Beranda/Cinta Dan Rahasia/
Bab 23 BELAJAR MOTOR
Mendapat juara III sedikit banyak telah mengubah hidupku. Ayah dan Ibu mengizinkanku untuk belajar mengendarai sepeda motor. Usiaku sebentar lagi menginjak tujuhbelas tahun, mereka berjanji akan membelikanku sepeda motor ketika aku sudah memiliki SIM.
Siapa yang tidak senang dengan janji yang diberikan itu? Terlebih untuk seorang anak yang dikekang sepertiku ini. Aku senang bukan kepalang. Kepala ini mulai membayangkan hal-hal keren yang dulunya tak bisa kuwujudkan.
Bagaimana jika aku membuat sebuah klub motor? Haha. Khayalanku memang terlalu jauh karena terlampau senang dengan keadaan yang berbalik mendukungku.
“Memangnya Ayah akan membelikanku motor seperti apa?” tanyaku penasaran. Dalam hati, aku tidak mau jika motor yang dibelikan adalah motor matic. Lelaki yang keren, akan luntur seketika ketika membawa motor perempuan.
“Hmmm. Honda Beat?” Enteng sekali Ayah mengucapkannya.
“Tidak! Aku ingin motor bebek. Aku tidak ingin motor matic!” kataku sungguh-sungguh. Entahlah, di sekolah, bahkan Rikky pun memakai motor matic, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Menurutku, seorang lelaki yang mengendarai motor matic akan luntur kelaki-lakiannya. Itu murni menurutku.
“Hmm..” Ayah mengangguk-angguk. Seolah memahami apa yang kumaksud. “Motor bebek? Boleh saja. Yang penting, kamu belajar dulu yang benar dengan Genta.”
“Ah, itu persoalan gampang!” tercetus begitu saja kalimat tersebut dari mulutku.
Semenjak menjuarai O2SN tingkat kota, meski hanya juara III, diri ini seperti diperbarui. Segala sesuatu yang kupandang sulit, menjadi lebih mudah untuk dilakukan.
Mungkinkah ini yang disebut sebagai tumbuhnya rasa percaya diri setelah sebuah pencapaian terjadi dalam setiap hidup manusia?
Genta diminta Ayah untuk menjadi tutorku. Setiap sore, di lapangan perumahan, Genta dengan sabar mengajari. Ia memberitahu bahwa pertama kali mengendarai sepeda motor harus menggunakan gigi dua. Tidak boleh gigi satu karena takut sepeda motornya mengejut tiba-tiba apalagi bagi pemula sepertiku. Naik sepeda saja aku tidak lancar. Ini sok jago belajar motor.
“Kalau kau agak ragu-ragu, akan sulit menguasainya. Jangan canggung! Biarkan saja kalau jatuh, belajar motor itu harus jatuh dulu agar bisa menguasai!” bentak Genta saat aku ragu-ragu.
Bagaimana tidak ragu-ragu? Aku sendiri baru menyadari bagaimana rasanya duduk di belakang stang motor, menghadap jalan serta melihat roda motor yang menggelinding kala aku menaikkan gas secara perlahan.
Inilah momen yang menegangkan. Aku takut menabrak sesuatu dan merugikan orang lain, atau siapa saja yang kebetulan lewat. Pikiran kalut tentang hal-hal buruk mulai bermunculan dan aku tidak tahu bagaimana mengatasinya.
“Aku takut motormu lecet atau rusak!” Tidak enak hati rasanya kalau aku sampai menjatuhkan motor Genta. Sudah meminjam, merusak lagi, apa kata orang nanti. Lebih-lebih kalau sampai mencelakakan orang lain. Ah, bukan main rasanya jika sampai itu terjadi.
“Memangnya masalah? Tidak masalah buatku!" sergahnya. "Lagi pula ini hanya motor butut. Harganya tak sampai tiga juta. Ibumu selalu memasak makanan yang enak untukku. Ini tidak sebanding dengan apa yang keluargamu lakukan. Apa kau tidak berniat untuk membawa kendaraan sendiri ke sekolah?”
“Aku niat!” Tiba-tiba bayangan Liana muncul begitu saja dalam kepala. Meski memang ia sudah berpacaran dengan Beno, tapi di dalam hatiku, masih terbesit untuk tebar pesona kepadanya. Terlebih-lebih membawa motor ke sekolah.
“Ya kalau begitu jangan ragu-ragu! Kalau kau canggung, akan memakan waktu yang lebih lama!”
Melihat raut kesal Genta yang makin sangar, akhirnya aku makin memberanikan diri. Aku jadi tahu ternyata memegang stang motor dengan tegang malah makin membuat motor tak seimbang. Kata Genta, mengendarai motor harus santai. Tidak boleh terlalu tegang dan kaku.
Dua minggu setelahnya, Genta menjemputku ke sekolah. Dan untuk pertama kalinya ia mengizinkanku untuk mengendarai sampai ke rumah.
“Serius? Kau tidak bercanda?” Aku terkejut bukan main. Apa yang dikatakannya seperti jebakan antara hidup dan mati.
"Latihan tanpa latihan percuma bukan?" pancingnya.
"Kalau di jalan terjadi sesuatu bagaimana?" Kekhawatiran terus saja berseliweran. Aku bahkan mengkhayal kalau di depan sana menabrak pohong di persimpangan.
“Tidak akan,” ucapnya santai. “Kau pasti bisa.”
"Besok saja. Hari ini aku belum siap."
Genta tersenyum simpul. "Kalau aku membiarkanmu menunda, besok pasti kau akan berkata hal yang sama. Intinya, kau tidak akan pernah memulai."
Aku tercenung. Benar apa yang dikatakannya. Jika hari ini aku menunda, besok pasti akan sama juga. Apa boleh buat, tak ada pilihan lain. Kalau hari ini aku tidak berani, pasti selamanya akan merasa menyesal.
Di sepanjang perjalanan, beberapa kali aku menerima makian klakson dari pengendara lain. Aku lupa menghidupkan lampu sign saat ingin berbelok. Aku juga sering menghentikan motor secara mendadak. Aku panik saat berada di lampu merah.
“Bagaimana hari ini?” tanya Genta saat kami sudah tiba di depan rumahku.
“Aku kapok.” Bukan kapok mengendarai sebenarnya, tapi aku takut mendengar klakson lagi. Seakan-akan akulah penghambat lajunya lalu lintas. Beberapa kali aku tersentak saat menunggu di lampu merah. Baru saja lampu merah berubah menjadi hijau, teriakan klakson sudah terdengar beberapa kali. Aku kaget setengah mati.
“Baru sehari mencoba kau sudah menyerah? Pantas saja kau kalah dengan Beno,” ledeknya.
“Apa maksudmu?” Nada bicaraku mulai meninggi.
"Hahaha. Aku salah bicara."
“Besok jemput aku!” kataku lalu meninggalkannya.
Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan sedikit kesal. Silat saja aku bisa mendapat juara dengan berlatih mati-matian selama enam bulan. Kalau mengendarai motor aku tidak bisa, lebih baik aku berhenti silat saja.
Besok pagi, sesuai janjiku, aku mengendarai motornya Genta. Kali ini, aku lebih hati-hati dibanding yang kemarin. Aku menghidupkan lampu sign, memperhatikan lampu merah dan melihat spion sebelum berbelok.
Meski masih ada satu dua klakson, tapi tidak apa. Setidaknya lebih baik daripada yang kemarin. Aku akan mengendarai lebih baik lagi setiap harinya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (76)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
semoga dapetnya cepet
23/07/2025
0bagus banget ceritanya
12/07/2025
0bagus ceritanee
23/06/2025
0Lihat Semua