logo text

Bab 33 Sikap Diah Berubah

"Farah!"
Farah dan Bu Ida serentak menoleh ke arah sumber suara yang baru saja memanggilnya.
"Mas Herman," Farah bergumam pelan, jantungnya berdegup kencang saat melihat suaminya mendekat ke arahnya.
"Ada apa Mas?" tanya Farah dengan suara yang gemetar.
"Kamu ini gimana sih, katanya sudah janji dengan Yulia, itu orangnya nunggu dari tadi," ucap Herman dengan nada kesal.
Farah terkesiap, begitu juga dengan Bu Ida.
"Wah, Mas Herman jangan percaya begitu saja sama si kompor julid itu, dia suka bikin gara-gara di mana-mana," Bu Ida menyahut ucapan Herman mewakili Farah.
Mendengar ucapan Bu Ida dahi Herman berkerut, dia sebenarnya tahu siapa Yulia, selain suka menghina orang dan suka bikin keributan, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu suka menggoda lelaki, siapa saja yang ada di dekatnya pasti digodanya.
"Kamu pulang dulu Dek, Mas bosan lihat Mbak Diah dan Yulia beradu mulut," ucap Herman dengan suara pelan.
"Hah?" Farah kaget, Bu Ida apa lagi.
"Makanya Mas nyusul kamu, karena Mbak Diah dan Yulia adu mulut, hampir main tangan tadi, untung ada ibu-ibu yang menghalanginya," sahut Herman sambil menstater motornya.
Farah bergegas menuju ke motornya dan menghidupkan mesinnya. Tanpa diajak Bu Ida sudah nangkring duduk di jok belakang sambil memegang pinggang Farah.
"Ngebut Mbak, keburu pulang itu si kompor julid," seru Bu Ida bersemangat.
Tak sampai sepuluh menit motor Farah sudah berada di depan rumahnya. Ada beberapa ibu-ibu berkerumun di halaman rumahnya yang tak seberapa luas.
"Nah, ini si pembohong datang!" cecar Yulia, ketika itu Farah sudah turun dari motornya dan berjalan memasuki halaman rumahnya.
"Farah, apa benar kamu mau membayar lunas hutang-hutang si kompor julid ini?" tanya Diah dengan tatapan sadisnya.
"Menurut Mbak, saya akan melakukan itu?" Farah justru membalikkan pertanyaannya kepada Diah.
"Mungkin saja, kamu itu kan gila, suka ngasih-ngasih uang ke siapa saja, tapi pelit sama saudara sendiri," cecar Diah dengan suara lantang.
"Saya pelit? Nasi yang Mbak makan tiap hari itu, berasnya beli pakai uang siapa? Rumah yang Mbak tempati ini, rumah siapa?" Farah bertanya kepada Diah dengan santai.
"Farah, Diah! Kok malah sibuk sendiri, mana uang yang kamu bilang tadi?" Yulia maju mendekati Farah yang sudah hampir memasuki teras rumahnya.
"Mbak Yul, memang kapan saya bilang mau ngasih uang? Tanya sama Bu Ida atau Bu Sulis, itu Bu Neti juga ada di sana tadi," sahut Farah dengan santai.
"Ya, saya saksinya tadi, memang Mbak Farah mau bantu kamu Yul, tapi setelah kamu hina dan kamu ludahi Mbak Farah tadi, jadi batal deh. Makanya jadi orang tu dijaga sikapnya, jangan sok merasa paling bener, udah tahu salah tapi ngeyel!" cecar Bu Neti dengan ucapannya yang pedas.
"Tapi intinya Farah bilang mau bantu tadi, dan aku nggak mau tahu, aku tagih janjinya sekarang!" celetuk Yulia dengan keras.
"Orang kok aneh ya, kaya Mbak Farah yang punya utang!" celetuk Bu Ida.
"Woooo, rupanya di sini to? Heh Yulia, berapa kali saya bilang, kalau pas waktu saya nagih itu jangan kabur, untung saya tadi ketemu Mas Herman, suaminya Mbak Farah," Bu Nori tiba-tiba datang menerobos kerumunan ibu-ibu dengan suaranya yang nyaring dan melengking.
"Uangnya dibawa Farah, minta saja sama dia!" jawab Yulia dengan santai.
"Bohong Buuu, bohong! Jangan percaya, kejar saja terus Buuh!" suara ibu-ibu bersahutan membuat Yulia naik pitam.
"Heh, kalian diam! Jangan ikut campur urusan saya!" hardik Yulia dengan keras.
"Kamu yang diam! Cepat bayar utang kamu!" Bu Nori menghardik Yulia dengan lebih keras.
"Hutang nggak mau bayar, pas minta saja nangis-nangis, malu dong dengan gayanya yang seperti artis!"
"Makanya Bu, kalau mau ngasih pinjaman itu dilihat-lihat dulu, kalau seperti ini siapa yang susah?" Herman yang baru datang ikut menimpali ucapan Bu Nori.
"Herman! Ini semua gara-gara kamu ya! Dasar lelaki pelit!" kali ini Herman yang jadi sasaran kemarahan Yulia.
"Lho! Kok saya? Memang yang punya utang siapa kok menyalahkan saya?" Herman berkata sambil tersenyum sinis.
"Dan kamu bilang saya pelit? Ya jelas saya pelit sama kamu, wong kamu bukan siapa-siapa saya kok!" ucap Herman lagi sambil melangkah pergi, namun langkahnya terhenti karena Yulia mencegatnya.
"Gara-gara kamu ngasih tahu Bu Nori, jadi dia tahu saya ada di sini!" Yulia berkata dengan suara keras, matanya melotot ke arah Herman yang sedang tersenyum sinis ke arahnya.
"Lah, memang kamu ada di sini kan? Apa salah saya jujur? Dan lihat saja, sebentar lagi ada Sardi dan Toro serta siapa itu tadi, kalau nggak salah Gito namanya, mereka dalam perjalanan ke sini, tadi ketemu saya di warung kopi," ucap Herman dengan santai.
"Oh ya, ada lagi si Heru dan Agus, mereka baru nagih di warungnya Mbak Lina," tanpa rasa bersalah dan kasihan Herman terus mencecar dengan kata-katanya.
Wajah Yulia yang tadi bengis mendadak pucat mendengar ucapan Herman. Melihat itu Herman tak perduli, tanpa bicara dia menstarter motornya.
"Dek, Mas mau ke tempat Galang, nanti kamu nyusul, selesaikan dulu urusannya," ucap Herman yang ditujukan kepada Farah, setelah itu tanpa menoleh lagi tancap gas dengan kecepatan tinggi.
"Bu, Ibu, lebih baik sekarang semua pulang, maaf saya mau masuk, Bu Ida, ayo!" ucap Farah sambil menarik tangan Bu Ida.
"Farah, jangan pergi, selesaikan dulu!" Diah menahan langkah Farah.
Farah tertegun, nada kalimat Diah tadi terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Apa yang harus diselesaikan Mbak? Saya nggak ada urusan lagi dengan mereka," sahut Farah dengan pelan.
"Aku masih punya utang dua juta sama Bu Nori, tolong dibayar ya Farah, biar nanti cepat pergi," pinta Diah dengan wajah memelas.
"Nah, kalau begini kan enak, nggak usah pakai acara bentak-bentak pasti aku bantu," ucap Farah dengan lirih.
"Iya Farah, maafkan aku," sahut Diah sambil melirik ke arah Bu Nori yang saat itu juga sedang melihatnya.
"Cepat Far, itu Bu Nori melotot," desak Diah.
Farah terkekeh geli sambil menyerahkan sejumlah uang warna merah kepada Diah.

Komentar Buku (1462)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus juga seru ...

    14/05

      0
  • avatar
    SukaesihEcih

    keluarga suami yg ga jelas

    03/02/2025

      0
  • avatar
    panserhendra

    keren

    05/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru