Dalta membawa Cilla ke rumahnya. Seperti ucapan Bunda yang ingin Cilla untuk lebih dekat dengannya. Setelah menikah Cilla tinggal bersama Gean yang memang sudah memiliki rumah dari Ayahnya yang sudah tiada. "Lo mau minum apa?"tanya Dalta. Gadis itu menyimpan tas sekolahnya beserta box donat jualannya. Cilla tersenyum kecil,"apa aja." "Oke tunggu bentar ya gue panggil Bunda dulu." Dalta kini beralih ke kamar Bunda dan menemukan Bunda sedang istirahat. "Bun, ada Cilla." Bunda yang sedang membereskan lemari pun mengangguk dan keluar dari kamar. Ia tersenyum begitu melihat Cilla yang kini perutnya sudah membesar. "Halo sayang." Bunda duduk di samping Cilla dan mengelus rambut semu coklat milik gadis itu. Cilla tersenyum,"halo Bun." "Sekarang berapa bulan sayang?"tanya Bunda. Cilla mengelus perutnya. Kemudian menatap Bunda lagi. "enam bulan Bun,"jawab Cilla. Bunda tersenyum,"Bunda boleh elus perut Cilla?"tanya Bunda yang tentu di angguki oleh Cilla. Bunda mengelus perut Cilla,"yang kuat ya sayang, Bunda tau pasti berat buat kamu dan cucu Bunda, tapi Bunda tau kamu kuat, Bunda mengerti apa yang kamu rasakan, semua akan baik-baik aja, nggak ada yang kamu takutkan, nggak ada yang boleh menghakimi kamu, Bunda ada di sisi kamu ya sayang?" Bunda mengatakannya dengan nada lembut. Ia kini kembali mengelus punggung Cilla dan tersenyum. Cilla ikut mengangguk dengan mata berkaca. Ia ingin mendapatkan ucapan itu. Mendapat kata-kata bahwa tidak ada yang boleh menghakimi Cilla di usianya yang masih sedini ini. Mentalnya yang masih rapuh dan juga lemah, walaupun Cilla terlihat kuat di luar. Cilla berharap bahwa Bunda juga Ibunya. "Aku berharap semua baik-baik aja Bun, biarin dosanya aku yang tanggung, anakku jangan." Cilla menangis, Bunda mengangguk,"kamu nggak salah, semua udah mendapatkan hukuman, orang-orang yang menyentuh kamu nggak akan bisa keluar dari penjara, nggak akan bisa." Bunda kembali memeluk, Dalta membawa jus jeruk dengan beberapa camilan. Kakak iparnya ini butuh asupan yang manis. Dalta tersenyum melihat perut buncit Cilla, ia akan mendapat keponakan yang lucu dan ia sangat tak sabar. "Minum dulu sayang,"ucap Bunda. "Jangan nangis ya, kasian dede bayinya nanti ikut sedih juga,"tambah Bunda yang diangguki oleh Cilla, gadis itu menghapus air matanya. "Setelah sama Gean, nggak ada yang boleh bikin kamu nangis, kalo sampe ada yang bikin nangis kamu, Bunda bakal turun tangan dan hajar orang itu!" Bunda mengepalkan tangannya dengan semangat. Cilla terkekeh bersama Dalta. Gadis itu membuka ponselnya untuk menghubungi Gean yang sedang ada rapat osis dan tak bisa menemani Cilla. "Ayo kita jalan-jalan, Bunda kemarin baru aja gajian, ayo Dalta kamu siap-siap,"titah Bunda yang jelas membuat Dalta senang karena jarang-jarang mereka pergi belanja bersama. "Okey Bun, aku siap-siap dulu!" Dalta segera bersiap, gadis itu menggenakan kaos croftop dan celana jeans longgar. Tak lupa ia menggenakan gelang dan juga Jam tangan kesayangannya. Segera Dalta keluar dari kamar kemudian menemui Bunda dan Cilla. Mereka bertiga memesan taksi online dan pergi menuju mall terdekat. Mereka sudah berencana untuk berbelanja. "Kita beli peralatan bayi ya?"ajak Bunda begitu sampai di salah satu pusat perbelanjaan didalam mall. Cilla menggeleng kecil,"nggak usah Bun, aku beli nanti aja,"tolak Cilla yang dibalas senyuman oleh Bunda. "Bunda beli buat cucu Bunda, terima ya?"pinta Bunda. Dalta mengangguk setuju,"iya Cil terima ya!" Dalta menggandeng Cilla masuk dan membawa trolly. Dalta mendekat kearah kasur bayi dengan antusias. Memilih kasur bayi yang berwarna netral karena tak tahu anak Cilla nanti perempuan atau laki-laki. Bunda juga memilih bak mandi di dekatnya, Cilla tersenyum senang, ternyata ia diterima di keluarga Gean. "Lo mau beli yang warna biru atau coklat?"tanya Dalta begitu memberi pilihan untuk bouncer yang akan dibelinya. "Coklat aja,"jawab Cilla tapi langsung terhenti begitu melihat harganya. "Gausah deh, nanti aja belinya,"tolak Cilla membuat Bunda kembali mengelus punggungnya. "Gapapa sayang, ini semua buat cucu Bunda, buat keponakan Dalta, kita pingin yang terbaik buat dia,"ucap Bunda dengan suara lembut. Itu membuat Cilla kembali membaik. Dan ia pun akhirnya mengangguk. "Makasih Bun,Ta." Akhirnya mereka berdua pun memilih lagi baju-baju. Dalta begitu semangat dan memilih hampir semuanya, kapan lagi ia memilih baju untuk keponakannya. Dalta kini beralih ke peralatan makan dan skincare. Ternyata menyenangkan juga memilih peralatan bayi. Akhirnya mereka beres dengan semua belanjaan kini mereka memilih untuk makan di salah satu makanan cepat saji di dalam mall. Dalta memakan burger miliknya sementara Bunda membeli kentang goreng dan Cilla yang hanya membeli lemontea. "Kapan kamu periksa lagi?"tanya Bunda sambil meminum floatnya. Cilla menoleh seraya tersenyum. "Tanggal 9 nanti Bun,"jawab Cilla dengan senyuman yang tak pernah luntur. Bunda mengangguk kecil, ia menatap Dalta. "Kalo Gean sibuk, kamu berangkat sama Dalta ya? jangan pergi periksa sendirian,"titah Bunda yang dijawab anggukan oleh Cilla. "Siap Bun, nanti aku minta Dalta anter kalo Gean gabisa,"jawab Cilla yang mendapat acungan jempol dari Dalta. "Lo beneran keluar sekolah Cil?"tanya Dalta yang begitu menyayangkan. Cilla mengangguk lagi,"mau gimana lagi Ta? gue nggak mungkin sekolah dengan keadaan kaya gini, gue udah ikhlas sekarang." Dalta terdiam, sementara Bunda mengangguk kecil,"kamu tetap jadi kebanggan kami Cilla, jangan meninggalkan kami ya?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagusss
20/04
0bagus
19/04
0Bagus
20/03
0Lihat Semua