logo text

Bab 14 Bu Ningrum Sadar

     Setelah mengucapkan terima kasih, bergegas Farah menuju ke rumah duka. Hatinya merasa sangat bersalah ketika melihat Tarsih dan Ajeng meraung-raung di depan jenazah Gito. Ajeng adalah anak perempuan Gito dan Tarsih satu-satunya.
     "Saya ikut berduka cita ya Bu, Dik,"  ucap Farah sambil menyerahkan sebuah amplop panjang dan tebal.
     Tarsih dan Ajeng menatap Farah dengan heran, mereka tak pernah melihat dan mengenal Farah.
    "Maaf, Mbak ini siapa?"
      "Saya kebetulan lewat dan melihat ada bendera kuning di depan gang sana Bu, jadi saya sempatkan diri untuk ikut takziah," jawab Farah pelan dengan tersenyum ramah.
      Mendengar ucapan Farah,para petakziah yang berada di situ menatap Farah dengan takjub dan mereka saling bisik.
     "Mbak itu baik banget ya, padahal nggak kenal,ngasih sumbangannya amplop tebal," bisik seorang wanita berjilbab biru.
     "Pasti dia orang kaya dan dermawan," timpal ibu yang satunya.
     "Untung banget si Tarsih, dapat rejeki nomplok bisa buat modal, biar nggak usah mulung lagi," seorang ibu lagi ikut bicara.
     Farah hanya tersenyum tipis, apa yang diberikan kepada Tarsih tadi tak ada artinya dengan apa yang di dapatkan tadi.
     "Mari Bu, saya pamit dulu," ucap Farah menyalami ibu-ibu tadi satu persatu sambil tersenyum ramah.
     "Duduk dulu sini Mbak," seorang ibu-ibu berjilbab putih berbasa-basi.
     Farah membalasnya dengan permohonan maaf dan senyum ramah. Farah mengendarai motornya dengan tenang dan hati gembira, dia menuju ke warung sate kambing milik Aminah.
     "Waah, akhirnya sampai juga kamu ke warungku Far, ayo duduk, mau makan apa? Sate, gule atau tongseng?" Aminah menyambut Farah dengan antusias.
     "Kamu itu Min, dari dulu kan tahu kalau aku nggak doyan daging kambing,aku minta minum saja, apa saja yang penting panas, kopi juga nggak apa-apa," ucap Farah sambil menarik salah satu kursi untuk duduk.
      "Berarti minta kopi?" tanya Aminah sambil tersenyum menggoda, lalu kedua wanita itu tertawa.
     "Warungmu ramai juga ya Min, dari tadi tak berhenti pengunjung keluar masuk," Farah mengomentari keadaan warung sate milik Aminah yang memang sangat ramai pembeli.
     "Yang di pusatnya lebih ramai Far, kapan-kapan datang saja ke sana," Aminah menanggapi komentar Aminah.
     "Kamu dari mana to, kok bisa nyasar sampai sini, untung saja kebetulan aku pas di sini, jadi bisa ketemu, biasanya aku di warung pusat."
      "Aku dari takziah Min!" jawab Farah sambil meniup kopinya yang masih mengepul.
      "Siapa yang meninggal?"tanya Aminah heran. Setau dia, Farah tak punya teman apa lagi saudara di daerah sini.
     "Yang kemarin aku cerita itu lho, kamu lupa ya hari ini jum'at wage?"
     "Oh iya, terus gimana?" tanya Aminah penasaran.
     "Lelaki bernama Gito itu meninggal karena jatuh dari atap,aku kok merasa bersalah ya Min," ucap Farah pelan.
     "Jangan sekali lagi bilang gitu Far, kamu mau semua yang sudah kamu dapatkan diambil lagi?"
     "Nggak, jangan Min, iya_iya, aku nggak akan ulangi lagi," Farah ketakutan kalau semua yang telah dimiliki akan hilang.
     "Makanya mantapkan hatimu, kamu nggak ingat hinaan tetanggamu dan kakak iparmu?"
      "Jelas ingat aku Min,nggak akan kulupakan seumur hidup. Tadinya karena dendam aku mau menumbalkan mbak Diah saja,tapi setelah kupikir-pikir, kalau dia meninggal, dia nggak tahu kalau aku kaya raya!"
      "Ha ha, tega kamu Far, kakak ipar sendiri mau dijadikan tumbal!"
      "Ssttt, jangan keras-keras, nanti ada yang dengar!"
     ***
     "Farah mana Bu?" tanya Herman yang baru pulang dari rumah Bayu, sudah hampir satu bulan Herman tinggal di rumah Bayu.
     Selain karena ingin menolong sahabatnya, Herman juga ingin menghindar sementara dari Diah dan bu Ningrum yang tiap ketemu pasti minta uang.
     "Jam begini kok tanya Farah, kamu mimpi atau ngigau Man?"
     "Dia masih tidur?" tanya Herman heran. Dia tak tahu sekarang tiap hari Farah sibuk di toko sembako miliknya.
      "Jadi kamu nggak tahu kalau Farah sekarang kerja di toko sembako besar yang baru buka itu?"
      "Lho, sejak kapan, kok aku nggak tahu?" tanya Herman dengan heran.
      "Sebelum Melati meninggal dia sudah kerja di sana, ya sejak toko itu dibuka," jawab bu Ningrum, matanya meneliti penampilan Herman yang kelihatan rapi tak seperti biasanya.
     "Kamu mau ke mana kok sudah rapi begini, kamu nggak jualan keliling?"tanya bu Ningrum penasaran.
     "Mau melamar kerja di tempat Bayu Bu, menggantikan posisi Bayu," jawab Herman dengan wajah ceria,bu Ningrum lebih ceria lagi mendengar jawaban Herman.
     "Man, minta uang dua juta ya, mau buat bayar pak Toga, pusing kepalaku tiap hari ditagih, malu sama tetangga!"tiba-tiba Diah datang dengan wajah masih berantakan karena baru bangun dari tidur.
     "Aku mana ada uang Mbak, ini juga pulang mau minta uang sama Farah buat beli bensin dan beli makanan," Herman menyahut ucapan Diah dengan kesal.
     "Pokoknya aku mau uang, titik!"Diah membentak Herman.
     "Kalau nggak ada jangan maksa dong Mbak, aku pusing tiap hari mbak Diah ribut uang terus!"Herman meluahkan unek-uneknya.
     "Dan janji calon suami mbak itu mana? Katanya mau ngasih uang dari hasil menggadaikan sertifikat rumah yang baru dibeli kemarin?"
    "Jangan sebut lagi nama penipu itu Man, habis uang dan perhiasan ibu di tipunya!" bu Ningrum menyahut pertanyaan Herman.
     "Penipu? Jadi Iwan bohong Bu?" tanya Herman yang memang belum tahu kejadian yang sebenarnya.
     "Ya, pembohong dan pengkhianat dia itu, ternyata dia sudah beristri!" ucapan bu Ningrum sangat menusuk hati Diah. Dia menatap ibunya dengan wajah marah.
     "Jangan membuat fitnah Bu!"Diah membentak bu Ningrum.
     "Siapa yang memfitnah? Sudah jelas-jelas ditipu kok masih membelanya!" ucap bu Ningrum ketus.
    Bu Ningrum beranjak dari duduknya, dia masuk ke kamarnya sebentar lalu keluar lagi.
    "Nih buat beli bensin dan makan, cepat pergi jangan sampai terlambat, ibu doakan semoga lamaranmu diterima," ucap bu Ningrum sambil menyerahkan uang merah lima lembar. Mata Herman berbinar cerah menerima pemberian ibunya.
     "Ibu dapat uang dari mana?" tanya Diah setelah Herman pergi.
     "Di kasih Farah," jawab bu Ningrum singkat.
     "Nggak salah Bu? Si udik itu ngasih uang?" tanya Diah dengan nada mengejek.
    "Nggak, memang ibu dikasih uang buat beli lauk katanya."
    "Jadi si udik itu nggak masak? Terus aku makan apa Bu?"
    "Ibu sudah masak nasi, ada telur tinggal goreng saja!" ucapan bu Ningrum membuat Diah naik pitam.
    "Enak saja aku disuruh goreng telur!" ucap Diah sambil menendang kursi plastik yang berada di dekatnya.
     Bu Ningrum mengabaikan Diah yang marah-marah, dia memilih diam sambil memilih pakaian kotor miliknya. Tumpukan pakaian kotor di keranjang plastik kebanyakan milik Diah.
    Bu Ningrum mulai memasukkan pakaian kotor ke dalam tabung mesin cuci. Dalam hatinya dia berjanji tak akan menyusahkan Farah lagi.
     "Kenapa baju-bajuku masih di sini Bu?" tanya Diah, bu Ningrum sedang menikmati nasi goreng telur di meja makan.
     "Lho, kan memang di situ tempat baju kotor?"
     "Ibu sudah nyuci baju kan, kenapa bajuku nggak sekalian di cuci?" tanya Diah kesal, lebih kesal lagi ketika tahu ibunya masak nasi goreng cuma sepiring.
     Dok dok dok!
     "Bu Diaaahhh, bu Diahhh!"
     "Diah, temui pak Toga, jangan sampai tetangga pada datang karena teriakan pak Toga!"titah bu Ningrum tegas.
     "Nggak mau, ibu saja yang keluar!" Diah membentak ibunya.
     "Ibu nggak merasa punya utang, kenapa ibu yang harus keluar?"
     "Bu Farah, tolong panggilkan bu Diah, sampaikan pesan saya ini!" kata Abas kepada Farah yang baru datang dan mau masuk ke rumah.
    "Siap Bang, nanti saya sampaikan," sahut Farah mantap.
     "Mbak Diah, kata Abas kalau mbak nggak mau keluar menemuinya, video yang menyebabkan Melati meninggal akan viral sebentar lagi."
     "Dasar kurang ajar!" Diah membentak sambil berlari keluar.
     Bu Ningrum terkejut mendengar ucapan Farah, dia mengikuti Diah keluar menemui pak Toga.
    "Heh Abas jelek, jangan berani kurang ajar ya, aku nggak takut akan ancamanmu, paling juga kamu bohong!" tanpa basa-basi Diah langsung marah dan menunjuk-nujuk wajah Abas.
     "Mau bukti untuk membungkam mulutmu yang sombong?"tanya Abas dengan wajah merah padam. Dia sangat tersinggung dengan sikap Farah yang selalu menghina fisiknya.
    "Nih, lihat!" Abas memutar video itu, bu Ningrum dan Diah berebut melihatnya.
     "Diah! Jadi benar kata orang kalau kamu penyebab Melati meninggal?"
    
   
 

Komentar Buku (1462)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus juga seru ...

    14/05

      0
  • avatar
    SukaesihEcih

    keluarga suami yg ga jelas

    03/02/2025

      0
  • avatar
    panserhendra

    keren

    05/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru