Berlatih selama sebulan lebih memberikan manfaat yang kurasakan sendiri di tubuhku. Aku jadi jarang terkena flu, dan tubuhku terasa kencang. Bobot tubuhku pun berkurang sebanyak enam kilogram. Beratku yang semula tujuh puluh kilogram, kini menyusut jadi enam puluh empat kilogram. Aku jadi menyesal baru mengenal olahraga. Kenapa tidak dari dulu? Olahraga membuat perasaan di hatiku sedikit lebih baik dan menganggap bahwa semua hari sama menyenangkannya. Latihan yang intens membuatku tidak terlalu dekat lagi dengan anak-anak. Di kelas, aku sering menghabiskan jam istirahatku untuk tidur atau menyalin catatan jika aku tak sengaja tertidur saat jam pelajaran berlangsung. “Ayo ke kantin bersama!” seru Rikky di depan kelas. “Kalian saja, ya. Aku ingin di kelas.” Lagi, mereka pergi ke kantin tanpa kehadiranku. Yang pasti, keengganan untuk sekedar ke kantin bersama mereka membuat fisik dan perasaanku seolah seimbang pada tempatnya. Aku menatap lekat langit yang terlihat dari celah jendela kaca ruang kelas. Langit itu ditemani kumpulan awan kecil yang tak rakus ingin menonjolkan diri. Ukuran mereka sama rata. Memandang langit itu membuatku ingin waktu berjalan dua kali lebih cepat. Aku ingin cepat-cepat pulang dan berlatih sampai malam. ***
Suara gemerisik dari kantung plastik tiba-tiba membangunkan lelapku yang telah berlangsung selama lima belas menit. Tangan seseorang seperti meletakkan sesuatu di mejaku.
Kepalaku mendongak dan melihat bahwa seseorang datang memberikan dua buah beng-beng.
“Akhir-akhir ini kamu terlihat lelah,” ucap Liana lalu duduk di kursi kekasihnya, Beno.
“Tidak, kok. Hanya perasaanmu saja.”
“Serius. Aku tidak mengada-ngada. Tubuhmu jadi lebih kurus, matamu sayu dan kerjaanmu di sekolah saat istirahat hanya tidur tanpa pernah mau bergabung dengan kami.”
“Yang lain di mana, Li?” Aku mengalihkan obrolan.
“Masih di bawah. Aku sengaja naik lebih dulu untuk memberikan ini padamu,” telunjuknya mengarah pada dua beng-beng yang diberikannya tadi.
Entah kenapa, mendengar alasannya untuk naik kelas lebih dulu, bukan membuatku senang, malah membuat perasaanku semakin sakit.
“Li, aku tidak ingin menimbulkan rasa curiga pada Beno. Kalian sudah resmi berpacaran. Jadi, kumohon, kamu tidak perlu membawakan apapun untukku.” Kalimat tegas spontan keluar dari bibirku. Jelas, diperhatikan dengan perempuan yang sudah memiliki pasangan, bagiku sangat menyakitkan. Aku tak ingin diberikan harapan apapun. Walaupun aku tahu, kalau Liana berniat baik padaku.
Hanya saja, kepala ini tak bisa berpikir dengan jernih lagi. Semua hal yang sudah kuperjuangkan untuk belajar melepaskannya, akan runtuh jika aku tidak berkata demikian.
“Astaga, Rian. Aku hanya mengkhawatirkanmu sebagai teman. Tidak lebih. Aku juga tahu kalau Beno adalah pacarku.” Liana membela diri. Wajahnya nampak sedikit terkejut dengan ucapanku.
“Aku tidak perlu dikhawatirkan. Aku bisa pergi ke kantin sendiri jika aku ingin makan.”
“Rian, aku hanya––“
“Sayang, beng-bengnya sudah diberikan?” Beno tiba-tiba muncul di muka kelas. Rikky dan Sela mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan masuk kemudian menghampiri kami.
“E-eeehhh.” Lidah Liana seolah tercekat. Aku sendiri cukup kaget dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba sehingga membuat kami salah tingkah.
“Sudah diberikan belum?” Beno merendahkan tubuhnya kemudian memandang wajah Liana yang tertunduk kebingungan.
“Sudah kuterima.” Tanganku menggoyang-goyangkan dua beng-beng yang diberikan tadi sambil menampilkan cengiran tidak jelas pada mereka untuk menutupi kekikukan tadi.
“Dimakan sekarang, Yan. Tubuhmu jadi lebih kurus dibandingkan beberapa waktu kemarin.”
“Terima kasih, Ben.”
Setelah itu, Beno merangkul Liana dan mengajaknya untuk berduaan di selasar sekolah. Dari belakang, mereka tampak serasi sebagai pasangan kekasih.
“Kau yakin sudah berhasil melupakannya?” Rikky mendekatkan mulutnya ke dekat telingaku.
“Sedang berproses untuk itu, Rik.”
“Semangat, Yan. Kau pasti bisa melaluinya.” ***
Malam hari saat latihan, pikiranku sangat tidak fokus. Aku sering tertinggal dan gerakanku terkesan asal-asalan. “Kau lelah? Apa perlu kita istirahat sebentar?” tawar Rina. Kami duduk selonjoran di atas matras sisa yang dibiarkan begitu saja di sisi paling ujung gedung olahraga ini. Aku seperti tak bertenaga untuk memperagakan jurus-jurus seperti biasa. “Hari ini aku malas sekali latihan,” kataku. “Kenapa?” “Aku hanya ingin tidak melakukan apa-apa malam ini. Aku malas melakukan sesuatu dan enggan melakukan apapun hari ini.” “Apa kau punya masalah? Dengan pacar?” Aku tertawa kecil, lelaki sepertiku tidak mungkin punya pacar. Mengungkapkan perasaan sangat berat bagiku. “Berpacaran saja aku belum.” “Lalu?” “Aku merasa bersalah dengan ucapanku tadi pagi pada seseorang. Menurutku, ucapan tersebut cukup kasar dan mungkin sangat menyakitkan hatinya.” “Kalau begitu, minta maaflah. Setiap manusia tidak ada yang sempurna. Pasti dia akan memaafkanmu.” “Masalahnya tidak sesederhana itu. Aku menyukainya, tapi dia berpacaran dengan sahabatku. Aku kalah sebelum berperang. “Rian, kalau itu masalahnya, kupikir ucapanmu tadi merupakan gerbang utama yang harus kau tutup selamanya. Dengan begitu, kau bisa merelakannya.” Aku menimbang perkataan Rina yang terdengar masuk akal. Mungkinkah yang kulakukan tadi merupakan pintu terakhir yang mesti kututup untuk merelakannya? “Setelah ini, kau pasti bisa melaluinya. Ayo kita berlatih lagi!” *** Pukul setengah sepuluh malam, kakiku baru menginjak halaman rumah. Jurus tangan kosong, golok, dan toya, semuanya kubabat habis hari ini. Setelah mendengarkan saran dari Rina semangatku jadi berkobar. “Sudah pulang, Nak?” tanya Ibu yang masih asyik menonton siaran favoritnya. “Bagaimana latihan malam ini? menyenangkan?” “Melelahkan, Bu.” “Lho, kenapa begitu? Bukannya kamu senang belajar silat?” “Senang memang, Bu. Tapi, yang namanya olahraga pasti melelahkan, Bu. Tidak ada olahraga yang tidak melelahkan.” “Tapi, Nak. Badanmu jadi lebih kencang sekarang. Anakku jadi makin ganteng berkali-kali lipat!” “Olahraga memang membuat tubuh kita menjadi kencang dan bugar, Bu. Aku menyesal baru sekarang menyukainya.” “Bukannya tadi bilang melelahkan?” canda Ibu. “Melelahkan sekaligus menyenangkan, Bu. Bisa menambah teman dan pengalaman pastinya.” “Sekarang, kamu harus rajin berlatih. Ibu ingin kamu mendapat juara. Kira-kira, anak Ibu berhasil dapat juara tidak ya?” “Ah, Ibu,” gerutuku. “Belum genap dua bulan aku belajar. Jangan terlalu banyak berharap pada.” “Berharap kan boleh-boleh saja. Kalau nanti hasilnya pun lain dari harapan, Ibu akan tetap menerimanya. Tidak ada juga kan harapan yang buruk? Pasti semua mengharapkan yang terbaik.” “Kalau aku kalah, Ibu tidak akan kecewa?” Ibu menghampiriku dan mengelus rambutku yang masih basah karena keringat sehabis latihan. “Seorang Ibu tidak akan pernah kecewa dengan anaknya kalau apa yang dilakukan anaknya merupakan suatu hal yang benar dan untuk kebaikan bagi kehidupannya.” “Terima kasih, Bu.” Aku langsung memeluknya tak peduli dengan bajunya yang basah juga karena keringat. Belum lima detik aku memeluknya, Ibu mendorong tubuhku ke belakang. “Mandi sana! Keringatmu harum sekali!” Aku tertawa kecil lalu bergegas menuju ke kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti. Kuamini harapan Ibu dalam hati. Aku pun berharap demikian. Semoga di perlombaan nanti bisa mendapatkan juara. Meskipun aku tahu, kecil kemungkinan mengingat aku belum memiliki pengalaman. “Bukankah harapan dari seorang Ibu merupakan doa terbaik yang akan didengar oleh sang pencipta?”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
semoga dapetnya cepet
23/07/2025
0bagus banget ceritanya
12/07/2025
0bagus ceritanee
23/06/2025
0Lihat Semua