Akhirnya, Rama bisa bernafas lega hanya dengan melihat nama kostnya saja. Setelah empat hari berat harus mengawal kegiatan mahasiswa di kampusnya yang membuatnya paling lama tidur dua jam setiap harinya. Rama benar-benar menyesal sudah menyanggupi ajakan temannya untuk terlibat dalam kegiatan himpunan mahasiswa jurusan, sebuah komunitas mahasiswa perpanjangan senat mahasiswa di tingkat jurusan waktu itu. "Setidaknya buat dirimu berguna." Begitu bujuk Anton dulu. Sesal memang selalu datang kemudian. Nasi sudah menjadi bubur. Rama segera mandi, berharap sejuk air akan menghapus penatnya. Setelah ini dia mesti membayar mahal waktu yang tersita untuk kegiatan mahasiswa dengan menyelesaikan tugas menumpuk yang sudah tertunda selama empat hari. Rama baru menghanduki rambutnya yang basah ketika pintunya diketuk tergesa. "Hai!" Ya Tuhan! Rama ingin menutup pintu demi melihat siapa yang berdiri di depannya. Namun ketika menoleh samping kanan dan kiri dilihatnya tatap lapar serta penasaran juga kedipan mata beberapa teman sekost, membuat jiwa pria sejatinya tak mungkin membiarkan ini. Dia segera menariknya masuk, mengabaikan siulan dan kasak kusuk beberapa teman. "Ada apa ke sini malam-malam?" tanyanya tak sabar tanpa mempersilakan perempuan cantik ini duduk. "Ah! Aku tidak tau lagi harus berkata pada siapa. Aku sungguh bingung!" Lila mulai berakting sambil duduk dengan ekspresi kalut. Rama hanya bersidekap dan menunggu perempuan itu bicara. Lalu Lila mulai mengoceh macam-macam tentang teman-teman kosnya yang julid dan selalu menjailinya. Juga bertanya bagaimana sebaiknya dia bersikap, membiarkanya atau pindah kos saja. Sebenarnya Rama sungguh malas menanggapi. Selain membuang waktunya yang berharga dengan banyaknya tugas dan kurangnya istirahat, pun dia tidak bisa membedakan kapan perempuan satu ini berkata jujur dan kapan berkata bohong. Dan sekarang, seperti dugaannya, perempuan gila ini merengek minta diantarkan pulang setelah pura-pura . “Ini sudah malam, Ram! Apa Kamu tega membiarkan seorang perempuan pulang sendiri?” ucap Lila sengaja menyorongkan dadanya hingga sedikit menyentuh tangan Rama. “Apa itu salahku?” Rama menarik tangannya, sedikit jijik. Tapi bagaimanapun dia terbiasa untuk bersikap sopan. “Memang bukan. Tapi-” “Tapi apa? Kamu sengaja ke sini malam-malam. Kamu tau? Tugasku menumpuk dan aku butuh istirahat!” tuduh sengit Rama. “Tega Kamu, Ram!” Lila pura-pura menangis. Dia sangat ahli dalam hal ini. Tangisnya tampak begitu alami. Dan akhirnya Rama luluh juga. “Ambil mantelmu! Tapi ingat, ini terakhir kali! Sekali lagi Kamu melakukan ini, aku tak akan peduli lagi!” ancam Rama. “Baiklah!” Lila pura-pura mengalah meski dalam hatinya bersorak penuh kemenangan. Rama mengeluarkan motornya, dan langsung menstaternya tanpa menunggu Lila mempersiapkan diri. Pun tak membantunya naik ke sadel motornya yang cukup tinggi. Dia sedikit mengelak risih ketika tangan Lila terus memegangi pundaknya. Dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi berharap segera sampai dan akal-akalan ini segera diakhiri. “Kenapa Kamu selalu menolakku? Apa ada wanita lain di hatimu?” terang-terangan Lila bertanya. Sesungguhnya cukup beralasan, Lila adalah cewek populer di kampus. Tak sedikit pria yang terang-terangan juga mati-matian mengejarnya. Wajah cantik dan perawakannya yang seksi sudah sewajarnya susah ditolak oleh seorang pria. Entah kenapa dia justru mengejar Rama, seorang pria dingin yang nyaris tak pernah terlihat bersama seorang wanita. Bahkan desas desus mengatakan bahwa dia menyukai sesama pria. Rama sendiri tak ambil pusing dengan segala desas desus yang dianggapnya picisan. Dia masih pria tulen, dan menyukai seorang wanita. Sayang tak ada yang mampu mengisi hatinya selain dia, seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Konyol memang, dia hanya bertemu beberapa kali, setelah itu dia bak ditelan bumi. Namun begitulah cinta, Rama selalu yakin wanita itu adalah takdirnya, dan waktu akan kembali mempertemukannya. “Hei! Kenapa Kamu tak pernah menjawab pertanyaanku?” Tepukan Lila menyadarkan Rama dari lamunan singkatnya. “Sudah sampai. Turunlah! Seperti katamu, ini sudah malam!” ketus kata Rama. Lila turun dengan marah. Marah pada jawaban Rama, juga pada penolakannya. Beruntung tidak ada orang lain yang mendengarnya. Itu akan merusak reputasinya sebagai primadona kampus. Namun Rama tak peduli. Begitu Lila turun dari sadel motornya, dia langsung berbalik arah dan melesat pergi. “Kamu benar-benar gila!” “Apa dia menerimamu?” “Tidak mungkin! Dia pasti menolak! Benar kan?” Teman-teman sekost Lila heboh menyambutnya begitu Rama berbalik pergi. Dan itu makin membuat Lila keki. Dia menghentakkan kaki, lalu berlari masuk kamar kostnya, meninggalkan teman-temannya dalam rasa penasaran. Sudah pasti mereka segera memburunya masuk. Dan sekarang, mereka memenuhi kamar kost Lila, siap menggosip. “Dia benar-benar dingin,” Lila memulai gosipnya dengan cemberut yang dibuat-buat. “Tapi dia benar-benar seorang pria.” Rautnya berubah berbinar dengan membiarkan kata-katanya menggantung mengundang rasa penasaran teman-temannya. “Aku masih tetap yakin bisa menaklukannya!” “Kenapa Kamu mesti repot seperti itu si?” Maya mencoba memberi komentar. “Bukankah Kamu tinggal memilih Rico, Tomi atau siapa itu yang rambutnya berjambul?” “Sammy!” Key menimpali. “Nah!” Maya menjentikkan jari. “Mereka tidak ada apa-apanya!” “Tidak ada apa-apanya katamu? Sammy itu ketua senat mahasiswa, ingat?” ucap Tia tak terima. “Ya. Aku tidak akan berpikir panjang kalau dia menyukaiku. Aku akan bilang ya pada kali pertama dia menembakku!” ucap Maya berandai-andai. “Kenapa tidak Kamu bilang saja kalau Kamu menyukainya?” saran Lila. “Dia terlanjur menyukai cewek bodoh sepertimu!” ketus jawab Maya. Namun Lila sama sekali tidak marah dibilang bodoh. Dia justru tertawa penuh kemenangan. “Eh bagaimana pendapat Kalian kalau aku menjebaknya?” Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepala Lila. “Heh! Jangan konyol!” sergah Tia. “Kalau gagal, jangankan Rama, semua pria bisa-bisa menjauhimu!” ucap Maya mengingatkan. “Menjebak bagaimana?” Key justru penasaran. “Aku akan mengajaknya kencan!” ucap Lila penuh keyakinan. “Kamu bercanda? Kamu sudah terang-terangan datang ke kostnya saja, dia menolak. Bagaimana bisa Kamu mengajaknya berkencan?” cibir Tia. “Mungkin Sammy bisa berguna kali ini!” ucap Lila penuh teka-teki. “Kamu benar-benar gila!” tegur Tia. “Atau tergila-gila?” Lila tergelak sesudahnya. Entah menertawakan apa. Barangkali dirinya sendiri. Dan, sebuah rencana berbahaya sudah terlanjur singgah di kepalanya, menunggu eksekusi segera. Tak menunggu waktu lama, keesokan harinya rencana segera dijalankan. “Sam! Tunggu aku!” panggil Lila ketika Sammy sengaja melintas lambat di depan kostnya. “Kebetulan. Kamu juga akan ke kampus?” ucap basa basi Sammy. “Ya. Tentu. Aku ada kuliah pagi ini,” jawab Lila seraya mengibaskan rambutnya. Lalu sedikit menahan geli karena tahu persis Sammy menelan ludah karenanya. “Sama,” ucap Sammy gugup. “Baguslah! Ayo!” ajak Lila. Dan Sammy, segera mempersilakan Lila naik. “Sam?” panggil Lila selagi motor melaju pelan. “Ya.” “Kenapa acara kampus hanya itu-itu saja. Sesekali buatlah acara yang seru!” “Acara seru?” ulang Sammy. “Ya!” mantap jawab Lila. “Seperti apa maksudmu?” tanya Sammy. "Begini-" Lila memulai rencana besarnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kerja bagus
05/03
0bagus
28/02
0ini bagus ceritanya
04/11
0Lihat Semua