logo text

7. Berusaha untuk Yakin

Kita harus berpisah di sini?" tanya Erina dengan wajah terlihat sedih.
Cater tersenyum tipis. "Nanti kita bertemu lagi. Aku janji," katanya sembari mengusap-usap surai halus milik wanita muda tersebut.
Setelah bertemu kembali dengan Erina di bar tadi, membuatnya mulai menyadari perasaannya yang sesungguhnya pada wanita tersebut. Di mana rupanya ia masih menyimpan rasa cinta yang jauh terpendam di dalam lubuk hatinya pada wanita tersebut.
"Apa kau bisa memutuskan bagaimana semua ini akan mengarah?" Erina menatap lekat wajah Cater.
"Maksudmu?"
Erina menghela nafas panjang sebelumnya. "Kau sudah menikah dengan wanita itu. Lantas, bagaimanakah bentuk perasaanmu saat ini padaku? Tentu aku tidak akan merasa nyaman, jika kau secara sengaja mengajakku memulai sebuah hubungan, ketika kau sendiri masih dimiliki oleh wanita lain. Aku tidak sejahat itu untuk merebutmu dari dirinya," ungkap Erina jujur. Mau bagaimanapun juga, dirinya sendiri masih memiliki hati untuk tidak merebut yang bukan menjadi miliknya.
Cater terdiam sesaat, ia hanya terus menatap lekat wajah Erina. Sampai akhirnya, ia membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang terdengar ambigu, "kalau begitu beri aku waktu untuk memastikan kembali perasaanku. Jika aku benar-benar telah yakin dengan perasaanku maka aku akan memilihmu dan meninggalkan Sian. Namun aku tetap akan bertanggung jawab dengan semua keputusanku. Begitu juga sebaliknya jika, aku meragu denganmu aku akan tetap kembali pada Sian dan ... dengan berat hati, aku tidak akan pernah terlihat lagi di depan matamu," ucap Cater pelan.
"Kau masih suka meragu seperti dulu."
"Perasaan memang sulit dipastikan. Terutama jika kau terjebak di dalam pilihan sulit."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Ini kesempatan terakhir untukmu. Aku harap kau menggunakan kesempatan itu dengan baik." Begitulah kira-kira keputusan yang terucap dari bibir Erina. Wanita itu juga tidak ingin, merasakan ketidakjelasan hubungannya dengan laki-laki yang sudah menjadi milik wanita lain. Karena itu ia ingin memastikan apakah Cater bisa, menggunakan kesempatan itu dengan baik atau tidak.
Raut wajah Cater terlihat sedikit berubah menjadi lebih ceria. Entah mengapa rasanya muncul perasaan hangat yang telah sekian lama menghilang, kini telah kembali. Mungkin akan terasa sulit baginya, namun mengingat perasaan-perasaan positif mulai mendatangi dirinya, membuat Cater tidak ingin meragu seperti dulu.
"Terima kasih untuk kesempatannya," ucap Cater sembari mengecup punggung telapak tangan Erina.
Terdengar suara tawa kecil kebahagiaan yang keluar dari mulut wanita itu. Meski ia mulai merasa bahagia, sesungguhnya di dalam hati ia juga takut mendapatkan karma buruk dari perbuatannya ini.
***
"Kau dari mana saja?" Sian berdiri tepat di depan pintu masuk kamar hotel. Wajahnya menyiratkan seribu kegeraman yang tertahan dan siap meluap kapan saja.
"Dari luar, memangnya ada apa?" balas Cater dengan nada suara santai. Dia mengacuhkan bagaimana rasa khawatir yang telah memenuhi istrinya tersebut.
Raut wajah Sian seketika langsung berubah menjadi masam. "Kenapa kau bicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa?" tanyanya dengan ketus. Wajar ditinggalkan untuk kesekian kalinya, di kamar hotel sendirian sudah lebih dari cukup membuat wanita itu merasa diabaikan.
Alis Cater terangkat sebelah. "Ck. Kau tanpa sadar sudah meninggikan suaramu. Tidak baik jika kita bertengkar di tempat umum seperti ini," ujarnya dingin. Pria itu kemudian segera pergi meninggalkan istrinya yang tengah merasa resah tersebut, ke kamar mandi.
 Pagi hari telah tiba dan secara perlahan sinar matahari, mulai menyelip masuk ke dalam kamar hotel dan memenuhi sinar matahari paginya yang terasa lembut.
Botol Cask Strength Scotch Whisky yang sudah kosong, tergeletak di bawah sofa menggelinding, tepat di bawah kaki Cater.
Cater yang baru saja selesai pergi mandi, terkejut mendapati keadaan si pelaku minuman keras dengan kadar alkohol 60% tersebut.
Menyiksa diri kembali, pikir Cater begitu melihat sosok Sian yang dalam keadaan nyaris tidak sadarkan diri. Dia berjalan mendekati sofa kemudian, mengangkat tubuh Sian berniat untuk memindahkannya ke atas ranjang.
"LEPAS!" 
Sontak Cater begitu terkejut, mendengar suara teriakan Sian. Wanita yang tengah ia gendong tersebut meronta-ronta di dalam dekapannya. Nyaris dirinya menjatuhkan wanita itu, jika saja ia tidak bisa menjaga keseimbangannya sedikit saja.
"Tenanglah Sian ... aku hanya ingin memindahkanmu ke atas ranjang," ujar Cater lembut.
"LEPASKAN AKU BAJINGAN!" Berkali-kali Sian memukuli tubuh suaminya itu dan berusaha memberontak. 
Cater yang tahu keadaan Sian saat ini, memutuskan untuk mengalah. Alih-alih tersulut emosi dirinya memilih untuk bersabar dengan keadaan wanita itu. Dirinya menyadari rasa frusati Sian, juga pastilah disebabkan oleh dirinya karena itu ia mencoba untuk bertanggung jawab sebisanya.
"Sian ... aku benar-benar minta maaf padamu," ucap Cater dengan lembut. "Berhentilah menyakiti dirimu seperti ini. Kau membuatku sedih dengan keadaanmu."
"DIAM KAU BAJINGAN!" Sian tidak mau mendengar, dia memukuli dada bidang Cater berkali-kali jauh lebih keras dari sebelumnya. Namun usahanya itu sia-sia, Cater mengabaikannya dan membiarkan dirinya terus dipukuli oleh istrinya tersebut.
"Jika kau merasa tidak nyaman denganku untuk sekarang, lampiaskan saja semua kemarahanmu padaku. Kau berhak merasa marah padaku," katanya dengan suara yang begitu lembut, namun juga menyakitkan di waktu bersamaan.
Semula pukulan itu yang diberikan oleh Sian terasa begitu kencang, ditambah dirinya yang terus meronta-ronta membuat Cater merasa kesusahan. Namun secara perlahan-lahan, wanita itu justru mulai berhenti memukuli dirinya, dan hanya diam saja.
"Kenapa? Kenapa tidak kau lakukan saja? Aku sudah memberimu kesempatan untuk mengungkapkan rasa tidak nyaman di hatimu. Jangan memendam rasa sakitmu terlalu lama ...." Cater tidak mengerti mengapa Sian begitu keras kepala, tidak mau mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.
"Terlalu sulit ... sulit ... aku juga ... hiks ... hiks ... tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku," ucap wanita itu dengan suara pelan yang nyaris tidak terdengar.
Helaan nafas keluar dari mulut Cater, dia merasa jenuh dengan pola seperti ini. Sian istrinya itu, tidak pernah bisa berkata jujur dan mengungkapkan perasaannya dengan jelas. Membuatnya terus merasa semakin ragu.
"Semuanya akan terasa lebih mudah, jika kau satu kali saja mengungkapkan rasa kegelisahan di hatimu padaku. Jika kau terus menutup-nutupinya kau hanya membuat situasinya terasa semakin sulit," ujar Cater sembari menurunkan tubuh Sian di atas ranjang.
GREP
Sian menarik baju Cater, dan membuat laki-laki itu nyaris jatuh menimpa tubuhnya. Namun laki-laki itu lebih sigap, sehingga dengan cepat ia menahan dirinya sendiri agar tidak jauh menindih tubuh Sian.
"Bagaimana mungkin aku bisa memberikan kata-kata kebencian padamu, ketika aku benar-benar mencintaimu? Aku terlalu jatuh cinta padamu, sampai membuat diriku tidak bisa mengatakan hal-hal buruk tentang dirimu. Semua yang ada di dalam dirimu adalah hal yang indah dan manis. Kekuranganmu bahkan keindahan yang tidak bisa aku hakimi," kata Sian dengan mata berkaca-kaca. Dalam keadaan mabuk seperti ini meski tidak sepenuhnya, ia bisa berkata jujur nyatanya perasaan emosional itu akan dengan mudah menghampiri dirinya, dan mempengaruhi ucapannya sendiri.

Komentar Buku (17)

  • avatar
    nurfitrianiisni

    seru banget

    18/03/2025

      0
  • avatar
    amanRahman

    bagus

    15/05/2024

      0
  • avatar
    SoloJaimo

    baik dan bagus

    14/05/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru