logo text

BAB 9_GRAND CITY SURABAYA

BAB 9
Grand City Surabaya.
Siang ini Airin dan Ratih memilih untuk shopping di Grand City Surabaya, keduanya memasuki mal dan menuju ke salah satu butik terkenal yang berada di lantai empat. Mal ini adalah salah satu pusat perbelanjaan terbesar di antara tujuh yang ternama di Surabaya.
Mereka memasuki butik yang dituju dan langsung disambut hangat oleh seorang karyawan butik. Gadis berkulit kuning langsat dan bermata bulat dengan iris mata berwarna cokelat itu dengan telaten melayani Airin dan Ratih, mulai dari menanyakan apa yang dicari, mengambilkan dan membantu saat kedua wanita sosialita itu mencobanya.
Beberapa potong pakaian akhirnya mencuri hati Airin juga Ratih, walaupun ada banyak koleksi pakaian cantik-cantik di butik miliknya, tetapi Airin selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa butik terkenal untuk melihat-lihat perkembangan fashion dan style terbaru supaya butiknya tak ketinggalan mode.
Setelah puas berbelanja, keduanya lalu keluar dari butik dan menuju ke salah satu restoran yang sudah dipesan beberapa jam sebelumnya untuk mengisi perut yang sudah mulai terasa lapar,
Restoran yang akan mereka datangi adalah restoran Jepang terkenal di Kota Surabaya.
Arsitektur eksterior maupun interior restoran itu menonjolkan nuansa full budaya Jepang. Saat memasuki ruang restoran, keduanya seperti memasuki rumah tradisional Jepang. Di dalamnya terdapat ruangan-ruangan kecil yang akan membuat pengunjung merasa seperti berada di dalam rumah di negara Jepang. Seorang pelayan mengenakan pakaian tradisional melayani para pengunjung melalui ruangan demi ruangan yang dibuat berbeda warna menuju ruang makan yang terletak di bagian paling dalam.
Ruangan yang lumayan sangat besar itu memiliki tempat duduk terbuka yang elegan di bagian depan, sedangkan ruang pribadi terletak di bagian dalam. Dekorasi restoran memakai gaya tradisional negeri sakura yang elegan dan menawan.
Airin dan Ratih memilih untuk menikmati hidangan di ruang pribadi, kedua wanita berkelas ini lebih suka ruangan tertutup untuk acara lunch mereka kali ini.
"Lumayan rame juga, ya," celetuk Airin.
"Ya, ada banyak sekali orang-orang kaya makan di sini," jawab Ratih seraya melemparkan pandangannya ke sisi kiri sebelum mereka memasuki ruang pribadi.
Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti, sementara Airin yang berjalan lebih dulu tak menyadari kalau sahabatnya sudah menghentikan langkah beberapa detik yang lalu. Saat salah seorang pelayan mempersilahkan Airin untuk masuk ke ruang pribadi dan di saat itu pula ia baru menyadari kalau sahabatnya tak ada bersamanya.
"Loh, teman saya mana, Mbak?" tanyanya pada gadis pelayan restoran.
"Maaf, Bu, Teman Ibu masih di sana ...," jawab gadis itu dengan sopan santun seraya menunjuk ke arah Ratih dengan menggunakan ibu jarinya.
Airin melihat ke arah si gadis itu menunjuk dan ia mengernyitkan keningnya saat melihat Ratih diam terpaku sembari memandang ke satu arah.
"Sebentar, ya, Mbak," ucapnya pada gadis itu dan dijawab dengan anggukan dan senyum manis si gadis.
"Ratih, what happen?" tanya Airin setelah ada di dekat Ratih. Sementara itu wanita energik itu masih termangu dengan mata tetap memandang ke satu arah.
Airin penasaran lalu ia mengikuti ke mana arah pandangan mata sahabatnya dan seketika mulutnya ternganga. Di sana, di salah satu meja paling ujung ia melihat Reyshan—mantan suami Ratih––sedang bercengkerama dengan seorang wanita yang jauh lebih muda darinya. Kedua perempuan itu terkejut, wanita itu bukan Dania, wanita yang telah menjadi orang ketiga di dalam pernikahan Ratih dan Reyshan, tetapi lain lagi.
"It's oke, sudah bukan urusan lo lagi kan? Come on ... don't think about him anymore, enjoy your life you will definitely be much better off without him." Airin berkata seraya mengusap bahu sahabatnya.
"Oke, gue enggak mikir apa-apa juga, sih, gue hanya enggak nyangka aja. Berarti selama ini ...." Ratih menggantung ucapannya lalu ia menggandeng lengan Ratih dan mengajaknya untuk segera berlalu dan masuk ruangan yang telah mereka pesan sebelum Reyshan menyadari keberadaan mereka.
"Kita belum cari tiket buat pulang besok, 'kan?" tanya Ratih saat mereka tengah menunggu makanan yang mereka pesan.
"Gampanglah itu nanti gue pesan. Kita mau ambil penerbangan jam berapa?"
"Sore aja kali, ya? Gue masih pingin berdua lo di sini."
"Horor banget gue denger kalimat lo," ucap Airin dan disambut gelak tawa Ratih.
"Makanya lo cari cowok napa, udah setahun, loh. Move on. Sampe kapan lo mau hidup sendiri terus kek gini?" Sudah sering Airin mengingatkan Ratih supaya membuka hatinya untuk laki-laki lain, tetapi Ratih selalu berdalih lebih enak hidup sendiri.
Ting!
Notifikasi dari ponsel Airin yang menandakan ada pesan masuk dari ruang chat berwarna hijau. Wanita itu gegas membukanya dan seketika ia senyum-senyum sendiri.
[Hai, Rin? Lagi di mana? Sudah makan siang?] Sebaris pesan Airin terima dari Dazel.
[Aku lagi di Grand City, nih, lagi lunch juga, kamu?]
[Hmm ... kalo aku lagi merindukanmu.] Balasan dari Dazel cukup membuat debaran di dada Airin semakin tak menentu. Ia bingung harus membalas atau membiarkan saja tanpa membalasnya.
"Nggak tau, ya, sumpah! Gue, kok, rasanya mencium aroma seseorang yang sedang jatuh cinta, gitu, ya," celetuk Ratih membuat Airin salah tingkah.
"Apaan, sih," jawab Airin seraya tersipu malu.
"Loh, why? Lo ngerasa?" goda Ratih membuat Airin semakin memerah wajahnya.
"Udah, deh, Tih. Apaan, sih, ah. Gue sama Dazel nggak ada apa-apa. Lo tau sendiri gue punya laki."
"Apa dari tadi gue ngomong yang lagi jatuh cinta itu kalian? Enggak, kan?" Semakin gencar Ratih menggoda Airin.
"Eh, ya, enggak juga, sih, tapi kan di sini cuma ada kita."
"Iya, di sini memang cuma ada kita, tapi di ruang chat ada dia ...." Ratih terkekeh membuat Airin mendelik.
"Udah, ah, yuk, kita makan. Cacing di perut gue udah minta pesta, nih." Airin mengalihkan percakapan, ia tak ingin rahasia hatinya dibongkar sahabatnya itu, ada rasa tak enak hati mengingat statusnya yang tak lagi sendiri.
Mereka menikmati makanan yang terhidang di atas meja bundar. Ratih terlihat sangat menikmati sekali menu yang mereka pesan untuk makan siang ini. Sementara Airin menikmati hidangan dengan hati yang berbunga-bunga, ia menyadari sepenuhnya bahwa benar dirinya kini tengah jatuh cinta.
***
Bersambung ....

Komentar Buku (26)

  • avatar
    Wafa Firmansyah

    seru

    29/08/2025

      0
  • avatar
    NoviantiSalsabila tri

    bagus

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Vano surabayaVino

    menarik dan menyenangkan dan ucapan selamat ulang tahun lebih tua dari usianya kelopak mata yang kendur secara alami dan ucapan selamat ulang tahun lebih tua dari usianya kelopak mata yang kendur secara alami dan ucapan selamat ulang tahun lebih tua dari usianya kelopak gak tau ngekei di Indonesia dengan harga terjangkau untuk kalangan sendiri yang akan kita gunakan dalam hal itu bisa menjadi alternatif ini hp kak buat para pecinta film nya Fano di dalam hal yang akan terjadi selanjutnya ya 🙂‍↕

    24/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru