Part 76

Dengan bantuan Sheryl, aku menjalankan kursi roda menuju barisan kursi paling kanan. Ada panggung kecil setinggi lima belas sentimeter yang nampak cantik, dihiasi bunga chamomile dan hortensia di sepanjang garis tepiannya. Di kiri panggung di sediakan jalur khusus kursi roda untuk naik. Mungkin ibuku menginginkan aku menemaninya di sana. Namun, aku rasa itu tidak bisa aku wujudkan
Untuk bisa hadir di sini saja, aku harus menarik napas berkali-kali. Melepaskan segala perasaan sesak agar bisa tersenyum lebar untuk ibuku secara tulus. Aku senang jika ibuku bisa berbahagia. Seberat apa pun nanti, aku pasti bisa menerima keluargaku yang baru dengan dada seluas samudera.
“Lo udah siap?”
Suara serak adikku terdengar dari arah belakang. Aku terkejut melihat penampilannya yang rapi dan wangi. Apalagi melihat dia tersenyum lebar tanpa beban.
“Lo di sini?” tanyaku masih tidak percaya.
Maksudku, selain aku dan Jace, Aiden adalah orang yang paling membenci rencana pertunangan ini. Dia merasa ibuku terlalu cepat menggantikan posisi ayah kami yang baru beberapa tahun meninggalkan kami untuk selamanya. Apalagi dia selalu bilang tidak akan pernah hadir bahkan saat mereka menikah nanti.
Namun, lihat dia sekarang. Setelan jas hitam dengan sepatu pantofel mengkilat, ditambah rambut yang ditata rapi menggunakan jel rambut, menunjukan niat seriusnya dalam menghadiri acara ini.
“Iya. Buat lo gue pasti hadir,” jawabnya malah semakin membuat dahiku berkerut.
Tidak sempat bertanya lebih lanjut, Aiden malah buru-buru menyingkir dari hadapanku. Beberapa kali menerima panggilan telepon kemudian menghilang dari venue.
Pelataran rimbun dari sebuah rumah makan di pinggiran kota ini di sulap menjadi taman yang indah tempat berlangsungnya acara malam ini. Om Khalid sebetulnya menawarkan sebuah ballroom di salah satu hotel miliknya, tetapi ibuku menolak. Sudah pasti tempat mewah seperti itu tidak disukai ibuku yang sederhana.
Namun, suasana dunia peri yang aku rasakan dari taman ini juga jauh dari kesan sederhana. Semua cantik dan anggun. Dengan meja panjang penuh bunga untuk jamuan makan malam yang besar dan megah, tentu saja ini membutuhkan uang yang sangat banyak untuk melunasi tagihannya nanti.
Sheryl masih setia di sampingku ketika aku kebingungan mencari anggota keluargaku yang lain. Bukan keluarga dari ayahku tentunya karena mereka dengan sopan mengatakan tidak bisa hadir karena berbagai alasan. Aku hanya mencari Aiden dan ibuku yang selalu menghilang semenjak kami datang ke venue.
Lagi pula, yang hadir tidak banyak. Hanya beberapa kenalan yang bekerja di Saung Geulis, ketua warga dari lingkungan tempat tinggal ibuku dan beberapa orang yang tidak aku kenal. Sepertinya mereka kerabat dari pihak Om Khalid. Terlihat dari pakaian dan riasan mahal yang mereka kenakan.
“Makasi udah mau nemenin gue, Sher.” Aku mengeratkan genggaman tangan pada lengan sahabatku ini.
“Jangan remehin kesetiakawanan gue,” gerutunya dengan dengan memasang wajah pura-pura marah.
“Iya deh. Si paling setia kawan sedunia,” ujarku di iringi tawa dari kami berdua. Ah, senangnya ada Sheryl di sisiku sekarang.
Dentingan gelas yang beradu dengan ujung garpu dessert meredakan riuh dari para tamu yang sedang mengobrol. Mereka menghentikan aktifitasnya dan menumpukan perhatian pada pria tinggi besar di panggung kecil di depan sana.
“Para tamu undangan, kerabat baik saya di Ashad Group, keluarga Aline dan juga perwakilan keluarga saya Yazid Ashad.” Kalimat dari pemilik jaringan hotel paling terkenal di Indonesia itu terjeda seiring naiknya satu tangan yang sedang memegang gelas berkaki tinggi. Dia mengacungkan gelas itu pada seseorang yang namanya disebut tadi.
Kemudian dia kembali melanjutkan pidatonya dengan suara berat khas bos besar jika sedang memberi kalimat motivasi pada bawahannya.
“Saya mengucapkan terima kasih karena sudah hadir pada pesta ini. Sesungguhnya, malam ini adalah malam yang istimewa untuk keluarga saya dan keluarga Aline Adelia, ...”
Aku tidak mau lagi mendengar apa yang sedang bergema pada pengeras suara ketika laki-laki di depan sana dengan mudahnya mengganti nama belakang ibuku dengan namanya sewaktu masih gadis. Seperti yang selalu aku dengar selama dua puluh tahun aku hidup, nama ibuku adalah Aline Atreya. Mengambil dari nama Ayahku yang juga diturunkan padaku dan Aiden.
Ternyata masih sakit. Bahkan ketika sekuat tenaga aku menahan hatiku agar tetap tegar, bulir kesedihan itu akhirnya mengalir membasahi pipi.
“Ada pengumuman penting yang harus saya sampaikan pada rekan dan keluarga yang hadir malam ini. Mungkin akan sedikit mengejutkan. Tapi sebelumnya, saya ingin mengundang gadis cantik di sana untuk menemaniku di sini bersama ibunya.” Suara itu terdengar lagi. Membuatku kembali terjaga dari lamunan.
“Ayo, kat.”
Ibuku muncul dari belakang punggung. Aku baru akan menolak ajakannya untuk bergabung ke depan sana, tetapi dia sudah lebih dulu membuat roda dari kursi yang aku duduki bergerak.
“Mah, aku di sini aja,” pintaku sambil berbisik.
Ibuku tidak menggubris ucapanku dan tetap menggulirkan roda untuk mendekat ke tempat Om Khalid berdiri. Sungguh aku tidak mampu untuk tetap tersenyum kali ini.
“Mah, aku enggak mau.” Aku masih merengek. Bahkan ketika kami bertiga sudah berjajar di tempat yang menjadi pusat pertunjukan malam ini.
Ibuku tetap mempertahankan keberadaanku di sisinya sambil memegangi kedua bahuku. Sesekali dia meremasnya pelan. Entah karena cemas, atau memang menyuruhku untuk diam.
“Kaitlyn, apa kabarmu malam ini?” sapa Om Khalid dengan aksen asing yang kaku. Ini memang sapaan pertamanya secara resmi setelah sekian lama aku selalu menghindarinya.
“Baik,” jawabku pelan. Tidak lupa menyunggingkan senyum tawar yang memang harus aku paksa terpampang di wajahku.
Kemudian perhatianku beralih pada Ibuku yang sudah berpindah tempat ke samping Om Khalid. Dia memandangiku dengan tatapan yang tidak ku mengerti. Dengan bola mata yang sudah mengembun, dia memasang senyum penuh haru yang malah dia tujukan padaku. Bukan pada pria besar di sampingnya. Apa sudah aku lakukan untuknya sehingga dia menatapku sedemikian rupa?
“Kamu siap, Sayang?” bisiknya sambil mensejajarkan tinggi kepalanya denganku yang berada di kursi roda.
“Apanya?”
Ibuku tidak menjawab. Harusnya aku yang tanya hal itu padanya. Apakah dia siap untuk acara pertunangan malam ini?
Keherananku berlanjut, bahkan berubah menjadi kaget ketika melihat sosok tinggi nan tampan, bejalan ke arah kami.
Dengan setelan jas hitam yang membalut kemeja putih di dalamnya, dia melangkah pelan menuju panggung. Pandangannya yang tajam seakan menunjukan kepercayaan diri setinggi awan saat dia harus menjadi pusat perhatian.
“Mah, Jace di sini?” Aku menyuarakan kebingunganku atas hadirnya sosok yang nampak gagah malam ini.
Ibuku mengangguk sambil tersenyum padaku. Tangannya yang dingin menggengam erat jemariku yang mulai berkeringat. Apa ini akan berakhir baik-baik saja? Bagaimana jika Jace ternyata mengacau demi menghentikan acara pertunangan ini?
Namun, raut wajahnya tidak berkata demikian. Mimiknya terlalu tenang untuk orang yang sedang dikuasai oleh amarah.
“Son,” sambut Om Khalid dengan kedua tangan yang melebar.
Adegan selanjutnya masih membuat mulutku menganga. Jace membalas sambutan itu dengan masuk ke dalam dekapan ayahnya. Walau itu dilakukan dengan sangat cepat dan canggung. Tetap saja itu mengejutkanku.
“Kat?” sapa Jace dengan senyum kecil yang masih sempat dia sisipkan di bibir.
“Tamu-tamuku sekalian. Malam ini, adalah malam yang penting bagi keluar saya dan keluarga Aline. Karena sebentar lagi, hubungan yang terjalin di antara kedua keluarga ini akan menjadi lebih erat lagi.” Om Khalid sempat menghela napas beberapa kali sebelum kembali bicara.
“Melalui sebuah pertunangan dari anak saya --Jace Ashad, dengan putri dari tuan Atreya dan nyonya Aline, Kaitlyn Atreya.”

Komentar Buku (126)

  • avatar
    Ultraman NoaIrsyad

    🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟 🌟 bisa top up sepuas nya

    12/08

      0
  • avatar
    MarsyalinaAjeng

    Bagus banget suka sama ceritanya

    17/11

      0
  • avatar
    kianndyqr

    bagus

    03/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru