Bab 111 Tamat

Klek pintu toilet di buka Emi, ternyata sang manajer lah yang menggedor gedor pintu.
"Ada apa sih bu? Saya kan lagi ada keperluan di toilet!" tanpa sadar Emi membentak sang manajer.
"A_apa? K_kau berani membentakku!?" pekik bu manajer tak percaya.
"Huh udah deh buk gitu aja di kira ngebentak. Santai aja kali." ketus Emi.
"K_kau bgst! Hari ini juga kau ku pecat!!!!" pekik bu manajer geram.
"A_apa!? Sa_ya di pecat?! Tidak! Ibu gak bisa seenaknya aja dong!" protes Emi tak terima.
"Saya gak peduli! Pokoknya detik ini juga kamu saya pecat dan segera pergi dari sini sekarang juga! Ambil barang barangmu nanti sisa gajimu saya transfer!" seru bu manajer tegas dan pergi begitu saja saat Emi hendak ingin protes kembali.
"A_aku hey! Agh! BGST!!!! Aaagghhrrggt!!" umpatan demi umpatan keluar dari mulut Emi.
Namun nasi sudah menjadi bubur, terpaksa hari ini juga Emi hengkang dari tempatnya bekerja, padahal pekerjaan ini adalah tempat untuk menghidupi dirinya sehari hari. Di tambah Emi tak memiliki banyak simpanan dan mencari pekerjaan kembali pun tak mudah.
Semenjak  Emi usir oleh keluarganya sendiri. Kini Emi hanya hidup sebatang kara.
Kini Emi lontang lantung di jalan, uangnya hanya tersisa beberapa lembar saja, kalau untuk makan dan bayar kos bakal tidak cukup untuk menghidupi dirinya selama seminggu.
Terpaksa ia mencari pekerjaan yang lebih mudah mendapatkan uang. Menjadi tukang pijit berpakaian sexy kini ia lakoni. Rasa dendam nya pada Mughen terpaksa ia pendam selamanya. Karena Mughen bukanlah lawan yang mudah di sepelekan.
****
Yanto mengalami patah hati hebat. Di tinggal Mughen menikah membuat Yanto tak bersemangat hidup lagi.
Sudah dua kali dia mencoba bunuh diri namun usahanya selalu gagal di ranjang rumah sakit. Orang tuanya yang sigap membawa Yanto ke rumah sakit saat melihatnya mengiris pergelangan tangan dan meminum obat pembersih kamar mandi.
Tuhan masih menginginkan Yanto hidup, kini Yanto menghabiskan waktunya hanya mengurung diri di kamar meratapi sakit hati akibat patah hati. Entah sampai kapan Yanto seperti ini tak ada yang tahu. Mungkin Yanto sebenarnya sudah kehilangan kewarasannya.
***
"Yank sekarang aku udah bawa empat black card hasil ngerampas milik Mama, Oma dan Papa yang satu punyaku sendiri. Di tambah punyamu jadi ada lima hihi, kayaknya aku pengen beli kapal feri pribadi aja deh yank biar bisa jalan jalan di laut sesuka hati dengan kapal milik sendiri tanpa harus minjam milik orang tua aku." tandas Mughen sumringah.
"Aduh yank kalau mau beli kapal kenapa harus ngerampas black card milik Mama, Papa dan Oma sih? Kamu tinggal bilang sama aku aja udah aku beliin sekarang juga." seru Slow tak sependapat dengan sang istri.
"Ih sayang mah gimana sih? Uang kamu itu harus di tabung sebanyak banyak untuk masa depan anak anak kita nanti, kita kan gak tahu nasib kita di masa depan jadi jangan boros deh. Lagian ini juga untuk hukuman para orang tua yang udah ngebuat malam pertama kita gagal saat itu." cetus Mughen.
"Ya udah lah terserah sayang, yang penting kamu seneng aja. Ok kalau begitu ayok sekarang aja." ajak Slow.
"Sekarang? Apanya?" tanya Mughen bingung.
"Loh katanya mau bikin anak? Gimana sih kok lupa?"
Akhirnya Mughen tersadar dari ucapannya barusan yang menyangkut anak. Aduh.
"Ah em hehe."
"Ayok ah yank!"
Slow mengangkat tubuh sang istri dan membaringkannya di ranjang hotel mewah yang mereka hiasi dengan kelopak bunga mawar.
Kedua netra suami istri tersebut saling beradu pandang. Bibir keduanya saling menyentuh semakin lama semakin panas saja. Dan keduanya berakhir di peraduan.
"Yank makasih ya...akhirnya Mas bisa memberikan nafkah batin yang sempat tertunda." ujar Slow sembari memeluk pinggang sang istri mesra.
Mughen mengangguk dan tersenyum bahagia.
***
Tiga bulan pernikahan, Mughen di nyatakan positif hamil empat minggu. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Rashif.
Tak henti hentinya Oma ribut dengan makanan yang di konsumsi Mughen.
"Cucuku pokoknya kamu harus makan makanan yang bergizi, minum susu ibu hamil agar lebih bertenaga, makan buah buahan agar tetap sehat, minum vitaminnya yang di resepkan oleh dokter."
"Iya iya omaaa."
"Ma emangnya mama gak mau ya bikin adek untuk Mughen? Biar calon cucu kita ada temennya kalau sudah lahir nanti." cetus Papa Ammar manja.
Pletak!
"Aduh! Sakit ma! Kenapa Papa di jitak sih ma?" keluh Ammar sembari mengelus elus kepalanya yang sedikit nyut nyutan.
"Papa ini minta adik untuk Mughen apa gak ingat umur?? Kita itu udah setengah abad paaaaa." cetus Mama ketus.
"Ish mama ini, itu kan kode papa buat minta jatah mamaaaa. Huh gak peka banget sih." keluh Papa Ammar ngambek.
"Ish kalian ini malah berantem di depan anak sama mantu sih! Gak malu apa? Udah tua kok ngambek ngambekkan. Ingat umur." cibir Oma.
Mama Celline memanyunkan bibir sedangkan Papa Ammar masih melengos sebal.
Mughen, Opa dan Slow terkikik melihat tingkah para orang tua yang masih seperti anak kecil ini.
Pada akhirnya keluarga Rashif terutama Mughen menikmati kebahagiaannya sembari menunggu kelahiran sang buah hati.
***
Enam bulan berlalu.
"Aduuuhh! Aduh sakit! Sayang!! Mama! Papa! Opa! Oma! Perut aku sakiiittttttt!!!"
Mughen mengerang kesakitan. Semua orang dia panggilnya tak ada yang terlewat.
"Ah cucuku! Kamu kenapa sayang!? A_apa kamu mau melahirkan?" desis Oma ikut panik.
"Gak tahu Oma! Hanya saja perut aku sakit banget!"
"Ada apa ini? Mughen kamu kenapa nak?" Papa Ammar ikutan panik. Begitupula Mama Celline.
"Sayang kamu mau melahirkan kah? Ayo kita langsung bawa saja Mughen ke rumah sakit! Papa cepat telepon Slow agar sesegera mungkin ia menyusul kita ke rumah sakit!" titah mama Celline.
Semuanya melaksanakan tugas masing masing.
"Aduuuhh saaaakiiittttt!!!" teriak Mughen lagi dan lagi.
"Iya sayang sabar ya, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit." seru Oma masih panik.
***
Di ruang bersalin...
"Aaaahhhh aduuhh aahhhhh!"
"Ayo bu ngejan lagi buk, itu kepalanya sudah kelihatan. Yang semangat buk!" seorang bidan menyemangati proses kelahiran calon anak Mughen.
"Sa_sayang ayo semangat ya yank sebentar lagi anak kita lahir!" lirih Slow sembari memegang pucuk kepala dan lengan sang istri.
Oeek oeek oeekk
Beberapa kali mengejan pada akhirnya sang buah hati telah lahir kedunia.
"Sayang! Anak kita telah lahir! Makasih ya sa_"
Bruukkk
"Sa_sayang!?" pekik Mughen lemah.
Tiba tiba Slow jatuh ke lantai, ia pingsan.
Para perawat dengan sigap menangani Slow dan mendudukannya ke kursi.
"Su_suami saya kenapa sus?" tanya Mughen lemah.
"Suami ibu hanya pingsan, itu sudah hal biasa menimpa suami yang tengah merasa khawatir berlebihan saat melihat sang istri telah berjuang melahirkan sang buah hati." jelas seorang bidan.
"Apa suami saya baik baik saja sus?"
"Jangan khawatir ibu, suami ibu baik baik saja. Sebentar lagi dia akan siuman kok."
Mughen mengangguk faham sembari memandang sang suami yang tergeletak lemah di kursi. Namun kebahagiaan menyeruak saat melihat sesosok bayi mungil cantik tengah di bersihkan oleh perawat.
Mughen tersenyum sumringah melihat bayinya kini telah berada di dekapan sang bunda.
"Halo sayang...ini bunda nak, lihat itu ayah nanti kalau ayah sudah siuman ayah akan mengadzani kamu ya nak."
Bertubi tubi Mughen menghujani ciuman di pipi gembul sang putri.
***
Oma dan Opa juga Mama dan Papa tak henti hentinya mengelilingi sang cucu juga cicit.
Kebahagiaan seakan akan tak henti hentinya menyelimuti keluarga Rashif.
TAMAT

Komentar Buku (1020)

  • avatar
    Aulia Zahdi

    Sangat bagus

    04/02

      0
  • avatar
    MftiIndra

    sangat bagus

    03/02

      0
  • avatar
    SaputraHerman

    seru

    03/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru