"Oh jadi lo yang namanya Letta?"tanya Dalta geram begitu mendapati gadis berambut gelombang itu. Dalta tak diam saja begitu mendapat sebuah ketidakadilan tentang dagangannya. Gadis itu melabrak seorang gadis yang menjadi tersangka dari tidak lakunya donat miliknya. Ia ingin tahu alasan mengapa gadis itu melakukan hal seperti itu? "Iya gue Letta, kenapa?"tanyanya dengan suara menantang. Perempuan dengan rambut berwarna coklat itu mendekat, melihat penampilan Dalta dari atas ke bawah. Ia mendecih. "Lo mau kenalan sama gue? cewek tukang donat." Gadis bernama Letta itu memainkan kukunya yang berwarna pink. Dalta mengulum bibirnya, sepertinya akan sedikit melelahkan jika berhadapan dengan manusia satu ini. Ia paling malas meladeni anak kaya yang manja. Terlihat dari penampilannya saja membuat Dalta yakin bahwa gadis itu hidup dengan kemewahan. "Gue mau lo jangan ancem siapapun buat nggak beli donat gue! cemen banget sih cuma gara-gara cowok lo ngelakuin hal kaya gini? gue tau lo orang kaya dari orang kaya makanya bisa bayar mereka, tapi lo ngehambat usaha seseorang buat bertahan hidup lo tau?"serobot Dalta. Dalta menghembuskan napasnya, sepertinya ia mulai terbawa emosi. "Lo tau apa tentang kerja keras? cewek lembek kaya lo cuma bisa minta duit 'kan ke bokap lo? nggak pernah ngerasain gimana susahnya nyari uang?"tanya Dalta remeh. Dalta sudah tak bisa lagi mengatakan apapun karena Letta seperti tak menghiraukan dirinya. Letta mendelik, "lo ceramah?" "Emang ya sifat monyet itu susah dibilangin." Dalta memijat pelipis. Lelah sudah,semuanya hanya akan sia-sia jika dia terus berada disini. "Apa lo bilang?!" Letta berjalan mendekat kemudian menjambak rambut panjang Dalta. Rambutnya halus dan Letta geram melihatnya. Tak boleh ada siapapun yang memiliki rambut lebih bagus darinya. "Nahkan, keluar sifat monyetnya,"ujar Dalta dengan kekehan di akhir, ia tidak melawan karena pasti ia yang akan disalahkan. "Putusin Farka! putusin dia!"bentak Letta tantrum. Semua murid berkerubung, kemudian tak lama datang seseorang yang menjadi alasan pertengkaran terjadi. Farka segera mendorong Letta kemudian memeluk Dalta dihadapan banyak orang. Ia mengelus rambut Dalta yang tadi dijambak. Dalta tersenyum miring, "monyet murahan, siapa yang dibela cowok yang lo mau itu?" Dalta menunjuk cewek itu, kemudian menunjuk dirinya dengan senyum mengembang, "gue." Pandangannya beralih menatap Farka yang memeluknya, "iyakan sayang?" Letta menghapus airmata yang jatuh, melihat Farka memeluk gadis itu kemudian membenarkan rambutnya lagi. "Lo! Liat aja nanti!" Letta berteriak, kemudian berlari meninggalkan semua orang. Dalta tersenyum manis, kemudian matanya menatap Farka yang kini menatapnya. "Gue sayang sama lo." Bisikan Farka terdengar halus, Dalta memudarkan senyumannya, saat Farka mengecup pelan keningnya. Jantungnya berdebar, pipinya serasa panas. Pelukan itu terlepas, Farka tersenyum kepadanya. Senyuman yang selalu ia lihat. Senyuman yang perlahan menjadi candu baginya. Untuk pertama kalinya, Dalta berharap senyuman itu tidak pernah luntur dari hadapannya. Ada apa dengan dirinya? *** "Sumpah kok bisa gini sih?"heboh Princess. Ia menggelengkan kepalanya. "Aww sakit Incess!" "Ya lo ngapain coba ngelabrak dia sendiri?!"kesal Princess yang kini sedang mengobati Dalta. Gean hanya menghela melihat kedua gadis itu. Princess sedang mengobati luka di kening Dalta akibat ulah Letta. "Kedepannya kalo mau ngelabrak ajak gue, oke?!" Dalta mengangguk. Princess akan selalu menjadi perisainya dan Dalta akan selalu jadi pedang untuk Princess. Mereka berdua memang akan saling membantu satu sama lain. Gean menoleh kearah Farka yang kini menatapnya, satu alis lelaki itu naik, menandakan bahwa ia sedang menantang Gean. Hal itu membuat Gean mengalihkan tatap. Perasaan Gean tampak gelisah, apalagi kini Farka mulai mengatakan sesuatu yang membuat Gean tak tenang. "Gue, udah, tau." Ucap Farka tanpa suara. *** Dalta menatap Farka yang tiba-tiba berada di rumahnya. Random sekali lelaki satu ini. "Ngapain?"tanyanya kemudian. Farka yang sedang duduk di kap mobil akhirnya menoleh, kemudian tersenyum. Farka sebenarnya paling malas untuk tersenyum,namun entah kenapa ia selalu tersenyum kepada Dalta seperti ini. "Pagi sayang, nganter tuan putri aku sekolah." Farka mendekat kemudian memberikan satu tangannya. Ia memperlakukan Dalta seperti seorang tuan putri. "Apasii geli banget." Dalta terkekeh geli. Farka kini bergerak membuka pintu untuk Dalta. Sementara sang gadis hanya bisa diam mengikuti. Menyenangkan juga melihat Farka memperlakukannya begini. "Udah sarapan?"tanya Farka setelah menyimpan semua box di belakang. Dalta mengangguk, "udah, tapi kalo mau traktir ayo aja." Farka tertawa, ia kemudian mengusap rambut Dalta, benar-benar halus,"kamu mau makan apa emang?" "Bubur ayam." Farka mengangguk, kemudian membuka ponsel miliknya. Mencari dimana letak penjual bubur ayam. "Bubur ayam ya... oh ada di depan belokan kiri, kita kesana dulu oke?"tanya Farka meminta pendapat. Dalta mengangguk, kepalanya menyender di kepala kursi. Dia masih mengantuk dan tadi lupa tidak membeli kopi kaleng. Geanganteng<3 Geeee sorry banget gue gabisa berangkat bareng dijemput pacar:( Hahaha iya Ta gapapa, Farka udah minta izin ke gue kok tenang aja Lagian gue juga lagi ada urusan, hati-hati dijalan yaaa Iyaaa Geee love you:* Dalta kembali menyimpan ponselnya, kemudian ia melirik Farka. Memicingkan matanya. "Lo minta izin ke Gean?"tanya Dalta sambil menyamping. Farka mengangguk sekali. "Iyalah orang dia..." Perkataan Farka terhenti, karena mengingat sesuatu. Dalta jadi penasaran, apa yang akan dikatakan Farka. "Kenapa?"tanya Dalta akhirnya. "Nggak, gajadi." "Dih?" Kini mereka sudah sampai, Dalta menoleh kearah lelaki itu, "bukain pintu dong, gue 'kan pacar lo sekarang,"ucapnya dengan nada manja. "Jangan gitu, nanti gue cium tau rasa." Farka segera keluar kemudian membuka pintu untuk Dalta. Sebelum keluar Farka menyempatkan diri untuk mengelus surai panjang Dalta yang... entah kenapa sangat candu baginya. "Mas buburnya dua yaaa,"pinta Dalta dengan riang. Kemudian duduk dihadapan Farka. "Gimana luka kamu? masih sakit?"tanya Farka mengelus kening Dalta yang terkena cakar Letta. "Udah enggak, gila tu cewek,"jawab Dalta sembari memanyunkan bibirnya. Farka mengangguk mengiyakan, lalu tangannya beralih untuk mencubit pipi Dalta. "Gemes ih, baru nyadar punya pacar cantik banget,"ucapnya setelah dicubit terganti dengan elusan di pipi kanannya. "Gombal lo nggak mempan buat gue,"ucap Dalta kemudian menghempas tangan Farka. Gadis itu memperhatikan langit pagi ini. Suasananya cerah. "Aku nggak gombal kok, ini tuh fakta Yang." Farka tersenyum begitu melihat bubur ayam keduanya sudah tiba. "Makasih Mas." "Sama-sama." Farka kemudian membawa bubur miliknya, "kamu tim bubur diaduk atau enggak?" Dalta yang sedang memperhatikan ponsel pun menyimpan ponselnya. "Tim enggak." Farka menghela kecewa, "padahal enak diaduk lho." Dalta mulai memakan buburnya,"ya itu pilihan masing-masing sih, kalo diaduk cepet banget encernya." Farka ikut menyuapkan buburnya,"tapi cepet abisnya." Keduanya makan dengan tenang, sampai tiba-tiba Farka berceletuk. "Kamu punya Kakak ya Yang?" *** Dalta heran. Kenapa sekarang Gara menghadangnya. Gadis itu tadinya hendak membawa box yang tertinggal di kelas 12. Ia awalnya akan pergi ke kantin dan menitipkan donat pada Mba Ayu. "Gara?ada apa?" Lelaki dengan kulit putih itu segera menghampiri, kemudian mencekal lengan Dalta. "Ta, gue mau jujur sama lo,"ucap Gara setelah Dalta memusatkan atensi penuh padanya. Dalta mengangguk, kemudian melepas cengkalan Gara. "Nanti pulang sekolah tunggu gue, gue bakal cerita semuanya,"pinta Gara. Setelah itu Gara pergi, meninggalkan Dalta yang menghela sembari menatap punggung Gara. "Rumit banget sih hidup gue?" *** "Nih." Dalta terkejut begitu mendapati Farka yang tiba-tiba memberikannya sebungkus roti isi cokelat. Lelaki itu kemudian duduk dihadapan Dalta yang sedang mengerjakan tugas. "Ngapain lo kesini?"tanya Dalta. Farka menghela, "bisa nggak sih kalo aku dateng tuh nggak usah nanya 'ngapain?' aku sengaja mau ketemu kamu." "Oh,"respon Dalta yang kini mulai membuka bungkus roti, "makasih btw." Farka berdeham, kemudian memperhatikan Dalta yang sedang mengunyah. "Laper?" Dalta mengangguk, "lagi pusing gue,jadi harus banyak asupan."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagusss
20/04
0bagus
19/04
0Bagus
20/03
0Lihat Semua