Dema kembali mencari keberadaan Dion dan Riyan. Ia gagal mengejar Laisa. Bukan... Lebih tepatnya Laisa sedang tidak ingin diganggu olehnya. Mungkin ada salah satu perkataan nya yang membuat Laisa tersinggung, sehingga membuat perempuan itu lebih memilih Anan daripada Dema. Dari tatapan nya tadi, Laisa sudah tahu jika Dema mengejar dirinya. Namun gadis itu hanya mengacuhkan nya saja. Apa yang salah dari perkataan nya?Apakah karena kejujurannya tadi tentang Pak Arya. Atau karena ada hal lain. Dema berpikir keras tentang itu, tetapi semakin dipikirkan maka semakin ia tidak mendapatkan jawaban. “Ahhh... Sial!” Gerutu pria tampan itu. Akhirnya ia memutuskan kembali ke kelas. Barangkali Laisa juga sudah kembali lagi kesana. Namun, ketika hendak kesana, Dema melihat kembali ruang musik. Dion dan Riyan tadinya meminta untuk meninggalkan mereka karena ini mengurus sesuatu. Mereka masuk di ruang itu. Dema melihat ke arah dalam ruang musik melalui kaca pintu yang transparan, ada tiga orang disana. Dion, Riyan dan satunya lagi... Pak Arya. Benar selama ini apa yang ia tebak! Pelakunya kemungkinan besar Pak Arya. Mereka berada di ruang itu hanya berdua. Lantas apa yang terjadi? Jika pelakunya benar Pak Arya, apakah ia telah melakukan sesuatu kepada Laisa sehingga membuatnya sangat murung seperti tadi? Lantas apa yang Pak Arya lakukan kepada Laisa? Itu yang masih menjadi pertanyaan besar. Jika tebakan Dema benar, ia akan menghukum Pak Arya dengan balasan yang setimpal Tanpa berpikir panjang, Dema mendobrak pintu itu dengan kemarahannya. Dion dan Riyan menatapnya tanpa henti ketika ia berjalan cepat semakin dekat. Dema berjalan ke arah Pak Arya dan bersiap menggunakan seluruh otot-otot nya untuk menghajar gurunya sendiri. Baginya, jika Pak Arya benar melakukan hal tidak senonoh kepada Laisa, maka ia tidak lagi dianggap sebagai guru. Dema akan meminta Mamanya untuk mengeluarkan Pak Arya dari jabatannya sekarang. Entah bagaimana pun caranya. “Hey, Dem! Jaga emosi lo! Jangan kemakan sama situasi tadi!” ucap Dion bangkit dari tempat duduknya. Sementara Pak Arya masih duduk dengan tenang. Ia sama sekali tidak panik dengan perbuatan Dema. Bahkan ia bersedia jika dipukul olehnya. Bagi Pak Arya, dirinya berhak mendapatkan itu semua. “Lepasin gue. Dia berhak dapet pukulan ini setelah apa yang dia lakukan sama Laisa!” ucap Dema membelot. Gerakan Dema yang hiperaktif membuat Dion kewalahan lantas meminta Riyan untuk membantu menenangkannya. Entah dengan memakai cara apapun. Pria itu jika sudah marah akan sangat sulit dikendalikan. “Tenang Dem, tenang! Kita bicarakan baik-baik!” ucap Riyan berusaha mengunci tangan Dema agar bisa diam. Namun sulit dilakukan. “Lepasin tangan gue, gue mau pukul dia!” Dema bersikeras untuk melawan. Jokkkkk!!! Pukulan keras tiba-tiba mendarat di pipi Dema. Pria itu selang beberapa waktu langsung diam sembari memegang pipinya yang sakit. Riyan berhasil mendaratkan pukulan di pipi bagian kanan nya. Untung saja tidak terlalu keras, sehingga tidak sampai membuatnya berdarah-darah. Riyan hanya bermaksud menyadarkan Dema dan membicarakan semua baik-baik. Namun pria itu malah bertingkah seperti tidak mau diperingati apapun. “Sorry Dem, gue nggak bermaksud!” balas Riyan. Ada raut penyesalan di balik gurat dahinya. Pasti sakit. Seharusnya ia menggunakan cara yang lebih halus untuk meredakan kemarahan Dema. “Udah-udah. Sini duduk Nak! Aku tahu kamu sudah melewati hal yang sulit tadi. Jadi kebawa emosi.” Ucap Pak Arya berusaha memahami keadaan Dema. Ia tadi pasti mengejar Laisa dan terjadi sesuatu diantara mereka. Dema masih diam. Ia menatap tajam Riyan yang tadi memukulnya. Ia kemudian diminta Dion untuk duduk disampingnya. Pak Arya terlihat memperbaiki kembali posisi duduknya dengan kaki kanan yang menyilang ke atas kaki kiri. “Hmm.. Sebelumnya saya minta maaf kepada kalian, geng F3, karena mungkin sudah menciptakan ketidaknyamanan dan kegaduhan ya”. Pak Arya mengulangi lagi kata-katanya seperti yang diucapkan kepada Dion dan Riyan sebelumnya. “Sebagaimana yang sudah kalian ketahui, saya memang mencintai Laisa. Saya menyukai dia sejak pertama sekolah disini. Dia gadis yang baik dan sopan, apalagi pintar.” Ucap Pak Arya. Dema berusaha menahan kecemburuan ketika Pak Arya memuji-muji perempuan yang ia sukai di depan nya. “Saya sama sekali tidak bermaksud mempermainkan dia atau menjadikan dia sebagai pelampiasan nafsu saya. Itu bukan. Hanya saja saya memang begini. Hormon ke-laki-laki-an saya akan lebih meningkat setiap bertemu dengan orang yang saya cintai. Saya mengakui itu. Jadi, mungkin karena Dion pernah melihat saya bernafsu kepada Laisa, jadi dia meminta Laisa menjauhi saya. Tetapi gadis itu benar-benar cerdas. Dia tidak akan mudah percaya dengan orang lain. Haha...” ucap Pak Arya kembali. “Pak!” balas Dion tiba-tiba. “Sorry, itu hanya becandaan saya biar kalian tidak terlalu tegang.” Ucap Pak Arya. Melihat F3 yang bermuka masam dengan ekspresi serius membuatnya urung bercanda untuk yang kedua kalinya. Mereka benar-benar tidak ingin kehilangan waktu berharga mereka, apalagi ini sudah waktunya masuk kelas. “Oke. Pada intinya itu. Saya mencintai Laisa. Namun karena dia masih berstatus sebagai murid disini, saya tidak bisa menjalin hubungan dengan nya. Mungkin saya harus menunggunya keluar dari sini.” Ucap Pak Arya. Nampaknya pria berusia 23 –an awal itu benar-benar mencintai Laisa sebagai perempuan, bukan sebagai adik atau siswanya sendiri. “Tidak bisa, Pak. Anda harus mengubur perasaan itu.” Balas Dema memotong pembicaraan Pak Arya. “Bagaimana Dem?” Pak Arya meminta penegasan kembali. “Saya yang pertama kali menyukai Laisa, dan saya yang harus memiliki nya.” Ucap Dema dengan tegas. Dari nada nya sudah sangat terlihat Dema menggunakan emosi dan keegoisan nya. Dion dan Riyan saling menatap. Ia tidak menyangka Dema, dengan usianya yang baru 16 tahun sudah berani mengungkapkan hal semacam itu di depan pria yang lebih dewasa kepadanya. Jika dalam tinju, mungkin mereka berdua layak disebut sebagai pasangan yang saling melawan untuk memperebutkan sesuatu. Kali ini yang diperebutkan bukan lagi uang, akan tetapi cinta si gadis bernama Laisa. Dion dan Riyan juga sempat bingung, mengapa Laisa sangat banyak sekali yang menyukai. Tidak hanya dari kalangan seangkatan, seperti Dema. Namun juga kakak kelas seperti Candra dan kalangan guru seperti Pak Arya. Mereka semua dari keluarga Kaya dan berada. “Kamu sudah bicara dengan Laisa tentang hal ini?” balas Pak Arya. “Belum, Pak. Tetapi akan saya bicarakan segera.” Ucap Dema. Kata-kata itu secara tidak langsung meminta Pak Arya untuk mundur dari Dema - pria yang baru berumur jagung. Pak Arya diam sejenak. Ia terlihat berpikir. “Kalau kamu berani menyakiti Laisa, jangan harap bisa mengambilnya lagi okey!” tegas Pak Arya. Ia memukul ringan dada Dema. Memilih untuk mengalah. Anak itu meringis. Kali ini ia berhasil memenangkan satu musuhnya untuk mundur. ** Hai para author dan readers. Kalau suka boleh dong minta follow, and reviewnya ya kakak-kakak. Plus hadiahnya juga boleh yah kaa. Thank you so much :) Semoga selalu diberi kesehatan ya kak. Finding me I Instagram: @kismun.th ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ini sangat bagus kalau bisa top op
25/09/2024
0mantap
20/08/2024
0god
23/06/2024
0Lihat Semua