logo text

CHAPTER 22_JATUH SAKIT

Pagi ini Bram bangun lebih awal dari biasanya, sedangkan Airin yang terbiasa bangun lebih pagi, kali ini terlihat sangat nyenyak sekali tidurnya dan Bram tak ingin membangunkannya.
Dirabanya kening Airin yang sedikit terasa lebih panas dari biasanya, sepertinya Airin agak demam dan kalau sampai setelah sarapan dan minum obat pereda demam masih juga belum membaik, Bram akan membawa Airin ke rumah sakit tanpa harus menunggu persetujuan Airin yang agak susah diajak berobat setiap kali badannya merasa kurang sehat dengan alasan takut jarum suntik.
Perlahan Bram menyelimuti tubuh istrinya dan setelah itu ia turun ke dapur, ia ingin membuat sarapan untuk istrinya dengan tangannya sendiri. Selama ini Airin selalu mengurusi semua keperluannya dengan sempurna, kali ini Bram ingin merawat istri tercintanya itu dengan penuh cinta seperti yang ia terima selama ini dari Airin.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Bu Nah terheran-heran saat melihat Bram masuk ke dapur sepagi ini.
“Pagi, Bu Nah. Bu bisa bantu saya?”
“Tentu saja, Pak, saya bisa bantu apa?”
“Saya mau buatkan sup jagung kesukaan Bu Airin, Bu Nah bisa bantu saya?”
“Oh, tentu bisa, Pak, bisa,” jawab Bu Nah semringah, “Ibu masih sakit, Pak?” lanjutnya.
“Iya, tadi badannya agak sedikit demam.”
“Bawa periksa ke dokter saja, Pak, siapa tahu Ibu bukan sakit demam biasa, siapa tahu Ibu—” Bu Nah tidak melanjutkan kalimatnya.
“Siapa tahu apa, Bu?”
“Ya ... siapa tahu aja, Ibu—” Bu Nah memperagakan bentuk bulat di depan perutnya yang seketika membuat mata Bram membulat sempurna, “Kan nanti Nak Kenzo ada temannya, Pak,” lanjut Bu Nah.
Bram seketika berpikir, apa iya yang diucapkan Bu Nah itu? Kalau iya, sungguh bahagia sekali ia akan memiliki satu lagi keturunan dari perempuan salihah yang sangat dicintainya itu.
Bram dan Bu Nah mengobrol ringan seraya meracik sup jagung untuk Airin, dan tak lama sup pun jadi dengan aroma yang sangat menggoda.
Bram bersiap membawa semangkuk sup dan segelas susu untuk Airin saat tiba-tiba saja sang istri yang dicinta muncul di ambang pintu.
“Pi, kok, enggak bangunin aku?”
“Loh, kenapa Mami turun, Mami, kan lagi kurang sehat. Ini, Papi sama Bu Nah udah buatkan sup jagung kesukaan Mami.”
Airin mendekat seraya tersenyum, “Duuhh ... baik banget, sih, suamiku, sayaaang banget,” ucapnya manja seraya menggelayut manja di lengan kanan Bram.
Bram kemudian memeluk dan mencium kening istrinya kemudian menuntunnya untuk duduk di kursi serta menyiapkan sarapan untuk Airin persis seperti Airin melayaninya saat akan sarapan.
“Mami sarapan dulu, ya, habis ini minum obat pereda demamnya. Kalau sudah minum obat belum ada perubahan kita harus pergi ke rumah sakit dan Mami tidak boleh menolak.” Bram berbicara tegas pada Airin yang membuat perempuan berparas cantik itu sedikit memajukan bibirnya.
Lalu Bram menarik kursi dan duduk di sebelah Airin, “Mau Papi suapin?”
“Ish, enggak usah. Mami enggak papa, kok, Pi, mungkin cuma masuk angin aja.”
“Mungkinkan? Untuk pastinya kita ke dokter siang ini, ya?” bujuk Bram seperti sedang merayu anak kecil yang merajuk.
“Aku bed rest aja, deh, Pi. Aku enggak papa, kok, bentar juga enakan ini.” Airin kukuh tidak mau pergi ke dokter.
“Ya, udah, tapi kalo sampe sore masih enggak membaik, kita ke rumah sakit, enggak ada alasan lagi.”
Airin terdiam dan sedikit mengangguk.
Bram menyuapinya satu sendok sup jagung, terus dan terus hingga tak terasa sudah setengah mangkuk sup, Airin habiskan. Tiba-tiba rasa sembelit di perutnya kembali ia rasakan, Airin menahannya hingga tak terasa keringat dingin mulai mengucur dari dahinya.
“Sayang, kenapa? Kok, keringat dingin begini?” tanya Bram panik.
Airin menggeleng lemah, terlihat wajahnya pucat pasi membuat Bram semakin panik.
“Ayo kita ke kamar, aku gendong, ya?” Bram bersiap untuk menggendong Airin. Namun, baru saja Airin bangkit dari duduknya tiba-tiba saja tubuhnya luruh dan jatuh ke lantai. Wanita itu pingsan.
Bram panik bukan main, dibopongnya tubuh mungil Airin dan dengan langkah lebar ia langsung membawanya ke mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
Kenzo yang menyaksikan itu semua, menangis tersedu di pelukan Bu Nah dan segera berlari menyusul ayahnya.
“Papi! Mami kenapa, Pi?” Dengan tangis yang makin menjadi Kenzo bertanya pada Bram yang tengah bersiap menyalakan mesin mobilnya.
“Kenzo tunggu di rumah, ya, Sayang. Papi bawa Mami dulu ke rumah sakit. Kenzo tidak boleh nangis, kita doakan Mami enggak kenapa-kenapa, ya, Nak.” Bram berusaha membesarkan hati Kenzo yang menangis meraung-raung.
Setelah meminta Bu Nur untuk menenangkan Kenzo, Bram gegas membawa Airin ke rumah sakit dengan hati yang tak karuan. Ia takut, sangat takut akan terjadi hal yang tak diinginkan pada diri Airin.
Beruntung pagi ini jalanan masih sepi sehingga Bram bisa sampai di rumah sakit lebih cepat tanpa ada kendala apa pun di jalan.
“Tolong istri saya, Suster!” seru Bram masih dengan perasaan paniknya saat tiba di depan rumah sakit dan dua orang berseragam putih-putih menyongsongnya.
Airin dibaringkan di atas brankar dan didorong masuk ke ruang UGD. Sementara Bram menunggu di luar dengan perasaan yang tak menentu.
Setelah memakan waktu yang lumayan lama, akhirnya tim dokter yang memeriksa Airin keluar dari ruang pemeriksaan, Bram menyambutnya dengan harap cemas.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”
“Boleh kita bicara di ruangan saya, Pak?”
“Baik, Dok.”
Bram dan dokter yang memakai name tag bertuliskan Dr. Faizal Hasyim itu berjalan beriringan menuju ruangan kerjanya untuk membicarakan tentang apa dan bagaimana penyakit yang sedang diderita Airin.
“Silakan duduk.” Dokter Faizal mempersilakan Bram untuk duduk berhadapan dengan dirinya.
“Terima kasih, Dok,”
“Jadi, begini Pak Bram, setelah kami melakukan serangkai pemeriksaan tadi, kami menemukan sesuatu di pankreas istri Anda, dan kami akan melakukan pemeriksaan lagi untuk memastikan penyakit apa yang diderita istri Anda. Jadi, untuk sementara ini saya anjurkan Ibu Airin untuk dirawat inap.”
Deg!
Dada Bram terasa sesak demi mendengar penjelasan dari Dokter Faizal, meskipun belum ditemukan pastinya penyakit yang diderita Airin, tetapi Bram tahu, ada sesuatu di pankreas itu pun sudah merupakan penyakit yang serius.
Dengan langkah gontai Bram berjalan menuju bagian administrasi untuk mengurus segala sesuatu yang menyangkut perawatan Airin. sementara itu Airin yang masih sangat lemah telah didorong oleh beberapa orang perawat menuju kamar inap di ruangan VVIP.
Setelah selesai urusan administrasi, Bram menelepon Bu Nah untuk mengabari kalau Airin harus dirawat inap dan juga meminta tolong Bu Nah untuk menyiapkan keperluan Airin dan dirinya selama di rumah sakit.
Bersambung ....

Komentar Buku (26)

  • avatar
    Wafa Firmansyah

    seru

    29/08/2025

      0
  • avatar
    NoviantiSalsabila tri

    bagus

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Vano surabayaVino

    menarik dan menyenangkan dan ucapan selamat ulang tahun lebih tua dari usianya kelopak mata yang kendur secara alami dan ucapan selamat ulang tahun lebih tua dari usianya kelopak mata yang kendur secara alami dan ucapan selamat ulang tahun lebih tua dari usianya kelopak gak tau ngekei di Indonesia dengan harga terjangkau untuk kalangan sendiri yang akan kita gunakan dalam hal itu bisa menjadi alternatif ini hp kak buat para pecinta film nya Fano di dalam hal yang akan terjadi selanjutnya ya 🙂‍↕

    24/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru