“Mereka pelakunya.” Ada kelegaan di mata Shafira ketika aku melihat netra hitam miliknya. Jadi dia melakukannya? Dia benar-benar mencari pelaku sesungguhnya demi aku? “Sha?” Aku masih memandangnya tidak percaya. Merasa lega dan terharu di saat bersamaan. Shafira mengangguk. Menjawab tatapan terkejut yang aku tujukan padanya. “Bicara, Don,” geram Pak Badrun. Doni tergugu. Dia masih belum berani mengangkat kepalanya ketika akhirnya dia bicara. “Maafin saya, Pak. Saya lagi kesulitan ekonomi.” “Tapi ini tindakan kriminal. Kamu mau saya laporkan ke polisi?” ancam Kepala Sekolah geram. Doni semakin tertunduk. Bahkan aku melihat titik bening jatuh ke pahanya. Begitu pun gadis SPG dealer di sampingnya. Dia sudah terisak semenjak dokumen kwitansi palsu yang menjadi bukti itu di hadirkan ke hadapannya. Persidangan untuk Doni masih berlanjut. Keadaan semakin sulit untuk Doni ketika Kepala Dealer tempat kwitansi itu di buat, ikut hadir di ruangan. Dia menjelaskan bahwa karyawannya yang bernama Nurma ini benar membuat kwitansi palsu dan bersekongkol dengan Doni untuk mendapatkan keuntungan dari sponsorship yang digelontorkannya. “Lo yakin file laporan lo di kunci?” tanya Shafira ketika kami berdua sudah boleh meninggalkan ruangan. Kami berjalan pelan di sepanjang koridor menuju tangga ke lantai dua. Pikiranku melayang pada malam di mana Maudy berinisiatif membantuku membuatkan laporan. “Kayaknya gue sempet kasih tahu dia password-nya.” “Nah, kan. Gue udah menduga itu,”desis Shafira tanpa bisa menyembunyikan kekesalannya. “Tapi gue enggak ngerti, kenapa dia mau bantu Doni?” pertanyaan yang keluar dari mulutku itu membuat Shafira tertawa. “Lo enggak tahu? Maudy dan Doni itu ada affair.” “Hah?” Senyum getir terbit di bibir Shafira. “Gue udah tahu lama. Cuma gue pura-pura bego. Pengen tahu seberapa jauh Doni mempermainkan cewek-cewek di sekitarnya.” “Tapi lo 'kan masih pacaran sama Doni?” Aku masih tidak mengerti. “Gue sengaja mempertahankan hubungan gue. Semenjak tahu lo di jadikan ketua acara pensi, gue semakin curiga ada yang enggak beres. Gue enggak bisa bongkar semua ini kalau gue menjauh dari dia.” Aku menghentikan langkah. Ternyata teman-temanku memang tidak pernah meninggalkanku. Mereka tetap menolongku dalam diam. Bahkan di saat hubungan kami renggang sekali pun. “Gila. Si Doni memperalat dua cewek sekaligus demi uang.” “Bajingan memang.” Shafira mendesis. Kami terdiam. Memandang lapangan basket yang sepi. Hanya ada beberapa guru dan murid yang lalu lalang karena ini masih dalam jam pelajaran. Hampir semua siswa berada di dalam kelas. “Sha, gue enggak tahu harus bilang apa sama lo. Gue bener-bener berterima kasih untuk semua yang lo lakukan.” “Bukan cuma gue, tapi Sheryl juga terlibat. Dia ngejar si SPG itu sampai ke rumah demi dapetin pengakuannya.” “Gue nyesel sempat marah sama dia,” sesalku. Benar-benar tulus. “Gue ngerti, lo cuma salah paham aja.” Aku mengangkat kedua bahuku sambil menghela napas panjang. Mengingat bagaimana teman-temanku melakukan ini semua, aku semakin merasa enggan untuk meninggalkan sekolah ini. *** Mobil terparkir di pelatarann kafe. Dari luar, aku sudah bisa melihat ketiga temanku duduk di dekat jendela. Briya sumringah dan langsung melambai padaku ketika melihatku berjalan menuju pintu masuk. “Hai, nunggu lama?” sapaku pada ketiga teman baikku ini. Mereka kompak bergeleng. “Enggak. Baru pada sampai juga, kok,” jawab Shafira. “Duduk, gue udah pesenin buat lo. Latte ‘kan?” Sheryl menarik kursi untukku. Aku tersenyum padanya pengganti ucapan terima kasih. “Seneng, deh. Bisa kumpul lagi sama kalian.” Aku memandang teman-temanku satu persatu. Rasa rindu untuk saling bercerita dan tertawa bersama lagi semakin membuncah. “Gimana proses pindahannya? Ada yang bisa kami bantu?” tanya Sheryl setelah menyeruput green tea kesukaannya. Aku bergeleng. Sempat mengucapkan terima kasih pada pegawai kafe yang memberiku latte panas dalam cangkir putih. “Enggak usah. Barang gue enggak banyak.” Aku menaikan bahu sebelum kemudian menyesap latte ku dengan khidmat. “Semua dibantu sama keluarga om gue.” “Lo emang enggak kenapa-napa pindah di pertengahan semester kayak gini? tiga bulan lagi kita naik kelas, Kat. Sayang banget.” Briya bertanya dengan alis yang menurun. Nampak tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. “Gue sih enggak kenapa-napa. Enggak tahu kalau adik gue.” Semua menghela napas. Menyesali pertemuan pertama kami setelah sekian lama renggang malah untuk mengucapkan selamat tinggal. Bohong kalau aku bilang meninggalkan mereka itu tidak berat. Sangat berat. Terutama meninggalkan Sheryl. Kami tumbuh bersama. Melalui masa-masa sulit bersama. Sekarang, kami harus berpisah. Tidak banyak yang bisa kami bahas. Kami tidak mau saling menyinggung atau menyakiti. Pada akhirnya, kami hanya bernostalgia pada masa dimana kami masih bisa tertawa bersama di kelas X. Saat persahabatan kami belum di ombang-ambing oleh laki-laki. Jace. Nama itu yang selalu dihindari oleh ketiga temanku. Ketika nama itu terucap, maka akan merembet pada permasalahan yang membelit keluargaku. Permasalahan yang membuatku harus pergi. Namun, nama itu akhirnya muncul juga. Bukan dari mulut ketiga temanku, tetapi pada obrolan grup di aplikasi berbagi pesan. “Ada tawuran,” ujar Briya ketika dia melihat layar handphone-nya. Kami semua menoleh ke arahnya. “Sekolah kita?” tanya Shafira. Briya mendongak dan mengangguk dengan wajah khawatir. Dia menunjukan video di layar handphone-nya kepada kami bertiga. Rekaman video yang tidak fokus itu menampilkan siswa yang saling berlari berkejaran satu sama lain. Ada yang berteriak, ada yang menunjuk. Namun, hal yang membuat kami khawatir adalah wajah-wajah itu pernah kami lihat di sekolah. Mereka siswa dari sekolahku. “Itu bukannya motor Jace, ya?” Shafira menunjuk gambar yang dihentikan. Tidak bisa dibuat besar karena gambarnya terlalu buram. Motor Jace sangat gampang untuk dikenali. Di sekolah kami yang rata-rata dari kalangan menengah kebawah, motor bermesin besar dengan harga yang mencapai tiga kali lipat dari mobilku itu sangat jarang di temukan. Bahkan mungkin, hanya Jace yang punya motor itu. Ketiga pasang mata sekarang menatapku. Bagaimana? Aku saja tidak tahu harus bereaksi apa sekarang. Sebetulnya aku cemas setengah mati. Ingin buru-buru pergi mencari keberadaan Jace, tapi rasa gengsi terlalu besar. Jace bukan siapa-siapaku lagi. Itu yang aku katakan pada teman-temanku ketika mereka bertanya apa aku akan menghubungi Jace atau tidak. Dengan harga diri setinggi burj khalifa, aku tegas mengatakan bahwa aku sudah tidak peduli lagi pada Jace. Sayangnya, itu hanya di mulutku saja. Hanya berselang beberapa menit setelah teman-temanku kembali ke sekolah, aku melompat ke dalam mobilku. Menyalakan mesin dan menginjak gas dalam-dalam. Semua hanya karena aku mengkhawatirkan Jace. “Katanya enggak akan tawuran lagi. Katanya udah lepas dari gengnya Niko,” gumamku pada diri sendiri. Mataku berkelana pada jajaran pertokoan yang semakin sore, semakin ramai oleh pembeli. Aku berputar arah. Jalanan padat. Banyaknya persimpangan memperparah kondisi lalu lintas jumat sore yang sudah dipenuhi karyawan pulang kerja. Sambil menunggu lampu lalu lintas berubah hijau, jempolku bergulir di permukaan layar benda pipih. Di sana berita tentang tawuran semakin banyak mengalir. Dari grup aplikasi berkirim pesan, juga dari beberapa akun teman-temanku di media sosial. Lampu berubah hijau. Roda mobil aku arahkan ke sisi kiri jalan. Mencari tempat parkir di sebuah mini market dan meninggalkan mobilku di sana. Jalanan padat yang aku lalui memang membuatku frustasi. Lagi pula, menurut info yang aku dapat dari berbagai unggahan media sosial teman-temanku, lokasi tawuran berada di balik perumahan belakang mini market tempat aku memarkirkan mobil. Aku tinggal jalan kaki beberapa ratus meter memotong jalan di gang perumahan warga dan tembus ke jalan utama. “Kat?!” Teriakan seseorang menghentikan langkahku. Itu suara Jace. Aku berbalik. Mataku membulat ketika menemukan cowok jangkung yang dari tadi memenuhi kepalaku malah sedang duduk santai di salah satu warung di sana. Warung kopi sederhana khas tempat nongkrong anak SMA dengan bangku kayu panjang tempat mereka duduk. Ada enam orang. Semuanya dari klub basket. Artinya, Jace tidak terlibat dalam tawuran yang sedang terjadi. “Mau ke mana?” tanyanya sambil bangkit menghampiriku. Kerut di dahinya menandakan dia heran karena menemukanku berjalan kaki melewatinya. Aku menoleh kanan-kiri mencari jawaban. Apa aku harus bilang kalau tadi aku mencemaskannya? “Gue kira lo ikut tawuran.” Jace terkekeh mendengar suaraku yang seperti tikus terjepit. “Kata siapa gue tawuran?” “Di grup. Gue liat motor lo,” jawabku. Aku melirik ke balik bahunya. Motor yang sedang aku bicarakan terpakir mulus di samping kursi tempat Jace tadi duduk. “Terus lo mau ke mana? Nyariin gue?” Jace semakin mendekat. Membuatku sedikit memundurkan badan. “Eh, enggak.” Aku tergagap. Seperti tertangkap basah. Jace membungkuk. Mensejajarkan wajahnya pada wajahku. “Lo cemasin gue?” Matanya berkilat-kilat dengan satu sudut bibirnya yang naik. Sepertinya dia senang mengetahui aku masih peduli padanya. Padahal pembicaraan kami beberapa hari yang lalu berakhir dengan tidak menyenangkan. Aku mengembuskan napas di depan wajahnya. Merasa kalah dan akhirnya aku harus mengakuinya. “Iya gue cemas. Gue cuma mau mastiin lo baik-baik saja saat gue harus lihat lo untuk yang terkahir kalinya.” Jace menegakan punggung. Tatapannya beredar ke segala arah sebelum kembali mencari mataku. Senyumannya menghilang. “Ikut gue.” Jace meraih tanganku dengan gerakan cepat. Menarik badanku supaya mengikuti langkahnya. “Mau ke mana?” tanyaku yang terseret di belakangnya. Jace menoleh tanpa menghentikan langkahnya. “Nyari tempat sepi.” “Ngapain?” “Perpisahan yang layak. Seperti mau lo.” Hah? Perpisahan yang layak? Di tempat sepi?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (126)
Ultraman NoaIrsyad
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟 🌟 bisa top up sepuas nya
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟 🌟 bisa top up sepuas nya
12/08
0Bagus banget suka sama ceritanya
17/11
0bagus
03/06/2025
0Lihat Semua