EPILOG

Sepuluh tahun kemudian…
Boston, MA, USA
                  Seorang gadis muda turun dari sebuah mobil mewah yang terparkir manis di halaman mansion tempatnya tinggal. Dari wajahnya, dia adalah gadis remaja yang sangat cantik jelita. Dia berlari masuk ke dalam dengan wajah yang sangat ceria sambil memanggil seseorang di dalam.
“Daddy!! Hani dapat juara satu lomba bernyanyi di sekolah!!” teriaknya sehingga pria yang nyaris paruh baya itu mengalihkan perhatiannya. Ia yang tadinya sedang minum teh bersama sang istri langsung meletakkan minumannya.
“Hani sayang! Itu bagus sekali!” ujarnya kepada sang putri sambil berdiri dan mengelus kepala gadis muda itu dengan penuh rasa bangga.
“Jadi, apa hadiahnya?” tanya sang ibu dengan penasaran juga.
“Aku bisa ikut membuat album khusus untukku! Hani mau jadi penyanyi terkenal!” Hani sangat semangat memberi tahu ibunya.
“Tidak boleh!” larang ibunya membuat Hani langsung merenggut. Ia menatap sang ayah dengan tatapan memohon supaya sang ibu menarik keputusannya.
“Dad! Hani sangat ingin jadi penyanyi terkenal!” mohonnya supaya dapat izin.
“Kau akan kena pergaulan bebas lalu memakai obat terlarang kalau sampai ke Hollywood. Sudahlah, lebih baik kau bernyanyi untuk kesenangan saja,” ujar seorang pria yang seumuran dengan Hani dengan nada datar. Ia baru masuk ke mansion dan mendengar sebagian percakapan mereka.
“Ya, Kakakmu benar!” Sang ayah tentu tidak mau anak gadisnya terjerumus pergaulan bebas.
“Dad! Hahh… Daddy gak bisa menentang perkataan Mommy! Dasar suami takut istri!” ketusnya lalu berjalan masuk ke kamarnya untuk menunjukkan kekesalannya kepada seluruh keluarganya.
“Dasar manja!” sinis kakak laki –lakinya lalu tersenyum mengejek melihat Hani yang mengambek.
“Raphael, adikmu sedang sedih dan kamu malah mengejeknya. Aku akan bujuk dia!” Sang ayah tidak bisa tenang kalau putri kesayangannya jadi sedih. Istrinya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Raphael yang adalah saudara kembar dari Hani atau lengkapnya Haniel kini hanya bisa saling bertatapan heran dengan Mommy- nya.
“Daddy selalu begitu ya? Pantas saja anak itu selalu manja.” Raphael berpendapat.
“Mau bagaimana lagi? Dia sangat menyayangi putrinya, walau dia tidak akan mengubah keputusannya sama sekali. Oh, iya! Di pesta seni sekolah kamu dapat apa? Hani bisa juara bernyanyi dan kamu?” tanya sang ibu kepada Raphael.
“Oh, aku tidak menang apa pun, Mom! Guruku bilang kalau makna lukisanku terlalu dalam tapi gila.” Raphael menjawab dengan wajah datarnya.
“Memangnya kamu melukis apa?” tanyanya kepada sang putra.
“Seorang bayi yang mengambil jantung ibunya. Aku menjelaskan bahwa maknanya adalah seorang anak yang adalah kehidupan orang tuanya. Jantung itu kan kehidupan kan ya?” Raphael menjelaskannya santai sekali dengan muka tidak berdosa sehingga ibunya hanya bisa meneguk ludahnya.
“Lebih baik kau belajar sesuatu yang lebih manusiawi, Nak! Baiklah, istirahatlah dan Mommy akan menyiapkan makan malam kalian semua!” ujarnya kepada Raphael dan beranjak dari duduknya.
                  Waktu tidak terasa dan berlalu begitu saja. Pernikahan Ares dan Mikaela sudah di tahun yang ke lima belas dan keluarga mereka bahagia. Walau tidak luput dari masalah, mereka bisa menyelesaikannya walau memang butuh waktu untuk saling belajar di awal –awal pernikahan. Tapi setelah waktu berlalu, segalanya terasa seperti hal biasa saja baginya. Mikaela, wanita yang sudah berusia empat puluh tiga tahun itu kini mengawasi para maid yang menyiapkan makan malam.
                  Walau sudah di atas kepala empat, dia tetap cantik dan menawan. Tentu saja, dia akan menjaga penampilannya, pertama demi dirinya sendiri. Dia tidak suka kalau jadi tidak menarik lagi dan terlebih untuk suaminya. Dia tidak jauh berubah daripada lima belas tahun yang lalu, hanya saja sedikit kerutan tetap tercetak di tangannya, karena usia tidak bisa dihindarkan.
“Mama!” Seorang gadis berusia dua puluh tahun memeluk Mikaela dari belakang.
“Selena! Kamu sudah pulang dari Fashion week di Paris? Bagaimana di sana?” tanya Mikaela kepada putri sulungnya.
“Seperti biasa, sukses! Untung saja, aku tidak melewatkan makan malam bersama kalian semua!” jawab Selena dengan perasaan bahagianya.
“Ya, Selena kan tidak akan pernah melupakan kami walau pulangnya hanya sebulan sekali,” ujar Mikaela membuat Selena tertawa. Ibu dan anak itu terlihat seperti kakak dan adik, mungkin karena Mikaela juga masih cantik. Selena Marcella Buana, dia telah menjadi desainer fashion mode yang terkenal sehingga punya brand sendiri.
“Mana Daddy dan adik –adik?” tanya Selena.
“Aku di sini, Selena!” jawab Daddy –nya membuat Selena berbalik dan langsung memeluk pria itu.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Ares dijawab dengan senyuman manis oleh Selena.
“Aku baik, Dad! Eh, Hani kenapa terlihat murung?” tanya Selena melihat wajah adik perempuannya ditekuk.
“Aku gak boleh jadi penyanyi! Mommy gak izinin dan Daddy juga sama saja!” ketus Hani.
“Jangan bertingkah seperti anak kecil, Hani!” Mikaela mengingatkan kepada putrinya.
“Sudah, Daddy kan sudah bilang, nanti akan dibelikan sebuah studio khusus buat Hani supaya bisa membuat karya sepuasnya tanpa harus mengikuti peraturan perusahaan dan membuat kamu stres. Anak Daddy jangan murung lagi dong!” Ares berusaha membujuk putri cantiknya tepat seperti seorang ayah membujuk balita.
“Ares, dia sudah bukan bayi lagi!” Mikaela mengingatkan suaminya.
“Benar, Hani! Cepat sekali kamu besarnya! Daddy masih ingat kamu hanya sekecil ini,” Ares mengukur dengan tangannya menunjukkan ukuran Hani saat masih bayi dulu.
“Hani mau jadi bayi Daddy selamanya! Hani gak mau ke mana –mana dan gak mau menikah juga supaya gak usah jauh –jauh dari Daddy!” Hani bertingkah manja sampai memeluk Daddy –nya dengan erat.
“Pfftt! Jadi perawan tua kok bangga!” Raphael mengejek kembarannya itu.
“Diam kau, muka tembok!!” Hani kesal sekali dengan ejekan yang diberikan oleh Raphael.
“Sudah anak –anak! Ayo kita makan malam dan jangan bertengkar lagi! Kita makan malam!” Mikaela melerai situasi supaya tidak terjadi adu mulut yang tak perlu. Keluarga itu pun berkumpul di meja makan untuk menyantap makanan mereka. Ya, semuanya sangat hangat dari apa yang kelihatannya. Tapi salah satu orang di ruangan itu terus memandangi Ares yang duduk bersebelahan dengan istrinya dengan rasa iri. Ia tidak tahu kenapa ada perasaan seperti ini, tapi dia tidak bisa menyangkalnya lagi.
‘Sepertinya benar, aku jatuh cinta padamu, Ares!’ batinnya.
***
Chicago, Illinois, USA
                  Langkah kaki seroang wanita terdengar jelas tatkala dia melangkah masuk ke sebuah bangunan yang cukup besar itu. Ketika dia masuk, banyak anak –anak yang berusia lima sampai dua belas tahun menyambut dirinya. Dia tersenyum dan merentangkan tangannya kepada mereka semua.
“Akhirnya, Mom pulang juga!” kata anak –anak itu dengan sangat bahagia.
“Mom akan selalu pulang untuk kalian semua, anak –anaknya Mommy! Bagaimana hari kalian, apa menyenangkan?” tanya wanita yang berusia awal empat puluhan itu.
“Louis mendapat nilai terbaik di kelas, Mom!”
“Angel juga sudah bisa berhitung dengan cepat!”
“Frank sudah bisa menggambar tiga dimensi!”  
                  Mendengar kemajuan beberapa anak –anak yang dia rawat dan besarkan di sini, wanita itu tersenyum bangga. Ia pun mengelus kepala mereka satu per satu sebagai bentuk dia menghargai segala usaha yang dilakukan oleh anak –anaknya.
“Terima kasih kalian sudah melakukan yang terbaik ya? Kalian belajarlah yang baik, supaya bisa sekolah tinggi dan menjadi orang yang bisa dibanggakan ya!” katanya diangguki anak –anak itu.
“Kami sayang, Mommy!!” kata mereka dengan sepenuh hati. Tak jauh dari situ, ada beberapa pelayan yang berbisik satu sama lain.
“Nyonya Michelle baik sekali ya? Dia membuka panti asuhan dan merawat anak –anak yang ditelantarkan selama tujuh tahun ini. Mereka juga dimasukkan ke sekolah terbaik,” bisik yang satu.
“Iya, semua hartanya dia fokuskan untuk anak –anak asuhnya! Dia seperti malaikat!” balas temannya itu.
                  Ya, Michelle kini menggunakan seluruh harta dan sumber dayanya untuk dia bagikan kepada anak –anak yang membutuhkan bantuannya. Setelah bebas, Ares memberikan salah satu perusahaannya di Chicago untuk dikelola oleh Michelle. Dan setelah itu, Michelle memutuskan membangun sebuah rumah besar dan mengasuh anak –anak yang dibuang orang tuanya lalu memberi mereka yang terbaik. Dia melakukan hal tersebut, supaya anak –anak itu merasa punya keluarga yang berkecukupan dan tidak akan diremehkan oleh orang lain. Masa lalu Michelle mendorong dia melakukan ini, supaya setiap orang tidak dipandang rendah karena masa lalunya.
‘Aku memeluk banyak anak, tapi aku bahkan tidak bisa memeluk putriku sendiri. Rose, bagaimana kabar kamu di sana, Nak?’ batinnya sendu karena teringat anaknya yang pasti sudah bertumbuh menjadi gadis remaja saat ini.
EPILOG END

Komentar Buku (51)

  • avatar
    CakepJaehyun

    seru bgt

    07/08/2025

      0
  • avatar
    Indah Rizqianaa

    baguss banget

    09/04/2025

      0
  • avatar
    Syafiqahramzi

    sambung kakkk , seruu

    24/01/2024

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda