logo text

Sayang-sayangan

Saat Azzam selesai melakukan transaksi ia merangkul bahu Dina dan membawanya berjalan keluar toko dan kembali ke tempat perbelanjaan bahan dapur. Dina masih diam dan syok dengan apa yang dibeli suaminya.
"Udah, mukanya gak usah tegang gitu. Udah biasa kali pasangan halal beli kaya gitu." Ucap Azzam sambil mencubit pipi Dina.
"Malu Mas. Malu Tahu!!"
"Yang Malu itu kalau gak halal, sayang! Lagian ya, itu pahala buat kamu kalau kamu bisa buat suami seneng."
"Ahk Mas Azzam selalu aja ada kata-kata yang buat aku kalah."
"Loh, emang bener loh sayang. Apa lagi tadi kamu denger sendiri kan? Papa maunya empat dari kita." Bisik Azzam di telinga Dina. Membuat Dina bergidik ngeri. Dan ia melangkahkan kakinya lebih cepat dari Azzam. Azzam tersenyum dan mengejar langkah Dina.
"Kok Masnya di tinggal sih?"
"Biarin aja! Mas mesum mulu sih!"
"Sama istri sendiri gak dosa loh."
"Iya tapi ini di tempat umum, Mas!
"Emang Mas ngapain, kok kamu marah gitu."
"Ish Mas Azzam. Udah deh, kita pulang aja."
"Kamu kalau ngambek buat Mas gemes. Pengen Mas gigit." Azzam terus menggoda Dina, tanpa mereka sadari orang-orang didekat mereka memperhatikan tingkah Azzam dan Dina. Mereka tersenyum dan mengira bahwa Azzam dan Dina adalah pengantin baru.
.
.
.
Saat ini mereka sudah berada di rumah Azzam.
Semua barang belanjaan sudah di bawa masuk dan sudah disusun rapi didalam kulkas.
"Mas, siap-siap gih, nih udah jam sebelas loh." Ucap Dina saat melihat suaminya masih duduk santai di ruang makan.
"Oh iya, Mas sampe lupa kalau ada jadwal ngajar hari ini."
"Keliatan banget udah tua, gampang lupanya." Ledek Dina sambil tertawa.
"Apa kamu bilang? Tua gini kamu suka kan?"
"Hmm.. gak juga tuh. Week!" Ledek Dina sambil menjulurkan lidahnya dan berlari ke arah ruang depan.
"Awas kamu ya, ntar Mas cium kalau dapat."
"Kejar aja kalau bisa, Mas kan mau kerja!" Lagi Dina meledek suaminya.
Dina berlari memutari sofa ruang tamu, ia berusaha ngelak dari kejaran Azzam. Namun ia kalah dengan langkah Azzam.
"Dapat kamu kan? Ayo mau lari kemana, udah berani ya meledek Masnya!" Azzam memeluk Dina dari belakang, ia meletakan dagunya di bahu Dina. Dan mencium leher Dina yang masih berbalut hijab.
"Ekhem... bisa gak sih mesra-mesraanya di kamar. Ada yang masih kecil nih!" Tiba-tiba suara Rara mengagetkan aktivitas bermain mereka. Dina merasa malu dan berusaha melepas pelukan Azzam.
"Kamu Ra, kalau masuk diketuk dulu atau ucapain salam kenapa?" Ucap Azzam kesal saat kemesraannya di ganggu oleh adiknya.
"Idih... dari tadi Zahra udah teriak-teriak noh di luar. Tapi gak ada jawaban. Ya udah Zahra masuk aja. Lagian pintu juga kagak di kunci."
"Mau apa kamu kemari?"
"Gitu amat kak Azzam nanyanya! Emang Zahra gak boleh nih main ke rumah kakaknya sendiri?"
"Eh bukan gitu Ra, Mas Azzam bukan maksud gitu, ya udah ayo sini duduk."
"Nah gitu dong, kakak ipar aja baik. Masa kak Azzam rasa kakak tiri. Lagian nih ya, Zahra ke mari sekalian bawa pesan Abah. Kakak udah di tunggi Abah. Kata Abah mau rapat penting."
"Ya udah sana Mas, siap-siap. Kasian Abah nunggu lama."
"Mas kekamar dulu ya. Kamu gak mau ikut?"
"Kak Azzam apaan sih, masa kekamar aja harus ditemanin kakak ipar. Dasar manja!"
"Kamu tuh yang Manja. Lagian kakak bukan manja, cuma pengen sayang-sayangan tapi kamunya ganggu."
"Kayak gak ada waktu lain aja. Udah sana. Zahra bilangin Abah nih Ya!" Zahra mengancam kakaknya dengan berpura-pura ingin menelfon Abahnya.
"Ih udah pada gede juga masih asik ribut. Udah Mas, sana siap-siap!"
"Kak, tadi aku ke toko kue Umi Hanna. Katanya dia rindu sama kakak, gimana kalau kita main ke toko Hanna. Hanna pasti seneng kalau kita datang."
"Oh iya, gadis kecil itu. Kakak juga rindu. Gadis periang dan juga rajin."
"Zahra gak nyangka ternyata kakak secepat itu akrabnya ke anak kecil. Padahal sama Zahra aja Hanna tidak terlalu dekat."
"Itu mungkin karena jarak kalian yang berjahuan."
"Gak juga tuh, waktu Zahra masih kuliah d sini, Hana jarang tuh mau main sama Zahra."
"Mungkin dia bosan sama orang dewasa. Namanya juga anak kecil Ra. Oh iya tunggu bentar ya. Kakak mau ambil lauk buat di bawa ke Umi dan Abah." Dina berjalan kearah dapur dan mengambil rantang yang sudah di isi dengan masaknnya tadi pagi.
"Kakak buat apa? Hmm harum sekali. Sepertinya lezat. Zahra jadi laper deh."
"Kamu mau makan? Ini makan di sini aja. Yang ini biar untuk Abah dan Umi."
"Beneran nih, Zahra boleh makan disini?"
"Boleh dong, kenapa tidak?"
"Kamu kalau mau makan disini bayar, enak aja gratisan!" Seru Azzam yang datang dari arah kamar dengan seragam mengajarnya.
"Hust... Mas apaan sih?"
"Biar aja, dia itu punya uang tapi pelit banget. Liat aja tuh sampe sekarang gak nikah-nikah karena pelit sih!" Ledek Azzam yang membuat adiknya tersedak saat makan nasi soto buatan Dina.
"Apaan sih kakak, kakak aja panglatu. Kok malah ngatain Zahra. Huft..!!"
"Panglatu? Apaan tu Ra?" Tanya Dina yang heran dengan istilah adik iparnya.
"Panglima raja tua kak. Ha..ha..ha..". Zahra tertawa puas meledek kakaknya.
"Biarin, yang penting sudah laku dan lebih mudah lagi." Azzam tak mau kalah dengan ledekan adiknya. Sehingga menimbulkan keributan adu mulut di ruang makan.
"Sudah-sudah. Apaan sih kalian. Sama aja ya. Udah tua tapi gak malu sama umur. Gimana Umi hadapi kalian berdua kalau bertemu aja selalu ribut gini."
"Makanya Umi nikahin Kak Azzam, kak. Umi pusing sama kelakuan Kak Azzam."
"Eh yang ada kamu itu Ra, Mas sih anak kesayangan Umi."
"Kesayang apa, huh dasar panglatu!" Kekeh Zahra membuat Azzam semakin geram.
"Sudah Mas, ayo aku anter kamu kedepan. Bahaya kalau terus dilanjutin. Kalian ini kaya kucing sama tikus." Dina menarik lengan suaminya dan membawakan tas kerja suaminya ke arah pintu utama.
"Kamu jangan terlalu percaya dengan Zahra. Dia suka ngada-ngada kalau ngomong."
"Iya-iya. Udah gih sana. Tuh Abah udah nungguin."
"Mas berangkat ya sayang. Baik-baik dirumah." Ucap Azzam sambil mengelus kepala Dina dan mengecup kening istrinya.
Setelah mengantar suaminya, Dina pun kembali masuk ke dapur. Ia melihat Zahra yang telah selesai makan dan mencuci piringnya di wastafel.
"Kenapa dicuci?"
"Gak apa-apa kak, takut di katain adik ipar durhaka." Ucap Zahra sambil tersenyum.
"Kamu ya, ya udah yuk kita kerumah Umi. Abis dari rumah Umi kita ke toko Hanna.
Merekapun berjalan beriringan sambil mengobrol santai. Yang awalnya Dina merasa canggung dengan keluarga suaminya kini ia harus mulai bisa membiasakan diri. Ia tahu saat inilah waktunya ia harus bisa menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang istri.
"Kak, kuliah kakak gimana?"
"Hmm... tinggal menunggu sidang meja hijau dan wisuda aja sih. Oh iya kayanya canggung banget deh kalau aku kamu panggil kakak. Padahalkan lebih tua kamu dari aku."
"Gak masalah kali kakak. Kakakkan sudah menikah dengan kak Azzam, berarti kakak ini kakak ipar aku. Masa istri kakak aku, aku panggil adik?" Tawa Zahra sambil berjalan ke arah rumah Umi.
"Umi!" Ucap Dina dan Zahra serentak.
"Waalaikumsalam. Masuk nak!"
"Umi, ini ada sedikit lauk Dina masakin untuk Abah dan Umi. Semoga Abah dan Umi suka."
"Pasti Umi dan Abah suka kak. Zahra aja sampe tambah dua kali Mi!" Zahra tersenyum malu saat ia tadi makan dirumah kakaknya sampe tambah karena menikmati masakan kakak iparnya.
"Kamu anak gadis gak malu."
"Biarin aja Mi, mumpung dirumah kakak sendiri. Geratis lagi. Ya Zahra makan sampe kenyang aja sekalian. Ha...ha..ha.."
"Sana kamu bawa kebelakang. Kelakuan kamu dari dulu gak berubah Ra. Oh iya nak, kamu masak apa itu?"
"Soto Medan Mi. Semoga cocok dilidah Umi dan Abah."
"Pasti nak, itu makanan terenak yang pernah Umi coba. Dulu di sini ada yang jual soto Medan angkringan tapi sayang, abang yang jualan udh pulanv kampung katanya. Jadi gak bisa makan soto Medan lagi."
"Kak Dina, udah yuk kita jalan."
"Kalian mau kemana? Baru juga duduk udah di ajak pergi kakaknya."
"Mau ke toko kue Umi Hanna, Mi. Dina kangen sama Hanna."
"Mumpung Zahra Masih disini, jadi mau ajak kakak ipar jalan-jalan."
"Bawa jalan-jalan atau mau morotin kakak iparnya?" Celetuk Uminya. Ia paham bahwa anak gadisnya ini sedikit berbeda dengan Azzam.
"Ih gak ya Mi. Zahra kan punya uang. Ntar Zahra yang traktir kakak ipar. Umi dan kakak tenang Aja."
"Kalau gitu ajak Umi juga dong!"
"Umi di rumah aja. Umi kan udah tua, gak kuat jalan kaki bareng kami!"
"Enak aja, gini-gini Umi masih sehat."
"Nanti Dina bawain oleh-oleh buat Umi aja ya!"
"Nah ini bafu menantu idaman, gak kaya kamu Ra. Pulang jauh-jauh ke sini gak bawa apa-apa untuk Uminya."
"Umi kok gitu sih? Ya-iya nanti Zahra beliin hadiah buat Umi.
"Yuk ahk kak. Ntar-ntar aja ngobrolnya."
"Kami pergi dulu ya Umi!" Ucap Dina sambil menyalam tangan Uminya dan berlalu keluar rumah.
Merekapun berlalu meninggalkan rumah Uminya dan berjalan kaki menyebrangi jalan menuju toko Hanna. Terlihat penginjunh yang sangat ramai.
"Aku dengar-dengar, di toko Hanna lagi ada yang Viral kak, makanya pelanggan sampe ramai gitu."
"Oh iya, Umi Hanna buat menu baru lagi kayanya. Wajib dicoba nih."
"Iya dong kak, kakak pasti ketagihan sama kue buatan Umi Hanna."
Saat mereka memasuki toko terlihat jelas pengunjung memenuhi setiap tempat duduk. Apa lagi ini jam makan siang. Pengunjung tidak hanya dari kalangan anak sekolah. Para pekerja kantoran dan juga ibu-ibu komplek banyak mengantri untuk membeli kue buatan Umi Hanna.
Brukk...
Tanpa disengaja seseorang bertubuh kekar membawa segelas ice coffqe dan sekotak kue di tangannya berbalik kearah belakang menabarak tubuh Dina. Baju Dina basah akibat tumpahan ice cofee.
"Aww..." ucap Dina refleks karena terkena siraman ice coffe.
"Masnya gimana sih, kalau jalan liat-liat dong." Ucap Zahra kesal saat melihat kakak iparnya terkena tumpahan coffe dan membantu membersihkan baju Dina.
"Maaf Mba, saya tidak sengaja. Tadi saya kira tidak ada orang dibelakang saya."
"Maaf.. maf kamu bilang. Lihat ini baju kakak ipar saya jadi basah!"
"Sudah Ra, gak pa-pa! Masih bisa dibersihin juga"
"Sekali lagi saya minta maaf, Mba! Ucap Pria yang ada dihadapan Dina.
"Iya Mas! Kamu?" Dina terkejut saat melihat wajah pria dihadapannya. Jantungnya berdetak kencang. Ia tidak menyangka bisa bertemu kembali ditempat ini.
"Dina? Ini kamu Dinakan?"

Komentar Buku (1173)

  • avatar
    Ani SuryaniEuis

    seru cerita ny bikin penasaran..ada agamany juga jd nambah ilmu ..👍

    20/04/2022

      13
  • avatar
    Shakinah Rothman

    just a unique love story and beautiful impact at the end

    19/04/2022

      2
  • avatar
    kurniawanari

    siap

    18d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru