“Ma ada tamu, kata Hanum, anak sulung Dhani. “Ya sebentar,” kata Dhani.
“Ada apa ya bu RT?” kata Dhani saat di ruang tamu dia lihat ada ibu RT. RT di situ memang perempuan jadi bukan karena dia istrinya Pak RT lalu disebut bu RT. Bukan. Tapi Ibu RT ini adalah memang yang menjadi RT. Dia datang bersama seorang lelaki yaitu sekretaris RT tempat tinggal Dhani. “Bu Dhani tiga minggu lalu ya kita semua dapat berkat bahwa Ibu sudah menikah lagi. Kami juga sudah tahu siapa suami Ibu. Tapi sejak dua hari lalu kami ibu-ibu RT di sini, lalu ibu pengajian dapat amplop. Saya hanya sekadar kasih tahu saja mungkin sebentar lagi juga banyak surat yang seperti ini yang akan Ibu terima. Jadi Ibu nggak perlu kaget cuma kalau bisa kami berharap Ibu mengertilah. Ibu bersihkan nama Ibu kalau memang isi amplop tidak benar. Tapi kalau memang itu kenyataan ya kami mohon Ibu tidak jualan di sini,” ucap bu RT. “Maksudnya jualan apa ya Bu?” kata Dhani. “Saya kan memang tidak jualan di sini, toko saya di pasar,” ucap Dhani. “Oh bukan sembako Bu. Tapi jual tubuh,” kata sekretaris RT. Fajar yang mendengar itu langsung kaget. Dia baru mau duduk menemani Dhani. “Ada apa Pak? Kok bicara begitu tentang istri saya?” tanya Fajar sopan. “Ini Pak, saya tidak mengada-ada,” sekretaris RT menyerahkan satu amplop kepada Fajar. Di sana dilihat copyan yang sudah Fajar pernah lihat yaitu surat pernyataan dari suaminya almarhum suaminya Dhani bahwa dia tidak memberikan satu rupiah pun harta pada Dhani, tapi semua harta dihibahkan pada istri pertama, karena Dhani ternyata adalah penjaja komersial dengan bukti DNA semua anaknya tidak sama. “Jadi kami tidak mengada-ada Pak. Selama ini memang seperti itu kok kenyataannya. Sebelum menikah dengan Bapak dia masih jualan walau tiap hari Bapak datang pagi untuk bertransaksi. Kami tahu hanya tidak menggerebeg Bapak. Bapak tanya saja sama orang-orang sini. Tiap habis maghrib kan dia pergi jualan Pak. Makanya anaknya sering tidak diantar ke sekolah, karena dia sibuk, capek jualan tiap malam!” Fajar langsung terduduk lemas inilah akibat terkecoh dengan mantan kekasih saat SMA-nya.
Fajar ingat saat dia mencari tahu tentang orang tua Usman, mantan suami Dhani dia bertemu dengan adik almarhum suami Dhani. “Ada perlu apa tanya seorang ibu ketika Fajar datang ke sebuah rumah besar yang dia dapatkan alamatnya dari pencarian yang bisa dipercaya. “Saya ingin bertemu dengan bapak dan ibu Firdaus Yulistyo,” ucap Fajar kala itu. “Ada perlu apa ya?” tanya perempuan tersebut. “Saya ingin minta tolong pada bapak atau ibu Firdaus Yulistyo berkaitan dengan test yang ingin saya lakukan.” “Kesulitan apa? Mengapa butuh orang tua saya?” tanya perempuan tersebut yang rupanya anak dari bapak atau ibu Firdaus Yulistyo yang Fajar cari. “Hampir dua bulan lalu saya menikahi Dhani. Dia selalu bercerita dia kesulitan akibat almarhum suaminya tidak memberikan satu rupiah pun barang sebagai peninggalan, semuanya dikuasai oleh istri pertamanya. Minggu lalu saya baru tahu ternyata lima anak Dhani adalah bukan anak dari Usman Yulistyo, tapi entah dari siapa. Karena itu saya ingin minta pertolongan Pak Firdaus atau istrinya. Saya ingin membuat tes DNA anak-anak tersebut dengan kakek atau neneknya untuk mengetahui kebenaran isyu tersebut,” ucap Fajar. “Saya ingin membalaskan sakit hati putri saya karena Dhani telah melukai putri saya. Dia sengaja menyebar foto pernikahan kami pada putri saya sehingga sekarang putri saya trauma ayahnya direbut orang lain.” ucap Fajar. “Itulah kebodohanmu tergoda oleh pela-cur tersebut. Pasti kamu kena peletnya. Semua orang tahu dia itu menggunakan palet. Sehingga barang dagangannya laku. Siapa pun yang bertemu dengannya dan dia tuju untuk ditaklukkan pasti akan bertekuk lutut! Siapa pun itu!” “Kami sudah tahu itu 4 tahun lalu. Itu sebabnya kakakku terluka, sehingga tiga tahun lalu kakakku meninggal. Tapi untungnya sebelum meninggal dia meninggalkan surat wasiat resmi dibuat dengan notaris, bahwa tak ada satu rupiah pun uang untuk Dhani.” “Jadi bukan istri pertamanya yang salah, tapi memang surat wasiat di tangan notaris itu resmi ada. Kalau kamu butuh tes DNA tak perlu kamu lakukan sendiri. Kami sudah punya copy-nya. Kami akan berikan itu langsung pada kamu,” kata perempuan tersebut yang merupakan adik almarhum suami Dhani. “Baik saya butuh copy tersebut,” kata Fajar saat itu. “Silakan diminum dulu. Saya ambilkan berkas copy-nya juga copy bahwa bukan istri pertamanya yang salah. Selama ini semua orang tahu bahwa istri pertamanya yang sengaja membuat Dhani disia-siakan oleh kakakku. Dhani juga menyebarkan rumors bahwa istri tuanya sengaja membuat kakakku membenci dirinya.” “Kakak aku itu tak sengaja test kesehatan di Singapura. Waktu itu dia mengantar papa untuk check up rutin di Singapura. Lalu kakak iseng test. Saat itulah diketahui kakakku ternyata mandul. Jadi istri tuanya juga tidak tahu. Kalau tahu mungkin sejak awal dia sudah minta cerai atau angkat anak. Istri tuanya juga tidak tahu sampai kakak pulang dari Singapura. Jadi istri tua sama sekali tidak bersalah. Tidak seperti yang tersiar kabar kalau istri tuanya sengaja membuat supaya Dhani kelihatan salah dan dia benar sendiri, sehingga harta semua jatuh ke dia. Tidak ada seperti itu.” “Dalam surat notaris memang semua harta kakak jatuh ke tangan istri tuanya. Baik saya akan cari dulu copy-nya , silakan diminum,” kata mantan adik ipar Dhani. Jadi sebelum bu RT dan sekretarisnya datang, Fajar sudah punya copy test DNA yang dia coba tawarkan ke Nisha, tapi ternyata Nisha sudah punya.
Setelah semalam bu RT mengultimatum agar Dhani tidak jualan atau silakan pergi dari lingkungan tersebut, maka pagi ini, pagi-pagi sekali datang keluarga Dhani. Mereka pun membawa amplop yang sama. Dhani tak mengerti dari mana amplop itu tersebar karena banyak orang di lingkungan sini dapat. Sekarang kerabatnya pun dapat. Kalau kerabat suaminya dia yakin sudah pada dapat dulu. Tapi ini di keluarganya. ‘Untung papa sudah meninggal jadi aku tidak menjadi sasaran kemarahan papa. Kalau masih ada tentu Fajar tak berani menikahiku juga,’ batin Dhani saat kerabatnya marah-marah pagi ini mengetahui kebusukan Dhani.
Dhani pun diam. Dia masih tak habis pikir akan kejadian sejak sore kepulangan Fajar, lalu datangnya bu RT, lalu kepergian Fajar dengan amarah. Sekarang pagi-pagi dapat kunjungan kerabat yang juga marah-marah. Dhani tertatih mengantar Menik ke sekolah. “Mama Menik, saya bisa bicara?” tanya kepala sekolah yang menunggu di pintu pagar. Tak seperti biasa kepala sekolah bila pagi ada dalam ruangannya. “Iya Bu. Ada apa ya?” tanya Dhani. “Kita bicara di ruangan saya saja Bu,” ajak bu kepala sekolah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
05/08/2024
0bagus
03/07/2024
0lumayan
29/06/2024
0Lihat Semua