logo text

Bab 49 Kemarahan Clara

“Seharusnya kamu tidak sekasar itu dengan dia, Wil!” ucap Clara. Gadis itu dari tadi hanya memanyunkan bibir ke depan. Kesal dengan sikap William yang kekanak-kanakan. William tadi sangat terlihat membenci Thyme. Bisakah dia bersikap yang lebih dewasa ketika menghadapi orang yang ia benci? Bukan menggunakan Clara sebagai alasan? Atau setidaknya jika asisten itu membenci Thyme, jangan melibatkan Clara di dalamnya. Gadis itu tidak ingin menjadi korban kebencian dan kemarahan siapa pun. Lagi-lagi, Clara yang akan menenangkan Thyme sedang William yang melakukan kesalahan. Ia sudah lelah berkali-kali melakukan hal sama setiap William berulah.
Dulu, ketika ia masih berada di Prancis, William juga sering mengatakan hal kurang sopan kepada clinet dan fotogrfer nya. Sampai Clara dibuat malu karena mereka mengeluh kepadanya.
‘Kok, kamu mempekerjakan orang seperti itu Clara? Dia sangat emosional sekali’ ucap salah satu klien.
‘Kalau aku jadi kamu, pasti sudah ku pecat saja. Dia sangat keterlaluan.’ Ucap klien yang lain.
‘Apa jangan-jangan dia menyukaimu dan itu bentuk dari rasa suka. Hahaha..’ canda salah satu teman Clara.
Clara hanya manggut-manggut dan tersenyum setiap ada klien atau sahabatnya yang berkata demikian. Ia berusaha bersabar dan menutupi kesalahan William dengan permohonan maaf.
Clara melipat kedua tangan di depan perutnya. Ia tidak melihat William dari spion mobil depannya. Hanya memalingkan wajah ke arah jalan. Lebih baik ia melihat pemandangan di sepanjang jalan dari pada berbincang dengan William. Semakin hari, sikap William kepadanya semakin over. Itu yang membuat Clara tidak nyaman.
“Aku kesal aja, karena dia tidak peduli dengan kamu.” Balas William. Kedua tangannya masih sibuk memegang setir mobil. Tadinya, ia menyetel musik cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Clara. William memang terkenal dengan pria yang keras kepala. Ia cenderung memilih mood yang baik untuk berbaikan dengan lawan nya. Bahkan pria itu sering dikira ringan tangan karena suka memukul atau menggunakan cara kekerasan dalam memperlakukan orang lain.
“Bukan dia yang salah. Aku saja yang kurang fokus sampai tadi salah terus.” Balas Clara. Ia masih saja membela Tyhme. Itu membuat William tidak suka dengan cara nya.
“Aihh... Tidak fokus karena laki-laki itu kan?” balas William dengan cepat.
Clara kesal. William selalu saja begitu dengan sikap kasar nya. Padahal dia tahu siapa nama pria yang dimaksud. Hanya saja enggan menyebutkan namanya.
“Laki—laki siapa? Kalau ngomong yang jelas Wil, sebut nama nya kalau kamu tahu!” Ekspresi Clara saat ini membuat Wil agak terganggu. Dimana letak kesalahan nya? Mengapa hanya perihal dia tidak menyebut nama lantas jadi perseteruan? Apakah ia yang harus disalahkan terus menerus oleh Clara?
“Kok kamu jadi sensitif begini, Clara?” balas William. Tidak ada lagi kata ‘Nona’ jika William sudah marah. Sepertinya perkara ini harus diselesaikan dengan fokus tinggi dan pikiran yang dingin. Ia mencari celah untuk menepi.
“Lagian kamu. Gampang kan tinggal sebut nama. Apa emangnya salah dia sama kamu, sampai akhirnya kamu begitu benci sama Thyme.” Teriak Clara tidak terima dengan sikap dan perkataan William.
“Apa yang mau kamu lakukan?” balas Clara ketika ia menyadari bahwa William benar-benar menepikan mobil nya.
Hari ini pikiran nya sudah kalut. Ia belum menyelesaikan masalah dengan Anan yang tidak sengaja mendengar apa yang dirinya dan Thyme lakukan. Ditambah saat ini William mencari gara-gara dan lagi – lagi, Clara yang harus menyelesaikan nya.
“Turun Clara. Kita ngobrol di kafe itu.” Balas William. Ia benar-benar memberhentikan mobil di tepi jalan lantas menunjukkan sebuah kafe gaya kekinian yang sedang sepi pelanggan. Kafe itu berlantai dua. Sepertinya mereka belum pernah berkunjung kesana juga.
“Kenapa harus turun. Aku enggak mau.” Balas Clara dari jok belakang mobil. Gadis itu bersikeras menolak jika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang bisa menggoyahkan nya.
“Kenapa nggak mau? Aku nggak mau perkara ini berlanjut sampai seterusnya. Kita selesaikan hari ini.” Ucap William. Ia benar-benar memarkirkan mobil di tepi jalan, lantas keluar dari mobil.
“Aku enggak mau, Wil! Jangan paksa aku!” teriak Clara. Tangan yang hendak digenggam William kemudian ditepis. Clara menepi ke sisi jok yang lain agar William tidak bisa menariknya sembarangan.
Sikap mereka berdua dilihat oleh para pelanggan yang ada disana. Mereka bertanya-tanya dengan rekan semeja, apa yang sedang terjadi dengan pria dan wanita itu. Clara dan William sudah seperti pasangan saja jika bertengkar seperti itu.
William masih tidak putus asa. Ia berusaha meminta Clara untuk keluar dari mobi. Dibukanya pintu mobil Clara, lantas William menarik tangan Clara. Gadis itu masih tidak putus asa juga. Ia semakin menolak dan ingin tetap berada di mobil.
“Ayo Clara!” ucap William membujuk Clara dengan cara nya yang cenderung memaksa.
“No!! Aku mau pulang aja!” balas Clara dengan teriakan nya. Ada tangisan dari teriakan itu. Keringat deras juga mengucur dari wajah Clara. Ia takut bercampur khawatir. Entah karena apa. Apakah ia takut dengan William?
Akhirnya William mengalah. Harusnya ia paham, jika Clara sudah marah, maka tidak akan ada yang bisa menggugatnya. Pria itu masuk lagi ke dalam mobil. Sebelum kembali menyetir, ia nampak memberi tukang parkir beberapa koin sebagai balasan sudah menjaga mobilnya meski hanya beberapa menit.
“Terus kamu mau apa, Clara?” ucap William. Kali ini nada bicara nya melunak. Jika ia menggunakan cara yang sama dengan Clara, maka gadis itu juga akan melakukan hal yang sama. Entah mengapa, sejak dari awal Wil bertemu Clara, gadis itu baru kali ini semarah dan sekeras kepala ini.
“Aku mau pulang. Mau tidur.” Balas Clara singkat. Fiks. Clara benar – benar marah kepada William.
Klingg Kling! Sebuah chat masuk di ponsel Clara. Chat dari Thyme. Ia bertanya apakah Clara sudah sampai di rumah atau belum. Gadis itu dengan cepat menjawab pesan dari Thyme – kekasih nya. Ia sejenak melupakan kemarahan nya dengan William.
William melihatnya dari kaca depan. Ia melihat Clara dengan tatapan sinis karena raut wajah nya mulai tenang karena pesan itu.
“Dengan orang lain kamu bisa bertingkah seperti itu, tetapi dengan ku saja kamu begitu dingin dan keras kepala. Apa itu Clara Hhh!” ucap William dengan sarkas nya.
Clara diam. Dia tidak menjawab pernyataan William. Itu tidak penting baginya. Kekecewaan nya mungkin lebih besar dari pada kepedulian nya saat ini. Jika gadis itu terus memaklumi apa yang dirinya lakukan, maka Wil bisa bertingkah lebih dari tadi. Ia mungkin saja lebih possesive dan akan selalu mengikuti langkah Clara, kemanapun dirinya pergi. Clara tidak suka dengan cara yang seperti itu.
Mereka sudah hendak sampai di rumah. Mungkin 5 menit lagi sampai. Gang – gang menuju rumah mulai terlihat. Clara mendengus. Ia lega karena – mungkin sebentar lagi terbebas dari keberadaan William.
“Lo benar-benar marah sama gue?” ucap William. Nada bicaranya memang sengaja dipelan kan. Mungkin meminta belas kasih Clara agar memaafkan nya.
Maaf?? Apakah benar William berpikir untuk minta maaf? Dari tadi Clara sudah menunggu kata-kata itu terucap dari bibir nya. Tetapi sia-sia. William benar-benar tidak mengucapkan satu patah kata pun tentang permintaan maaf kepada nya. Dari mana Clara harus memaafkan jika seperti itu. Kali ini bukan Clara yang salah, namun William. Untuk apa Clara harus memulainya terlebih dahulu!
William memang sedingin itu. Terkadang membuat Clara tidak menyukai sikapnya.
Gadis itu tidak menjawab lagi dan langsung keluar dari mobil dengan langkah cepat.
“Clara!!!” teriak William. Ia turun dari mobil mengikuti langkah Clara. Mereka saat ini sudah berada di depan rumah Clara. Clara sepertinya sedang sendiri di rumah, orang tuanya masih berada di Prancis.
“Apalagi, Wil. Gue mau istirahat!” ucap Clara lemas bercampur kesal dengan William.
“Maafin gue!” balas William tiba - tiba sembari memegang tangan Clara. Akhirnya kata itu keluar dari mulut William. Itu yang sebenarnya ditunggu Clara dari tadi. Namun apa maksud dari pria yang memegang tangan seorang perempuan? pikir Clara.
Clara masih diam. William membuka mulut, pembicaraan nya belum selesai.
“Sebenarnya, gue melakukan itu karena gue suka sama lo, Clara.”
**
Hai para author dan readers. Kalau suka boleh dong minta follow, and reviewnya ya kakak-kakak. Plus hadiahnya juga boleh yah kaa. Thank you so much :) Semoga selalu diberi kesehatan ya kak.
Finding me I Instagram: @kismun.th
***

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Agus

    ini sangat bagus kalau bisa top op

    25/09/2024

      0
  • avatar
    FahriMuhammad

    mantap

    20/08/2024

      0
  • avatar
    Mohamad YusufRendi

    god

    23/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru