logo text

Perasaan buruk

Hasna yang sudah terlebih dulu sampai di sebuah desa perkebunan itu, telah menyewa sebuah rumah kecil untuk misi selanjutnya. Demi sebuah rencana jahatnya, ia rela tinggal di rumah kecil yang tak sebanding dengan kehidupannya selama ini. Ia merubah penampilan menjadi lebih tertutup, agar Azzam tak mengenali wajahnya secara langsung. 
Azzam sudah sampai pada tujuannya, hampir enam jam perjalanan yang ia tempuh lewat jalur udara dan darat untuk menuju ke perkebunan sawit miliknya. Ia dijemput oleh pekerja yang selma ini mengurus kebun sawitnya. "Maaf, pak, kalau bapak menunggu lama. Tadi saya menunggu mobilnya dulu, biasalahpak di kampung yang punya kendaarn hanya beberapa saja yang bisa di pijanmi kendaraannya, pa."
"Iya tidak masalah, pak, tadi saya juga menunggu sambil mengisi perut dulu. Oh iya bagaimana dengan warga sekitar, pak?" Tanya Azzam, beberapa hari ia sudah mendapat kabar kalau ada beberapa warga yang meminta penglelangan lahan perkebunan, namun Azzam menolak untuk itu.
"Sebenranya, warga sekitar itu termakan omongan, pak. Di kasih uang sedikit saja langsung memihak ke lain orang. Mereka tidak memikirkan dampak berikutnya."
"Benar sih yang bapak bilang, tapi, siapa orangnya yang berani mau mengambil lahan saya, pak?"
"Saya juga kutang tahu, pak. Kalau kata warga sih warga asing yang tertarik untuk membangun mall katanya, biar desa bisa maju, padahal kita tahu sendiri, bagaimana desa bisa maju kalau masyarakatnya aja masih bertani sih, boro-boro di bangun mall megah, buat makan aja kadang masih berharap bantuan pemerintah desa."
Azzam hanya mengabgguk dan menatap ke arah luar jendela kaca mobil di sampinya. Terlihat jelas pemandangan yang tak pernh berubh dari beberpa tahun lalu ia datangi. Masih dikelilingi dengan lahan sawit yang tumbuh menjulang tinggi. Terlihat beberpa pekerja yang memanin biji sawit dan mengumpulkannya menjadi satu. Sembari Azzam memikirkan bagaimana cara untuk menenangkan warga sekitar agar tidak terpengaruh dengan isu-isu yang membuat warga semakin di bodohi.
Saat di bandung, Azzam sudah mengirimkan beberapa bahan pangan untuk warga, namun belum tiba di lokasi.
"Pak, mungkin esok akan tiba beberapa bahan pokok dari Bandung, dan tolong besok bapak handel, untuk dibagi kewarga setempat yang layak untuk menerimanya."
"Baik, pak. Untuk saat ini, apakah bapak mau langsung pulang ke rumah atau kita perkebunan dulu, pak?"
"Kita langsung aja pulang kerumah, pak. Saya mau istirht dulu, baru berkeliling dan melihat kebun, pak. Nanti saya telfon bapak untuk jemput saya." Ujar Azzam sambil mengirim pesan ke istrinya kalau dia sudah sampai pada tujuannya. Namun tak berselang lama pangilan vidio call muncul di layar poselnya. Terlihat nama dan wajah yang tak asing baginya.
"Mas...... Kenapa nagabarinya tidak vidio call aku? Mas lagi sama siapa sih?' ujar Dina di balik suara yang terdengar sedikit mengeras. Azzam tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Biasakan ucapin salam dulu, sayang. Assalammualikum... Gitu.."
Dina terkekeh sambil menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya. Karena kepanikannya setelah enam jam berlalu baru ini suaminya meresponnya di ponsel miliknya. "Maaf, mas. Aku tadi panik, takut tahu... Gak pernah di tinggal selama ini sama kamu, dan kamunya juga baru ngabari aku. Ya udah aku matiin, ntar aku telfon balik."
Belum sempat Azzam mengeluarkan suaranya, panggilannya sudah terputus. "Allah..." Ucap Azzam sambil terkekeh. 
"istrinya bapak, ya?' tanya Pak Bowo yang duduk di bagian kemudi mobil. 
"Iya, pak. Kami baru menikah beberapa bulan yang lalu."
"Wah, istrinya lucu ya, pak. Kedengaran dari suaranya kaya masih remaja." Ujar Pak Bowo sambil tersenyum. "Maaf, pak" pada akhirnya merasa tak enak karena mengatakan Dina seperti anak remaja.
"Tidak apa-apa, pak. Iya memang usia saya dengan istrinya hampir beda sepuluh tahun."
Terdengar suara panggilan vidio kembali di ponsel Azzam. "Izin saya terima telfon istri dulu ya, pak."
Pak Bowo mengganguk dan tetap fokus dengan setir mobil yang ia kemudi.
"Assalammualikum, Zawji..." Ucap Dina segera setelah telfon itu diterima oleh Azzam dan terlihat jelas wajah sang istri yang bahagia.
"Waalaikumsalam.. Zawji??" Tanya Azzam setelah mengucap salam sambil menyipitkan matanya kearah layar yang terlihat wajah sang istri.
"Ih... Mas, masa gak tau sih artinya. " Dina cemberut dengan balasan dri sang suami. 
"Iya Zaujatii... Uhibuk fi Allah."
Dina tersenyum sumringah, akhirnya yang diharapkannya dari balasan sang suami terucap juga. Pipinya merah merona. "Sayang, mas masih di jalan, ini masih di dalam mobil bersama pak Bowo. Nanti kalau sudah sampai rumah mas hubungi lagi ya. Kamu baik-baik di sana, jangan lupa sholat ya."
"Iya, mas. Janji sama aku, setelah semua beres, mas harus balik ke Bandung secepatnya. Aku kesepian. Baru pas tinggal berapa jam aja aku udah kesepian, mas..." Rengek Dina dengan wajah sedihnya. Selama menikah baru ini ia di tinggal sang suami. Padahl suaminya sudah mengijinkannya untuk menginap beberpa hari di rumah orang tuanya, namun tetap ingin berada di rumah mereka.
"Ya sudah, mas tutup telfonnya, assalammualiku, Zaujatii..."
"Waalaikumsalam, mas. Muach..." Ucap Dina di ujung pembicaraan merekea sebelum telfon di matikan. Azzam tersenyum melihat tingkah sang istri.
"Kenapa tidak di balas, pak?" Ledek pak Bowo yang dari tadi menyimak obrolan pasangan muda itu..
Azzam terkekeh kecil.
"Ada-ada saja, pak."
"Ya tidak apa-apa, pak. Perempuan itu memang seperti itu pak, inginnya di manja di perhatikan seperti anak kecil. Istri saya aja, sudah punya anak empat aja, kalau lagi sama saya berduaan manjanya melebihi kaya anak-anak, pak. Tapi ya memang itulah karakter perempuan, pak. Cari perhatian dari suaminya. Doa saya semoga langgeng sampai anak cucu dan maut memsiahkan ya, pak."
"Amin... Makasih doa baiknya, pak. Doakan juga agar kami segera di kasih kepercayaan menjadi orang tua ya, pak" ujar Azzam.
"Amin, pak. Semoga tuhan secepatnya memberikan bapak dan istri anak secepatnya. Bolehlah sekali-kali istrinya dibawa liburan kesini, pak."
"Rencana saya juga seperti itu, pak. Tapi karena dengar masalah ini, saya gak mau melibatkan istri dengan masalah sengketa ini, pak. Kalau nanti masalahnya sudah tenang, saya pasti bawa istri kemari, pak."
Azzam tiba di rumah yang cukup sederhana miliknya. Selama ini, rumah itu hanya di tempati pak bowo, namun karena mendengar kabar datang berkunjung, pak Bowo kembali kekediamannya. Selama ini pak Bowo yang membersihkan rumah milik Azzam, agar terlihat tetap terawat.
"Sudah, pak. Biar saya sendiri saja. Bapak bisa kembali ke rumah temui anak istri bapak." Ujar Azzam sambil menurunkan semua barang miliknya dan membawa masuk kedalam rumahnya.
Bowo meninggalkan Azzam dan segera mengembalikan mobil milik pak kades yang ia pinjam untuk menjemput Azzam.
Azzam membersihkan dirinya, setelah membereskan bebrapa barang yang ia bawa. Saat ia selesai mandi terdengar suara ketukan yang cukup kuat dari pintu utama. Azzam bergegas berlari kedepan dan melihat siapa yang datang saat malam seperti ini, dengan ketukan yang cukup kuat.
"Iya sebentar." Jawab Azzam dari dalam rumah dan segera membuka pintu.
"Dengan pak Azzam?" Terdengar suara lelaki paruh baya yang ada di balik pintu rumah Azzam.
"Iya, saya sendiri. Dengan bapak siapa ya? Ada keperluan apa malam-malam seperti ini, pak?"
"Pak, gawat.... Itu kebun bapak, kalau bisa sekarang kita langsung kekebun, ada kebakaran di kebun, pak." Ujar lelaki tua itu dengan suara bergetar dan sedikit ketakutan.
Azzam kaget, wajahnya panik, belum juga lelahnya hilang karena capek dalam perjalanan, kini ia mendapat kabar seperti ini. Azzam langsung mengunci pintu rumahnya dan mengikuti langkah lelaki yang menjemputnya.
"Mari, pak. Naik motor saya saja, biar lebih cepat sampai."
Azzam naik keatas motor, dan ia tak membawa ponsel dan dompetnya. Ia juga sangat panik saat mendengar kabar kalau kebunnya ada yang mencoba untuk membakarnya.
Namun dalam perjalanan, Azzam merasa ada yang aneh, perjalanan yang dibawa lelaki yang menjemputnya tadi tidaklah sesuai dengan perjalanan biasa kearah kebunnya. 
"Pak, ini kita sebenarnya mau kemana?" Azzam merasa aneh saat melihat sekiling jalan yang sangat gelap.
"Namun lelaki itu tidak merespon dan hanya diam dan tetap melajukan kendaraannya.
Namun saat Azzam merasa ada yang aneh, ia berusaha untuk melompat dari atas motornya. Ia terjatuh lebih jauh dan tak sadarkan diri, karena laju motor yang cukup kencang, membuat tubuh Azzam terpelanting jauh ke dalam semak.
Hasna yang melihat reksi Azzam terjatuh, ia langsung berlalri mengejar tubuh Azzam yang terjauh.
"Ssssttt..... Bodoh sekali kamu...." Ujar Hasna, saat lelaki tua suruhannya itu gagal membawa Azzam dengan selamat ke rumahnya. 
"Cepat bawa kerumah saya, jangan sampai ada yang tahu satu wargapun, kalau tidak hidup klian akan tersiksa seumur hidup saya buat." Titah Hasna dengan tegas
"Baik, bu."
Hasna lebih dulu berjalan menuju rumahnya, dengan sepeda motornya. Ia berharap bisa duluan lebih sampai dari para pesuruhnya.
*******
"Aww... Duh kok bisa kena sih, perih banget..." Dina yang lagi mengupas buah apel, tiba-tiba tanganya terkena pisau. Firasatnya mulai tak enak. Ia tiba-tiba teringat dengan suaminya. Kenapa sudah dua jam dari suaminya sampai belum ada kabar sama sekali dari Azzam. "Mas..., semoga ini hanya perasaanku saja." Ujar Dina sambil membersihkan jarinya yang terkena pisau. Dina segera menghubungi ponsel sang suami, namun tak ada jawaban.
"Mas, kamu di mana? Tidak biasanya kamu seperti ini, mas. Jangan buat aku takut, mas..."
Dina terus berusaha menghubungi nomor suaminya sampai puluhan panggilan tak ada jawaban dari sang suami.
Pirasaat Dina semakin tidak enak, ia semakin takut dan air matanya menetes membasahi pipinya. Ia bingung harus menanyakan pada siapa.
Mau menelfon ibu mertua sudah pasti ibunya akan marah sama dia. "Papa... Iya aku harus telfon papa." Segera Dina mencari kontak papanya dengan tangan yang gemetar. Baru saja terdengar suara panggilan masuk, telfon tersebut langsung diterimah oleh papanya.
"Pa...." Terdengar suara Dina dengan isakan tangis.
"Sayang, kamu kenapa? Ini sudah larut malam, ada apa, nak?" Jawab Dino dengan suara terkejut saat mendengar suara anaknya yang menangis.
"Pa... Mas Azzam, pa..."
"Ada apa dengan Azzam? Kamu kenapa? Coba kamu tenangin diri dulu. Tarik nafas dulu, coba kamu minum, sayang. Biar kamu lebih tenang."
"Pa... Tadi pagi mas Azzam izin pergi ke kalimantan, trus dua jam yang lalu mas Azzam udah ngabari aku kalau dia sudah sampai. Tapi ini aku hubungi gak bisa, pa. Perasaan aku tidak enak, pa. Kaya ada sesuatu yang terjadi dengan mas Azzam, pa."
"Kamu tenang dulu sayang, jangan panik. Papa akan kerumah kamu sekarang, kamu tenangkan dirimu ya.."
"Pa, tidak perlu, ini sudah larut malam, papa tolong bantu aku, buat cari tahu keberadaan mas azzam, pa." 
"Aku takut terjadi sesuatu sama mas Azzam, pa."
"Iya sayang, kamu tenang aja, papa akan printahkan anak buah papa untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan suamimu. Sekarang kamu istirahat ya."
"Baik, pa. Makasih ya, pa." Dina pun mematikan ponselnya dan mencoba menghubungi nomor suaminya, masih tetap sama tak ada balasan. Dina mulai gelisah, namun ia memilih untuk sholat mencari petunjuk dari sang maha kuasa.
*****
Hasna memberishkan luka di tubuh Azzam, dia memanggil seorang dokter bayarannya untuk membuat Azzam bisa lupa siapa dirinya dan dia akan memaanfatkan waktu yang ada untuk bisa bersama dengan Azzam.
"Kamu sudah memberikan obat yang mau?" Hasna mendekati dokter yang baru saja memberikan suntikan pada Azzam. "Janagn sampai kamu gagal, aku sudah bayar kamu mahal untuk kali ini. Aku ingin dia lupa sama dirinya dan masa lalunya. Cukup aku yang dia ingat." Tekan Hasna kembali saat berbicara dengan dokter muda yang sengaja ia bayar dari luar negeri.
"Anda tenang saja, selagi anda mengikuti petunjuk saya, untuk tetap rutin memberikan obat ini pada beliau, maka lambat laun ingatannya akan melemah, dan tubuhnya lemah. Dan hanya bisa berharap bantuan anda."
"Baik." Hasna menerima sebungkus obat yang berisi beberapa macam itu dan menyimpannya di dalam laci nakas yang berada di sebelah ranjang Azzam berbaring. "Tapi ini akan bertahan berapa lama reaksi obatnya?"
"Selama anda mau. Selagi anda terus memberikan obat ini untuk di konsumsi dia, maka dia akan selalu berada dibawah kendali anda."
"BBaiklah. Setelah saya liat reaksinya sesuai dengan kemauan saya, saya akan bayar sisa bayaran kamu dan bonus buat kamu."
"Oke. Saya harap kerjasama kita ini. Tidak akan bocor kesiapapun." 
Hasna menggangguk dan mengantarkan dokter muda itu pergi meninggalkan rumahnya. Hasna tersenyum licik, akhirnya rencananya bisa berhasil kali ini. Hasna kembali masuk kekamar tempat Azzam berbaring, ia mengelus wajah Azzam dan tersenyum. Namun ada rasa iba di hatinya karena melihat beberapa luka lecet di tubuh milik lelaki yang ia kagumi.
"Andai saja dari dulu kamu mau dengar kata-kataku, pasti kamu tidak akan tersakiti seperti ini, sayang. Wajahmu, tubuhmu, selalu membuat aku terpesona, sayang. Namun saat ini aku tidak ingin membuat tidurmu terganggu. Biarlah kamu istirahat dengan nyenyak. Besok pagi akan kita mulai cerita baru untuk kehidupan baru kita, sayang." Hasna mencium kening dan bibir Azzam. Ada gejolak aneh dalam dirinya, namun ia tahan, karena melihat wajah azzam yang tertidur pulas. Setelah habis reaksi obat yang diberikan itu, maka Azzam akan terbangun.

Komentar Buku (1173)

  • avatar
    Ani SuryaniEuis

    seru cerita ny bikin penasaran..ada agamany juga jd nambah ilmu ..👍

    20/04/2022

      13
  • avatar
    Shakinah Rothman

    just a unique love story and beautiful impact at the end

    19/04/2022

      2
  • avatar
    kurniawanari

    siap

    28d

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda