Dalta mengurut tangannya begitu selesai membuat donat pesanan orang. Seratus donat dalam waktu semalaman memang pengalaman baru untuknya. Bunda belum pulang kerja dan ia harus menyelesaikannya sebelum Bunda pulang. Setelah semua selesai, Dalta segera berganti baju dan mengantar donat itu menggunakan motor beat milik Gean sebelum ia membeli motor ninja kesayangannya. Setelah tahu bahwa Gean adalah Kakaknya, Dalta meminta izin untuk meminjam motor beat merah itu tapi Gean malah memberikannya secara percuma. Tentu saja Dalta langsung menerimanya dan segera membuat kartu mengemudi agar semakin maksimal dalam melakukan pekerjaannya. Dalta bertekad untuk membeli toko yang diincarnya, ia harus mencapai tujuannya itu. Kini motor Dalta berhenti di depan rumah dan segera Dalta memencet belnya. Seorang lelaki keluar dari rumah dan tersenyum pada Dalta. "Pesenan Mami ya?"tanyanya ramah. Dalta mengangguk. "Ayo masuk, Mami ada di dalem." Dalta mengangguk dan mengikuti lelaki itu. Rumah mewah itu memang memesan donat untuk acara arisan keluarga besok katanya. Dan, ya walaupun donat Dalta tidak mempunyai nama besar tapi kualitas dan rasanya sangat enak. "Mamiiii pesanan Mami udah dateng." Seorang perempuan glamor turun dan tersenyum manis kearah Dalta. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat. "Halo Dalta, ini pesanan Tante ya?"tanya Wanita itu sembari menerima kotak donat yang Dalta bawa "Iya Tante Risma, Dalta kesini bawa pesenan Tante." Dalta membantu menyimpan kotak itu di atas meja dan perempuan yang dipanggil Dalta sebagai Tante Risma itu tersenyum lagi. "Aduh makasih ya cantik, ini uangnya, coba kamu hitung dulu." Dalta mengangguk dan menghitung sisa uang yang Tante Risma beri, sebelumnya memang Tante Risma memberikan dp setengahnya. Dalta menghitung dengan teliti kemudian mengangguk kecil. "Udah pas Tante, kalau begitu Dalta pulang dulu ya Tante,"pamit Dalta namun Tante Risma menahannya. "Ini udah malem bentar, Saka tolong antarkan Dalta pulang." Ternyata lelaki tadi bernama Saka. Dan yang disuruh pun langsung memberikan gestur hormat. "Siap Mami!" Dalta mengibaskan tangannya,"gausah repot-repot Tante, Dalta bawa motor kok,"tolak Dalta halus. Ia benar-benar merasa tak enak. "Udah, gue anter ayo sekalian mau keluar juga,"ucap Saka sambil membawa kunci mobil miliknya. "Tuh, sana gabaik loh anak cewek diluar malem sendiri,"ucap Tante Risma yang mau tidak mau Dalta harus menurut. Akhirnya Dalta pasrah,"iya Tante, Dalta pulang dulu ya assalamualaikum." "Waalaikumsallam." *** "Jadi ini rumah lo?"tanya Saka yang turun dari motor Dalta setelah mengantarnya. Ya, Saka tadinya akan mengantar Dalta naik mobil dan motornya akan dibawa oleh supir tapi Dalta tak mau akhirnya Saka yang membawa motor Dalta sampai kerumah. "Iya, thanks banget ya udah nganter gue pulang. Lo pulangnya naik apa?"tanya Dalta merasa tak enak. Saka terkekeh,"gue bisa pesen ojol tenang aja." "Btw kita belum kenalan yang bener, kenalim gue Saka Adiwijaya." Dalta menyambut uluran tangan Saka. "Gue Dalta Aurora." Saka mengangguk,"kalo gue gabut terus ngajak lo main, boleh?"tanya Saka. Dalta terkekeh kecil. "Boleh, gue masuk dulu ya Saka? sekali lagi makasih udah nganter gue pulang." Saka mengangguk, lelaki itu membuka ponselnya dan memesan ojek online. Sementara Dalta masuk kedalam rumah dengan motornya. Dalta tidak membawa Saka masuk karena ia tidak mau membuat Farka terluka. Bagaimanapun, hanya Farka yang boleh masuk kedalam rumahnya. Dalta memilih untuk kembali mengganti bajunya dan bergerak menuju meja belajar. Ia keluarkan buku yang berisi uang-uang yang telah ia kumpulkan. Membaginya menjadi beberapa bagian. Dalta senang sekali bisa mengelola uang seperti ini. Uang kecilpun ia syukuri, dan jika nanti ia mendapat rejeki yang lebih, ia tidak akan lupa kembali bersyukur. Setelah menghitung dan menyimpan uang, Dalta bergerak menuju lemari yang memang terisi uang yang sudah ia kumpulkan selama ini. Rasanya memang berat untuk mencapai impiannya, tapi Dalta tidak akan menyerah begitu saja. Ia harus bisa sampai di titik itu nanti, apapun yang terjadi. Dalta merebahkan tubuhnya, menunggu kehadiran Bunda dan ya, dia terlelap dalam mimpinya yang indah. *** "Serius lo gamau gue bantu?"tanya Gean begitu melihat Dalta sudah siap diatas motor dengan box-box donatnya. Ia begitu antusias membawa motor ke sekolah, tak peduli merk dan jenisnya yang penting ia bisa seperti anak-anak lain yang membawa kendaraan ke sekolah. "Gausah, gue bisa sendiri. Lo temenin aja gue dari belakang, oke?" Dalta mengemudikan motornya dengan helm yang selalu ia kenakan jika pergi sekolah bersama Gean. Ia begitu bersemangat dan juga moodnya sangat baik pagi ini. Apalagi ditambah dengan berita Princess dan Raden yang berpacaran membuat Dalta tak sabar untuk sampai di sekolah dan menggoda gadis itu. Betapa serunya membuat sosok Princess malu sampai pipinya memerah karena ulah Raden? Dalta begitu gemas melihatnya. Mereka berdua sampai di sekolah, dan Dalta segera turun dari motor dan membawa box-nya. Diperjalanan ia bertemu dengan Farka yang sedang berjalan juga. Sepertinya lelaki itu akan pergi ke kelasnya. "Hai sayang!"sapa Farka yang dijawab anggukan oleh Dalta dengan semangat. "Selamat pagi sayangku,"jawab Dalta yang membuat pipi Farka memerah. Dalta memang jarang sekali menggombal dan sekalinya ia melakukan hal itu, Farka akan langsung seperti terbang ke awan-awan. Dalta terkekeh, Farka segera membantu membawakan box donat itu menuju kelas. "Duh, enak ya dibantuin cogan pagi-pagi."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagusss
20/04
0bagus
19/04
0Bagus
20/03
0Lihat Semua