Bab 82 Bermushan

Malam semakin larut. Elyana dan putranya sudah kembali ke apartemen dan sudah tertidur pulas di kamar Rosyana. Mereka kelelahan karena sudah berjalan-jalan sambil melihat indahnya kota Paris di malam hari.
Hingga akhirnya, pagi pun tiba. Elyana yang masih mengantuk segera bangun dan bersiap untuk pergi ke bandara. Putranya pun dengan patuh bangun, dan berpakaian.
Di meja makan, semua orang sudah duduk dan bersiap menyantap sarapan pagi mereka, termasuk Daniel yang baru datang.
Ketika sedang makan, tiba-tiba ponsel Elyana yang ada di saku pakaian berdering. Panggilan masuk itu terus saja terdengar walah Elyana tidak menghiraukannya.
Dari samping, Alvano segera berbicara sambil menatap ibunya dengan heran, "Mami, panggilan itu sungguh mengganggu kami. Kenapa tidak dilihat saja, siapa yang menghubungi Mami sepagi ini?"
Karena semua orang terganggu dengan suara berisik itu, akhirnya Elyana mengambil ponselnya dari saku pakaian.
"Eh, Kak Arvan!" bisik Elyana ketika melihat siapa yang menghubunginya.
Dengan cepat ia menekan tombol hijau pada layar. Lalu menyapa, "Halo, Kak!"
Semua orang terdiam melihat Elyana berbicara dengan orang yang dipanggil Kakak itu.
"Oh! Maaf, aku sedang makan. Jadi tidak bisa segera mengangkat teleponmu!"
"...."
"Ah, tidak apa-apa! Sekarang, aku sudah selesai, kok! Sama sekali tidak mengganggu," balas Elyana dengan berbohong.
Padahal, di piringnya masih terdapat banyak makanan. Bahkan, belum habis setengahnya.
"Hah? Kau sudah sampai? Kenapa cepat sekali?"
"...."
"Oh, seperti itu! Kau naik pesawat dini hari."
"...."
"Aku masih ada di rumah. Kak Arvan ke sini saja! Di sini ada Daniel, Arani dan juga Ros! Kalian sudah lama juga tidak begitu, kan?"
"...."
"Oke! Aku share lokasinya, ya!"
"...."
"Yo! Bye!"
Klik!
Sambungan telepon ditutup.
Semua orang menatap Elyana setelah dia menutup teleponnya. Mereka juga mendengar semua ucapan Elyana pada orang yang ada di seberang telepon.
Tiba-tiba Daniel bertanya dengan heran, "Apa itu Arvan?"
"Apa benar Arvan 'Cinta Pertamamu' yang telah merawatmu selama lima tahun ini?" tanya Daniel lagi, masih belum percaya.
Padahal, kemarin, Elyana sudah menjelaskan semuanya pada Daniel, Arani dan juga Rosyana, bahwa Arvanlah yang sudah menolongnya dan membawanya ke luar negeri. Tapi mereka tidak percaya dengan semua itu.
Dan sekarang, Elyana sungguh berbicara dengan Arvan di telepon. Bagaimana mungkin mereka masih tidak percaya?
"Iya!" Elyana mengangguk tanpa ragu. "Sekarang dia sudah sampai di bandara. Aku kau menyuruhnya datang ke sini."
Sambil berbicara, Elyana mengirim pesan pada Advan dan mengirim lokasinya. Meminta Advan untuk segera datang ke apartemen ini.
"Lalu, bagaimana dengan David?" tanya Daniel lagi.
Pasalnya, setelah David ke luar dari perusahaan Demino dan meneruskan perusahaan Danu yang sudah terpuruk, Daniel tidak pernah lagi berurusan dengan David. Bahkan, untuk saling bertegur sapa pun mereka tidak pernah.
Setelah kepergian Elyana, kepribadian David berubah 180°. Dia menjadi pria dingin berhati iblis. Selama lima tahun ini, David mampu membangun perusahaan—yang kini berganti nama menjadi Davin Land Grup—dengan kecerdasan dan kehebatannya sebagai pemimpin perusahaan. David mempu menyingkirkan semua lawan-lawannya tanpa perasaan. Hingga perusahaan Davin Land Grup ini kini menduduki puncak ke jayaan sebagai perusahaan terkuat di bidang properti.
"Bagaimana apanya?" Elyana balik bertanya pada Daniel. "Aku dan Kak Arvan tidak ada hubungan apapun selain hubungan kakak dan adik."
"Aku dan David belum bercerai. Dan lagi, ketika terakhir kali berkomunikasi lewat sambungan telepon, kami baik-baik saja," tambah Elyana dengan santai. Merasa bahwa hubungannya dengan David akan baik-baik saja walau waktu sudah berlalu sangat lama.
Elyana menatap putranya yang duduk di sampingnya. Ia melanjutkan, "Sekarang sudah ada Alvano juga. Kebahagiaan keluarga kami sudah sangat lengkap. Sudah tidak ada alasan bagi kami untuk berpisah lagi."
"El!" Tiba-tiba Rosyana angkat suara. "Kau tidak tahu dengan keadaan David sekarang. Dia bukan lagi David yang dulu. Dia bukan lagi pria tampan yang baik dan penyayang."
Rosyana berhenti sejenak sambil menatap Elyana yang ada di depannya. Perasaannya tiba-tiba menjadi berat.
"El ... sekarang, David menjadi musuh bagi perusahaan Louis!" ucap Rosyana dengan pelan.
Itu membuat Elyana sangat terkejut. Tapi tidak dengan Daniel dan Arani. Karena mereka sudah tahu semuanya.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Elyana pada kakaknya. Ia tidak menyangka kenapa suaminya itu bisa bermusuhan dengan kakeknya.
Rosyana kembali membenarkan emosinya. "Dulu, ketika kasus kecelakaan itu, Kakek begitu marah pada David dan menolak untuk berhubungan lagi. Kakek menuduh David tidak becus menjadi seorang suami hingga keluarga Louis harus kehilanganmu! Dan yang terakhir, Kakek menghubungi David lewat sambungan telepon ketika Dimitri membatalkan pernikahan. Kakek meminta suamimu untuk segera mengurus surat perceraian kalian."
"Itu menjadi hari terburuk dalam keluarga kita, El. Aku batal menikah, dan kau diceraikan oleh David!"
"Apa???" Elyana sungguh terkejut mendengarnya. "Bercerai? Tidak! Itu tidak mungkin. Kami tidak bisa bercerai karena aku tidak menyetujuinya."
"Iya! Itu memang benar," balas Rosyana dengan tegas. "Karena David tidak bersedia mengurus surat perceraian kalian, Kakek-lah yang akhirnya mengurus semua itu."
"Bagaimana bisa ... bercerai dengan orang yang sudah meninggal?" tanya Elyana—masih tidak percaya.
"Karena itulah, Kakek mengurusnya sendiri," jawab Rosyana sambil menatap Elyana dengan penuh penyesalan. "Kakek selalu meyakini satu hal, kau pasti akan kembali."
"Apa???"
"Ya! Kakek yakin kau belum meninggal. Kakek tidak akan percaya sebelum dia melihat mayatmu dengan mata dan kepalanya sendiri."
Mungkin, di dunia ini, hanya Yuan Louis-lah yang percaya bahwa Elyana akan kembali. Pria tua itu selalu melihat keluar jendela sambil memandang gerbang rumah, berharap cucunya kembali dalam keadaan sehat. Berapa lama pun itu, Yuan Louis akan setia menunggu hingga cucu kesayangannya kembali.
"Lalu, bagaimana dengan David dan Kakek? Mengapa mereka bermusuhan dalam hal bisnis juga?"
Jika mereka bermusuhan karena hal pribadi, ya, okelah, Elyana pun mengerti—itu karena kesalahpahaman. Tapi jika sampai bermusuhan dalam hal berbisnis, itu namanya berlebihan. Tidak seharusnya mencampurkan urusan pribadi dengan urusan bisnis.
"Itu karena ...."
"Karena apa? Cepat katakan?"
"Karena ... David telah membangun perusahaannya di kota Lyon. Dia membangun perusahaan itu dan perlahan menduduki posisi teratas yang selama ini di duduki oleh perusahaan Louis. Bahkan, perusahaan David membuat saham perusahaan Louis turun setiap bulannya. Sepertinya, dia ingin membuat kita semua bangkrut!"
"Apa???" Elyana hampir mati di tempat mendengar semua cerita dari Rosyana. Dari mulai perceraian, hingga permusuhan antara David dan kakeknya.
Ternyata, selama lima tahun ini banyak sekali yang terjadi di lingkungannya. Rasanya Elyana tidak sanggup untuk mengetahui semua itu.
"Lalu sekarang bagaimana?" Elyana bingung dengan hal itu. Juga ia sangat mengkhawatirkan keadaan kakeknya.
"Entahlah!" Rosyana mengangkat bahu—tak berdaya. "Aku pun tidak tahu."
"Tapi yang jelas, prioritas utama kita sekarang adalah Kakek!" balas Rosyana dengan pelan.

Komentar Buku (214)

  • avatar
    PucukTeh

    bagus sekali

    02/12

      0
  • avatar
    Nurul Hidayah Binti Azha

    Jalan cerita yang menarik

    06/11

      0
  • avatar
    Cidut Cidut

    bagusss

    10/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru