Raut wajah serta sorot mata terkadang, bisa menyimpulkan menunjukan isi hati. Namun, itu tidak selalu menjadi pasti. Bisa jadi, ketika ada orang yang bermata sitip lalu menatap. Ia rasa itu hanya tatapan biasa. Sedangkan, sebagian orang lain menyimpulkan, itu adalah tatapan sinis. Padahal, memang bentuk matanya seperti itu. Ada juga orang yang depannya ramah, selalu tersenyum namun dalam hati menyimpan kebencian mendalam. Untuk kali ini, Adhve yakin. Jika Bu Trika memang tidak suka dengan kebersamaannya dengan Prama. Tak sengaja menoleh ke belakang. Lalu, memergoki ibu mertuanya sedang mengintip. Lirikan melalui ekor mata. Serta lengkungan bibir ke bawah, semakin memperkuat opini. Lalu, Bu Trika langsung pergi begitu saja setelah tatapan mereka beradu. "Ve??" Prama memanggilnya, tatkala Adhve tiba-tiba melamun. Mereka kini, sedang duduk di teras rumah. "Eh ya??" Adhve mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kenapa? kok melamun?" Tanya Prama dengan suara lembut. Membelai pipi Adhve yang mulai mengembang adalah kebiasaan Prama. Adhve menyentuh tangan Prama yang berada di pipinya. Tersenyum lalu berucap, "Mas Prama suka banget ya belai pipiku? Ah aku jadi malu." "Ini adalah salah satu cara agar aku tetap menjadikanmu sebagai wanita paling cantik di dunia ini." Menutup mulut menahan malu. Pipinya memanas serta merona. Tatapan itu benar-benar membuatnya tak berhenti salah tingkah. "Pipimu panas, kamu demam kah??" Bertanya sembari terkekeh karena meledek Adhve. "Mas Prama ih!" Kesalnya sembari melepaskan tangan dari pipi, lalu reflek memukul paha Prama. "Loh loh, kalau kamu mukul-mukul mas, nanti bisa terkena kasus loh! Kekerasan dalam rumah tangga, memukul suami karena salting!" Sandaan yang mampu membuat Adhve semakin bersemu. "Ih Mas Prama! Suka banget ya, ngeledekin aku!" "Kemanisan kamu semakin bertambah seribu persen kalau lagi salting dan baper gini loh! Udah cantik, manis, pendek, ah satu lagi yang paling penting. Lucu kalau lagi ngambek." "Aku itu bukan pendek tapi, Mas Prama aja yang ketinggian." "Memangnya tinggi badan kamu berapa?" "155 CM." "Aku 173." "Wah tinggi banget." "Makanya, aku suka meluk kamu." "Asyik banget ngobrol sama yang lebih dewasa ya. Mas selalu bisa menyesuaikan diri loh. Ada kalanya menasehati dengan bijak, terus ada kalanya ngobrol santai gini. Terima kasih ya mas, udah buat aku bisa merasakan dicintai dengan benar." Prama tersenyum simpul, lalu merentangkan tangannya memeluk tubuh Adhve. Tentunya, Adhve langsung menabrak dada Prama. Bersembunyi serta merasakan kenyamanan. "Sama-sama belahan jiwaku." "Ekhm!" Deheman tersebut membuat mereka melepaskan pelukan. Ternyata, itu deheman dari Bu Trika yang datang kembali. "Eh mama ada apa ma??" tanya Prama. "Kalian nggak tahu apa pura-pura nggak tahu? Ada Chella dan Faura lagi masak-masak di hari libur loh. Adhve, kamu kok nggak ngebantuin mereka? seharusnya, sebagai perempuan sekaligus istri itu harus suka masak. Agar bisa menyenangkan suamimu." "Iya ma ..." Adhve menganggukan kepala lalu berlalu dari mereka, untuk menuju ke dapur. "Pram. Seharusnya, kalau kalian mesra-mesraan di kamar aja! Jangan di depan rumah gini!" "Ma, aku sama Adhve hanya duduk berdua sambil ngobrol kok. Ya maklumlah kami seperti ini, karena sebelumnya memang tidak saling akrab. Jadi, wajar kok, kalau kami seperti orang pacaran." Prama paling tidak suka ketika sedang melakukan hal yang membahagiakan, namun diganggu. Meskipun oleh ibunya sendiri. "Kamu terus aja perhatian sama Adhve, lalu kapan kamu akan perhatian sama mama dan Chella?? Kasih sayangmu selalu dilimpahkan untuk Adhve. Prama, mama ini, ibu kandungmu loh. Seharusnya, kamu setara ketika memberikan kasih sayang baik itu untuk Adhve, mama dan Chella!" "Oh mama cemburu?? lucu sekali. Mama meminta perhatian padaku namun mama tak pernah memberiku perhatian. Serta tak pernah menjadikanku sebagaimana seorang anak. Ma, sejak aku menikah dengan Adhve, aku merasa hidupku kembali berwarna! Jadi, wajar dong kalau aku bersikap seperti ini padanya!" "Prama, meskipun kamu sudah menikah namun, anak lelaki tetaplah milik ibunya!" "Meskipun begitu, mama tidak berhak mengatur, menggangu, serta mengurusi rumah tanggaku! Dengan cara mengalihkan perhatian Adhve!" tegas Prama. Meskipun ia memang kesal dengan Bu Trika, namun nada suaranya sebisa mungkin agar tetap rendah. "Aku permisi!" Seharusnya ini adalah kesempatan agar aku dekat dengan putraku. Namun kehadiran Adhve, telah mencuri perhatian Prama!! batin Bu Trika geram. *** Mendekati Chella dan Faura di dapur. Berusaha untuk bersikap ramah. Namun, mereka tak peduli. Ketika Adhve bertanya, mereka hanya membalas dengan jawaban tak mengenakan. Serta, pandangan mereka tetap tertuju ke pekerjaan. "Kakak duduk aja. Kalau dikerjain bertiga, jadi ribet. Nanti tinggal makan aja. Lah biasanya aja begitu," ucap Chella dengan masih fokus membuat bulatan. "Tapi, kata mama, kakak suruh bantu kalian loh ..." Adhve tetap berusaha memaksakan senyum meskipun hatinya tersinggung. "Nggak apa-apa Mba Adhve, mba duduk aja. Lagi pula ini sudah hampir selesai kok," sambung Faura. "Oh oke ...." Adhve menganggukan kepala. Tatkala ia berbalik badan, lalu berpapasan dengan Bu Trika. "Kamu mau ke mana Adhve? Kok nggak jadi bantuin mereka??" tanya Bu Trika datar. "Kata Chella dan Faura, mereka hampir selesai. Jadi, aku tidak usah membantu ma," sahutnya. Bu Trika memutar bola matanya malas. Sembari tersenyum sinis, meneliti penampilan Adhve dari bawah ke atas. "Ya sudah. Kan kamu wanita karir, jadi nggak pantas harus melakukan aktivitas kotor-kotoran di dapur!" Pedas sekali ucapan mama. Batin Adhve. "Kak Adhve kalau ikut bantu, justru buat ribet mulu! Kan dia nggak pandai pegang alat dapur, ya kan kak?" ucapan Chella tak kalah tajam serta menusuk. "Ma, kalau misalnya Mas Prama tidak menyuruhku untuk tetap bekerja, aku pasti akan berusaha menjadi istri yang sesuai ekspektasi mama! yakni, mengurus dapur!" "Oh bagus, kalau kontrak kerja kamu habis, jangan diperpanjang lagi ya! Jadilah istri yang baik dan berguna. Nanti, kalau kamu udah full di rumah, mama akan pecat ART! Kan udah ada kamu yang ngurus!" Ketika Adhve sedang marah, ia lebih memilih untuk lebih banyak diam. Agar, lidahnya tidak berbicara menimbulkan sakit hati bagi si lawan bicara. "Kenapa diam Ve?? Udah nggak bisa ya, jawab ucapan mama mertuamu ini??!!" Bu Trika mendekat satu langkah. Melipat tangan di depan dada untuk menantang Adhve. Mendengar hal ini, membuat Chella dan Faura menghentikan aktivitas. Menoleh ke belakang karena kebingungan dengan nada suara Bu Trika yang naik pitam. "Mama kenapa??" tanya Chella keheranan. "Itu, kakak iparmu mulai nyolot! Pasti dia ngajarin juga ke Prama, agar membangkang dengan ibunya sendiri!" Bu Trika masih sakit hati dengan pembelaan Prama kepada Adhve. Makanya, ia berbicara demikian. "Oh ya wow! Numpang aja sok! dasar beban," olok Chella. Deg! Menelan salu dalam-dalam, mata memerah mendengar ucapan pedas yang menyesakan dada. Tak terasa, satu tetes air mata berhasil jatuh. "Prama!! urusin istrimu yang cengeng ini!!!" teriak Bu Trika. "Ada apa ini?" Mendengar teriakan ibunya, Prama lalu masuk ke rumah. "Dia menantu yang durhaka! Karena telah berhasil menghasutmu untuk melawan mama!" Tunjuknya pada Adhve yang sedang menundukan kepala. Prama memang tak terima dengan ucapan ibunya sendiri. Namun, ia juga tak ingin memancing keributan di antara mereka. Apalagi, di sini ada orang lain. Yakni Faura. "Adhve, ayo masuk ke kamar." Prama menggenggam tangan Adhve. Lalu berjalan menaiki tangga. Sesampainya di kamar, Adhve memeluk Prama. Menumpahkan tangis di dada bidangnya. Tangisannya memang tak terdengar kencang. Namun, sampai membuatnya sesenggukan. "Mas, aku sakit lagi ...." Selalu paham dengan maksudnya. Sakit yang dimaksud, bukan sakit fisik. Melainkan batin. Semakin mengeratkan pelukan, agar Adhve mendapatkan ketenangan. "Kamu di sini ikut aku. Jangan hiraukan mama!" Prama tahu betul, jika Adhve sakit hati dengan omongan ibunya. Meskipun Adhve belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Mas Prama ... apakah aku akan bisa bertahan??" "Hampir selama 21 tahun, hidup bersama ibumu aja kuat. Yakinkan pada dirimu sendiri. Kalau kamu memang perempuan hebat yang bisa bertahan dengan guncangan badai. Adhveku, kamu tidak sendiri. Ada aku di sini." "I ... iya mas ...." Prama melepaskan pelukan mereka. Menangkup pipi Adhve lalu mencium dahinya. "Kamu jangan pernah merasa sendiri. Anggaplah aku sebagai suamimu, kakakmu, dan sahabatmu. Kamu jangan pernah sungkan untuk mengeluarkan apa yang ada di hati serta pikiranmu. Adhve harus nurut apa kata mas ya??" Adhve menganggukan kepala. Selayaknya anak kecil yang menuruti apa kata orang tua. "Bagus! Apa yang sebenarnya terjadi Ve??" Meskipun suaranya masih sesenggukan, sebisa mungkin Adhve tetap bercerita apa yang terjadi. Mendengar aduan istrinya, membuat Prama geram. "Aku sudah berusaha menerima mama dan Chella dengan baik. Serta melupakan apa yang telah terjadi. Namun, begitu mudahnya mereka menyakiti hatimu??!!" "Udah mas jangan diperpanjang. Mau bagaimanapun, mama tetaplah wanita yang telah mengandung serta melahirkanmu. Jangan marahi beliau. Aku nggak mau terjadi keributan gara-gara aku. Kalau kamu tetap jadi Mas Prama yang aku kenal. Itu sudah lebih dari cukup! Apapun rintangan untuk rumah tangga kita, jika bersama lelaki baik sepertimu, aku akan berusaha tetap tegar." "Udah mas, nggak apa-apa kok." "Terus aja kamu bilang nggak apa-apa Ve!" "Aku emang nggak apa-apa. Lagi pula, sudah biasa diperlakukan seperti ini." "Ve ...." "Ya?" "Banyak-banyak bersyukur ya. Karena Allah telah menjadikanmu perempuan kuat." "Itu pasti!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat menarik
14/08/2025
0bgus bnget dan pada serua novelnya
01/07/2025
0sukaa banget dngn ceritanyaa
27/05/2025
0Lihat Semua