logo text

Bab 42 Lautan Bersaksi

CHAPTER 42
"Shin Leo...."
Panggilan dari suara berat dan mencekam itu membuat Shin menoleh ke sumber suara. Tampaklah seorang pria dewasa yang gagah dengan berbagai macam perhiasan emas di tubuhnya, mengenakan pakaian serba hitam, serta kaca mata hitam mengilap yang menutupi netra penuh dosa. Itulah The Golden Lord.
Deg!!!
Degup jantung Shin semakin tidak karuan.
Alvin, Rain, dan Seo dalam keadaan terikat bersama duduk tak berdaya di sekitar haluan kapal.
"Shin Hyung!" panggil Alvin keras. "Dia..., dia pria yang waktu itu!!!" kata Alvin yakin dengan ingatannya. "Pria yang pernah membunuh semua keluarga kita!"
Rain tercekat bukan main, mendengar omongan Alvin barusan membuat hatinya tersayat seketika, "Apa maksudmu, Vin???"
"Setelah kejadian tembakan bertubi-tubi di Seoul saat kita masih remaja, aku melihat dengan mataku sendiri kalau dia adalah salah satu yang menghancurkan seisi perumahan kita dulu!" terang Alvin. Selama ini, ia memendam sendiri dugaan itu, bahwa pasukan hitam yang ada di sini adalah berhubungan dengan komplotan yang menghancurkan kebahagiaan mereka, sebelum akhirnya mereka diselamatkan oleh sosok Aydan (Ayah angkat mereka).
Seo ikut merinding mendengarnya meski ia tidak terlalu tahu detail masa lalu Shin, Alvin, dan Rain. Namun, sejak tadi Seo diam-diam mengaktifkan hidden camera yang bersemayam di dalam jam tangan hitam kesayangannya. Meski kedua tangannya terikat kuat menyatu di depan dada, ia berusaha keras agar dapat merekam kejadian yang ada di depan matanya.
Sementara itu, tubuh Rain gemetaran hebat. Sebenarnya, Rain dulu memang mengetahui dari Yerim bahwa yang membunuh Ayah Aydan adalah bagian dari pasukan hitam, maka dari itu Rain sengaja masuk ke dalam komplotan itu. Rain pura-pura ingin bekerja sama dengan pasukan hitam untuk merebut G-phone dari Shin agar nanti setelah mendapatkan benda itu Rain akan langsung menumpas pasukan hitam dengan caranya sendiri. Rain sudah dikuasai rasa cemburu akan kasih sayang Aydan yang seolah lebih percaya kepada Shin mengenai G-phone. Namun sekarang, setelah mendengar fakta lainnya dari Alvin, Rain pun menyadari bahwa selama ini dia bekerja sama dengan pembunuh keluarga kandungnya sendiri.
Shin tidak tahu harus mengekspresikan bagaimana reaksinya terhadap ini. Ia terlanjur hancur dan semakin hancur.
"Oh, jangan-jangan di antara kalian ini adalah tiga anak remaja yang pernah selamat dari seranganku?" tebak The Golden Lord. Ia tersenyum, tidak perlu jawaban. Dia punya tujuan yang lebih penting sekarang.
Tangan Alvin yang terikat diam-diam menggapai smartphone-nya yang bersembunyi di dalam saku jaket. Ia pun menghubungi seseorang melalui panggilan cepat. Sulit, tapi ia harus bisa.
Alvin sangat bersyukur masih ada sedikit sinyal yang bersemayam di smartphone-nya walau sudah di tengah laut. Lantas, ia mulai berbisik ketika panggilannya direspons. "Pak, apa Anda membaca semua pesan dariku? Yeoboseo. Pak, apa Anda bisa mendengarku?"
Seo yang tangannya juga menyatu karena tali pun mencoba merebut smartphone Alvin. "Yeoboseo. Ini Dokter Seo dari rumah sakit Nuha, Seoul. Kami menjadi saksi atas semua informasi yang Anda terima."
Rain pun merebut smartphone itu dari Seo, "Ini Park Rain. Semua informasi lengkap tentang ancaman teknologi dunia ada padaku."
Bugh!!!
Tiba-tiba wajah Rain dipukuli sehingga smartphone Alvin yang ada pada genggamannya pun terpental jatuh ke laut.
Setelah itu, rambut Rain dijambak oleh The Golden Lord, lalu kepalanya ditujukan pada air laut kelam yang percikannya sampai ke wajahnya.
Deg!
Jantung Rain mulai berdetak tidak normal. Kepalanya sangat pening melihat sang warna hijau tua bergelombang itu. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Dia hampir kehilangan kesadaran.
"Kenapa, Rain? Kau takut laut? Atau kau tidak bisa berenang?" kekeh pria itu.
Rain sampai tidak bisa menjawab, semua yang dikatakan oleh The Golden Lord adalah benar. Kalaupun bisa berenang, kondisi air laut yang bergelombang hebat dan dingin itu tentu akan melemahkan. Namun, nasib baik masih berpihak pada Rain. Pria itu menariknya kembali dari pemandangan laut itu, lalu menghempasnya ke tubuh Seo dan Alvin.
The Golden Lord memberi peringatan, "Kau harus kembali padaku, Rain."
Rain gemetaran dan mendadak muntah.
"Rain Hyung, kau ga bisa berenang?" tanya Seo berbisik dengan wajah penasaran.
Rain hanya membalas dengan menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menyeimbangkan isi otaknya.
Shin tidak menyangka, bukan hanya kehilangan Ayah Aydan dan Jelly, mereka semua selama ini berurusan dengan orang yang merenggut kebahagiaan masa lalu hidupnya.
The Golden Lord menawari sesuatu, "Aku sudah memberi penawaran padamu, Shin Leo. Aku ingin mendengar jawabanmu. Ikutlah bersamaku, kau akan kujadikan anak spesial. Kalau tidak, kau akan mati di tangan robotku."
Shin pun mengarahkan atensinya pada sosok yang mirip dirinya sudah berjalan mendekatinya. Ya, robot itu. Robot yang sudah merusak namanya dan juga membunuh adiknya—Jelly.
"Bagaimana dengan ciptaanku ini? Mengagumkan, bukan? Aku yakin, sebenarnya kau juga bisa membuat robot manusia sempurna seperti ini, Shin Leo. Kenapa kau hanya membuat mesin-mesin sampah di Universitas kecilmu? Kau bahkan bisa menciptakan lebih dengan kecerdasan alamimu dan juga bantuan hebat alat kesayanganmu," kata The Golden Lord menggeleng atas pilihan hidup Shin.
Shin tidak menjawab. Dia terlalu ngeri membayangkan jika terciptanya banyak robot manusia untuk tujuan jahat seperti ini.
"Anak robotku ini sering mengalami error. Namanya juga ciptaan manusia, tapi dengan mudah juga aku sudah memperbaikinya. Dia bisa siap menyerangmu kapan saja atas perintahku."
"Aku bersumpah, tidak akan membiarkan robot sepertinya menginjak-injak harga diri manusia!" bentak Shin dengan tangan mengepal.
"Menginjak harga diri? Heh, kita lihat seberapa kuatnya dia menginjakmu," tantang The Golden Lord.
Bibir Shin terkunci rapat, namun hatinya tetap berzikir di kala harapannya yang hampir pupus. Kabur pun tidak tahu harus ke mana, lautan dari sini sudah terasa dinginnya, apa lagi jika sampai tenggelam di sana bisa mati membeku.
Salah satu pasukan hitam kelas bawah sedang memegangi topi fedora putih milik Shin. Ingin ia memberikan topi itu pada empunya agar lawan menjadi sedikit sepadan. Akan tetapi, baru berjalan beberapa langkah, pria malang itu langsung dijatuhi hukuman mati, ditembak di atas kapal, lalu dibuang begitu saja ke laut. Sementara, topi Shin jatuh ke pangkuan Alvin.
"KENAPA KAU SEKEJAM INI?!!!" teriak Shin menentang ketua pasukan hitam itu dengan air mata tersiksa.
"Biar aku tunjukkan padamu kekejaman lainnya," kata The Golden Lord tak akan berhenti.
Setelah itu, dibawakan dua orang dari lantai bawah kapal menuju ke atas. Keadaan mereka dirantai dan sangat lusuh.
Bruk!
Wanita itu sudah menjadi jasad tanpa roh. Namun, pria di sebelahnya masih hidup meski sudah dalam keadaan kacau.
Sesak dada Shin saat mengetahui siapa mereka. Orang berharga yang sudah dia anggap keluarga sendiri, menghilang dengan dalih pulang ke kampung tanpa sempat pamit. Ternyata, semua itu tipuan yang dibuat oleh pasukan hitam. Dua orang itu sudah dirampas hak hidupnya.
"Pak Didi, Bi Susan?" panggil Shin tidak percaya.
Pak Didi yang sudah penuh luka sekejujur tubuhnya itu meratapi kepergian istrinya yang diperlakukan kejam.
"T-tuan Shin...," ucap Pak Didi dengan isakan pilunya.
Shin ingin berlari menghampiri pria tua itu, dahulu tubuhnya sangat subur, tapi kini terlihat kurus dan penuh derita. Sayangnya, langkah Shin malah ditahan oleh sang robot.
"Pak Didi, apa yang terjadi?" tanya Shin kacau dan gemetar.
Pak Didi berusaha sekuat hatinya menjelaskan kejadian awal ketika mereka sudah tidak bekerja lagi di rumah Shin. Sopir pribadi Shin itu diam-diam diculik bersama sang istri ketika pasukan hitam datang menggeledah rumah profesor tersebut. Selama ini, mereka dijadikan bahan siksaan dan sebagai alat untuk menjawab apa saja yang diketahui tentang keluarga Shin. Sampai, Pak Didi buka mulut soal Jelly yang sangat dekat dengan Tuan Shin-nya. Maka, itu dijadikan kesempatan emas oleh ketua pasukan hitam untuk semakin menguras hati Shin.
"Maafkan aku, Tuan. Gara-gara aku, Nona Jelly menjadi korban," tangis pak Didi memohon ampun. "Mungkin ini balasannya aku sudah mengkhianatimu, istriku sudah pergi sekarang."
Shin bahkan merasa tidak berhak dan tidak pantas memarahi sopirnya itu. Selama ini, Pak Didi sudah banyak menderita karena terseret arus. Shin merasa semua ini salah dirinya sendiri!
"Kau sudah menyakiti mereka yang tidak bersalah!!!" marah Shin menatap tajam The Golden Lord.
Detik berikutnya, melesat peluru yang membuat hati Shin semakin hancur. Ia menyaksikan di depan matanya bahwa Pak Didi diakhiri dengan mengenaskan. Bersimbah cairan merah yang keluar dari dada, sampai ke lantai kapal.
"PAK DIDI!!!" teriak Shin menggelegar.
"Innalillahi wa innailaihi raji'un," suara penuh kepedihan yang keluar dari bibir Seo.
Tubuh Seo melemas setelah melihat sopir Shin ditembak mati di depan matanya. Mereka tidak ingin menjadi lemah seperti ini. Mana tahu, mungkinkah sebentar lagi giliran mereka yang juga akan menjadi tumbal?
Pria gila dengan tubuh beralaskan emas itu merasa lega usai meluncurkan peluru ganasnya. "Hahaha! Baru kali ini aku melihat manusia yang sangat keras kepala sepertimu, Shin Leo. Apa salahnya menjadi tidak suci sedikit saja. Kau pun bisa menjadi kotor jika sudah berhadapan dengan istrimu tanpa sehelai benang."
Dada Shin terasa panas dan ingin meledak mendengar istrinya disebut-sebut dengan pikiran dan nada yang kotor. "Makhluk terkutuk!" balas Shin yang langsung meludah ke lantai kapal.
Tanpa belas kasih lagi, ketua pasukan hitam itu memerintah sang robot untuk bertindak terhadap Shin.
Bugh!!!
Pukulan pertama dari sang robot, ditahan oleh lengan Shin. Dia berperang dengan tangan kosong bersama jubah yang tak berfungsi disebabkan tidak ada sinyal topi. Tulang berbalut daging dan kulit menahan serangan dari lapisan baja keras itu, sungguh mustahil jika Shin merasa tangannya tidak apa-apa.
Bughhh!
Pukulan kedua, masih bisa ditahan oleh Shin. Ia menatap nanar sosok robot yang berwajah dirinya. Shin merasa diserang oleh bayangannya sendiri.
Betapa sakitnya hati Shin saat menyadari serangan yang begitu kuat. Membayangkan Jelly yang lemah malah diinjak dan ditendang tanpa ampun, sampai-sampai mengalami cedera parah di sekujur tubuh, hingga meninggal dunia.
"Adik tercintamu pasti menikmati seranganku waktu itu," kekeh sang robot bangga. Ya, robot mana ada rasa, kecuali program tubuh yang tercipta padanya yang membuatnya terlihat berekspresi.
The Golden Lord menyeringai. "Buat dia menjadi tidak berarti, seperti adiknya!" perintahnya sambil duduk santai di kursi goyang. Ia membersihkan senjata yang ada ditangannya menggunakan jubah hitamnya sendiri.
Mudah sekali bagi robot itu menghancurkan daging yang tak sebanding dengannya. Setelah Jelly, dia akan melakukannya lagi pada manusia yang ia pakai wajahnya.
Braaghhh!
Sekali terjangan kuat di kaki, tubuh Shin langsung terkapar ke lantai kapal. Selanjutnya, ia mendapat injakan dan tendangan bertubi-tubi pada kaki, lanjut ke seluruh badannya.
"Shin Hyung!!!" teriak Alvin menggelegar tak terima. Berusaha melapas ikatan dari tali besar itu, namun sukar. Lengannya sampai lecet dan pedih.
"Hentikan!" pinta Seo yang sudah menitihkan air mata sambil menunduk, tidak berani melihat eksekusi itu di depan matanya.
"Lawan yang tak sebanding, Manusia culas!" umpat Rain geram dengan mata berkaca-kaca menatap The Golden Lord yang duduk membelakanginya.
Ketua pasukan hitam itu tertawa dengan puas. "Robotku..., selama mempelajari kehidupan Shin, kau pasti tahu jelas di mana Shin menyimpan G-phone, serta mengenai kata sandi pada benda itu."
"Tentu saja, Tuan!" balas robot itu yang menyeringai sambil menendang tubuh Shin tiada ampun.
Shin sampai menangis dengan suara parau saking sakitnya. Persendian tulangnya sampai ngilu ke seluruh tubuh, bahkan Shin merasa kakinya mati rasa, seperti retak di mana-mana.
"Jelly, maafin Oppa," isak Shin yang bisa merasakan kesakitan Jelly. "Maafin Oppa yang ga berguna ini."
"Rebut G-phone darinya!" perintah The Golden Lord.
G-phone yang transparan mustahil bisa ditemukan. Namun, karena sang robot sudah mengetahui seluk-beluk tentang Shin, ia ingat betul di mana Shin menyelipkan G-phone itu. Tangan robot langsung menyentuh kedua telinga Shin sehingga tampaklah G-phone, alat yang selama ini mengacaukan tindak kejahatan pasukan hitam, namun kuasanya ingin dimiliki juga oleh mereka.
Shin mencoba merebut kembali benda amanah dari almarhum Aydan itu. Saling tarik dengan robot yang lebih kuat. Tidak ada lagi guna Shin melindungi benda itu karena kondisi sudah di ambang kehancuran. Dengan segenap hati yang mencoba ikhlas, Shin menekan sekuat tenaga G-phone itu sampai patah dan hancur.
Taarrrsss!
Semuanya terkejut melihat benda berharga yang selama ini mereka incar malah hancur di depan mata.
Buyar.
G-phone dalam keadaan remuk masih berada di genggaman Shin.
Shin menangis tersenyum melihat benda yang selama ini menemaninya sudah tidak sempurna lagi.
"Shin Leo!!!" teriak The Golden Lord marah besar. Ia pun memerintah robotnya untuk membunuh.
Braaaghhh!
Duaaaak!!!
Akibat serangan baja keras yang menghantam perutnya, Shin sampai batuk mengeluarkan cairan merah kental dari mulutnya. Tatapannya redup bersama air mata menahan sakit tiada tara. Serangan di kakinya juga semakin gencar ia terima. Shin tidak kuat lagi.
Isakan Shin kalah dengan tangisan Alvin yang sangat besar, menangis di dekat haluan kapal dalam keadaan terikat seperti ikan tak berdaya terjerat jaring. "Jangan sakiti Shin Hyung, ganti aku saja," mohon Alvin.
Rain sampai tidak berani melihat. Air matanya menetes kian panas membasahi pipinya. “Hen-ti-kan,” mohon Rain agar ketua pasukan hitam segera menghentikan tindakan brutal dari sang robot. "Bunuh aku saja. Jangan sakiti Leo," isak Rain dengan beribu penyesalan. Rain merasa ingin mati, karena perbuatannya itu telah membuat dirinya menuntun pasukan hitam untuk membunuh adik angkatnya sendiri.
"Shin...," panggil Seo, berharap masih bisa didengar. "Ingat Allah, Shin! Ingat Allah!" tangis Seo yang gemetaran melihat Shin menggelepar kesakitan dengan tatapan memohon belas kasih.
"A-Allaaah....h," ucap Shin lemas dengan darah yang semakin banyak menyembur keluar dari mulutnya.
The Golden Lord sangat marah dan benci karena benda berharga itu sudah hancur hingga tak menyita minatnya lagi. Ia berusaha menikmati cerutunya yang menghangatkan tubuh di atas dinginnya udara laut. "Hei, Nak. Menghancurkan robotku dengan hina pun aku bisa, apalagi menghancurkan Shin dan juga kalian semua."
Gerakan sang robot terhenti. Aturan di dalam tubuhnya adalah bisa hancur atas izin sendiri. Tuan penciptanya pun juga bisa menghancurkannya, dengan cara membongkar isi tubuhnya atau mengaktifkan tombol bunuh.
"Jadi, kalau aku tidak dibutuhkan lagi, apakah Tuan akan menghancurkanku dengan hina?" tanya robot itu yang sudah berbalik arah, menoleh pada The Golden Lord.
"Hei, kau itu robot dan aku penciptamu. Aku bisa melakukan apa pun sesuka hati untukmu! Termasuk membuangmu ke tong sampah. Kau hanya perlu menuruti penciptamu," balas pria itu santai.
"Tuan, aku sudah punya program masa depan di dalam memoriku. Setelah semua tugasku selesai, aku akan menjadi sosok Shin dan menemani hidup Sabiya seperti yang pernah aku pelajari sehari-hari di kehidupan manusia Shin. Bukankah Tuan sudah menciptakan program seperti itu untukku?" tanya Robot itu menelaah.
"Ya. Tapi sepertinya aku berubah pikiran. Itu akan sangat merepotkan. Aku tidak ingin orang lain memanfaatkan kekuatan robot pada dirimu. Jadi, kau akan kumusnahkan saja. Muak melihat wajah Shin Leo yang kuciptakan padamu," jelas pria itu geram karena G-phone sudah tak bisa diharapkan lagi.
Tiba-tiba semua aturan yang ada di dalam diri robot itu menjadi berantakan akibat serangan tekanan pada memorinya. Respons memori pada otak robotnya kembali pada ingatan awal. Ingatan ketika pertama kali dia seperti berada di dalam tubuh Shin karena alat kecil yang diam-diam tertanam pada tubuh profesor tampan itu. Alat kecil itu menangkap bayangan wajah Shin yang tersenyum hangat sambil berkaca mengenakan jas. Lalu, ada Sabiya yang tersenyum merapikan dasinya.
"Dia adalah aku, dan aku adalah dia," gumam robot itu yang merespons pada error yang terjadi padanya.
Shin yang sudah trauma dengan tendangan bertubi-tubi pun tampak ketakutan saat robot itu mendekat.
"Jika aku menghancurkan Shin Leo, lalu aku juga dihancurkan, siapa yang akan menemani Sabiya?" Robot itu bertanya pada dirinya sendiri. Tuan penciptanya bahkan tidak sadar bahwa robotnya semakin berkembang setiap detik, hingga sang robot bisa memutuskan pilihan mana yang membuat dirinya merasa lebih baik.
Shin terus menghindar dengan gemetar tubuhnya.
"Kau seorang profesor yang cerdas, bahkan lebih cerdas dari Tuan penciptaku," ujar robot itu yang malah bertekuk lutut di hadapan Shin.
The Golden Lord kaget atas perbuatan robotnya. "Robot sialan! Apa yang kau lakukan?" hardiknya yang mulai was-was. "Cepat lakukan perintahku, Mesin sampah!"
Robot itu mendadak berdiri kembali. Programnya semakin kacau setiap merespons penghinaan pada dirinya yang dilontarkan oleh penciptanya sendiri.
"Aku sudah tidak punya hal untuk diperintah lagi sekarang karena G-phone sudah hancur. Hanya itu kan tujuanku diciptakan?" kata robot itu menatap tajam pada The Golden Lord.
Dengan lari yang sangat cepat, kaki keras robot itu menendang kuat The Golden Lord, hingga mangsa terlempar menabrak tiang kapal.
Braaghhh!
Kemudian, robot itu lanjut memberi serangan membabi-buta, menghantam pasukan hitam yang terlintas pada pandangannya. Bahkan Alvin, Seo, dan Rain terkena lemparan benda-benda yang terbanting.
Setelah itu, jalan sang robot terlihat linglung. Ia tahu betul, Tuannya yang licik itu tidak terlalu sempurna menciptakan bagian dalam tubuhnya. Yang penting bisa digunakan untuk melakukan kekerasan seperti yang Tuannya inginkan.
Dengan kecepatan larinya, robot itu bergerak tak terkendali. Ia mencekik leher Shin, membawanya ke ujung kapal, dan berniat menjatuhkannya ke laut.
Kaki Shin sampai menggantung, kedua tangannya mencoba menghentikan tangan robot yang kuat menyesakkan saluran pernapasannya. Hantaman air laut pada kapal terdengar semakin nyaring. Kulit Shin merasakan dinginnya deburan ombak pada lautan liar.
"Aku... merasa dihukum oleh diriku sendiri," ucap Shin dengan suara kecil dan serak, menatap nanar pada mata robot itu.
Respons tubuh robot mendadak tidak terima karena sudah menyakiti sosok yang serupa dengan dirinya.
Robot itu masih dalam keadaan mencekik leher Shin, namun sudah menurunkan tubuh profesor itu agar tidak menggantung.
"Profesor, kembaranku, kau yang lebih berhak menghukumku. Sejak awal aku terlahir dalam keadaan sudah mengklaim wajahmu dan memori keseharianmu. Karena kita sama, kau pasti tahu di mana kelemahanku," ujar sang robot pasrah.
Shin tidak bisa berkata apa-apa dengan keadaan tubuh yang akan kehilangan jiwa. Sakit menguasai sekujur badan. Ia tersenyum menatap robot itu. Kali ini kecerdasan memang tidak terlalu dibutuhkan, tapi kata hati.
Robot itu memuji lagi, "Aku sempat menyimpulkan di dalam programku, bahwa kau manusia yang sayang dengan keluargamu dan peduli pada orang lain. Aku akan bertanya, apakah kau juga berniat membuatku menjadi sampah, seperti halnya yang akan Tuanku lakukan?"
Shin menggeleng pelan dan menjawab, "Kau hanya mendapatkan Tuan yang salah," ucap Shin gemetar dengan air mata yang menetes pada tangan kekar sang robot.
"Aku sudah banyak melanggar hukum robot. Mesin sederhana lebih terhormat daripada aku yang sudah membunuh nyawa. Maka dari itu, aku terima hukuman apa pun darimu, Manusia Shin."
Shin mencoba menyentuh semua anggota tubuh pada robot itu untuk menemukan kelemahannya. Otak Shin sudah tidak kuat lagi berpikir keras. Kedua tangannya pun kini menyentuh dua telinga robot itu, seolah ia akan menemukan sesuatu yang seperti G-phone ada di sana.
"Sudah kubilang, aku sama denganmu," ujar robot itu tersenyum. Namun, sebelum Shin menekan tombol di sana, robot tersebut ingin mengatakan sesuatu, "Tunggu sebentar, Tuan Shin."
Shin hanya diam dan menunggu robot itu mengatakan suatu hal.
Robot itu berbisik, "Sepertinya, kau memang baik dengan semua orang, sampai ada yang selalu menjagamu dari jauh. Tanpa sepengetahuan The Golden Lord, ada seseorang yang begitu berani mendatangiku. Dia sadar tidak ingin menandingi kekuatan hebatku, tapi dia berpesan agar aku tidak membunuhmu, Tuan Shin. Di awal aku tentu menolaknya, tapi sekarang... permintaannya kukabulkan."
"S-siapa orang itu?" tanya Shin dengan linangan air mata.
"Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena topi hitamnya yang lebar. Tapi... dia memberi tahu namanya... Kentang Mahal," ucap robot itu tersenyum, lalu menyuruh Shin untuk segera mengakhirinya.
Hati Shin bergetar mendengar nama Kentang Mahal yang sampai sekarang dia tidak tahu itu siapa. Shin pun menekan tombol penting pada telinga sang robot.
"Tidaaak!" teriak The Golden Lord. Ia tidak menyangka bahwa tombol bunuh pada robot, yang semula ia simpan di bagian perut malah sudah pindah ke bagian telinga tanpa ia ketahui. Robot itu sudah membuat peraturan tambahan tanpa seizinnya. Dalam waktu yang singkat ini, The Golden Lord tidak sempat mengambil komputernya untuk mencegah perbuatan Shin.
Shin menemukan tombol berwarna merah yang tiba-tiba muncul keluar dari telinga kanan dan telinga kiri robot itu. Kemudian, Shin menekan kuat kedua tombol tersebut dan menyaksikan mata robot meredup, lalu tubuh baja itu jatuh keras ke lantai.
Brugh! 
Shin merasa lega karena tidak ada lagi tangan kekar yang menyiksa napasnya, namun-
"Mati kau, Shin Leo!!!" suara penuh dendam itu, ingin mengakhiri semuanya tanpa sia-sia. The Golden Lord yang mengalami pendarahan di kepala akibat serangan robotnya sendiri pun secepat kilat menarik pelatuk pada senjata yang ia genggam sejak tadi.
Suara ngilu memekakkan telinga membuat burung bertebaran kacau di udara.
Shin tersenyum pedih menatap Alvin, Seo, dan Rain yang menangisi dirinya. Rasa bahagia di akhir itu melesat cepat bersamaan peluru yang sudah menyerang manubrium sterni miliknya yang berharga. (Tulang dada atas).
"Shin Hyung!!!" Alvin meratap dan merasa kesadarannya hilang saat tubuh Shin berakhir bebas menghampar ke lautan dingin nan kelam.
Susulan peluru lainnya kian terdengar, bukan dari The Golden Lord bajingan itu, tapi dari senjata lain yang sudah mengepung seluruh isi kapal.
Kapal besar kuasa pasukan hitam sudah dikepung oleh beberapa kapal pihak berwajib yang mana ada beberapa detektif kenalan Alvin datang menyelamatkan.
Sudah tidak berarti lagi. Lautan dingin seluas itu dengan mudahnya menerima jasad yang dikorbankan ke dalamnya. Bersama dengan gemparnya dunia yang mengetahui sosok penuh pengorbanan. Seorang profesor rendah hati yang sudah menyeimbangkan kemananan masyarakat tanpa pamrih. Namanya terlambat bersinar karena sang pemilik sudah tak bisa diraih senyumnya.
***
Drrrttt!
Isakan Sabiya yang penuh kerinduan akan kabar baik pun semakin menjadi, apalagi saat ia mendapat panggilan telepon dari daerah Seoul.
"H-halo, assalamualaikum...." ucap Sabiya sesenggukan.
*
Bersambung... 🍃🌊
•Fyi:
~Manubrium sterni : (Kepala tulang dada), membentuk persendian dengan tulang selangka, klavikula, dan tulang rusuk pertama.
~Yeoboseo: Bhs.Korea - Halo (untuk telepon).

Komentar Buku (123)

  • avatar
    Shahirahfaris

    Akhirnya Hbis!!! Berminggu-minggu tunggu update chapter! Salam Sayang Dari MY! >3 ❤️❤️❤️ Btw nak tanya,extra chapter di karyakarsa itu,harus bayar dahulu baru boleh baca ke?

    24/04/2022

      2
  • avatar
    VaradibaZulvari

    Ya Allah cerita ini 😍😍😍😍😍😍😍 Aaaaaaaaa author gak pernah gagal bikin cerita best 😭🥳🥳🥳😎 Covernya masyaAllah 😭😍, ceritanya nagih banget🥺🤗, always bikin greget dan petcah 😭😭😭😭😭 Semangat terus berkarya 💋💋💋💋💋

    21/03/2022

      14
  • avatar
    Slalaa

    baguss

    24/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru