Dentang jam dua belas kali sudah lama berlalu. Suasana makin sunyi. Sudah tidak terdengar lagi tawa serta kekehan beberapa teman sekost di teras depan. Televisi yang biasanya masih berisik karena mereka yang menonton lupa mematikan atau bahkan ganti ditonton karena tertidur di bangku depannya pun tak lagi terdengar. Namun tidak dengan Rama. Dia masih kusuk menyelesaikan makalah, salah satu tugas kuliahnya. “Huh,” desahnya lelah. Setelah kuliah sampai sore, dilanjutkan rapat himpunan mahasiswa jurusan, dia masih harus menyelesaikan beberapa tugas sekaligus. Biasanya di hari Kamis, di mana jadwal kuliah terpadatnya, dia hanya sanggup mengerjakan satu dua tugas saja. Namun berbeda kali ini, karena tugas yang seharusnya bisa dia kerjakan kemarin harus tertunda. Anton, ketua himpunan mahasiswa jurusannya tiba-tiba mengajak diskusi. Dan, ternyata lama pula. Sementara tugas membuat makalah yang semestinya bisa dikerjakan besok harus dia kerjakan sekarang karena besok mesti menemani Anton untuk menghadiri rapat senat. Rama berdiri untuk meregangkan ototnya setelah lama duduk. Sedikit meliuk ke kanan dan kiri, lalu menggerakkan kepalanya dengan mengangguk dan menoleh kanan kiri. Namun itu ternyata tidak bisa menghilangkan rasa pegal di punggung dan otot lehernya yang terasa kencang. Apalagi ditambah rasa kantuk yang mulai datang menyergap. Lantas tangan Rama memijit pelan tengkuknya. Tapi nampaknya itupun tak cukup membantu. Rama kemudian memutuskan untuk keluar menghirup udara malam. Rama mengambil jaket dan helm dengan gerakan malas, dan memakainya sambil berjalan ke luar. “Mau ke mana?” Rama menoleh ke pemilik suara. “Belum tidur?” tanyanya balik. Dia, Rudi, yang berkamar di sebelahnya menyembulkan kepala. “Tidak bisa,” ucapnya seraya menggeleng lelah. “Ikut? Aku mau ke minimarket depan. Cari kopi,” tawar Rama. Dia menggeleng lagi. “Titip aja.” “Kopi? Tambah tidak bisa tidur Kamu!” “Biar. Tanggung. Sekalian menyelesaikan beberapa tulisan.” Rama mengangguk, lalu berbalik pergi tanpa menoleh apalagi menanyakan jenis kopi yang dipesan. Bagi anak kost serupa dirinya rasa maupun selera barangkali jadi nomer ke sekian dari bawah untuk diperhitungkan. Sering, makanpun hanya sekedar kenyang. Itu sudah cukup dan sangat pantas disyukuri. Memang selalu ada mereka yang berada, atau lebih dari berada alias borjuis. Sayangnya Rama dan penghuni kost murah ini tidak termasuk didalamnya. Malah hampir semua penghuni kost bekerja sambil kuliah. Mulai dari memberi les anak-anak kecil tetangga sekitar mereka, penjaga toko, operator tempat game online, bantu di bengkel, penulis lepas seperti Rudi, juga ada beruntung bisa kerja kantoran meski hanya sebagai staf admin. Hanya Rama dan satu orang lagi yang tidak bekerja sambilan. Rama sangat ingin, tapi kegiatan kampus membuat waktunya tersita. Sudah berkali-kali dia berupaya mengakhiri, namun ada saja yang mencegahnya pergi dengan alasan yang sama. “Kalau bukan Kamu, siapa lagi?” Sedang satu lagi temannya bukan juga tidak mau. Justru dia sangat menginginkannya, gigih melamar tiap kali ada iklan lowongan atau ada teman yang memberitahu. Namun sifat anehnya memang sulit diterima orang lain. Gayanya yang meledak-ledak ketika bicara membuat orang menyimpulkan kalau dia seorang pemarah. Padahal justru kamilah yang sering memarahinya. Orang memang suka cepat berasumsi. Kasihan dia. Rama sebenarnya tidak terlalu kuatir. Meski tidak berlebih, kedua orangtuanya sangat memperhatikan pendidikan anaknya dan sudah menyiapkan dana pendidikan baginya. Jadi meski sekarang keduanya telah berpulang, Rama sebagai satu-satunya anak tidak merasakan kesulitan selain kesepian. Tak terasa sudah sampai di depan pelataran minimarket yang dituju meski motornya melaju pelan. “Selamat berbelanja,” sapa ramah satu pelayan. Rama membalasnya dengan anggukan dan senyuman, tidak sampai hati mengabaikan. Kala menjelang pagi seperti ini pastilah dia mengantuk, namun tetap harus menjaga senyumnya seramah kali pertama. Tentu ini tak mudah, dan sangatlah layak dihargai. Lengang, dan dingin. Rama dengan cepat mengambil satu pak kopi berisi enam sachet, lalu membawanya ke kasir. Segera membayarnya, dan melangkah pulang. Rama berhenti sejenak di teras mini market, menggosokkan kedua telapak tangannya yang terasa kaku karena hawa dingin yang makin menyentuh tulang. Lalu berjalan cepat menuju motornya. Kali ini dia sengaja tidak memakai helmnya. Bukan karena keinginan melanggar aturan, namun sekedar mengijinkan angin malam menampar keras wajahnya. Namun hanya sebentar, lantas segera dikenakan helmnya. Udara yang keluar dari hidungnya ketika dia membuka helm karena sudah sampai kembali ke kost, layaknya kabut. Rama segera masuk dan mengetuk pintu Rudi. “Yuk! Ngopi bareng?” tawar Rudi ketika Rama menyodorkan kopi pesanannya. “Tidak ah! Nanti akhirnya ngobrol dan tugas kita malah tidak kelar. Lain kali,” tolak Rama seraya berbalik. “Bentar. Uangmu!” cegah Rudi seraya merogoh saku. “Ada?” tanya Rama seraya kembali berbalik. “Kebetulan habis ambil honor,” ucapnya sambil tersenyum. Pantas ramah, batin Rama. “Baiklah. Terima kasih,” ucap Rama, lalu berbalik cepat, ingin segera masuk kamar. “Bentar, Ram!” cegah Rudi kembali. “Apa?” “Kemarin itu pacarmu?” “Yang mana?” Rama menaikkan alis. “Waktu malam-malam itu. Memangnya ada berapa cewek yang suka datang ke kost sih? lagumu!” cibir Rudi. “Bukan.” “Kenapa?” “Bukan ya bukan. Tidak perlu pakai kenapa!" ucap kesal Rama. “Eh? Kok marah? Nah aku tebak, dia suka dan kamu tidak. Hayo! Benar kan? Insting penulis tidak pernah salah!" simpulnya bangga. “Apaan sih? Aku sedang tidak sempat melayani tebak-tebakanmu yang tidak bermutu itu! Insting penulismu juga!" Rama benar-benar kesal. Lalu berbalik cepat dan melangkah menuju kamar. “Ram!” Rama membuka pintu kamarnya dan menghilang, tanpa berbalik lagi, mengabaikan teriakan Rudi. Ceklek. Pintu terbuka kembali dan kepala Rudi menyembul, membuat Rama mendesah kesal sekaligus menyesali kelalaiannya. Rama sangat hafal ciri-ciri Rudi ketika punya uang, banyak omong. Dan, itu sangat menyebalkan! “Apa lagi?” “Siapa namanya?” “Lila,” ucapnya pendek. Meski sebenarnya ingin sekali bilang, sana pergi kenalan sendiri. Namun Rama yakin dengan menjawab seperti itu, Rudi pasti semakin mendesaknya. Dan, itu hanya berarti satu, dia terjebak. “Anak jurusan mana?” “Rud!” “Oke-oke. Lain kali kenalkan padaku. Oke?” ucap terakhir Rudi. Beruntung dia cepat menyerah. Rama bangkit dari duduknya, mengusir Rudi dari kamarnya dan kali ini tidak lupa mengunci pintu. Setelah menghela napas panjang beberapa kali, Rama kembali ke meja menghadapi tugasnya. Sebentar kemudian dia sudah berkutat dengan satu tugas terakhirnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kerja bagus
05/03
0bagus
28/02
0ini bagus ceritanya
04/11
0Lihat Semua