ada banyak makanan hingga bicaranya sedikit tidak jelas. Namun, walaupun demikian, semua orang bisa mendengar ucapan Elyana pada Arani, termasuk putranya. Ketika Elyana akan berbicara lagi, tiba-tiba Alvano mendahului, "Mami, saat makan jangan berbicara!" "Uhuk!" Elyana hampir saja tersedak oleh makanannya sendiri. Ia segera mengambil air untuk melegakan tenggorokannya yang terasa tidak nyaman. Setelah itu, Elyana berkata pada putranya, "Hehe! Sayang, segera habiskan makananmu. Bukankah sebentar lagi kau ingin melihat papamu? Kita ke rumahnya saja, sekalian kita kagetkan dia dengan kedatangan kita, ya!" "Tantemu saja kaget dengan kehadiran kita. Apalagi dengan papamu!" tambah Elyana lagi dengan ujung mata yang melihat ke arah Arani. Ia memperhatikan wajah Arani yang berekspresi aneh—dari tadi. Mendengar ucapan ibunya yang akan mengajaknya menemui Daddy, jelas saja Alvano sangat senang. Alvano menoleh sebentar ke arah Arani, lalu ke ibunya. Walau masih bingung dengan pembicaraan orang dewasa itu, namun dia tidak berani berbicara lagi. "Arani! Kau juga, makanlah! Setelah makan, kita akan segera berangkat," ucap Elyana pada Arani yang masih bengong. Sesuai dengan pembahasan mereka tadi sebelum makan, malam ini, Rosyana, Daniel dan juga Arani akan mengantar Elyana ke rumah David. Barulah besok pagi mereka akan mengantar Elyana kembali ke kota Lyon dan memastikan Elyana dan putranya sampai dengan selamat di rumah keluarga Louis. "Enh!" Arani mengangguk. Ia pun segera menyantap makanannya. Tidak lagi memperhatikan Elyana. Setelah selesai makan dan diam sebentar untuk menurunkan semua makanan yang baru masuk ke dalam perut, akhirnya mereka pergi ke rumah David dengan memakai mobil Daniel. Setelah sampai di rumah David, Elyana bersama dengan putranya turun dari dalam mobil dan bersiap untuk masuk ke dalam rumah. "Kalian pulanglah! Besok siang, jemput aku lagi di sini," ucap Elyana pada teman dan kakaknya yang ada di dalam mobil. Ia berencana untuk menginap malam ini di rumah David sebelum besok mereka akan kembali ke kota Lyon. "Coba tanyakan dulu pada petugas keamanan, apa David ada di rumah?" tanya Arani sedikit khawatir ketika melihat Elyana belum masuk rumah, tapi mereka sudah harus pergi. "Takutnya dia tidak ada di rumah dan kau harus kembali lagi." "Tidak apa-apa! Kalian pergilah. Aku bisa menunggu David di dalam rumah jika memang dia tidak ada," balas Elyana dengan yakin. Lalu ia melambaikan tangan pada teman dan kakaknya yang ada di dalam mobil. "Pergilah!" "Emh, baiklah! Jika ada apa-apa, segera hubungi kami!" ucap Daniel sambil menyalakan mesin mobilnya kembali, bersiap untuk pergi. "Iya, aku mengerti!" Elyana mengangguk. Setelah itu, Daniel benar-benar membawa mobilnya pergi meninggalkan tempat itu. Di depan pintu gerbang yang sangat tinggi dan besar itu, Elyana berdiri sambil mendongak menatap rumah mewah milik David dengan perasaan sedih. Padanya, sebelum kecelakaan itu, Elyana pergi dari rumah ini dengan perasaan marah. Namun setelan itu, setelah Elyana menerima telepon dari David, marahnya sudah hilang karena David sudah menjelaskan semuanya. Dan sekarang ... Elyana tidak sabar ingin segera bertemu dengan pria yang waktu itu berjanji akan membahagiakannya. Ketika dirinya masih melamun, tiba-tiba penjaga rumah membuka pintu gerbang dan bertanya pada Elyana perihal kedatangannya ke rumah itu. "Maaf, Nona, Tuan sedang tidak ada di rumah!" jelas penjaga itu setelah mendengar tujuan Elyana datang untuk bertemu dengan majikannya. "Jika ingin bertemu, sebaiknya Anda membuat janji dulu." "Kebetulan, tiga hari ini Tuan sedang ada pekerjaan di luar kota, baru akan kembali empat hari lagi," tambah penjaga itu dengan serius. "Jika Anda mau, datanglah kembali hari Jumat. Nanti saya akan menyampaikan ini pada Tuan." "Oh!" Elyana bingung dengan hal itu. Pasalnya, besok dan seterusnya ia akan pulang dan kembali ke Kota Lyon. Sama sekali tidak akan kembali lagi ke kota ini. "Begini saja! Sekarang, saya minta nomor Tuan David dulu. Saya ingin berbicara dengannya di telepon. Bagaimana, apa bisa?" tanya Elyana pada penjaga baru itu. Namun penjaga itu segera menolak. Dia tidak akan memberikan nomor majikannya pada sembarang orang. "Maaf, Nona! Sebaiknya Anda kembali lagi hari Jumat saja. Untuk nomor telepon Tuan, saya tidak bisa memberikannya pada Anda." "Ya, sudah! Sekarang, kamu saja yang menelepon Tuan David, bilang padanya, ada wanita yang bernama Elyana datang ke rumah. David pasti tahu dengan namaku," ucap Elyana pada penjaga itu. Jika sekarang David sedang ke luar kota, mungkin setelah mendengar nama Elyana disebut, pira itu segera pulang. Sebelum besok Elyana kembali ke Kota Lyon, ia ingin bertemu dengan David dulu dan ingin mempertemukan Alvano dengan ayahnya. "Baik, tunggu sebentar!" ucap penjaga itu yang langsung menyetujui ide dari Elyana. Dia segera masuk. ke dalam pos keamanan, lalu memegang telepon untuk menghubungi nomor tuannya. Setelah beberapa kali ditelepon, dari seberang telepon tidak kunjung ada jawaban. Penjaga itu pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia segera menghampiri Elyana dan meminta maaf. "Hari jumat saja Anda datang lagi kemari. Setelah Tuan pulang, saya akan segera memberitahukan kedatangan Anda." "Ya, baiklah!" Elyana pun tidak bisa terus memaksa jika David tidak bisa dihubungi. Ia bersiap untuk pergi. "Kalau begitu terima masih banyak. Lain kali saya akan datang lagi," ucap Elyana basa-basi. "Sekarang, saya permisi!" pamit Elyana. Lalu ia pergi dengan memegang tangan kecil Alvano. Malam ini, kedatangannya ke rumah David untuk mempertemukan ayah dan anak itu hanya berakhir dengan sia-sia saja. Elyana juga tidak bisa masuk ke rumah itu dan tidur di sana karena orang yang bekerja di sana adalah orang-orang baru, yang tidak mengenal Elyana sama sekali. Penjaga itu pun hanya menganggap Elyana sebagai orang asing. Di trotoar jalan yang nampak sepi di kota itu, Elyana dan putranya berjalan dengan langkah pelan sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuh mereka. Ada beberapa taksi yang kosong pun, Elyana tidak berniat untuk menghentikannya. Ia masih ingin berjalan-jalan dan menikmati indahnya Kota Paris sebelum dirinya benar-benar pergi ke kampung halamannya. "Mami, di mana Daddy? Apa dia tidak ingin menemui kita?" tanya Alvano yang masih berjalan mengikuti langkah ibunya dengan langkah yang sudah mulai lelah. Padahal sedari tadi, anak itu sudah tidak sabar ingin segera pergi ke rumah ayahnya dan bertemu dengan ayahnya, lalu memeluk erat tubuh ayahnya seperti yang sering teman-temannya lakukan. Namun sekarang ... semua itu hanya ada di mimpi saja. "Sayang!" lirih Elyana sambil menghentikan langkahnya. Ia berjongkok, lalu berdiri dengan lututnya untuk berhadapan dengan Alvano. Elyana memegang kedua pundak anak itu, lalu mereka saling bertatapan. "Maafkan Mami, ya! Mami belum bisa mempertemukan 'mu dengan Daddy! Tapi, walaupun begitu, daddy-mu tetap masih ada. Alvano sama seperti anak lain yang memiliki Daddy. Jadi jangan khawatir." "Lain kali kita datang lagi ke rumah Daddy, ya!" bujuk Elyana dengan pelan. Ia takut anak itu marah karena dirinya tidak berhasil mempertemukan Alvano dengan David. "Tidak!" tolak Alvano sambil menyingkirkan kedua tangan ibunya dari pundak. Ia berkata dengan marah, "Daddy tidak ingin bertemu dengan kita. Untuk apa, kita datang lagi ke rumahnya?" "Mulai sekarang, aku sudah tidak menginginkan Daddy lagi! Aku tidak ingin bertemu dengan Daddy lagi. Jadi, Mami tidak perlu lagi mengajakku menemuinya," tambah Alvano masih dengan marah. Tangan kecilnya dilipat di depan dengan bibir yang mengerut. "Sekarang, aku ingin bertemu dengan Paman!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus sekali
02/12
0Jalan cerita yang menarik
06/11
0bagusss
10/08/2025
0Lihat Semua