Beranda/Imamku dari Seoul/
Bab 19 Cemburu Merasuk
CHAPTER 19
"Bayi-nya nanti kira-kira... mirip aku atau kamu?" tanya Shin, gemas.
Sabiya terdiam sejenak mencerna pertanyaan Shin yang masih terlalu mengambang di otaknya.
"Abaikan saja," ucap Shin mulai berbisik.
Sabiya merasa tulangnya beku dan tidak bisa melakukan reaksi apa pun. Tatapan mata laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu kini seakan mengurungnya.
Entah di menit ke berapa semenjak bersama Shin saat ini, Sabiya malah memuji ketampanan Shin yang selama ini tidak pernah dia sadari. Mungkin kabut cinta yang lain sudah membutakan matanya, namun sekarang Sabiya sudah menyadari itu.
"Tadi minum teh chamomile-lavender ya?" tanya Shin lembut sambil mengusap kepala Sabiya.
Sabiya mengangguk diiringi rasa gugup yang begitu mengusik ketenangan jantungnya. "Kok Kak Shin tahu?"
"Aromanya masih ada di sekitar sini," ucap Shin sambil menyentuh pelan bibir merah Sabiya yang mungil.
Sabiya hampir sesak napas saat merasakan jempol Shin menyentuh bibirnya tersebut. "K-kak Shin mau teh juga? Biar nanti aku bikinin," kata Sabiya yang mencoba mencari alasan agar bisa menghindar dari Shin saat ini. Ia harus mengontrol perasaan aneh tersebut.
"Aku mau kamu," jelas Shin dengan senyuman merekah.
Deg!
Kalau saja suara detak jantung bisa terdengar dengan jelas, mungkin suara letupan bertubi-tubi dari jantung Sabiya sedang bereaksi saat ini.
Sabiya ingin berlari, tetapi kakinya terasa lemas. Hingga kini tubuhnya sudah dibaringkan pelan oleh Shin ke tempat tidur.
"Aku suamimu, Biya," suara bisikan dari bibir Shin terdengar agak samar.
Sabiya pasrah dan mencoba memejamkan matanya saja. Dia hanya menantikan sesuatu hal yang akan terjadi selanjutnya.
Saat Sabiya mencoba mengintip sedikit, dia bisa melihat kalau wajah Shin seperti ingin mendekati wajahnya.
Tiba-tiba...
Gaaarrrr! Gar! Garrr!!! (Suara gedoran pintu)
"SHIN HYUNG!!!" teriak Alvin.
Idris tak kalah menggila dan berteriak pula, "IKAN ASEEEENNNN!"
Suara teriakan dari mulut besar Alvin dan Idris benar-benar mengagetkan Shin dan Sabiya. Ditambah suara gaduh akibat dua bocah tersebut yang menggedor-gedor pintu.
Shin menghela napas. Padahal, baru saja dia berharap di dalam hatinya tidak akan ada yang bisa merusak momen berharganya dengan Sabiya.
"K-kak Shin, buka dulu pintunya," pinta Sabiya dengan wajah yang sudah diselubungi semburat merah, menahan gejolak malu bercampur bingung.
"I-iya, aku buka pintu dulu," balas Shin tersenyum salah tingkah, namun ada rasa kesal yang ditahan. Ia bergegas menuju ke pintu, membuka kunci, dan memutar kenopnya.
Terlihatlah Idris dan Alvin dengan wajah ketakutan dan juga ngos-ngosan.
"Ada apa???" tanya Shin yang masih menahan kesal, juga penasaran dengan kegaduhan Idris dan Alvin.
"S-se-se...," ucap Alvin dan Idris tersendat-sendat saking paniknya.
Shin menanggapi hal tersebut dengan wajah kesal. “Se apa? SE-TAN?!” ledak Shin geram.
“Sempak!!!” jawab Alvin menunjukkan senyum gigi.
Idris malah mengangguk setuju dengan yang Alvin katakan.
Shin menggeram dan berpikir bahwa Alvin dan Idris memang sengaja mengganggu malam indahnya. "SINI KALIAN!" amuk Shin kesal dan langsung memukuli pantat Idris dan Alvin secara bergantian, sepuasnya.
Paaakkk!
Pakkkk!
"Ampun, Hyung!" teriak Alvin ngeri sambil menggosok pantatnya.
Idris sudah berhasil menghindar dan membiarkan Alvin diserang oleh Shin yang sedang mengamuk. "Ya ampun, Ikan A-Shin bisa ngamuk juga ternyata," batin Idris tak menyangka.
"Kalian sengaja menggangguku, kan?!" amuk Shin setelah lelah mengejar Alvin dan Idris. Akhirnya, ia kembali berdiri di depan pintu kamar sambil menarik napas dan mengembuskannya dengan cepat.
"Cepat bilang!" bisik Idris memaksa Alvin untuk mengatakan kejadian yang menimpa mereka. Wajah Idris terlihat kikuk, panik, dan pusing.
"Begini, Hyung. Lemari tempat sempak I'id terbakar!" jelas Alvin dengan wajah cemas bercampur ingin tertawa.
"Ini beneran ngebahas sempak?" tanya Shin tidak percaya, antara miris, ngambek, ingin tertawa, tapi juga kaget.
Idris terlihat sangat gelisah, malu, dan frustrasi, "Gimana nasibku besok? Sempak-ku hangus semua! Masa aku ga... pakai? HOIII!" Idris merinding sendiri membayangkannya.
Kepala Shin jadi pusing mendengar hal sepele tapi tidak terlalu sepele juga. "Astaghfirullah! Kok bisa terbakar, Id? Terus kenapa Alvin malah ikut-ikutan panik? Emangnya kalian berdua pakainya sama'an?"
"Bukan begitu, Hyung. Mana ada aku sama'an barang sakral begitu dengan orang macam dia," kata Alvin geli menatap Idris.
"Aku yang ogah duluan!" Idris juga tidak mau kalah dan merinding menatap Alvin.
Alvin kembali menjelaskan dengan wajah sedih, "Masalahnya, tadi aku nitip ciki kentang untuk disimpan di lemarinya I'id, biar aku bisa nahan makan untuk cemilan besok. Tapi karena aku berubah pikiran dan terlalu gila ingin makan, jadi waktu kami mau ngambil ciki itu tiba-tiba udah ada api! Sialnya, cikiku itu disimpan I'id di lemari bagian sempaknya! Cikiku juga ikut hangus!"
Shin mengernyitkan dahi, heran. Hal itu terlalu aneh. Bukan masalah I'id meletakkan keripik kentang Alvin di lemari bagian itu, tetapi mengenai api. "Kalian bohong! Mana ada api datang tiba-tiba?"
"KAMI SERIUS!" jelas Alvin dan Idris dengan ekspresi yang bersungguh-sungguh.
Shin menghela napas pelan, lalu mengintip ke kamarnya, "Sayang, aku ke bawah dulu ya, ada yang ingin kami selesaikan. Kamu istirahat aja ya."
Sabiya yang masih duduk di ranjang pun mengiyakan dan mengangguk dengan wajah yang begitu menggemaskan di mata Shin.
Shin sebenarnya ingin menghakimi Idris dan Alvin karena sudah mengacaukan kesenangannya, namun dia berusaha bersabar dan mencoba menyelesaikan masalah aneh itu.
Setelah Shin menutup pintu, Sabiya seolah baru bisa bernapas lega. Dia kembali berbaring masih dengan perasaan yang sama, yaitu denyut jantungnya yang menggebu-gebu.
Saat mengingat wajah Shin yang ingin menghampiri wajahnya, Sabiya tidak bisa berpikir jernih. "Huaaa!!!" teriaknya malu, namun dengan bungkaman bantal agar teriakannya tersebut tidak terdengar.
**
Setelah sampai di kamar Idris, benar saja, satu pintu lemari terlihat gosong dan terbakar habis, tapi tidak di bagian lain. Terdapat tumpahan air juga, karena tadi Alvin dan Idris sempat menyiram api dengan cepat.
"Aneh," ucap Shin khawatir. Dia pun menoleh ke arah Idris dan Alvin yang berdiri di belakangnya, "Jawab jujur saja. Kalian berdua main api, kan?"
Alvin dan Idris menggelengkan kepala dengan wajah teraniaya.
"Percayalah dengan kami, Hyung. Untuk apa juga kami main api di sini? Aku bisa membakar sampah di luar kalau aku mau main api, itu lebih bermanfaat," jelas Alvin berharap Shin percaya kalau dia dan Idris tidak bermain api di dalam rumah.
Idris heboh sekaligus bahagia karena ternyata ia berhasil menemukan beberapa lembar celana dalam yang masih selamat meski sedikit terkena abu bekas yang terbakar tadi. "Alhamdulillah, masih bersisa! Selamat asetku."
Shin dan Alvin bersamaan memasang raut wajah melempem karena perkataan Idris tersebut.
Tok.
Suara ketukan kecil di dekat jendela kamar Idris mengangetkan mereka semua.
Mata tajam Shin berusaha menatap jeli apa yang ada di balik gorden kamar Idris yang terlihat tidak rapi, bahkan gorden tersebut bergoyang karena embusan angin malam.
Benar dugaan Shin, saat ia menyibak gorden itu, ternyata jendela kamar tersebut terbuka.
Deg!
Saat itu juga Shin menyadari ada Purple dalam wujud kura-kura terbang malah tergeletak di tanah dekat jendela tersebut.
"Purple!" panggil Shin dan langsung cepat-cepat mengambil Purple yang sedang tidak bereaksi sama sekali. Napas Shin mulai tersengal, ia khawatir akan sesuatu. Dia melihat tulisan di layar pada badan Purple, yaitu 'Danger' yang berarti ada bahaya.
Shin cepat-cepat menutupi kepalanya menggunakan baju kaos dari lemari Idris. Ia pun juga melemparkan dua baju yang sejenis, lalu ditangkap oleh Alvin dan Idris.
"Kenapa, Hyung?" tanya Alvin ikutan panik sambil berpikir untuk apa baju yang dilempar Shin barusan.
"Id! Alvin! Tutup wajah kalian pakai baju itu, lalu tutup jendela!" perintah Shin.
Idris cepat-cepat menutup jendela, lalu lanjut memakai baju kaos untuk menutupi wajahnya.
"Hyung, ga kelihatan," rengek Alvin yang wajahnya sudah bertutupan baju.
"Kentung!" oceh Idris, "Bisa ngintip dari bawah!"
"Oh, iya yah," kekeh Alvin yang sudah menatap lantai dan sedikit mencoba mengintip melalui baju yang agak tipis itu.
"Bukan waktunya bercanda. Kita dalam masalah," jelas Shin. "Kalian periksa semua pintu dan jendela di setiap ruangan, lalu kunci. Aku akan memasang sistem keamanan sebelum terlambat!"
"Sistem keamanan?" tanya Idris tidak mengerti.
Namun, berbeda dengan Alvin. Ia seolah langsung paham dengan perintah Shin dan mengajak Idris untuk cepat-cepat mengawasi setiap ruangan di rumah ini.
Kini tinggal Shin sendirian di kamar Idris. Dia pun memutuskan untuk mengaktifkan G-phone yang transparan di dekat telinganya.
Shin melihat dari layar hijau yang terpampang bahwa ada tiga titik merah yang mengelilingi rumahnya.
"Laahawlawalaa-quwwata-illabillah," ucap Shin gemetar, seperti melihat makhluk mengerikan saja.
Kefokusan harus menjadi nomor satu saat ini. Shin kali ini mencoba mengubah keadaan rumahnya agar terlihat berbeda dengan susunan baru. Semua identitas yang ada di rumahnya dibuat berbeda pula.
Setelah sibuk dengan G-phone-nya, Shin kembali membuka kain yang menutupi kepalanya sejak tadi dan berniat lari menuju ke kamarnya.
"Biya!" satu nama itu terucap jelas di bibir Shin. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan kesayangannya itu.
**
Sementara itu, Idris dan Alvin masih memakai baju yang menutupi kepala mereka. Mereka berdua sekarang sudah duduk di ruangan bermain game setelah usai mengunci semua pintu dan jendela.
"Sampai kapan kita kayak gini?" keluh Idris yang tidak puas bernapas dan hanya menunduk sambil menatap ambal ungu yang ia duduki.
"Sampai Shin Hyung nyuruh lepas," jawab Alvin yang berharap Shin segera menghampiri mereka. "Oh ya, apa kau bisa menjaga rahasia juga?" tambah Alvin.
"Rahasia apa?" Idris bertanya dengan penuh kecurigaan.
"Bersikap seperti biasa seolah-olah ga terjadi apa-apa. Dan jangan terlalu dipikirkan soal sistem keamanan yang dibicarakan oleh Shin Hyung," pinta Alvin.
Idris sebenarnya tidak mengerti sama sekali. Kenapa Alvin menganggap hal itu semacam rahasia? Namun, karena Idris tahu kalau Alvin tidak membeberkan masalah mengenai Hamas, Idris pun tidak mau memperdebatkan hal itu.
**
Sesampainya di depan pintu kamar, Shin cepat-cepat memutar kenop pintu. "Biya," panggilnya khawatir.
Rasa khawatir Shin ternyata sangat berlebihan. Dilihatnya sekarang istrinya sudah tidur pulas di atas tempat tidur sambil memakai selimut.
Shin menutup pintunya, lalu duduk sejenak di sofa sambil mengatur napasnya. Kalau dia terlambat sedikit saja, mungkin beberapa ancaman sudah masuk ke rumahnya.
Sekarang suasana kembali tenang, Shin berencana akan mengubah mode rumahnya untuk kembali ke awal dan juga akan memperbaiki kondisi Purple saat fajar tiba.
Sebagai hukuman untuk dua bocah tadi karena sempat mengacaukan momen indahnya dengan Sabiya, Shin menahan diri untuk tidak mengabari apa pun kepada Alvin dan juga Idris. Ya, walaupun sebuah masalah sudah teratasi karena pengaduan dua bocah tersebut.
"Udah tidur ya?" Shin bertanya sendiri karena istrinya sudah terlelap. Bulu mata Sabiya yang lentik begitu mengundang Shin untuk menatap lebih dekat.
Shin menyentuh jilbab yang masih terpasang rapi di kepala istrinya itu. "Harusnya, kalau malam dan di kamar ini, lepas saja," ucap Shin hampir tergiur.
Cup!
Shin mengecup lembut kening Sabiya. "Baiklah, aku juga akan tidur."
Namun, Shin bingung. Dia harus tidur di mana? Sofa atau tempat tidur di sebelah istrinya? Apakah Sabiya akan marah jika Shin tidur di sebelahnya?
"Baiklah, sofa," putus Shin yang ingin beranjak. Namun, sebuah tangan menahannya.
"Dia jahat," suara Sabiya terdengar lemah. Setelah itu, terdengar isakan kecil.
Shin menyadari ada setitik air mata yang keluar dari ujung kelopak mata Sabiya. "Biya," panggil Shin lembut, dia khawatir.
Saat itu juga, Shin menyadari kalau Sabiya tengah bermimpi, mimpi yang tidak menyenangkan. "Tenang, Sayang. Ada aku di sini," bisik Shin menenangkan.
Shin pun melirik ke arah sofa yang sepertinya tidak jadi dia gunakan. "Maafkan aku, sofa," ujar Shin yang memutuskan untuk berbaring di sebelah istrinya.
Detak jantung Shin semakin tidak karuan sendiri saat berbaring menghadap ke arah Sabiya. Mata, hidung, bibir, pipi, dan semua yang terlihat pada Sabiya begitu membuat Shin lepas kendali.
Tangan Shin menyentuh pelan hidung mancung Sabiya yang terlihat imut. "Kenapa kamu begitu menggemaskan? Aku bisa gila," ucap Shin dengan suara kecil.
Mata bulat Shin kian melebar karena merasa sangat senang bisa sedekat itu dengan istrinya.
Shin pun menggenggam tangan mungil Sabiya dengan mata berkaca-kaca. "Aku sangat senang bisa menatapmu tidur seperti ini. Aku pikir selamanya aku cuma bisa bermimpi saja untuk mendekatimu. Aku sangat beruntung karena Allah perlahan-lahan mengabulkan semua do'aku."
Di dalam rasa haru sekaligus bahagianya, Shin berusaha untuk ikut memejamkan kedua mata indahnya.
"Biya, semoga perasaanmu akan setara dengan perasaanku. Tidak apa kalau rasa cintaku lebih besar, asal kamu bisa menerimaku dalam kondisi apa pun. Meskipun kamu sering marah dan jutek, tapi aku ingin kamu merasa damai saat aku ada dan merasa sepi saat aku ga ada."
***
Pagi hari terasa begitu nano-nano. Sabiya yang sedang membantu Bi Susan menyiapkan sarapan pun pikirannya kembali terkoneksi pada ingatan ketika bangun tidur.
Sabiya berjalan pelan membawa semangkuk sup daging dari dapur menuju ke ruang makan.
Sungguh, Sabiya merasa sulit melupakan kejadian tersebut di mana saat tidur kepalanya bersandar nyaman di dada Shin. Saat keduanya bangun, Sabiya dan Shin saling menatap malu.
"Aaa!" Sabiya berteriak kecil, dan didengar oleh Alvin dan Idris yang sedang duduk santai menikmati aroma teh.
"Cie, Kakak ipar. Bayangin apa hayo?" tanya Alvin sambil mengangkat kedua alisnya.
"G-ga kok," bantah Sabiya manyun sambil berjalan menaruh semangkuk sup hangat ke atas meja.
Tak lama kemudian, Shin datang, tetapi ia sedikit mencuri pandang saat melihat Sabiya.
Idris memerhatikan raut wajah Sabiya dan Shin yang terlihat mencurigakan, "Apa yang sudah kalian perbuat sampai muka kalian berdua merah begitu?"
Shin dan Sabiya sama-sama saling bertatapan dengan mata membulat. "Ga ada!" jawab mereka berdua berbarengan.
"Ooo," Alvin mulai meledek, "kompak ya nutupin sesuatu yang misterius."
Shin menatap jengkel pada Alvin yang tidak berhenti menggodanya dan Sabiya. "Udah, sekarang kita sarapan," ajak Shin mencoba rileks.
Tak lama dari itu, Jelly muncul dalam keadaan menguap. Matanya terlihat masih mengantuk. Dia yang belum mandi di antara semuanya. "Oppa," panggilnya manja dan tiba-tiba langsung merangkul leher Shin dari belakang.
Shin membelalak kaget, terutama pandangannya tertuju pada Sabiya yang duduk di sebelahnya. Shin melihat Sabiya yang tiba-tiba membuang muka.
"Jelly, jangan begini," pinta Shin yang mencoba melepas pelukan Jelly.
"Jelly, peluk aku aja," kata Alvin tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya. “Sini... sama Oppa kentang.”
"Ga!" Jelly menolak Alvin. Ia pun segera melepaskan pelukan karena Shin terlihat tidak nyaman. Sebenarnya, Jelly merasa sedih karena semakin hari Shin terasa semakin jauh darinya. Jelly tahu kalau sekarang Shin Oppa-nya sudah menikah, tetapi rasanya masih belum terbiasa saja.
"Aku kenyang," kata Sabiya yang ingin beranjak pergi, namun tangannya ditahan oleh Shin. Telapak tangan Shin yang hangat berhasil menghentikan langkah Sabiya.
"Harus makan," pinta Shin dengan wajah sedih menatap Sabiya. Ia takut tingkah Jelly barusan sudah membuat Sabiya tidak nyaman.
Benar saja, Sabiya memang merasa tidak nyaman, selera untuk sarapan tiba-tiba hilang saat melihat Jelly begitu manja memeluk Shin tadi. Namun, Sabiya mencoba menahan perasaan aneh itu dan kembali bersikap tenang.
Mereka pun berdoa sebelum makan.
Jelly sudah duduk mantap di kursi kosong tepat di sebelah Alvin. "Aku ga akan bikin Shin Oppa risi lagi," kata Jelly dengan suara gemetar, matanya sudah berair dan pura-pura sibuk mengambil nasi.
"Jelly, Oppa bukan risi," jelas Shin yang bingung mengatasi tingkah Jelly tersebut.
Sabiya mengunyah sarapannya cukup cepat, ia benar-benar tidak tahan dengan kondisi tersebut. Melihat Jelly menangis karena Shin, Sabiya merasa kesal.
Tak lama, Jelly pun tersenyum lagi karena Shin sangat berarti baginya. Melihat Shin tersenyum, hatinya kembali senang.
Idris juga hanya diam saja sejak tadi. Dia tidak mood berinteraksi saat ini. Terlalu banyak pikiran aneh yang mengitari otaknya, namun dia berusaha santai.
"Jelly, mana Mami?" tanya Shin karena Yerim belum menuju ke ruang makan.
"Mami belum bangun," jawab Jelly santai.
"Tapi tadi salat subuh, kan?" tanya Shin menyelidiki, "Waktu Oppa ngajak Mami, dia bilang mau sholat sendiri."
"Iya, Oppa. Sebenarnya, Mami tadi ga mau sholat, tapi ujung-ujungnya ya mau juga karena kupaksa. Terus dia bilang lanjut tidur lagi, mau sampai jam sepuluh!" jelas Jelly sambil menunjukkan sepuluh jari tangannya yang halus.
Alvin tiba-tiba mendadak tidak selera makan juga. Ada perasaan aneh yang juga mengganjal di hati dan pikirannya.
Waktu terus berlalu dan mereka sudah hampir menyelesaikan sarapan.
"Oppa," Jelly memanggil Shin lagi. "Aku punya sesuatu untuk Oppa. Sebenarnya, udah lama aku mau ngasih, tapi baru ingat sekarang," kata Jelly antusias.
"Sesuatu?" tanya Shin tersenyum, namun saat menoleh ke arah Sabiya dia mencoba mendatarkan senyumnya dan bersikap biasa. "Nanti saja, Jelly. Kita habiskan sarapan dulu, baru bahas tentang itu."
"Aku mau nunjukin ke Oppa sekarang, biar ga lupa lagi," kata Jelly yang sudah meninggalkan ruang makan.
Suasana menjadi hening.
"Ahahah!" Alvin sengaja tertawa tidak jelas untuk meramaikan suasana canggung nan suram itu.
Sementara, Idris melirik Sabiya yang terlihat tidak bersemangat. Dia merasa pasti pikiran Kakaknya saat ini juga tidak menentu.
Jelly pun sudah kembali sambil membawa kotak yang sudah dibungkus kertas kado. "Tada!!!" serunya sambil menunjukkannya pada Shin.
"Oppa ga ulang tahun, Jelly," kata Shin bingung dengan wajah polosnya.
"Bagiku, Oppa ulang tahun setiap hari," ungkap Jelly senang dan berharap Shin menerimanya.
"Buka saja kadonya," kata Sabiya tersenyum, namun ada rasa yang ditahan. Sabiya terlihat begitu terpaksa mengatakan itu.
Karena Sabiya menyuruh, Shin pun segera membuka kado dari Jelly sekarang juga.
Setelah bungkus kado beserta kotaknya terbuka, tampaklah sepasang sepatu kulit yang terlihat begitu elegan.
"Woah, sepatu!" seru Alvin melihat sepatu mengkilap itu.
Idris sedikit menganga antara yakin atau tidak. Dia mencoba mengingat beberapa kejadian. Idris sangat yakin, sepatu hadiah dari Jelly untuk Shin adalah sepatu yang pernah menjadi rebutan Idris dan Jelly sewaktu bertemu di mall.
"J-jadi, sepatu itu untuk Kak Shin?" batin Idris tak kuasa. Sungguh, sepatu itu begitu perfect di matanya.
"Aku mau Oppa pakai sepatu ini untuk kerja mulai hari ini," pinta Jelly memohon.
Sabiya mulai salah bersikap. Dia memotong-motong kentang yang ada di dalam mangkuk supnya menjadi potongan yang sangat kecil. Ada sesuatu yang menghujam-hujam hatinya saat ini. Kemudian, rasa sakit timbul di relung hati Sabiya ketika Shin berniat memakai sepatu itu.
Sabiya tidak tahan. Ia segera mengambil smartphone-nya yang tergeletak di atas meja. Kemudian, dia langsung beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan ruang makan.
"Kak Biya!" Idris memanggil dan sudah beranjak menyusul Sabiya.
"Heuh," keluh Alvin yang bingung menghadapi situasi itu.
**
Sementara itu, Idris menghampiri Sabiya yang sedang menyandarkan kening ke dinding tepat di ruang depan.
"Kak Biya. Kakak kenapa?" tanya Idris tidak mengerti. "Ada apa?"
Sabiya tidak berbalik sama sekali.
Saat itu juga, Idris memutuskan untuk menarik Sabiya agar menghadap padanya. Idris tercengang bukan main. "Kak Biya, nangis?"
Sabiya terisak, tetapi mencoba menahan sebisanya.
"Jangan bilang...," kata Idris yang tidak menyangka dengan dugaannya, "Kakak cemburu sama Jelly?"
Sabiya membelalak kaget. Dia juga bingung dengan perasaannya. Tapi, apa yang menjadi pertanyaan Idris saat ini sepertinya dibenarkan.
"Kak..., sejak kapan?" tanya Idris tidak menyangka bahwa sang Kakak sudah mulai ada rasa dengan Shin.
Sabiya sulit menggerakkan bibirnya. Dia merasa sangat kacau saat ini.
"Kalau Kakak nangis karena dia, apa itu artinya dia sudah penting bagi Kakak?" tanya Idris sambil memegang dua bahu mungil Sabiya.
Semakin Idris melontarkan banyak pertanyaan, semakin keras pula Sabiya menangis.
"Jawab, Kak!" pinta Idris.
"Ga tahu, Id!" jawab Sabiya sambil sesenggukan. Ia menggigit bibir untuk menahan agar suara tangisannya tidak terdengar.
Tiba-tiba langkah kaki yang cepat terdengar menghampiri ruangan depan.
"Kenapa harus nangis?"
Sabiya dan Idris terkejut mendengar suara itu. Mereka pun menoleh ke sumber suara. Tampaklah Jelly yang sudah berdiri di hadapan mereka sambil melipat kedua tangan ke dada.
"Sepatu dariku… ga muat untuk Shin Oppa," jelas Jelly dengan wajah sedihnya.
"M-maksudnya?" tanya Sabiya belum paham.
"Kamu ga usah nangis, karena yang harus nangis sekarang adalah aku!" ungkap Jelly yang ikut terisak. "Tolong, jaga Shin Oppa-ku," pinta Jelly sambil menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir.
Sabiya tidak menjawab, dia malah membalas omongan Jelly dengan tangisan yang lebih kuat seakan mereka berdua sedang berlomba menangis sekarang.
"Aku sempat main tebak-tebakan dengan diriku sendiri," isak Jelly sambil menjelaskan, "kalau sepatu yang kubeli itu cocok dengan Shin Oppa, berarti aku jodohnya Shin Oppa. Tapi kalau ga, berarti bukan. Hiks."
"Ya Allah." Idris antara miris dan ingin tertawa mendengar permainan tebak-tebakan konyol yang dilakukan oleh Jelly tersebut.
"Sepatunya... hiks, kekecilan di kaki Shin Oppa!" tangis Jelly sesenggukan.
Idris sedikit menjauh karena sepertinya Sabiya dan Jelly ingin bicara lebih dekat.
"Kamu sangat beruntung menikah dengan Shin Oppa. Dia sangat sempurna bagiku. Apa bagimu, Shin Oppa juga sempurna? Pasti, kan?" tanya Jelly sambil memegangi kedua tangan Sabiya yang gemetaran.
"Hiks...," Sabiya tidak bisa menjawab apa pun, rasa sesak terlalu menguasainya. Namun, sepertinya Sabiya menyadari sesuatu, Jelly tidak seburuk yang dia kira.
Jelly pun menghapus air mata di pipi Sabiya. "Apa kamu takut kalau aku akan merebut Shin Oppa?"
Sabiya terdiam sejenak dan menatap Jelly serba bingung.
"Hatiku memang sakit. Tapi aku ga mau menyakiti hati Shin Oppa. Aku bisa melihat dari mata Shin Oppa kalau kamu sangat berharga untuknya," jelas Jelly dengan senyuman, namun sakit.
"Panggil 'Kak Biya', jangan 'Kamu' lah. Kakakku lebih tua dari cewek ingusan kayak kamu," oceh Idris sambil menatap jengkel ke arah Jelly.
"Isssh. Diam!" Jelly ingin memukuli kepala Idris menggunakan tangannya, tetapi ia tahan. "Baiklah, aku akan panggil 'Kak Biya' mulai sekarang," tutur Jelly dengan suara agak serak karena sisa tangisannya.
Ada rasa haru dan juga sedih yang dirasakan Sabiya saat ini. Kali ini Sabiya tidak memberikan tatapan jengkel lagi kepada Jelly. Pandangannya mulai berbeda dan melunak.
Jelly melanjutkan permintaannya, "Bagi Shin Oppa, aku ini ga lebih dari adik kecil. Karena aku ga bisa memiliki Shin Oppa seutuhnya, tolong jaga dia."
Sabiya mengangguk. Dia tidak bisa membedakan mana gerakan yang harus disaring atau tidak. Kali ini dia seolah menunjukkan kalau dia memang harus menjaga Shin, suaminya. "Hiks, aku a-kan jaga Kak Shin."
"Bagus, aku agak tenang sekarang," kata Jelly mengajak Sabiya tersenyum bersama.
Sebuah naluri perasaan membuat Sabiya dan Jelly berpelukan erat saat ini.
Alvin yang baru saja datang dibuat heboh karena melihat Sabiya dan Jelly menangis sambil berpelukan bersama seperti anak kecil yang usai bertengkar dan sudah berbaikan. "Wah, ada apa ini? I’id Tuyul, kau apakan mereka berdua???"
"Apa? Aku ga ngapa-ngapain!" Idris menghindar karena takut dikambinghitamkan.
Tak lama dari itu, langkah Alvin pun disusul oleh Shin.
Shin tetap memakai sepatu biasanya karena sepatu dari Jelly tadi terlalu kecil untuknya. "Kenapa kalian berdua nangis?" tanya Shin panik.
Jelly dengan mudahnya buka suara, "Kak Biya takut kalau aku ngerebut Shin Oppa darinya."
"Jelly!" oceh Sabiya yang gemas kembali kepada Jelly yang sengaja ingin menghebohkan suasana.
"Wooow!" Alvin malah senang mendengar kalau Sabiya ternyata cemburu.
Sabiya tidak bisa berkata-kata lagi. Dia merasa akan mati saja jika harus menatap Shin saat ini. Rasa malu sudah tidak terbendung lagi. Namun, Sabiya malah kaget saat melihat wajah Shin yang berseri karena sedang tersenyum menampung sebuah rasa bahagia.
"Yang dikatakan Jelly itu... bohong," kata Sabiya mengelak dengan suara gemetarnya.
"Aku ga bohong, Oppa. Lihat, mata Kak Biya bengkak nangisin Oppa!" kata Jelly tersenyum dan segera berlari karena takut Sabiya akan kesal dan mengamuk padanya.
"Kakak ipar jangan malu-malu begitu. Aku malah senang Kakak cemburu. Itu artinya Kakak ipar sayang dengan Shin Hyung," Alvin menambahi sehingga membuat Sabiya mati kutu.
Tanpa ingin mendengarkan penjelasan Sabiya lagi, Shin langsung memeluk gemas tubuh kecil istrinya itu. "Senangnya, ada yang cemburu," kata Shin yang merasa ingin terbang saking bahagianya.
"Aku ga cemburu. Jelly berbohong," kata Sabiya dengan suara kecil, namun pasrah dipeluk Shin.
Idris hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sabiya tersebut. Kalau memang Kakak perempuannya itu sudah mulai mencintai Shin, Idris akan mendukungnya.
Drrrttt!
Tiba-tiba smartphone yang tergenggam di tangan Sabiya bergetar. Saat itu juga, Sabiya menyadari sesuatu bahwa benda yang dia pegang itu bukan miliknya, melainkan smartphone milik Shin.
Ternyata, saat di ruang makan tadi, Sabiya salah mengambil smartphone karena miliknya dan milik Shin berada di atas meja dan juga berdekatan.
Sekarang di layar itu tertera nama orang yang menelepon.
Dek Yumna Humaira memanggil...
Sabiya mengernyitkan dahi setelah melihat nama itu, lalu menatap Shin dan bertanya, "Siapa Yumna?"
*
Bersambung…Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (123)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Akhirnya Hbis!!! Berminggu-minggu tunggu update chapter! Salam Sayang Dari MY! >3 ❤️❤️❤️ Btw nak tanya,extra chapter di karyakarsa itu,harus bayar dahulu baru boleh baca ke?
24/04/2022
2Ya Allah cerita ini 😍😍😍😍😍😍😍 Aaaaaaaaa author gak pernah gagal bikin cerita best 😭🥳🥳🥳😎 Covernya masyaAllah 😭😍, ceritanya nagih banget🥺🤗, always bikin greget dan petcah 😭😭😭😭😭 Semangat terus berkarya 💋💋💋💋💋
21/03/2022
14baguss
24/02
0Lihat Semua