Beranda/Aku Jelek Bukan Seleramu Aku Cantik Seleraku Bukan Kamu Mas/
Bab 89 Siti Mengadu
Pov Mughen
Pembahasan tentang Slow di paksa berhenti saat suara bariton opa terdengar dingin dan menusuk.
"Sudah! Jangan di bahas lagi hal itu! Mami tutup mulutmu cukup!"
Oma pun bungkam tak berani bersuara lagi.
Kami yang menyaksikan perdebatan tersebut merasa lega terbantu oleh ketegasan opa.
"Permisi...saya mau periksa pak Ammar sekali lagi." ujar dokter kala memasuki ruangan tempat papa Ammar di rawat.
"Silahkan dok." jawab opa.
"Bapak Ammar hanya kelelahan jadi hari ini juga di perbolehkan pulang, namun untuk tiga hari kedepan di sarankan bapak Ammar istirahat total di rumah agar benar benar fit kembali, juga jangan lupa minum secara teratur vitamin yang kami resepkan untuk pak Ammar."
"Baik dok." jawab opa lagi.
"Mas Ammar kan sudah gak apa apa nih jadi kami pamit pulang duluan ya, soalnya masih banyak kerjaan di kantor." pamit semua saudara papa Ammar.
Kami mengangguk saja mempersilahkan mereka pulang, masih beruntung mereka mau datang menjenguk walaupun hanya ekspresi acuh tak acuh yang mereka tampakkan.
Papa pun tak menggubris hal itu, ia sudah kebal dengan sikap saudara saudaranya.
"Ayo nak kita siap sipa pulang ke rumah." ujar opa membantu papa berdiri.
"Cucuku ayo pulang satu mobil sama oma ya, oma kangen banget sama kamu." ucap oma sembari menggandeng lenganku.
Aku menuruti apa yang di mau sang oma, selama ini aku tidak pernah membantah apapun yang di katakan oma, namun kini ia bingung kalau kalau oma menyuruh papa menjauhkanku dari Slow. Hatinya gak sanggup bila jauh dari sang pujaan hati.
Walaupun saat ini Aku dan Slow hanya menjalani hubungan tanpa status namun tak di pungkiri hati kami sudah terpaut satu sama lain sejak lama.
Saat keluar dari UGD, ku lirik ke arah Slow yang masih berdiri tegap di samping pintu menunggu tuannya.
Oma mendecih sinis saat melihat Slow, ada rasa perih di hati melihat sang pujaan hati di perlakukan semena mena oleh omanya sendiri.
Kelu hati ku mengingat mereka sama sama orang yang aku sayangi. Ia tak mungkin bisa memilih.
Mobil kami berjalan beriringan, Slow mengantar papa dan mama, esedngkan aku satu mobil dengan opa dan oma.
Sesampainya di depan rumah netra kami menangkap sosok tak kasat mata eh maksutku sosok perempuan berpakaian kumuh dan berhati ular sedang berdiri di depan gerbang umah kami.
"Kira kira kenapa Siti ada disini ya? Bukannya Celline sudah pernah bilang kalau si Siti dilarang datang ke rumah ini." ujar oma menyipitkan netranya karena mungkin ia sudah agak rabun.
Opa tak menanggapi ucapan oma, netra opa hanya tertuju pada sosok Siti yang sedang berdiri dengan pakaian kumuh.
Gerbang di buka oleh satpam, mobil satu persatu masuk ke garasi.
Siti terlihat masih berdiri di luar gerbang, sepertinya dia takut sama mama kalau masuk ke rumah.
Ku hampiri saja dia setelah menyuruh para orang tua beristirahat di dalam. Ku buka kembali gerbang yang sudah tertutup rapat.
"Siti! Malah berdiri di situ? kenapa tidak masuk?" tanyaku merasa iba.
Cih!
Asyem dia malah mendecih sinis. Aku hanya bisa menggeleng gelengkan kepala.
"Kau senang kan dengan apa yang menimpaku dan keluargaku!" sinisnya.
Lah gak ada angin gak ada hujan tiba tiba dia mengeluarkan bisanya. Salahku apa sih? Kayaknya benci banget gitu sama aku.
"Sit langsung aja ya kamu ke sini mau apa sebenarnya?" tanyaku datar mencoba cuek dengan perkataannya barusan.
"Itu bukan urusanmu! Aku kesini ingin bicara dengan om Ammar! Bukan denganmu! Jadi panggilkan om Ammar ke sini sekarang!" titahnya seolah tak terbantahkan.
Kihkihih aku terkekeh geli dengan sikapnya yang tak pernah berubah.
"Maaf ya Sit, papa aku lagi gak enak badan jadi gak bisa nemuin kamu. Kalau ada hal yang penting ya bilang sama aku, nanti aku sampein ke papa." ujarku berusaha tetap kalem.
"Halah alesan! Kamu pasti bohong kan karena takut om Ammar akan menuruti mauku? Gak usah takut aku gak akan ngambil papa mu! Aku hanya ingin meminta bantuan padanya!" seru Siti sok tahu.
Aku menghembuskan nafas kasar, sungguh jalan fikirannya benar benar sudah di luar nalar.
"Sudahlah Sit aku lelah, kalau kamu gak mau bilang keperluanmu apa ya sudah aku masuk dulu dan kamu silahkan pulang, jangan coba coba nekad menerobos masuk rumah. Kamu tahu sendirikan mamaku kek gimana." ucapku datar sembari menjulurkan tangan hendak menutup gerbang.
"Hey tunggu!" pekiknya.
"Ada apa lagi sih Sit?"
"Mughen ngapain kamu berdiri di situ cucuku?" tiba tiba oma datang menghampiriku dan Siti.
Namun...
Brugght!
"Aaww!!" pekik Siti.
Ia terjerembab ke jalan. Kenapa bisa bisanya dia terjatuh? Gak mungkin kan dia kesandung? Soalnya dari tadi dia hanya berdiri tak jalan sedikitpun.
"Huu huu huuu huwaaaaa oma!"
Lah tiba tiba Siti mengangis histeris, kenapa nih anak.
"Loh Siti! Kamu ngapain duduk di jalan begitu? Trus nangis lagi! Ayo bangun!" seru oma.
"Huu huu dia oma, Mughen mendorongku sampai terjatuh hanya karena aku minta makan, padahal Siti kelaparan oma! Masak cuma minta makan si Mughen ngusir ngusir aku huu huu huu."
What the f***!!!
Pinter banget aktingnya! Dia sengaja mengadu domba aku dan oma ternyata! Sungguh di luar ekspektasiku.
"Hah masak sih?! Iya kah Mug?" tanya oma mulai terpancing.
Siti sekilas menyunggingkan senyum mengejek lalu kembali menangis tersedu sedu. Ck dasar ratu drama!
"Bohong dia oma." jawabku datar.
"Huu huu gak mungkin maling ngaku kan ya oma?" seru si ular menebarkan bisa ny kemana mana.
Oma menggeleng gelengkan kepala lalu memijit pelipisnya yang terasa kencang.
"Ah sudahlah! Tidak usah di bahas lagi! Kamu bilang lapar kan Sit? Ayo masuk kamu makan yang banyak lepas itu pulang." ujar oma sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Siti mengangguk dan mengekori punggung oma, ia melirikku sinis saat melewatiku.
Haeh aku menghela nafas berat, namun tetap diri ini mengekori juga punggung oma. Bak anak bebek yang mengikuti ibunya kemanapun. Tak lupa ku tutup kembali gerbang.
"Wah makanannya mewah sekali oma! Boleh ya Siti makan ini semua sekalian bawa ke kontrakan?" seru Siti sumringah.
"Ya!" jawabnya oma sekenanya.
Aku pun ikut duduk di kursi meja makan melihat Siti yang mulai lahap menyantap makanan di hadapannya.
Huh heran sekali melihatnya makan lahap seperti orang tak makan selama seminggu.
Kalau memang Siti kesusahan dalam hal makanan, kasihan sekali dia. Lah memangnya om Bram kemana? Bukannya om Bram sudah bekerja lagi di cabang perusahaan papa ya? Gak mungkin gaji om Bram tidak cukup untuk memenuhi makan Siti sehari hari!
Pasti ada sesuatu yang tengah menimpa Siti nih. Namun apa urusanku ya kan? Mau dia menderita atau bahagia it's none of my business!
Eeeergghh!
Ih jorok banget sih ni anak sendawa kok di keras kerasin. Walah edan! Makanan di meja segitu banyaknya ludes tak tersisa. Hanya serpihan hati yang luka saja tertinggal di piring bekas makan dia.
Ya aku terluka lah, soalnya aku juga lapar ingin makan eh ini malah di habisin dasar rakus! Gerutuku dalam hati.
"Nah sudah kenyang kan? Sudah sana pulang! Takutnya si Celline keluar dan lihat kamu ada di sini, trus ngamuk!" seru oma.
"Ehehehe iya oma tapi minta uang sakunya dong oma, Siti udah gak punya uang buat pulang." rengek Siti.
"Lah lalu tadi kau kesini naik apa?" tanya oma heran.
"Tadi Siti mbonek mobil bak terbuka sampai ujung jalan sana oma, trus jalan Kaki kesini." jelas Siti.
Terbesit rasa kasihan melihat nasibnya yang seperti ini. Namun rasa jengkel menyeruak saat mengingat sikap nya yang angkuh dan songong itu.
"Loh lalu si Bram kemana? Memangnya Bram gak ngasih kamu uang?" tanya Oma lagi.
Siti menggeleng sedih.
"Papa sudah semingguan gak pulang ke rumah, Siti di tinggal sendiri di rumah tanpa di beri uang saku." aku Siti dengan raut wajah sesedih mungkin.
"Kurang ajar!"
Kami berdenjit kaget, tiba tiba seseorang berteriak lantang.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (1020)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Sangat bagus
04/02
0sangat bagus
03/02
0seru
03/01
0Lihat Semua